Bau anyir darah yang bercampur dengan karat besi langsung menyengat hidung gua begitu kesadaran gua perlahan kembali. Kepala gua rasanya kayak dihantam palu godamβnyut-nyutan parah sampai bikin pandangan gua kabur. Pas gua mencoba buat menggerakkan tangan guna memegang jidat gua yang kerasa perih, terdengar bunyi gemerincing rant** besi yang saling beradu.
Gua mendongak paksa. Pandangan gua yang awalnya buram perlahan-lahan mulai fokus. Sial. Gua lagi diikat di sebuah kursi besi tua di tengah-tengah ruangan interogasi yang minim cahaya. Satu-satunya sumber penerangan di sini cuma sebuah bohlam kuning yang bergelantungan tepat di atas kepala gua, berayun pelan dan menciptakan bayangan yang kelihatan horror di dinding beton yang lembap.
"Udah bangun, jagoan?"
Suara berat, serak, dan penuh intimidasi itu terdengar dari sudut ruangan yang gelap. Bulu kuduk gua langsung meremang. Dari balik bayang-bayang, sesosok cowok berbadan tegap dengan seragam militer lengkap berjalan mendekat. Langkah boots-nya yang berat terdengar begitu konstan, seolah-olah sengaja meneror mental gua.
Mayor Boris. Kepala instruktur Kamp 99 yang terkenal sosiopat dan gak punya belas kasihan.
Di tangan kanannya yang kekar, dia memegang sesuatu yang langsung bikin jantung gua serasa berhenti berdetak. Sebuah buku catatan kecil bersampul hitam yang permukaannya agak kotor kena lumpur. Buku panduan bertahan hidup gua.
"Nyari ini?" Boris bertanya sambil memamerkan buku itu di depan muka gua. Senyumnya yang miring kelihatan mengerikan di bawah temaram lampu kuning.
Gua berusaha tetep tenang. Gua menelan ludah yang rasanya pahit banget karena bercampur darah. "Wah, ketemu juga. Makasih ya, Mayor. Gua kirain jatuh di parit tadi."
*BUAK!*
Satu pukulan mentah mendarat telak di pipi kiri gua. Saking kerasnya pukulan itu, kepala gua terlempar ke samping dan kursi besi yang gua dudukin hampir aja terguling kalau kaki kursi itu gak disekrup ke lant**. Rasa sakit yang luar biasa langsung menjalar ke seluruh rahang gua. Mulut gua robek, dan cairan hangat berwarna merah segar mulai menetes dari sudut bibir gua.
"Gak usah sok asyik sama gua, ba*****!" bentak Boris. Dia menjambak rambut gua dengan kasar, memaksa kepala gua mendongak buat menatap matanya yang merah penuh amarah. "Lu pikir gua bodoh? Lu pikir gua gak tahu kalau lu yang ada di balik semua kekacauan di luar sana?"
Gua meringis menahan sakit, tapi otak gua langsung berputar cepat mencari jalan keluar. "Kekacauan apa, Mayor? Di luar kan cuma tawuran antar-geng biasa. B**m sama Vito kan emang udah lama pengen saling bunuh."
*BUAK!*
Sekali lagi, kepalan tangan Boris menghantam perut gua. Sumpah, rasanya kayak organ dalam gua langsung bergeser. Gua terbatuk-batuk keras, memuntahkan darah ke lant** semen yang dingin. Napas gua memburu, rasanya sesak banget.
"Jangan bohongin gua!" teriak Boris tepat di depan muka gua. Napasnya yang bau cerutu berembus kasar. "Anak buah B**m gak bakal gerak tanpa provokasi yang matang. Dan anak buah Vito gak bakal seberani itu menyerang kalau gak ada yang manasin. Di buku ini..." Boris menepuk-nepuk buku hitam gua ke pipi gua yang memar. "...semuanya tertulis jelas. Analisis jadwal patroli, kelemahan sistem cctv, bahkan peta jalur pelarian. Lu dalang dari semua ini, kan, Rayan?"
Gua memejamkan mata sejenak, mencoba mengatur napas dan meredam rasa sakit yang luar biasa di sekujur tubuh gua. Gua harus mengulur waktu. Gua tahu Alera dan Kenji pasti sadar kalau gua ketangkap. Gua harus bertahan sampai mereka datangβkalau mereka beneran datang.
Gua perlahan membuka mata, lalu tersenyum tipis. Sangat tipis sampai hampir kelihatan kayak seringai meremehkan.
"Mayor Boris..." kata gua dengan suara serak, sengaja menurunkan tempo bicara gua biar kelihatan tenang dan penuh kendali. "Lu emang pinter. Tapi sayang, analisis lu agak meleset sedikit."
Boris mengernyitkan dahinya. Jambakannya di rambut gua agak melonggar, tapi tatapan matanya masih setajam silet. "Maksud lu apa?"
