"...Dan anak buah Vito gak bakal sebodoh itu buat nyerang duluan tanpa ada yang manasin!"
Boris masih mencengkeram rambut gua dengan sangat kasar, bikin kulit kepala gua rasanya mau lepas dari tengkorak. Tapi sebelum dia sempat melayangkan pukulan ketiga yang mungkin bakal bikin rahang gua beneran patah, tiba-tiba lampu bohlam di atas kepala gua berkedip-kedip dengan heboh.
*Bzzzt... Bzzzt...*
Lalu, *KLIK*. Seluruh ruangan langsung gelap gulita.
Gak cuma itu, suara sirine darurat tiba-tiba melolong nyaring dari arah koridor luar, memecah kesunyian malam dengan suaranya yang m****akkan telinga.
"Si****, ada apa ini?!" umpat Boris kasar.
Gua bisa mendengar langkah kaki boots-nya yang berat mundur beberapa langkah, disusul bunyi klik dari walkie-talkie di sabuknya. "Halo? Monitor? Kenapa listrik di sektor interogasi mati? Halo?!"
Hanya ada suara kresek-kresek statis yang bising sebagai jawaban.
Tiba-tiba, pintu besi tebal di belakang gua terbuka dengan bunyi deritan pelan yang hampir gak terdengar. Seseorang menyelinap ma**k dengan sangat cepat. Langkah kakinya begitu ringan, hampir mirip kayak kucing yang lagi berburu.
"Ssst... Jangan berisik," bisik sebuah suara familier yang langsung bikin gua mengembuskan napas lega.
Kenji.
Gua gak tahu gimana caranya cowok berkacamata itu bisa lolos dari patroli ketat, tapi kehadiran dia di sini sekarang kayak malaikat penolong buat gua. Kenji dengan cepat berlutut di samping kursi gua, tangannya yang cekatan langsung mengotak-atik gembok rant** besi yang mengikat tangan gua menggunakan sebilah kawat kecil.
"G***, lu babak belur banget, Al," bisik Kenji dengan nada super cemas begitu melihat luka-luka di muka gua lewat temaram cahaya merah dari lampu darurat koridor yang ma**k lewat celah pintu.
"Gua masih hidup, *thanks to you*," balas gua dengan suara serak. Sumpah, tenggorokan gua rasanya kering banget kayak padang pasir.
Begitu rant** di tangan dan kaki gua terlepas, gua hampir aja langsung ambruk ke lant** kalau Kenji gak sigap memapah bahu gua. Rahang gua masih kerasa kaku, dan perut gua rasanya kayak diaduk-aduk karena pukulan mentah Boris tadi.
"Siapa di sana?!" teriak Boris dari ujung ruangan. Dia menyadari ada pergerakan lain di dalam kegelapan.
Bunyi klik keras terdengar—Boris baru saja mengokang pistolnya. Senter taktis berdaya tinggi miliknya tiba-tiba menyala, menyorot langsung ke arah posisi kami berdua berdiri. Sinar lampu yang kelewat terang itu bikin mata gua silau seketika.
"Lari, Al!" teriak Kenji.
Sebelum Boris sempat menarik pelatuk pistolnya, Kenji dengan cepat melempar sebuah tabung kecil berwarna perak ke lant**.
*KRETEK... BOOOM!*
Bom asap rakitan buatan Kenji meledak dengan suara mendesis keras. Dalam hitungan detik, kepulan asap putih tebal langsung memenuhi ruangan interogasi yang sempit itu, membatasi jarak pandang sampai nol persen. Kenji menarik lengan jaket gua dengan kuat, menuntun gua menerobos pintu keluar selagi terdengar suara Boris yang terbatuk-batuk hebat sambil memaki serapah di dalam ruangan penuh asap tersebut.
Kami berlari terseok-seok menyusuri koridor bawah tanah yang remang-remang. Lampu darurat warna merah berputar-putar di langit-langit, menciptakan suasana mencekam layaknya adegan film horor. Napas gua memburu, paru-paru gua rasanya mau meledak, tapi rasa takut mati jauh lebih gede daripada rasa sakit di sekujur tubuh gua saat ini.
Setelah melewati beberapa kelokan koridor yang membingungkan, Kenji mendorong sebuah pintu besi berkarat di ujung lorong mati. Kami ma**k ke dalam sebuah ruang utilitas bawah tanah yang terbengkalai. Ruangan itu penuh dengan tumpukan pipa uap air yang bocor, kabel-kabel melintang, dan bau besi berkarat yang menyengat. Ini adalah markas rahasia kami—tempat yang bahkan gak terdeteksi di peta resmi Kamp 99.
Gua langsung ambruk ke lant** semen yang dingin, menyandarkan punggung gua ke dinding beton sambil memegangi perut yang rasanya masih nyeri bukan main. Kenji dengan cepat menutup pintu besi itu rapat-rapat, menguncinya dari dalam, dan mengganjal gagang pintu menggunakan sebatang balok kayu tebal.
Dia terduduk di depan gua sambil mengatur napasnya yang putus-putus. Mukanya kelihatan pucat pasi. Tapi anehnya, ketakutan di wajah Kenji kali ini kelihatan beda. Ini bukan cuma ketakutan karena kami baru aja hampir ketahuan sama Boris, melainkan ada sesuatu yang jauh lebih mengerikan yang lagi dia sembunyiin.
"Nih, minum dulu," kata Kenji sambil menyodorkan sebotol air mineral yang dia ambil dari dalam tas ranselnya.
Gua langsung menyambar botol itu dan menenggaknya sampai habis setengah. Air dingin itu rasanya enak banget saat melewati tenggorokan gua yang sempat berdarah. