Bab 3: Gadis Dingin dari Pa**kan Elit
Gua akhirnya bisa lolos dari cengkeraman Igor setelah merelakan jatah roti makan malam gua buat dia. Keputusan yang super ampas, emang. Malam ini perut gua bakal bunyi kayak konser rock, tapi ya sudahlah, yang penting nyawa gua masih nempel di badan. Kejadian di toilet tadi bener-bener jadi *wake-up call* buat gua. Di Kamp 99 ini, cowok lemah kayak gua cuma bakal berakhir jadi keset kaki atau lebih buruk lagi: mayat yang dibuang ke laut lepas.
Gua butuh rencana. Dan yang paling penting, gua butuh tempat aman buat nyimpen buku catatan kecil gua.
Buku bersampul hitam kusam itu sekarang gua selipin di balik kaos abu-abu gua yang dekil. Isinya bukan diari menye-menye, melainkan coretan analisis gua tentang rute patroli para sipir, titik buta CCTV, sampai pola pergantian penjaga yang udah gua amati selama seminggu terakhir. Ini adalah satu-satunya "senjata" yang gua punya buat bertahan hidup—atau bahkan kabur dari neraka ini.
Gua berjalan mengendap-endap menuju area latihan belakang blok C. Tempat ini aslinya adalah lapangan tembak tua yang udah terbengkalai. Rumput liar tumbuh tinggi-tinggi, dan banyak rongsokan kont**ner besi berkarat yang berserakan. Jarang ada tahanan yang mau ke sini karena tempatnya terlalu pojok dan gelap. Pas banget buat nyembunyiin barang berharga.
Tapi, baru aja gua mau melangkah ke balik salah satu kont**ner, telinga gua menangkap suara-suara yang mencurigakan.
*Bugh!*
"Ah! Ba*****!"
Gua langsung merunduk, menahan napas, dan mengintip dari celah sempit di antara dua kont**ner besi. Jantung gua langsung berdegup dua kali lebih cepat.
Di sana, di tengah area terbuka yang berdebu, lagi ada tontonan yang bikin gua melongo. Satu lawan tiga.
Tiga orang cowok berbadan kekar—gua mengenali mereka sebagai antek-anteknya sipir korup yang biasa memeras tahanan—sedang mengepung seorang perempuan. Perempuan itu memakai seragam tahanan abu-abu yang sama kayak gua, tapi anehnya, seragam itu kelihatan pas banget di badannya yang atletis. Rambut hitamnya dipotong pendek sebahu, agak berantakan, tapi justru bikin dia kelihatan makin sangar.
Dia adalah Alera.
Gua pernah dengar desas-desus tentang dia dari bisik-bisik tahanan lain di barak. Katanya, Alera ini mantan letnan dari pa**kan elit militer. Dia dikhianati sama unitnya sendiri, difitnah melakukan makar, dan akhirnya didepak ke Kamp 99. Di kamp yang isinya monster semua ini, Alera adalah salah satu orang yang dicap "Jangan Pernah Dicolek Kalau Masih Pengen Napas".
"Cuma segini doang kemampuan mantan tentara?" salah satu cowok berbadan besar itu meludah ke tanah, menatap Alera dengan pandangan meremehkan. "Bos kami cuma minta lo tunduk. Kalau lo nurut, lo gak bakal menderita di sini, Manis."
Alera gak menjawab. Dia cuma berdiri tegak dengan sant**, kedua tangannya dima**kkan ke dalam saku celana abu-abunya. Ekspresi wajahnya datar banget. Dingin. Matanya yang tajam menatap ketiga pria itu kayak mereka cuma tumpukan sampah yang mengganggu pemandangan.
"Bacot," ucap Alera pendek. Suaranya rendah, dingin, dan bener-bener bikin bulu kuduk merinding bahkan dari jarak gua berdiri.
"Kurang ajar! Habisi dia!"
Cowok pertama langsung maju, melayangkan pukulan lurus ke arah wajah Alera. Tapi gerakan Alera bener-bener di luar nalar. Dia gak cuma menghindar, tapi dengan gerakan secepat kilat, dia menangkap pergelangan tangan cowok itu, memutarnya sampai terdengar bunyi *krek* yang ngilu, lalu menghantamkan lututnya tepat ke ulu hati lawan.
Cowok pertama langsung ambruk, megap-megap di tanah sambil memegangi perutnya.
Dua orang sisanya melotot kaget, tapi mereka langsung maju barengan. Yang satu mencoba menerjang pinggang Alera, sementara yang lain mencoba menendang kepalanya.
Alera melompat mundur satu langkah dengan sangat mulus. Begitu tendangan lawan meleset, dia menggunakan momentum itu untuk melayangkan *spinning heel kick* tepat ke rahang cowok kedua. Suara hantaman itu keras banget. Cowok kedua langsung tumbang seketika, pingsan dengan mata mendelik ke atas.
Tinggal satu orang tersisa. Cowok itu panik. Dia mencabut sebilah belati karatan dari balik pinggangnya. "Mati lo, Jalang!" teriaknya sambil menusuk secara memb*** buta.
Alera bahkan gak berkedip. Saat pisau itu mengarah ke dadanya, dia sedikit memiringkan badannya. Tangan kirinya menepis pergelangan tangan lawan yang memegang pisau, sementara telapak tangan kanannya menghantam dagu cowok itu dengan dorongan yang sangat kuat ke atas.
*B**k!*
Cowok ketiga itu terlempar ke belakang, pisaunya terlepas, dan dia jatuh telentang dengan hidung yang mengucurkan darah segar.
Pertarungan itu selesai dalam waktu kurang dari tiga puluh detik. Dan yang bikin gua merinding setengah mati: Alera bahkan gak kelihatan berkeringat sama sekali. Dia masih berdiri di sana, menatap ketiga tubuh yang mengerang kesakitan di tanah dengan tatapan yang sama persis kayak sebelum pertarungan dimulai. Kosong dan dingin.
Alera merapikan kerah bajunya yang sedikit bergeser, lalu berbalik untuk pergi.
Di saat itulah, otak gua yang biasanya kepake buat mikirin rumus saham tiba-tiba bekerja dengan cara yang berbeda. *Ini dia,* batin gua. *Ini jawaban dari semua masalah gua.*
Igor emang kuat, tapi dia cuma preman jalanan yang modal otot dan intimidasi. Sedangkan cewek di depan gua ini adalah mesin pembunuh terlatih. Kalau gua bisa bikin dia ada di pihak gua, Igor gak bakal berani menyentuh gua seujung kuku pun. Gua butuh 'otot' pelindung, dan dia adalah opsi terbaik yang pernah ada di dunia ini.
Tanpa pikir panjang—yang belakangan gua sadari adalah keputusan paling bodoh sekaligus paling nekat dalam hidup gua—gua keluar dari balik kont**ner.
"Keren banget," kata gua sambil bertepuk tangan pelan, mencoba terdengar sant** dan sok asyik kayak lagi nongkrong di kafe Senopati. "Gak heran sih mantan pa**kan elit. Tiga orang langsung tumbang tanpa keringat."
Alera langsung berhenti melangkah. Kepalanya menoleh perlahan ke arah gua.
Detik itu juga, gua merasa kayak baru aja melakukan kesalahan terbesar dalam hidup gua. Tatapan matanya... g***, dingin banget. Seolah-olah dia lagi melihat seonggok daging mati yang siap dikuliti.
"Siapa lo?" tanyanya. Nada suaranya datar, tapi getarannya bikin kaki gua agak lemes.
"Gua Rayan," gua mencoba tersenyum ramah, melangkah mendekat dengan kedua tangan terangkat ke atas, menunjukkan kalau gua gak bawa senjata. "Tahanan baru dari Blok B. Gua cuma gak sengaja lewat dan—"
Gua bahkan gak sempat menyelesaikan kalimat gua.
*Wush!*
Dalam sekejap mata, Alera udah ada di depan gua. Gua bahkan gak sempat melihat gimana dia melangkah. Sebelum otak gua bisa memproses apa yang terjadi, punggung gua udah menghantam dinding kont**ner besi dengan keras.
*Bugh!*
"Aw—" pekik gua tertahan.
Sebelah tangan Alera yang ramping tapi sekeras besi sekarang mencengkeram leher gua, menekannya kuat-kuat ke dinding kont**ner sampai gua kesulitan bernapas. Kaki gua bahkan agak jinjit saking kuatnya dia mengangkat tubuh gua. Di tangan kanannya yang lain, belati karatan milik salah satu pengeroyok tadi udah menempel pas di bawah dagu gua. Kulit gua bisa merasakan dinginnya ujung pisau itu.
"Gua paling gak suka dikuntit," bisik Alera tepat di depan wajah gua. Napasnya teratur, kontras banget dengan napas gua yang udah tersengal-sengal. "Kasih gua satu alasan kenapa gua gak harus robek tenggorokan lo sekarang juga, Rayan."
"Al-Alera... dengerin gua dulu..." gua terbata-bata, keringat dingin mulai mengucur deras dari pelipis gua. G***, cewek ini beneran bakal membunuh gua kalau gua salah ngomong sedikit aja. "Gua... gua gak ada maksud jahat. Gua mau... nawarin kerja sama."
Alera mendengus sinis. Pisau di dagu gua makin ditekan sedikit, bikin gua meringis. "Kerja sama? Dengan cowok lemah yang bahkan gak bisa lepas dari cengkeraman gua? Lo gak punya nilai apa-apa buat gua."
"Gua punya!" seru gua setengah berbisik, berusaha sekuat tenaga mengeluarkan suara di tengah cekikan tangannya. "Gua punya informasi! Sesuatu yang lo butuhin!"
Mendengar kata 'informasi', sorot mata Alera sedikit berubah. Ada kilatan ketertarikan yang sangat tipis di sana, sebelum kembali tertutup oleh dinding esnya.
"Informasi apa?" tanyanya curiga.
