Cara Bertahan Hidup di Kamp Militer Terlarang

Bab 4: Rahasia di Balik Lab Bawah Tanah

Pengaturan Membaca

Sejak malam kejadian di belakang blok C—di mana gua akhirnya memutuskan buat ngebantu Alera dengan cara ngelempar batu ke arah panel listrik luar sampai konslet—hubungan kami berdua bergeser ke arah yang aneh.

Gak, kami gak mendadak jadi teman dekat yang saling curhat sambil makan mi instan di kantin. Di tempat sekelas Kamp 99, konsep "pertemanan" itu terlalu mewah, bahkan cenderung naif. Hubungan kami lebih tepatnya disebut sebagai *partner* tak resmi. Sebuah simbiosis mutualisme yang lahir dari keputusasaan.

Alera butuh otak gua, rute patroli sipir yang gua hafal di luar kepala, dan titik buta CCTV yang selalu gua perbarui setiap hari di buku catatan hitam gua. Sementara gua? Jelas, gua butuh kekuatan dia. Di tempat yang isinya monster pemakan sesama ini, punya tameng pelindung seorang mantan letnan pa**kan elit adalah satu-satunya jaminan gua gak bakal berakhir jadi mayat di selokan pagi-pagi.

"Lo yakin sipir di pos tiga bakal ganti *shift* jam dua pagi?"

Suara Alera yang setengah berbisik memecah keheningan malam yang menusuk tulang. Kami berdua saat ini lagi tiarap di balik tumpukan ban bekas, sekitar lima puluh meter dari gedung penyimpanan logistik medis. Udara malam ini dinginnya gak ngotak, bikin napas gua berembun tipis setiap kali gua mengembaskannya.

"Yakin seratus persen," sahut gua sambil melirik jam tangan digital murah yang lampunya gua tutupin pakai jempol. "Sipir berkumis tebal yang namanya Herman itu selalu telat sepuluh menit setiap kali ganti *shift*. Dia pasti mampir dulu ke kantin belakang buat bikin kopi hitam atau sekadar ngerokok. Kita punya waktu persis dua belas menit buat ma**k lewat jendela samping, ambil antibiotik buat lengan lo, terus cabut sebelum sipir pengganti datang."

Gua melirik lengan kiri Alera. Di balik baju tahanan abu-abunya yang dekil, ada balutan kain robek yang mulai rembes oleh darah dan cairan kuning. Kemarin, cewek itu kena sabetan pisau karatan pas lagi ada keributan kecil di area jemuran. Dia gak mau ke klinik kamp, dan gua paham kenapa. Di Kamp 99, kalau lo ma**k klinik dengan luka parah, lo gak bakal diobati. Lo cuma bakal diberi suntikan penenang, lalu nama lo bakal hilang dari daftar absen keesokan harinya.

"Oke. Lo di belakang gua. Kalau ada apa-apa, lo lari duluan," kata Alera datar, matanya yang tajam tetap fokus menatap ke depan, mengawasi setiap pergerakan di sekitar pos penjagaan.

"Gak usah lo suruh juga gua bakal lari paling depan," sahut gua jujur, nyaris tanpa beban.

Alera cuma mendengus pelan. Itu adalah reaksi terdekat dari sebuah tawa yang pernah gua dengar dari dia sejak kami pertama kali bicara.

Gua memberi isyarat dengan tangan. Kami bergerak cepat, hampir tanpa suara, menyusuri bayangan-bayangan gelap yang tercipta dari sorot lampu menara penjaga. Menghindari lampu sorot itu udah kayak main *game template* di otak gua. Tiga detik ke kiri, berhenti di balik kont**ner, tunggu lima detik sampai lampu berputar ke kanan, lalu lari sejauh sepuluh meter.

Semuanya berjalan lancar sampai kami tiba di area steril—wilayah pembatas antara blok tahanan umum dengan komplek militer pusat.

Di tengah-tengah area ini, berdiri sebuah bangunan tanpa jendela yang dilapisi semen abu-abu tebal. Semua tahanan menyebutnya "Gedung Hitam". Gak ada yang tahu apa isinya, tapi rumor yang beredar bilang kalau siapa pun yang dibawa ma**k ke sana gak akan pernah kelihatan batang hidungnya lagi.

"Tunggu," bisik Alera tiba-tiba, sambil menarik kerah belakang kaos gua dengan kuat sampai gua nyaris tersedak.

Kami berdua langsung tiarap di antara semak-semak liar yang tumbuh di dekat pagar pembatas kawat berduri. Jantung gua langsung berdegup kencang, berdetak kayak mesin jahit rusak.

Dari arah gerbang utama komplek militer, sebuah truk taktis berwarna hijau tua tanpa plat nomor melaju pelan, membelah kegelapan malam tanpa menyalakan lampu utama. Truk itu berhenti tepat di depan pintu besi raksasa Gedung Hitam.

