Suara sirene melengking memecah keheningan malam di Kamp 99. Bunyinya berisik banget, bikin telinga pengang dan memicu kepanikan massal. Di tengah lapangan utama, kekacauan bener-bener pecah sesuai rencana yang udah gua susun matang-matang.
Anak buah B**m yang terkenal disiplin karena latar belakang militer mereka, sekarang kayak banteng ketaton. Mereka saling hantam pakai balok kayu, besi berkarat, sampai kepalan tangan kosong melawan anak buah Vito—para mafia obat yang biasa main licik. Darah berceceran di atas tanah berlumpur. Teriakan marah, makian kasar, dan bunyi benturan fisik terdengar bersahut-sahutan.
Para instruktur sosiopat yang biasanya hobi nyiksa tahanan tanpa alasan, sekarang malah kelihatan kewalahan. Mereka berlarian keluar dari pos penjagaan dengan tameng dan tongkat pemukul, berusaha keras melerai tawuran massal paling brutal dalam sejarah kamp ini. Komandan regu teriak-teriak pakai megafon yang suaranya pecah, memerintahkan semua orang untuk tiarap, tapi gak ada satu pun yang peduli. Semua orang udah telanjur tersulut emosi akibat adu domba yang gua rancang tadi sore.
Gua, Alera, dan Kenji nonton pemandangan kacau itu dari balik bayang-bayang barak logistik yang remang-remang.
"G***, Ray. Rencana lu beneran jalan," bisik Kenji dengan muka pucat, tapi matanya gak bisa menyembunyikan rasa kagum yang luar biasa. "Mereka beneran saling bant** kayak binatang."
"Gua udah bilang, kan? Orang-orang kayak B**m sama Vito itu gampang disulut. Ego mereka kegedean, tapi otaknya minim," sahut gua tenang sambil melipat tangan di dada.
Alera di sebelah gua cuma tersenyum miring. Matanya yang tajam mengamati pergerakan para sipir di perimeter luar yang mulai bergeser ke tengah lapangan untuk membantu meredam kerusuhan. "Sekarang fokus para instruktur bener-bener beralih total. Ini waktu yang pas buat kita nyari celah di pagar kawat berduri sektor barat."
Gua mengangguk, berniat mengambil buku catatan kecil yang selalu gua simpan di kantong celana kargo kumal gua. Buku itu adalah "Buku Panduan Bertahan Hidup" buatan gua sendiri—isinya analisis rute patroli, kelemahan sistem keamanan para sipir, sampai peta det**l jalur pelarian yang udah gua rancang berhari-hari. Gua butuh memastikan satu det**l kecil di peta sebelum kami bergerak.
Gua meraba kantong celana sebelah kanan. Kosong.
Gua mengernyitkan dahi. Gua raba kantong sebelah kiri, lalu kantong belakang. Kosong juga.
Jantung gua rasanya langsung merosot sampai ke dengkul. Keringat dingin langsung ngucur deras dari tengkuk gua.
"Ray? Lu kenapa? Muka lu langsung kayak mayat gitu," tanya Alera, matanya menyipit curiga melihat perubahan drastis di ekspresi wajah gua.
"Buku gua..." bisik gua lirih. Suara gua mendadak serak.
"Buku apa? Catatan harian lu yang biasa?" tanya Kenji polos.
"Buku panduan pelarian kita. Yang cover-nya hitam kecil. Gak ada di kantong gua," jawab gua, berusaha keras menahan getaran di suara gua walau sebenarnya otak gua udah traveling ke skenario terburuk yang bisa terjadi.
Kenji langsung melotot lebar, tangannya refleks membekap mulutnya sendiri agar gak teriak. "A****, Ray! Jangan becanda! Di situ kan ada coretan peta kita? Ada analisis sistem kamp juga?!"