"Lu beneran mikir buku itu jatuh karena gua teledor?" tanya gua sambil menatap langsung ke dalam manik matanya. Gua memasang ekspresi wajah seyakin mungkin, seolah-olah semua yang terjadi saat ini adalah bagian dari rencana gua. "Ayo dong, Mayor. Gua udah bertahan hidup di kamp neraka ini berbulan-bulan. Menurut lu, apa gua seceroboh itu sampai menjatuhkan satu-satunya bukti yang bisa bikin gua dieksekusi mati?"
Boris terdiam. Gua bisa melihat kilatan keraguan yang sangat tipis di matanya. Teknik manipulasi verbal psikologi terbalikβgua harus bikin dia mempertanyakan kewarasannya sendiri.
"Gua sengaja menjatuhkan buku itu, Mayor. Biar lu yang nemu," bohong gua dengan nada suara yang sangat meyakinkan. "Gua butuh lu ada di ruangan ini, jauh dari lapangan utama."
"Jangan coba-coba main psikologi sama gua, bocah!" Boris membentak, tapi kali ini suaranya terdengar agak goyah. Dia melepaskan jambakannya dan berjalan mondar-mandir di depan gua, persis kayak singa yang lagi gelisah dalam kandang.
"Pikirin baik-baik," lanjut gua, memanfaatkan keraguannya. "Kenapa rusuh di lapangan tadi bisa pecah secepat itu? Apa bener cuma karena B**m dan Vito? Atau... ada 'pihak ketiga' yang sengaja memanfaatkan momentum ini buat menggeser posisi lu?"
Boris mendadak berhenti melangkah. Dia menatap gua dengan mata membelalak. "Pihak ketiga? Siapa?"
"Lu tahu sendiri gimana politik di Kamp 99 ini bekerja, Mayor," sahut gua sant**, sambil pura-pura meludah darah ke samping. "Di atas lu, masih ada komandan tertinggi yang selalu nyari celah buat menyingkirkan lu. Kalau malam ini terjadi kerusuhan massal paling brutal dalam sejarah kamp, dan lu sebagai kepala instruktur malah sibuk menginterogasi satu tahanan gak penting kayak gua... menurut lu, siapa yang bakal disalahkan oleh markas pusat besok pagi?"
Wajah Boris perlahan-lahan mulai memucat. Umpan gua termakan. Dia adalah tipe orang yang sangat terobsesi dengan jabatan dan kekuasaan. Mengancam posisinya adalah cara terbaik buat bikin dia panik dan kehilangan fokus.
"Lu... lu cuma gertak sambal," desis Boris, tapi keringat dingin mulai terlihat menetes di pelipisnya.
"Silakan kalau gak percaya. Coba aja cek radio panggil lu. Apa ada laporan kalau gudang persenjataan di sektor barat sekarang lagi dijebol sama anak buah komandan lu sendiri?" gua mengarang cerita dengan sangat lancar tanpa berkedip sedikit pun. "Mereka cuma butuh kambing hitam, Mayor. Dan malam ini, kambing hitamnya adalah lu... dan gua."
Boris menatap radio HT yang tergantung di sabuk militernya. Tangannya bergetar sedikit saat hendak meraih alat komunikasi itu. Gua menahan napas, berdoa dalam hati semoga kebohongan gua ini bisa mengulur waktu beberapa menit lagi.
Tapi sayangnya, Boris gak sebodoh itu buat langsung percaya sepenuhnya. Dia menarik tangannya kembali dari HT, lalu menatap gua dengan tatapan yang bener-bener murka. Matanya menyipit penuh kebencian.
"Ba*****!" teriak Boris sambil menendang kursi besi gua sampai terguling.
*BRUK!*
Tubuh gua langsung menghantam lant** semen yang keras dengan posisi tangan masih terikat ke belakang. Bahu kiri gua rasanya mau lepas. Gua mengerang kesakitan, bener-bener gak bisa bergerak.
Boris mendekat, lalu menginjak dada gua dengan boots militernya yang berat. Dia menekan dadaku sampai gua ngerasa tulang rusuk gua mau patah. Gua kesulitan bernapas, paru-paru gua rasanya kayak mau meledak.
"Lu pinter banget ngomong, Rayan. Sumpah, gua hampir aja termakan omong kosong lu," kata Boris sambil tersenyum sadis. Dia mencabut pistol hitam dari sarung di pinggangnya, lalu mengokangnya dengan bunyi *klik* yang sangat dingin. "Tapi gua gak peduli lagi tentang politik atau jabatan gua di sini. Yang jelas, malam ini... lu mati di tangan gua."
Boris mengarahkan moncong pistolnya tepat di antara kedua mata gua.
Gua menatap ujung laras senjata itu dengan jantung yang berdegup kencang luar biasa. Keringat dingin mengalir deras dari dahi gua. Sial. Kali ini gua bener-bener kehabisan kartu as. Gua memejamkan mata, bersiap untuk kemungkinan terburuk. *Sumpah, Alera, Hugo, kalau kalian gak muncul sekarang, gua bakal hantuin kalian seumur hidup.*
"Ada kata-kata terakhir, ba******?" tanya Boris dengan nada dingin tanpa emosi. Jarinya perlahan-lahan mulai menarik pelatuk pistol.
*BOOM!!!*
Pintu besi ruang interogasi yang tebalnya hampir sepuluh senti itu mendadak jebol dengan suara ledakan yang sangat keras. Debu, puing-puing beton, dan asap tebal langsung memenuhi ruangan kecil itu, bikin pandangan jadi buram seketika.
Boris yang terkejut langsung mengalihkan moncong pistolnya ke arah pintu. Tapi sebelum dia sempat menarik pelatuk, sesosok bayangan bergerak secepat kilat menembus kepulan asap.
*DUB!*
Sebuah tendangan memutar yang sangat kuat mendarat telak di pergelangan tangan Boris. Pistol di tangannya langsung terlepas dan terlempar jauh ke sudut ruangan.
"Jangan sentuh temen gua, ba*****!" teriak sebuah suara cewek yang sangat akrab di telinga gua.
Alera!
Alera berdiri dengan gagah di tengah ruangan, mengenakan pakaian taktis hitam-hitam. Matanya yang tajam kelihatan sangat murka. Dia gak membuang waktu dan langsung merangsek maju, melayangkan kombinasi pukulan cepat ke arah wajah dan perut Boris. Boris yang merupakan mantan tentara elit tentu aja gak tinggal diam. Dia menangkis beberapa pukulan Alera dan membalas dengan tendangan sapuan bawah yang hampir aja merobohkan Alera.
Di saat yang sama, sesosok cowok berbadan besar seperti lemari dua pintu menyusul ma**k ke dalam ruangan. Hugo!
Hugo langsung berlari ke arah gua yang masih terkapar di lant**. Dengan kekuatan fisiknya yang luar biasa, dia menarik kursi besi gua hingga kembali tegak, lalu menggunakan pisau komando kecil buat memotong tali tambang dan rant** yang mengikat tangan gua.
"Lu gapapa, Ray? Sori agak telat, nyari celah ma**knya agak susah tadi," kata Hugo dengan napas terengah-engah sambil membantu gua berdiri.
Gua memegangi perut gua yang masih kerasa nyeri luar biasa, lalu meludah darah lagi ke lant**. "Lu... lu lihat muka gua yang udah mirip adonan mendoan gini masih nanya gua gapapa?" sahut gua dengan suara serak, tapi lega setengah mati.
"Hehe, yang penting lu masih hidup," cengir Hugo polos.
Sementara itu, pertarungan antara Alera dan Boris makin memanas. Boris yang menang dalam hal ukuran tubuh berhasil menyudutkan Alera ke dinding. Dia mencengkeram leher Alera dengan satu tangan dan bersiap melayangkan pukulan maut dengan tangan satunya lagi.
"Alera!" teriak gua panik.
Tapi Alera bukan cewek lemah yang gampang dikalahkan. Dia memanfaatkan dinding di belakangnya buat pijakan kaki, lalu melakukan lompatan memutar dan mengunci leher Boris dengan kedua kakinya. Dengan teknik *flying armbar* yang sangat rapi, Alera menjatuhkan tubuh Boris ke lant** dan memelintir tangan kanan Boris sampai terdengar bunyi *KREK!* yang sangat memuaskan.
"AAARRGGHH!!!" Boris berteriak kesakitan saat tulang lengannya bergeser dari sendinya.
Alera langsung melepaskan kunciannya, lalu memberikan satu tendangan terakhir tepat di dagu Boris yang bikin kepala instruktur itu langsung pingsan tak sadarkan diri di lant** semen dengan posisi yang sangat mengenaskan.
Alera berdiri sambil membetulkan posisi rambutnya yang agak berantakan. Dia menatap ke arah gua, lalu berjalan mendekat dan mengambil buku catatan hitam gua yang tergeletak di lant**. Dia menyerahkannya kembali ke gua.
"Buku lu," kata Alera singkat dengan napas yang masih memburu.
Gua menerima buku itu dengan tangan gemetar, lalu mema**kkannya kembali ke kantong celana kargo gua yang kumal. "Makasih, Al. Lu beneran penyelamat gua."
"Simpan terima kasih lu buat nanti kalau kita udah keluar dari pagar kamp ini," sahut Alera tegas. "Di luar makin kacau. Beberapa instruktur cadangan mulai bergerak ke arah sini setelah dengar suara ledakan tadi. Kita harus cabut sekarang juga!"
"Setuju. Gua gak mau lagi ngerasain bau ruangan ini," kata Hugo sambil merangkul bahu gua buat membantu gua berjalan.
Kami bertiga langsung berlari keluar dari ruang interogasi berdarah itu, menembus lorong-lorong gelap Kamp 99 yang dipenuhi oleh suara sirene dan kepulan asap, siap untuk menghadapi rintangan terakhir demi kebebasan kami.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!