"Kenapa ada pengiriman jam segini?" gumam gua, berusaha menekan suara gua sekecil mungkin.

"Diam dan lihat," desis Alera.

Pintu belakang truk itu terbuka. Beberapa orang keluar dari kabin depan. Mereka gak memakai seragam militer biasa, melainkan baju pelindung hazmat putih lengkap dengan masker respirator gas yang menutupi seluruh wajah mereka. Di belakang mereka, menyusul tiga orang sipir bersenjata laras panjang yang langsung bersikap siaga di sekitar truk.

Dari dalam bak truk yang gelap, para petugas berhazmat itu mulai menyeret beberapa orang keluar. Gua membelalakkan mata. Mereka memakai baju tahanan yang sama kayak kami. Total ada empat orang.

"Itu... bukannya si Boni dari Blok D?" bisik gua, merasa merinding dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Dua hari lalu sipir bilang Boni dipindahkan ke kamp kerja paksa di luar pulau karena perilakunya baik."

"Mereka bohong," jawab Alera dingin, tatapannya semakin tajam dan dingin menatap pemandangan di depan kami. "Lihat kondisi mereka."

Boni dan tiga tahanan lainnya sama sekali gak kelihatan kayak orang yang mau dipindahkan. Mereka bertumpu pada kaki yang lemas, kepala mereka terkulai, dan mulut mereka terbuka lebar dengan air liur yang menetes. Mereka kayak boneka tali yang putus, setengah sadar dan jelas-jelas berada di bawah pengaruh obat bius dosis tinggi. Tanpa belas kasihan, para petugas berhazmat menyeret mereka ma**k ke dalam pintu besi tebal Gedung Hitam yang perlahan menutup di belakang mereka.

Suasana kembali hening selama beberapa menit. Gua pikir pertunjukan mengerikan itu sudah selesai, tapi ternyata gua salah besar.

Sekitar lima belas menit kemudian, pintu besi itu kembali terbuka dengan suara mendengung yang berat. Kali ini, para petugas berhazmat mendorong dua ranjang dorong besi keluar dari dalam gedung menuju ke bagian belakang truk yang lain—sebuah truk boks pendingin yang baru aja merapat.

Di atas ranjang dorong itu ada kantong jenazah berwarna hitam.

Mungkin karena terburu-buru atau emang teledor, salah satu kantong jenazah di ranjang pertama gak tertutup dengan rapat. Ritsletingnya terbuka lebar di bagian atas. Pas mereka mendorong ranjang itu melewati bawah lampu luar gedung, cahaya kuning neon menyinari isi kantong tersebut dengan sangat jelas.

Gua langsung membekap mulut gua sendiri dengan kedua tangan. Perut gua mendadak bergolak hebat, memicu rasa mual yang luar biasa sampai gua harus mati-matian menahan diri agar gak muntah di tempat.

Itu mayat salah satu tahanan yang tadi baru saja dibawa ma**k. Tapi kondisinya... sama sekali gak manusiawi.

Kulit mayat itu berubah warna menjadi abu-abu pucat kebiruan, dipenuhi oleh pembuluh darah yang menonjol berwarna hitam pekat, menjalar kayak jaring laba-laba raksasa di seluruh leher dan wajahnya. Yang paling bikin gua merinding ngeri, salah satu lengannya telah dimutilasi dan digantikan dengan semacam struktur mekanis kasar—gabungan antara logam berkarat dan kabel-kabel hitam yang dijahit langsung ke dalam jaringan otot dan tulangnya yang hancur. Batok kepalanya memiliki bekas sayatan melingkar yang dijahit dengan kawat besi tebal, seolah otaknya baru saja dibuka secara paksa.

Itu bukan sekadar mayat korban pembunuhan. Itu adalah hasil eksperimen yang gagal.

"Eksperimen biomekanis..." Alera berbisik, suaranya yang biasanya sedingin es kini terdengar bergetar dengan kemarahan yang tertahan. "Ba******. Jadi desas-desus itu bener."

"Al... kita harus pergi dari sini sekarang," kata gua, seluruh tubuh gua gemetaran parah. Adrenalin gua terpompa maksimal, memicu naluri bertahan hidup gua untuk segera kabur sejauh mungkin dari tempat terkutuk ini. "Ini udah gak beres. Ini g***. Kita bisa mati kalau ketahuan."

"Ray, lihat bangunan kecil di sebelah kiri Gedung Hitam," Alera gak mendengarkan gua. Dia malah menunjuk sebuah kantor administrasi tua berlant** satu yang terhubung langsung melalui sebuah koridor kaca ke Gedung Hitam. "Itu kantor arsip lama. Semua data lalu lintas barang dan subjek eksperimen pasti dicatat di sana."

"Terus kenapa?!" sahut gua setengah frustrasi. "Lo mau kita ke sana? Al, lo udah g*** ya? Di dalam sana ada monster-monster yang bisa membelah kepala kita kayak kelapa muda!"

Alera berbalik, menatap gua lurus-lurus. Cahaya bulan yang temaram memperlihatkan kilau kemarahan dan dendam yang begitu pekat di matanya. "Unit gua... seluruh tim elit gua dibant** dan difitnah karena kami gak sengaja menemukan dokumen transaksi pengiriman bahan kimia aneh ke Kamp 99 ini. Teman-teman gua mati demi menutupi rahasia ini, Ray. Gua gak akan pergi sebelum gua tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan di sini."

Gua menelan ludah dengan susah payah. Gua tahu gua penakut. Gua tahu rencana terbaik saat ini adalah kembali ke barak, tidur, dan berpura-pura gak pernah melihat apa pun malam ini. Tapi melihat sorot mata Alera, gua tahu kalau gua meninggalkannya sekarang, dia bakal nekat ma**k sendirian. Dan kalau dia mati, gua juga gak bakal bertahan lama di kamp ini tanpa perlindungannya.

"Si****," umpat gua lirih, merutuki kebodohan gua sendiri. "Oke. Kita ma**k. Tapi lewat jendela belakang kantor arsip. Di sana ada titik buta CCTV yang cuma berdurasi delapan detik setiap kali kameranya berputar. Lo harus gerak cepat."

Alera mengangguk kecil, ekspresinya kembali tenang dan fokus. "Pimpin jalan."

Dengan sisa-sisa keberanian yang gua punya, kami merangkak memutari area luar, memanfaatkan tumpukan kayu bekas dan tangki air untuk berlindung. Setelah menunggu kamera CCTV berputar ke arah berlawanan, kami berlari kencang menuju jendela belakang kantor arsip yang berdebu.

Alera mengeluarkan sepotong kawat kecil dari sakunya. Dengan gerakan yang sangat terlatih dan tenang, dia mengutak-atik lubang kunci jendela.

*Cklek.*

Hanya butuh waktu kurang dari delapan detik. Jendela terbuka perlahan tanpa menimbulkan suara decitan yang berarti. Kami berdua segera melompat ma**k ke dalam ruangan yang gelap gulita dan berbau apek.

Suasana di dalam kantor arsip ini sangat sunyi, berbanding terbalik dengan gemuruh ketakutan di dalam dada gua. Ruangan ini dipenuhi oleh lemari besi besar yang berisikan tumpukan dokumen-dokumen tua.

"Cari dokumen yang punya logo segel merah," bisik Alera sambil mulai memeriksa lemari arsip terdekat.

Gua bergerak menuju meja kerja utama yang berada di tengah ruangan. Di atas meja itu, ada sebuah komputer kuno yang layarnya mati, dan beberapa map kulit tebal yang berdebu. Dengan sangat hati-hati, gua menyalakan senter kecil dari ponsel gua, meredupkan layarnya seminimal mungkin agar cahayanya gak bocor ke luar jendela.

Gua membuka map pertama. Kosong, cuma berisi laporan mutasi staf sipir biasa.

Tapi saat gua membuka map kedua yang berada di paling bawah tumpukan, jantung gua mendadak berhenti berdetak sesaat. Di sampul map berwarna cokelat gelap itu, tercetak logo militer resmi berukuran besar dengan cap stempel merah menyala bertuliskan: **TOP SECRET - PROJECT GENESIS**.

"Al... gua rasa gua nemu sesuatu," panggil gua dengan suara gemetaran.

Alera langsung melangkah mendekat, berdiri di samping gua saat gua membuka lembar pertama dokumen tersebut.

Di sana, di bawah beberapa bagan anatomi manusia yang dimodifikasi secara ekstrem, tertulis deskripsi proyek dengan bahasa militer yang dingin:

*PROYEK GENESIS: Rekayasa Genetika dan Integrasi Biomekanis Fase IV. Tujuan utama adalah menciptakan 'Prajurit Super Masa Depan' yang memiliki ketahanan fisik di atas batas manusia normal, regenerasi seluler yang dipercepat, serta eliminasi total terhadap respons emosional negatif seperti rasa takut, keraguan, rasa sakit, dan empati kemanusiaan.*

"Menghilangkan empati kemanusiaan..." gua membaca baris itu dengan ngeri. "Mereka mau menciptakan monster tanpa perasaan yang cuma tahu cara membunuh."

"Baca lembar berikutnya, Ray. Siapa yang mendanai proyek ini," desis Alera, jarinya yang gemetar menunjuk ke arah baris tanda tangan di bagian paling bawah dokumen rincian anggaran finansial.

