Semuanya berjalan lancar malam itu. Antibiotik yang kami curi berhasil menyelamatkan lengan Alera dari infeksi parah yang bisa saja bikin dia berakhir di lubang pembuangan. Tapi, setelah malam menegangkan itu, tidur gua gak pernah bener-bener nyenyak lagi.
Tiga hari setelahnya, Blok D mendadak sepi. Gak ada suara gaduh, gak ada antrean mandi pagi. Sekitar lima puluh tahanan di sana lenyap begitu saja dalam satu malam. Pihak manajemen Kamp 99 cuma bilang mereka "dipindahkan ke fasilitas utama". Tapi gua gak b***. Gua sempat melihat bercak darah segar yang buru-buru disiram pakai selang air di dekat gerbang belakang pagi harinya.
Mereka semua dibant**. Atau lebih buruk lagi, dijadikan kelinci percobaan untuk proyek biologi militer yang selama ini jadi desas-desus di kalangan tahanan.
Sadar kalau kami semua cuma giliran antre menuju ajal, gua tahu gua gak bisa cuma mengandalkan otot Alera dan otak gua doang. Berdua itu terlalu riskan. Kalau Alera tumbang, gua tamat. Kalau gua ketahuan, Alera bakal kehilangan arah jalan pulangnya. Kami butuh bantuan. Kami butuh jaringan.
"Lo serius mau ngajak orang lain ma**k?" tanya Alera siang itu, saat kami lagi duduk di sudut kantin yang sepi, berpura-pura menikmati sup encer yang rasanya mirip air cucian piring. Matanya yang tajam menatap gua penuh selidik.
"Kita gak punya pilihan, Al," jawab gua setengah berbisik sambil mengaduk sup gua. "Sipir di sini makin ketat. Kemarin gua lihat mereka masang sensor gerak baru di pagar perimeter luar. Tanpa orang yang paham teknologi, rute kabur yang gua gambar di otak gua ini cuma bakal jadi angan-angan kosong."
"Dan lo udah punya target?"
Gua tersenyum tipis. "Dua orang. Dan gua jamin, mereka bakal sangat berguna buat kita."
***
Target pertama gua adalah Kenji.
Secara fisik, cowok berambut cepak acak-acakan ini sama sekali gak kelihatan kayak ancaman. Badannya kurus, jalannya agak bungkuk, dan dia punya kebiasaan aneh selalu menggigit kuku jarinya kalau lagi cemas. Tapi jangan salah, di luar sana, Kenji adalah mantan peretas militer kelas kakap yang ketahuan membobol database rahasia kementerian pertahanan sebelum akhirnya dibuang ke Kamp 99.
Gua nemuin dia di belakang bengkel kerja, tempat di mana tahanan disuruh memperbaiki generator rusak. Kenji lagi jongkok di pojokan, pura-pura sibuk mengutak-atik kabel dinamo yang sebenarnya udah mati total.
"Gua tahu lo sengaja bikin generator itu gak pernah selesai diperbaiki," kata gua langsung, tanpa basa-basi, sambil bersandar di dinding semen di dekatnya.
Kenji tersentak. Dia menoleh dengan cepat, matanya yang dilapisi kacamata tebal penuh dengan kecurigaan. "Siapa lo? Pergi sana. Gua gak mau cari ribut."
"Gua Rayan," kata gua sant**. "Dan gua tahu lo sengaja memperlambat kerjaan lo biar sipir gak mindahin lo ke area proyek luar. Karena lo tahu, sekali lo dikirim ke sana, lo gak bakal balik lagi."
Kenji langsung berdiri. Wajahnya agak pucat. "Lo... lo tahu dari mana?"
"Gua merhatiin lo selama dua minggu terakhir," jawab gua tenang. Gua melangkah satu tapak lebih dekat. "Gua juga tahu lo berhasil memanipulasi *chip* pelacak di pergelangan tangan lo biar status lo selalu kebaca 'sedang sakit' di sistem pusat, makanya lo jarang kena giliran kerja paksa yang berat."
Kenji menelan ludah. Dia kelihatan panik, matanya bergerak liar mencari jalan keluar. "Lo mau ngelaporin gua ke sipir? Lo mau cari muka?"
"G*** apa?" Gua terkekeh pelan. "Gua ke sini mau nawarin kerja sama. Gua butuh otak lo buat nge-<i>loop</i> rekaman CCTV di koridor Blok C setiap jam dua malam. Dan sebagai gantinya, gua bakal mastiin nama lo dihapus dari daftar 'pembersihan' berikutnya yang bakal rilis akhir minggu ini."
Kenji tertegun. "Daftar pembersihan? Lo tahu dari mana ada daftar kayak gitu?"