"Gak ada nama kita di sana," jawab gua, mencoba berpikir logis di tengah kepanikan. "Tapi di situ ada tulisan tangan gua. Dan yang paling parah... di halaman terakhir, gua nulis analisis det**l tentang cara mengadu domba B**m dan Vito malam ini."
Alera langsung mencengkeram kerah baju gua, matanya menatap gua dengan kemarahan sekaligus kecemasan yang mendalam. "Lu jatuhin di mana, b***?! Kalau sampai buku itu jatuh ke tangan sipir atau salah satu dari mereka, kita semua kelar!"
"Pas gua nyelinap ke gudang obat Vito buat naruh barang bukti palsu tadi... kayaknya buku itu slip dan jatuh di sekitar sana pas gua buru-buru kabur," kata gua sambil memejamkan mata, merutuki kecerobohan gua sendiri.
***
Sementara itu, di sisi lain kamp yang terisolasi dari kerusuhan, atmosfer di dalam ruang kantor darurat milik faksi mafia obat terasa sangat tegang.
Vito, cowok klimis dengan luka bakar di pipi kirinya yang membuat wajahnya kelihatan makin menyeramkan, sedang duduk di kursi kayu sambil mengompres dahinya yang berdarah akibat hantaman balok kayu anak buah B**m. Napasnya memburu, matanya merah menyala karena amarah yang tak tertahankan.
Pintu ruangan didob**k kasar. Riko, tangan kanan kepercayaan Vito, ma**k dengan napas terengah-engah dan pakaian yang kotor penuh tanah.
"Bos! Kita harus mundur dulu. Para sipir udah mulai nembakin gas air mata ke lapangan tengah," kata Riko panik.
"B**m ba******! Dia pikir dia bisa nginjek-nginjek bisnis gua dan ngejarah gudang obat kita gitu aja?!" teriak Vito sambil menggeb**k meja kerja di depannya sampai retak. "Gua bakalastiin dia mati pelan-pelan di kamp ini!"
"Tapi Bos... ada yang aneh. Pas gua sama anak-anak lagi ngecek gudang obat kita yang jebol tadi, gua nemu ini di lant**, ketimbun sama pecahan botol kimia." Riko menyodorkan sebuah buku catatan kecil ber-cover hitam yang agak kotor terkena debu tanah.
Vito mengernyitkan dahi, menatap buku itu dengan tatapan jijik. "Apaan nih? Buku harian anak baru yang ketakutan?"
"Bukan, Bos. Lu harus baca sendiri. Coba buka halaman tengah sama halaman terakhir."
Dengan kasar, Vito menyambar buku itu dan membukanya. Begitu matanya membaca baris demi baris tulisan tangan yang sangat rapi, sistematis, dan terstruktur, ekspresi marahnya perlahan-lahan luntur. Berubah jadi rasa syok yang mendalam, lalu berganti menjadi seringai ngeri sekaligus murka yang luar biasa.
Di halaman terakhir buku itu, tertulis skema yang digambar dengan tinta hitam:
*Skenario Adu Domba Faksi B**m & Vito:*
*1. Ambil 3 botol stimulan dosis tinggi dari gudang Vito jam 22.00 (saat penjaga giliran ganti shift).*
*2. Taruh sisa botol pecah di dekat barak B**m. Pastikan ada bercak darah buatan.*
*3. Racuni pasokan air minum barak B**m pakai sisa bubuk penenang.*
*Hasil akhir: Kedua faksi akan saling bant**. Instruktur terdistraksi. Jalan keluar sektor barat aman untuk dilewati.*
Vito meremas buku itu sampai lecek, giginya bergemeletuk hingga mengeluarkan suara berderit yang mengerikan. "Ba******... Kita semua dimainin kayak boneka."
"Maksudnya gimana, Bos?" tanya Riko bingung.
"Tawuran ini... sabotase gudang kita... semuanya udah diatur! Ada orang ketiga di kamp ini yang sengaja bikin kita berantem sama faksi B**m supaya dia bisa bebas melenggang keluar!" Vito berteriak histeris, melemparkan gelas kaca di dekatnya hingga hancur berkeping-keping di dinding.
"Riko! Hubungi B**m sekarang juga! Bilang kita butuh gencatan senjata darurat!" perintah Vito dengan napas memburu.
"Hah? Tapi Bos, kita baru aja kehilangan dua orang di lapangan—"
"LAKUIN AJA, B***! Bilang sama si tentara sombong itu, ada musuh dalam selimut yang lagi ngetawain kita sekarang. Kita harus kerja sama buat nyari siapa penulis buku si**** ini. Siapa pun orangnya... dia harus mati dengan cara paling menyakitkan!"
***
Kabar tentang gencatan senjata mendadak antara B**m dan Vito menyebar di kalangan tahanan secepat virus. Hanya dalam waktu kurang dari satu jam setelah tawuran brutal pecah, kedua faksi besar itu tiba-tiba mundur teratur. Lapangan tengah yang tadinya bising oleh teriakan perang kini berubah menjadi sunyi senyap yang justru terasa jauh lebih mencekam.
Shena, cewek tomboi berambut merah pudar yang baru gua rekrut kemarin, berlari kencang menuju barak belakang tempat kami bersembunyi. Napasnya putus-putus, mukanya pucat pasi seperti baru melihat hantu.
"Ray! Gawat banget! Kita bener-bener dalam masalah gede!" kata Shena begitu dia sampai di depan kami. Dia langsung bertumpu pada kedua lututnya, mencoba menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
"Shena, tenang dulu. Tarik napas, jelasin pelan-pelan," kata Alera sambil memegang pundak Shena, berusaha menenangkannya walau gua tahu Alera sendiri juga lagi panik.
"B**m sama Vito... mereka gak jadi perang. Mereka baru aja ngadain pertemuan darurat di lapangan tengah, disaksikan sama beberapa instruktur kepala," kata Shena dengan suara gemetaran. "Vito nunjukin buku catatan hitam milik lu, Ray. Dia bilang di depan semua tahanan kalau ada 'otak jenius' yang udah memanipulasi mereka semua."
Gua memejamkan mata rapat-rapat. Skenario terburuk gua beneran terjadi lebih cepat dari yang gua duga. Orang-orang di kamp ini ternyata gak sebodoh yang gua kira kalau menyangkut harga diri mereka.
"Mereka bilang apa lagi?" tanya gua dingin, mencoba menekan segala emosi dan mengaktifkan mode berpikir taktis gua.
"B**m ngamuk besar karena ngerasa harga dirinya sebagai mantan kapten militer diinjak-injak sama anak baru. Mereka langsung nyebar anak buah mereka ke setiap sudut kamp malam ini juga. Aturannya simpel: siapa pun yang kedeteksi punya tulisan tangan yang mirip sama yang ada di buku itu, atau siapa pun yang kelihatan mencurigakan malam ini, bakal langsung diseret ke lapangan tengah buat dieksekusi di depan umum sebagai peringatan," jelas Shena panjang lebar. "Mereka juga kerja sama sama para sipir korup buat nyari pelakunya. Kamp ini sekarang di-lockdown total. Gak ada yang bisa keluar ma**k barak tanpa pemeriksaan!"
"A****, a****, a****! Kita mati, Ray! Kita bakal mati digantung!" Kenji mulai histeris, tangannya gemetaran menjambak rambutnya sendiri. "Gua bilang juga apa, rencana lu terlalu berisiko!"
"Ken, diem!" gertak Alera tajam. "Panik gak bakal bikin buku itu balik ke kantong Rayan. Kita harus mikir cara buat lolos dari razia ini."
Gua mencoba mengatur napas, menatap telapak tangan kanan gua. Tulisan tangan gua di buku panduan itu emang sangat khas. Agak miring ke kanan, rapi, dan terstruktur—tipe tulisan orang yang terbiasa membuat skema analisis. Kalau mereka merazia barak dan menyuruh semua orang menulis untuk dicocokkan tulisannya, gua pasti langsung ketahuan dalam sekali lihat.
"Gua harus bikin tangan kanan gua gak bisa dipakai nulis," kata gua pelan namun tegas.
Kenji spontan menatap gua dengan pandangan horor. "Maksud lu... lu mau patahin tangan lu sendiri?! Lu g***?!"
"Gak perlu sampai patah tulang. C**up bikin cedera otot atau memar bengkak yang parah banget, yang bikin gua secara fisik gak bisa memegang pulpen sama sekali. Jadi gua punya alasan logis buat nulis pakai tangan kiri dengan hasil tulisan yang hancur-hancuran dan gak mirip sama sekali dengan yang ada di buku panduan," jelas gua.
Alera melipat tangannya, matanya menatap gua dengan pandangan menilai. "Ide bagus, tapi itu belum c**up, Ray. B**m sama Vito itu orang-orang paranoid yang punya insting tajam. Walaupun tulisan tangan kiri lu beda, mereka pasti bakal curiga kenapa tangan kanan lu tiba-tiba cedera parah pas di malam kejadian kerusuhan. Alibi lu harus kuat."
Gua terdiam sejenak. Alera bener. Cedera gua gak boleh kelihatan sengaja dibuat-buat. Harus ada skenario pendukung.
"Kita butuh kambing hitam," kata gua akhirnya dengan senyum tipis yang terasa dingin. "Seseorang yang emang udah dibenci sama B**m atau Vito, yang punya akses ke area logistik, yang punya motif buat bikin kekacauan ini, dan yang paling penting... yang punya tulisan tangan rapi."
"Siapa?" tanya Kenji bingung. "Siapa orang di kamp ini yang sekalian mau lu tumbalin?"
"Johan," jawab gua pendek.
Shena langsung menjentikkan jarinya, matanya berbinar menyetujui. "Ah! Johan! Si asisten administrasi di kantor logistik yang belagu itu! Dia kan emang kerjaannya nulis dokumen laporan harian para sipir, jadi tulisan tangannya pasti rapi. Ditambah lagi, dia itu informan bagi para instruktur dan sering banget meras tahanan baru. B**m sama Vito emang udah lama pengen ngehabisin dia."
"Tepat," kata gua. "Kita harus bikin seolah-olah Johan yang sengaja menulis buku panduan itu atas perintah para instruktur untuk mengadu domba faksi tahanan agar kekuatan para tahanan melemah."
"Gimana caranya?" tanya Alera, mulai tertarik dengan rencana darurat ini.
"Shena, lu masih punya kunci cadangan ke loker staf di kantor logistik, kan?" tanya gua memastikan.
"Masih. Gua selalu bawa di saku dalam jaket gua," jawab Shena cepat.
"Bagus. Alera, lu ikut Shena sekarang juga. Ma**k ke kantor logistik yang lagi sepi karena semua penjaga lagi fokus ke lapangan. Ambil salah satu dokumen atau kertas coretan yang ditulis sama Johan. Sobek beberapa halaman, lalu slip-in kertas itu ke area barak faksi Vito atau tempat yang gampang ditemuin sama anak buah B**m yang lagi sweeping. Bikin seolah-olah Johan buru-buru menyembunyikan bukti itu tapi malah tercecer."
Alera mengangguk paham. "Dan lu sendiri mau ngapain sekarang, Ray?"
Gua menatap sebuah pipa besi tebal yang melintang di dekat dinding barak kami, lalu beralih menatap balok kayu tebal yang tergeletak di dekat kaki Kenji. "Gua harus menyelesaikan alibi cedera gua. Ken, bantu gua."
"B-bantu ngapain?" tanya Kenji dengan firasat buruk.
"Ambil balok kayu itu. Pukul pergelangan tangan kanan gua sekeras mungkin sampai bengkak. Lakuin sekarang, sebelum anak buah Vito sampai ke barak kita."
Kenji mundur selangkah, wajahnya memucat pasi. "Ray... gua gak bisa. Sumpah, gua gak tega! Kalau tangan lu patah gimana?!"
"Lakuin, Kenji! Ini demi keselamatan kita bertiga! Kalau gua tertangkap, kalian berdua juga bakal terseret karena kita sering kelihatan bareng akhir-akhir ini!" bentak gua dengan nada menuntut yang tak terbantahkan.
Kenji menelan ludah dengan susah payah. Dengan tangan yang gemetaran hebat, dia perlahan mengambil balok kayu tersebut.
"Sorry, Ray... Sumpah, gua bener-bener minta maaf..." bisik Kenji.
*Bugh!*
Suara hantaman keras menggema di sudut barak yang sepi. Rasa sakit yang luar biasa dahsyat langsung menjalar dari pergelangan tangan kanan gua, naik ke lengan, hingga menusuk langsung ke saraf otak gua. Gua langsung jatuh berlutut, menggigit kerah baju gua kuat-kuat untuk menahan teriakan agar tidak terdengar ke luar. Air mata gua refleks menetes karena rasa sakit yang tak tertahankan, dan pandangan gua sempat buram selama beberapa detik sebelum akhirnya gua berhasil menguasai diri kembali.
Gua melihat pergelangan tangan kanan gua. Kulitnya langsung berubah warna merah keunguan dan mulai membengkak dengan sangat cepat.
"Gokil... lu bener-bener orang paling g*** yang pernah gua kenal, Ray," bisik Kenji dengan tubuh gemetaran melihat keberanian gua.
"Bagus... sekarang pergi, lakuin bagian kalian," kata gua dengan napas satu-satu, memegangi pergelangan tangan gua yang berdenyut hebat.
Alera menatap gua sekilas dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara cemas dan kagum—sebelum akhirnya dia menarik tangan Shena untuk segera bergerak menyelinap pergi ke arah kantor logistik di bawah kegelapan malam.
Sementara itu, gua dan Kenji segera kembali ke barak utama kami. Gua langsung merebahkan diri di atas ranjang reyot gua, memposisikan tangan kanan gua yang cedera di bawah bantal agar tidak terlalu terlihat mencolok, lalu berpura-pura memejamkan mata seolah sedang tidur nyenyak di tengah ketegangan yang makin memuncak.
Hanya butuh waktu sekitar sepuluh menit sampai akhirnya pintu kayu barak kami didob**k secara brutal dari luar hingga hampir engselnya lepas.
"SEMUA BANGUN! JANGAN ADA YANG BERAKSI MENCURIGAKAN ATAU GUA TEMBAK DI TEMPAT!"
Tiga orang bertubuh kekar dari faksi Vito ma**k memimpin jalan dengan membawa parang dan senter sorot yang langsung diarahkan ke wajah kami para tahanan satu per satu. Di belakang mereka, dua orang instruktur militer dengan seragam lengkap berdiri sambil tersenyum sinis, menikmati kepanikan dan ketakutan yang terpancar dari wajah para tahanan baru yang langsung terbangun dari tidur mereka.
"Semua berdiri di samping ranjang masing-masing! Kumpulin semua kertas, buku, atau alat tulis apa pun yang kalian punya di barak ini!" teriak salah satu anak buah Vito dengan kasar.
Gua bangkit dari ranjang dengan gerakan lambat yang sengaja dibuat-buat, memegangi pergelangan tangan kanan gua yang bengkak parah dengan ekspresi kesakitan yang sangat natural tanpa perlu akting berlebihan.
Permainan bertahan hidup sesungguhnya baru saja dimulai. Dan gua akan memastikan kalau siapa pun yang memburu gua malam ini, justru mereka lah yang akan ma**k ke dalam perangkap yang sudah gua siapkan selanjutnya.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!