Gua membalik halaman itu. Mata gua membelalak lebar membaca deretan nama yang tertera di sana. Beberapa nama di antaranya adalah para jenderal bintang tiga aktif dan petinggi kementerian pertahanan yang wajah-wajah sok sucinya hampir setiap hari muncul di berita televisi nasional, berbicara tentang kedamaian dan keadilan negara.

"Ini... ini gak mungkin," gumam gua gak percaya. "Orang-orang ini... mereka adalah petinggi militer paling berpengaruh di negara kita. Mereka yang mendanai semua keg***an ini?"

"Sekarang semuanya ma**k akal," Alera mengepalkan tangannya begitu kuat sampai kuku-kukunya memutih dan melukai telapak tangannya sendiri. "Unit gua dibant** karena kami mencium adanya aliran dana hitam dari anggaran pertahanan yang dialihkan ke proyek ilegal ini. Mereka sengaja membuang gua ke Kamp 99... karena kamp ini bukan sekadar penjara. Tempat ini adalah laboratorium raksasa, dan kita semua di sini adalah kelinci percobaan mereka."

Sebelum gua sempat memproses semua informasi yang luar biasa mengerikan ini, telinga gua menangkap suara langkah kaki berat yang menggema dari koridor kaca yang menghubungkan kantor ini dengan Gedung Hitam.

*Tap... Tap... Tap...*

Langkah kaki itu semakin mendekat, diiringi oleh suara obrolan sant** dua orang pria.

"Gua heran kenapa subjek nomor 114 cepat banget gagalnya. Padahal dosis serumnya udah dikurangi setengah," terdengar suara seorang pria paruh baya yang terdengar dingin dan acuh tak acuh.

"Mungkin fisiknya yang lemah. Besok kita ambil lagi beberapa orang dari Blok C. Cari yang badannya agak tegap," sahut suara yang lain, yang sangat gua kenali sebagai suara Kepala Sipir Kamp 99, Letnan kolonel Markus.

Gua membeku di tempat. Keringat dingin langsung membasahi seluruh punggung gua. Jarak mereka dengan pintu ma**k kantor arsip ini gak lebih dari sepuluh meter.

"Ray, bawa map itu! Cepat!" Alera menyenggol bahu gua dengan keras, memecah kepanikan yang sempat melumpuhkan tubuh gua.

Dengan gerakan panik, gua langsung menyambar map tebal Proyek Genesis itu dan menyelipkannya ke dalam jaket abu-abu gua yang longgar, lalu mengancingkannya rapat-rapat.

"Lewat mana?!" bisik gua panik, karena pintu keluar utama berada tepat di arah kedatangan kedua orang itu.

"Jendela! Lompat!" perintah Alera.

Tepat saat Alera mendorong tubuh gua ke arah jendela, pintu kantor arsip terbuka dengan kasar.

*B**k!*

"Siapa di sana?!" teriakan melengking terdengar dari arah pintu, diikuti oleh sorotan lampu senter berkekuatan tinggi yang langsung mengenai wajah kami.

"Tembak mereka!"

*Dorr! Dorr! Dorr!*

Suara tembakan pistol menggema keras di dalam ruangan sempit itu, memecahkan kaca-kaca jendela di sekitar kami. Tanpa berpikir panjang lagi, gua memejamkan mata dan melompat keluar jendela, menerobos sisa-sisa kaca yang tajam bersama Alera.

Kami mendarat dengan keras di atas tanah berpasir di luar gedung. Rasa sakit langsung menjalar di siku dan lutut gua yang terbentur batu, tapi rasa takut yang luar biasa mengalahkan segalanya. Gua langsung bangkit berdiri dan berlari sekencang yang gua bisa, mengikuti Alera yang bergerak lincah menerobos kegelapan.

Di belakang kami, raungan sirine darurat Kamp 99 mendadak pecah, membelah kesunyian malam dengan suara dengungan yang mengerikan dan m****akkan telinga. Lampu-lampu sorot raksasa dari menara penjaga yang tadinya bergerak perlahan kini mulai berputar liar, menyapu seluruh area kamp dengan cahaya putihnya yang menyilaukan.

"Penyusup di area sektor tiga! Kejar mereka! Hidup atau mati!" terdengar teriakan instruksi dari pengeras suara kamp.

Sambil terus berlari di bawah bayang-bayang kematian yang mengint** di setiap sudut kamp, gua memeluk dada gua erat-erat, memastikan dokumen Proyek Genesis di balik jaket gua gak terjatuh.

Malam itu, di tengah kejaran peluru dan raungan sirine yang mematikan, gua tahu satu hal dengan sangat pasti.

Kami baru saja menggali kuburan kami sendiri. Tapi di saat yang sama, kami juga baru saja memegang satu-satunya kunci untuk menghancurkan neraka ini dari dalam.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca