Rencana gua gak bisa ditunda lagi. Tekanan dari para sipir di Kamp 99 udah ada di level yang gak ma**k akal.
Sejak hilangnya lima puluh orang di Blok D, patroli penjaga jadi dua kali lipat lebih sering. Mereka kayak orang kesurupan kerja—tiap jam ada aja razia dadakan, interogasi acak di tengah malam, sampai hukuman fisik jemur di lapangan lumpur cuma gara-gara masalah sepele kayak kancing baju yang lepas. Kalau ini terus dibiarkan, bukan cuma rute pelarian kami yang bakal ketahuan, tapi mental kami semua bisa hancur duluan sebelum sempat melangkah keluar dari gerbang si**** ini.
"Kita butuh pengalihan isu. Sesuatu yang gede. Sesuatu yang bisa bikin perhatian para sipir beralih total dari kita," kata gua malam itu.
Kami lagi ngumpul di pojokan barak yang remang-remang, pura-pura tidur sambil saling berbisik. Ada gua, Alera, dan Kenji yang masih kelihatan gemetaran tapi berusaha kelihatan tenang. Di sebelah Kenji, ada satu orang lagi yang baru gua rekrut kemarin: Shena, cewek tomboi berambut merah pudar yang kerja di bagian dapur logistik. Shena ini punya akses ke hampir semua gudang penyimpanan karena dia yang tugasnya bagi-bagi jatah makanan.
"Pengalihan kayak gimana?" tanya Alera, matanya yang tajam menyapu sekeliling, memastikan gak ada kuping sipir yang nempel di dinding seng barak kami.
"Perang saudara," jawab gua pendek dengan senyum tipis.
Kenji hampir aja tersedak ludahnya sendiri. "L-lo g***, Ray? Mau bikin tawuran massal di sini? Yang ada kita malah ditembak mati di tempat sama tim taktis!"
"Gak bakal, kalau kita mainnya rapi," bantah gua tenang. "Di kamp ini, ada dua faksi terbesar yang paling berkuasa di kalangan tahanan. Pertama, faksi tentara desersi yang dipimpin sama B**m—mantan kapten militer yang arogan dan ngerasa punya kuasa karena anak buahnya punya disiplin tempur. Kedua, faksi mafia obat terlarang yang dipimpin sama Vito—cowok licik yang mengendalikan semua pasokan stimulan, obat penenang, dan barang selundupan di kamp ini."
Shena mengangguk cepat, langsung nyambung sama arah obrolan gua. "B**m sama Vito emang udah lama dingin. B**m benci Vito karena dianggap merusak 'moral' tahanan dengan obat-obatan, sedangkan Vito benci B**m karena faksi tentara itu sering malakin 'pajak' proteksi dari bisnis haramnya."
"Nah, bener," gua menjentikkan jari pelan. "Sekarang, bayangin apa yang bakal terjadi kalau pasokan obat paling berharga milik Vito tiba-tiba hilang, dan di lokasi kejadian tertinggal bukti kuat kalau pelakunya adalah anak buah B**m. Di saat yang sama, gudang makanan rahasia milik faksi B**m disabotase dan diracuni pakai bahan kimia sisa obat-obatan milik Vito."
Alera langsung tersenyum miring. Dia tipe orang yang langsung paham taktik kotor kayak begini. "Adu domba klasik. Mereka bakal saling bant**, dan para sipir bakal sibuk setengah mati buat misahin dua faksi terbesar ini. Pengamanan di perimeter luar pasti bakal longgar karena semua personel difokuskan ke area konflik."
"Tepat," kata gua. "Kenji, tugas lo adalah nge-hack sistem CCTV gudang logistik sektor barat selama tepat sepuluh menit malam ini. Bisa?"
Kenji menelan ludah, lalu membetulkan letak kacamatanya yang agak melorot. "S-sepuluh menit? Di server kuno mereka? Gampang. Gua cuma perlu bypass dekoder lokal di ruang generator. Tapi inget, gua cuma bisa kasih kalian waktu sepuluh menit. Lewat dari itu, alarm bakal bunyi otomatis."
"Sepuluh menit lebih dari c**up buat gua sama Alera," kata gua sambil menatap Alera, yang langsung mengangguk mantap. "Shena, lo pastikan kita tahu di mana Vito nyimpen kiriman obat barunya yang baru ma**k sore ini."
"Gudang C, di bawah tumpukan karung kentang busuk. Ada kotak besi abu-abu. Kuncinya gampang dibobol pakai kawat," jawab Shena cepat tanpa ragu. "Dan untuk B**m, anak buahnya selalu nyimpen stok daging kering tambahan di loker nomor 14 di ruang rekreasi Blok B. Mereka punya kunci duplikatnya, tapi gua tahu cara ngebuka engsel belakangnya."
"Oke. *Game on*," bisik gua. "Malam ini, kita bikin kamp ini membara."
***
Pukul dua dini hari. Angin malam berembus sangat dingin, membawa bau tanah basah dan karat dari kawat berduri.
Gua dan Alera bergerak layaknya bayangan di antara koridor barak. Berkat Kenji yang berhasil mematikan kamera pengawas di jalur kami, kami bisa berjalan tanpa perlu khawatir disorot lampu sensor otomatis.
Kami sampai di Gudang C. Alera berjaga di depan pintu kayu yang agak lapuk, sementara gua menyelinap ke dalam. Bau kentang busuk langsung menusuk hidung gua, tapi gua gak peduli. Dengan cepat, gua meraba-raba area di bawah tumpukan karung sesuai petunjuk Shena.
Ketemu. Sebuah kotak besi berukuran sedang. Gua mengeluarkan kawat kecil dari saku celana gua, mengutak-atik lubang kuncinya selama beberapa detik sampai terdengar bunyi *klik* yang memuaskan.
Di dalamnya ada puluhan botol kecil berisi cairan bening—stimulan dosis tinggi yang biasa dijual Vito dengan harga selangit ke para tahanan yang depresi. Gua mengambil hampir seluruh botol itu, menyisakan tiga botol yang sengaja gua pecahkan di lant** hingga cairannya menggenang.
Sebagai sentuhan akhir, gua meraba saku jaket gua. Gua mengeluarkan sebuah emblem militer usang bermotif elang—emblem khas yang selalu dipakai di seragam anak buah B**m sebagai tanda kelompok mereka. Gua menjatuhkan emblem itu tepat di tengah genangan cairan obat yang pecah.
"Rayan, sisa tiga menit!" bisik Alera dari balik pintu dengan nada mendesak.
"Selesai," kata gua sambil menutup kembali kotak besi itu tapi sengaja membiarkannya gak terkunci.
Kami langsung bergerak cepat menuju target kedua: loker nomor 14 di Blok B milik faksi tentara desersi. Koridor Blok B agak lebih berisiko karena posisinya lebih dekat dengan pos penjagaan utama, tapi untungnya kabut malam ini c**up tebal untuk menyamarkan gerakan kami.
Alera dengan cekatan menggunakan obeng kecil untuk melonggarkan engsel belakang loker besi nomor 14. Begitu pintu belakangnya terbuka sedikit, gua melihat tumpukan daging kering dan beberapa kaleng kornet mewah yang jelas-jelas hasil selundupan faksi B**m.
Gua mengambil beberapa botol stimulan milik Vito yang tadi gua curi, membuka tutupnya, lalu menyiramkan cairan kimia itu ke atas tumpukan daging kering mereka sampai baunya menyengat. Gak lupa, gua sengaja meninggalkan satu botol kosong berlabel khusus milik kelompok Vito di sudut loker yang paling gampang terlihat.
"Waktu habis, Ray! Kenji udah harus balikin sistem CCTV-nya sekarang," bisik Alera sambil menarik lengan baju gua.
"Ayo cabut," jawab gua. Kami berdua langsung berlari pelan, membelah kegelapan malam, dan kembali ke barak kami tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.
Begitu punggung gua menyentuh ka**r tipis yang keras di barak, gua menarik napas dalam-dalam. Sumbu kompor udah dinyalakan. Sekarang, kita tinggal tunggu ledakannya.
***
Besok paginya, suasana di kantin bener-bener kayak ruangan yang penuh dengan gas bocor. Tinggal butuh satu percikan kecil buat bikin semuanya meledak.
Gua duduk di meja paling sudut bersama Alera dan Kenji, berpura-pura tenang sambil mengunyah roti tawar yang kerasnya kayak batu bata. Pandangan gua gak lepas dari meja faksi mafia di sebelah kiri, dan meja faksi tentara desersi di sebelah kanan.
Vito, dengan jaket kulitnya yang selalu rapi walau di dalam kamp, kelihatan lagi dengerin laporan dari salah satu anak buahnya dengan wajah yang perlahan-menerjunkan amarah luar biasa. Urat-urat di lehernya bermunculan. Gak lama kemudian, dia mengeluarkan sesuatu dari sakunya—emblem militer elang milik anak buah B**m yang gua taruh semalam.
Di sisi lain kantin, B**m baru aja datang bersama tiga anak buahnya yang berbadan tegap. Wajah B**m merah padam, tangannya mengepal sangat kencang sampai buku-buku jarinya memutih. Rupanya mereka udah mengecek loker nomor 14 dan menemukan suplai makanan berharga mereka rusak total akibat cairan kimia obat milik Vito.
"Woi, B**m!"
Suara teriakan Vito menggema di seluruh penjuru kantin, membuat suasana yang tadinya bising langsung hening seketika. Ratusan tahanan menoleh, terma**k beberapa sipir yang berjaga di dekat pintu ma**k dengan tatapan malas.
B**m menghentikan langkahnya, berbalik perlahan dengan tatapan dingin yang mematikan. "Apa mau lo, mafia sampah?"
"Gak usah sok suci lo, ba*****!" Vito berjalan mendekat, diikuti oleh belasan anak buahnya yang langsung memegang garpu, pisau mentega, dan beberapa potongan besi runcing tersembunyi. "Lo pikir lo bisa maling barang gua terus ninggalin mainan tentara cupu lo ini di gudang gua?!" Vito melempar emblem elang itu tepat ke dada B**m.
B**m menangkap emblem itu, matanya menyipit penuh amarah. "Gua gak tahu apa yang lo omongin. Tapi kalau lo mau bahas soal sabotase, kenapa lo gak tanya ke anak buah lo sendiri yang udah ngeracunin makanan kami pakai obat-obatan murahan kalian?!" B**m mengeluarkan botol kosong milik Vito dan membantingnya ke lant** kantin hingga hancur berkeping-keping.
"Jangan banyak bacot! Balikin barang gua, atau hari ini juga gua bikin faksi lo rata sama tanah!" teriak Vito sambil merangsek maju.
"Coba aja kalau lo punya nyali, dasar kecoak!" tantang B**m, langsung melayangkan satu pukulan mentah yang mendarat telak di rahang Vito.
*BUGH!*
Vito tersungkur, tapi dia langsung bangkit dengan sudut bibir berdarah. "SERANG!!!" teriaknya histeris.
Detik itu juga, kantin Kamp 99 berubah menjadi arena gladiator yang luar biasa kacau.
Kedua faksi terbesar itu langsung bentrok di tengah ruangan. Meja-meja kayu dibalikkan untuk dijadikan tameng, piring-piring kaleng beterbangan di udara, dan suara hantaman fisik terdengar di mana-mana. Anak buah B**m yang punya latar belakang militer bertarung dengan taktik yang rapi, sementara anak buah Vito menyerang dengan brutal menggunakan senjata tajam apa adanya.
"G***... ini bener-bener g***," bisik Kenji dengan mata melotot, tubuhnya gemetaran di sebelah gua.
"Sant** aja, Ken. Nikmati pertunjukannya," kata gua sambil menyuap potongan terakhir roti tawar gua dengan sangat tenang.
Para sipir yang awalnya cuma berjaga sant** langsung panik. Mereka mencoba berteriak menggunakan pengeras suara, tapi suara mereka tenggelam dalam gemuruh teriakan ratusan orang yang saling bant**.
"Woi! Berhenti! Semuanya mundur!" teriak kepala sipir sambil menembakkan tembakan peringatan ke udara.
*DOR! DOR!*
Tapi tembakan itu sama sekali gak dihiraukan. Kemarahan yang udah menumpuk selama berbulan-bulan di kamp ini, ditambah adu domba yang gua rancang, bikin kedua faksi bener-bener kehilangan akal sehat. Mereka terus bertarung, bahkan beberapa sipir yang mencoba melerai malah ikut dipukuli sampai babak belur.
"Semua unit! Seluruh personel segera menuju ke Sektor Kantin! Kita butuh bantuan darurat! Rusuh massal!" terdengar suara panik dari radio HT salah satu sipir yang terjatuh di dekat meja kami.
Sirene darurat kamp berbunyi nyaring, melolong-lolong membelah udara pagi. Lampu-lampu merah berputar di setiap sudut koridor. Gua bisa melihat dari jendela kantin, barisan sipir bersenjata lengkap yang tadinya berjaga ketat di pos perimeter luar dan gerbang belakang, kini berlarian ma**k ke dalam area kantin untuk meredam kerusuhan.
"Perimeter luar bersih," Alera berbisik di telinga gua, matanya berbinar melihat kekacauan ini. "Penjagaan di rute kabur kita sekarang kosong melompong. Semua sipir dikerahkan ke sini."
Gua berdiri dari kursi, menepuk bahu Kenji yang masih syok, lalu menatap Alera dan Shena dengan senyum puas.
"Ayo balik ke barak sebelum kita ikut terseret. Tugas kita hari ini selesai," kata gua sant**.
Kami berjalan keluar dari kantin yang makin kacau lewat pintu belakang yang luput dari perhatian. Di belakang gua, suara teriakan, hantaman, dan tembakan gas air mata mulai terdengar. Kamp 99 yang tadinya terasa kayak penjara tanpa celah, kini cuma kelihatan kayak sekumpulan orang bodoh yang saling menghancurkan diri mereka sendiri.
Dan di tengah semua kekacauan itu, kami baru saja mendapatkan ruang bernapas yang kami butuhkan untuk merencanakan langkah terakhir: keluar dari neraka ini untuk selamanya.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!