"Jadwal... jadwal patroli sipir," jawab gua dengan susah payah. "Gua tau rute lengkap mereka. Gua tau kapan mereka ganti shift, jam berapa mereka lengah, dan... gua tau titik buta kamera CCTV di seluruh sektor barat kamp ini."
Alera terdiam selama beberapa detik. Dia menatap gua dengan intens, seolah-olah sedang membaca apakah gua lagi bohong atau nggak.
"Sipir ganti jadwal secara acak tiap minggu," kata Alera dingin, mencoba mematahkan argumen gua. "Nggak ada yang bisa menebak polanya."
"Memang kelihatan acak buat orang biasa!" gua menyambar cepat, mumpung dia belum memotong leher gua. "Tapi sebenarnya itu pakai algoritma pola berulang berbasis biner sederhana. Mereka malas bikin jadwal baru, jadi mereka cuma muter sistem yang sama tiap tiga minggu sekali. Gua mantan mahasiswa aktuaria dan data sains. Gua udah menganalisis polanya selama seminggu ini, dan tebakan gua seratus persen akurat!"
Untuk memperkuat ucapan gua, gua melirik ke bawah, ke arah saku celana gua sendiri. "Di saku kanan gua... ada buku catatan. Ambil aja. Lo bisa liat sendiri. Malam ini, jam sembilan lewat lima belas menit nanti, pos penjagaan tiga di sektor barat bakal kosong selama tepat sepuluh menit karena pergantian shift malam yang telat. Lo bisa buktiin sendiri omongan gua."
Alera menatap gua tajam, lalu dengan tangan kirinya yang masih bebas, dia merogoh saku celana gua dan mengambil buku catatan hitam kecil itu. Dia membukanya dengan satu tangan, membaca coretan angka dan bagan yang gua tulis dengan teliti di sana.
Setelah beberapa saat yang terasa kayak satu abad bagi gua, Alera akhirnya perlahan-lahan menurunkan belatinya. Cengkeraman tangannya di leher gua juga mengendur, membuat tubuh gua merosot ke tanah.
Gua langsung berlutut, memegangi leher gua yang merah, sambil terbatuk-batuk menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Sumpah, paru-paru gua rasanya kayak mau meledak.
Alera berdiri di depan gua, menatap buku catatan itu lalu beralih menatap gua yang masih megap-megap di tanah.
"Kalau informasi ini salah," ucap Alera dengan nada suara yang gak main-main dinginnya, "gua sendiri yang bakal patahin leher lo di ruang makan besok pagi."
Gua mendongak, mencoba tersenyum tipis meskipun leher gua rasanya kayak habis digiles truk. "Gua jamin seratus persen akurat. Tapi, Alera... informasi itu gak gratis."
Alera langsung menatap gua dengan pandangan tajam yang kembali menusuk. "Lo berani minta bayaran dari gua?"
"Bukan duit. Di sini duit gak ada gunanya," kata gua sambil berusaha bangkit berdiri, menyandarkan punggung gua yang pegal ke kont**ner. "Gua butuh pelindung. Lo liat sendiri kan, badan gua kerempeng gini. Di blok gua, ada cowok namanya Igor yang terus-terusan nyari gara-gara sama gua. Gua butuh lo buat jadi 'otot' gua. Lindungin gua dari orang-orang kayak Igor."
Alera melipat tangannya di dada. "Lo mau gua jadi pengawal pribadi lo? Sadar diri, Rayan. Gua bukan babu."
"Gua gak minta lo jadi pengawal yang ngikutin gua ke mana-mana kayak anak ayam," bantah gua cepat. "C**up bikin pernyataan kalau gua ada di bawah perlindungan lo. Siapa pun yang berani nyentuh gua, berarti berurusan sama lo. Itu aja. Sebagai gantinya, gua bakal terus suplai lo dengan analisis keamanan kamp ini. Lo mantan tentara elit, lo pasti pengen kabur dari sini kan? Dan lo gak akan bisa kabur tanpa tahu celah keamanan sipir."
Gua menatap matanya dalam-dalam, mencoba menunjukkan kalau gua bener-bener serius dan gak lagi main-main. Ini adalah pertaruhan terbesar gua.
Alera diam c**up lama. Angin malam yang dingin berembus di antara kami, menerbangkan debu-debu di lapangan latihan tua itu. Suasana hening mencekam.
Akhirnya, Alera mema**kkan buku catatan gua ke dalam saku celananya sendiri. Dia berbalik badan, membelakangi gua.
"Jam sembilan lewat lima belas menit," kata Alera tanpa menoleh. "Kalau pos tiga beneran kosong seperti yang lo tulis di sini... kita sepakat."
Sebelum gua sempat menjawab, Alera melangkah pergi, menghilang dengan cepat di balik kegelapan malam, meninggalkan gua yang cuma bisa menghela napas lega sambil memegangi dada gua yang masih berdegup kencang.
Gua tersenyum tipis. Langkah pertama buat bertahan hidup di neraka ini akhirnya berhasil gua amankan.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!