Gua mengetuk pelipis gua dengan telunjuk. "Gua punya mata dan telinga di mana-mana, Ken. Dan percayalah, nama lo ada di urutan nomor delapan karena sistem mendeteksi ada anomali di akun medis lo. Tanpa gua yang ganti data fisik di ruang arsip manual, lo bakal jadi mayat minggu depan. Gimana? *Deal*?"
Kenji menatap gua lama. Ada pergulatan batin yang sangat jelas di matanya. Tapi pada akhirnya, keputusasaan mengalahkan rasa takutnya. Dia mengembuskan napas pasrah.
"Oke," bisik Kenji lirih. "Tapi kalau kita ketahuan, gua bakal bilang lo yang maksa gua."
"Sant**," ucap gua sambil menepuk pundaknya. "Gua gak berencana buat ketahuan."
***
Target kedua jauh lebih menantang. Namanya Hugo.
Kalau Kenji adalah otak digital, maka Hugo adalah penyedia logistik fisik. Dia adalah penyelundup barang yang punya reputasi luar biasa di Kamp 99. Gak ada yang tahu gimana cara dia melakukannya, tapi Hugo selalu bisa mendapatkan apa sajaβmulai dari rokok, cokelat, obat bius, sampai pisau lipatβasal lo punya sesuatu yang berharga buat ditukar.
Badannya tegap, penuh tato di lengan kanan, dan tatapan matanya selalu meremehkan orang lain. Gua menemui dia di dekat area jemuran luar saat jam istirahat sore.
"Gua gak nerima pembayaran pakai janji manis, Bocah," kata Hugo bahkan sebelum gua sempat membuka mulut. Dia lagi asyik mengunyah batang korek api sambil menyandarkan tubuhnya yang kekar ke tiang jemuran.
"Gua ke sini gak mau beli rokok, Hugo," kata gua tenang, mengambil posisi berdiri di depannya dengan jarak aman.
"Terus? Mau minta sumbangan?" Hugo tertawa meremehkan.
"Gua mau nawarin jalur penyelundupan baru," ujar gua langsung. Kalimat itu sukses membuat tawa Hugo terhenti. Dia menyipitkan matanya, menatap gua dengan saksama.
"Apa maksud lo?"
"Jalur pasokan lo lewat truk sampah di gerbang selatan udah ketahuan sama kepala sipir," kata gua dingin. "Besok pagi, mereka bakal ngadain razia mendadak di gudang penyimpanan kompos tempat lo biasa nyembunyiin barang kiriman lo. Lo bakal habis, Hugo. Semua barang lo disita, dan lo bakal diseret ke sel isolasi."
Hugo langsung maju selangkah, mencengkeram kerah baju tahanan gua dengan kasar. Wajahnya memerah karena amarah. "Lo jangan coba-coba nakutin gua, ya! Dari mana lo tahu informasi itu?!"
Gua sama sekali gak panik. Di balik bayangan tiang jemuran, Alera perlahan melangkah keluar, bersedekap dada sambil menatap Hugo dengan tatapan dingin khas seorang pembunuh berdarah dingin. Hugo melirik Alera, dan gua bisa merasakan cengkeramannya di kerah baju gua agak melonggar. Dia tahu siapa Aleraβmantan letnan pa**kan elit yang pernah mematahkan kaki tiga orang tahanan sekaligus di ruang makan sebulan lalu.
"Gua gak perlu nakutin lo," kata gua, nada suara gua tetap datar dan sant**. "Gua cuma baca pola patroli sipir. Kemarin sore, kepala sipir nanya ke bagian kebersihan tentang jadwal kedatangan truk sampah selatan, sesuatu yang gak pernah dia peduliin sebelumnya. Dan dua jam lalu, gua lihat an**** pelacak dipindahin ke dekat area kompos. Lo pikir itu cuma kebetulan?"
Hugo melepaskan cengkeramannya dari kerah baju gua. Dia mengumpat pelan, menyadari kalau analisis gua ma**k akal. "Si****..."
"Gua bisa kasih lo rute baru," lanjut gua sambil merapikan kerah baju gua. "Lewat pipa pembuangan air di dekat dapur barat. Sipir gak pernah lewat sana karena baunya minta ampun, tapi pipanya c**up gede buat ma**kin tas kedap air. Sebagai imbalannya, gua butuh lo nyediain beberapa alat buat kita. Pisau, kawat tembaga, dan kalau bisa... beberapa bahan peledak skala kecil yang biasa dipakai buat pertambangan."
Hugo menatap gua, lalu beralih ke Alera, dan kembali ke gua lagi. "Lo berdua mau bikin pemberontakan?"
"Gak. Kami cuma mau bertahan hidup," jawab gua tegas. "Jadi, lo mau ikut menyelamatkan diri, atau mau tetap di sini nunggu barang dagangan lo disita besok pagi?"
Hugo menghela napas kasar, lalu mengulurkan tangannya yang kasar ke arah gua. "Si**** lo, Bocah. Deal. Tapi kalau rute baru lo itu bikin gua kejebak, gua sendiri yang bakal patahin leher lo."
Gua menjabat tangannya sambil tersenyum. "Kesepakatan yang adil."
***
Malam harinya, di dalam ruangan generator yang pengap dan terbengkalai di ujung Blok C, kami berempat berkumpul untuk pertama kalinya. Tempat ini dipenuhi debu tebal dan bau oli bekas, tapi ini adalah satu-satunya titik buta yang gak terjangkau oleh kamera pengawas maupun rute patroli rutin para sipir.
Sebuah lampu senter kecil diletakkan di atas lant** semen, menjadi satu-satunya sumber cahaya yang menerangi wajah kami berempat.
"Oke, sekarang kita berempat," kata Alera membuka suara, nadanya tetap dingin namun ada ketegasan di sana. Dia melirik Kenji yang kelihatan gemetaran, lalu melirik Hugo yang masih sibuk merapikan jaket kumalnya. "Gua harap kalian berdua gak bakal jadi beban."
"Heh, jaga mulut lo, ya," sahut Hugo agak tersinggung. "Tanpa barang-barang dari gua, lo gak bakal punya senjata buat ngelawan sipir-sipir bersenjata lengkap itu."
"Dan tanpa gua," sela Kenji dengan suara pelan namun penuh percaya diri, "kalian semua bakal langsung terdeteksi sama sensor gerak termal di pagar luar bahkan sebelum kaki kalian sempat menyentuh rumput."
"C**up," kata gua tenang. Suara gua gak keras, tapi entah kenapa langsung membuat ruangan itu hening. Mereka bertiga spontan menoleh ke arah gua.
Gua mengeluarkan selembar kertas dekil dari dalam saku celana gua, lalu membentangkannya di lant** semen, tepat di bawah sorot lampu senter. Itu adalah peta Kamp 99 yang gua gambar secara manual selama berbulan-bulan di sini. Garis-garis hitam menunjukkan rute patroli, tanda silang merah menunjukkan posisi kamera, dan lingkaran biru menunjukkan titik-titik lemah sistem keamanan.
Kenji dan Hugo langsung mendekat, menatap peta itu dengan mata terbelalak.
"G***..." gumam Kenji kagum. "Det**l banget. Lo bahkan tahu posisi *router* lokal cadangan di dekat menara pengawas?"
"Gua selalu merhatiin setiap kali teknisi kamp datang buat servis bulanan," jawab gua sant**. "Mulai hari ini, kita adalah satu tim. Gak ada yang bertindak sendiri-sendiri. Kita punya satu tujuan: keluar dari neraka ini hidup-hidup."
Gua menatap mereka satu per satu, memastikan mereka paham dengan keseriusan situasi ini.
"Kenji, tugas lo adalah memetakan jaringan digital mereka. Gua mau lo cari tahu cara meretas frekuensi radio sipir biar kita bisa dengar percakapan mereka."
Kenji mengangguk mantap. "Gampang. Kasih gua waktu tiga hari buat nyari pemancar bekas di gudang rongsokan."
"Hugo, lo urus logistik. Gua butuh lo mulai menyelundupkan peralatan yang diminta Kenji, dan simpan beberapa senjata tajam di tempat yang aman. Tapi ingat, lakukan dengan sangat rapi. Jangan sampai ada sipir yang curiga."
"Serahkan sama gua," seringai Hugo. "Pipa pembuangan air barat beneran jenius. Gua udah cek tadi sore, jalurnya bersih."
"Dan Alera," gua menatap cewek di sebelah gua itu. "Lo adalah kekuatan tempur utama kita kalau situasi memburuk. Tapi untuk sekarang, tugas lo adalah melatih gua dasar-dasar pertarungan jarak dekat. Gua gak mau mati konyol cuma karena gak bisa nangkis pukulan."
Alera menatap gua dengan senyum tipis yang jarang banget dia tunjukin. "Dengan senang hati, Rayan."
Gua melipat kembali peta itu dan mema**kkannya ke dalam saku. Rasa cemas yang selama ini menghantui gua perlahan mulai terkikis, digantikan oleh keyakinan baru yang membakar dada.
Kami bukan lagi kelinci percobaan yang pasrah menunggu ajal di Kamp 99. Kami adalah predator yang sedang menyusun rencana untuk meruntuhkan sangkar kami sendiri. Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!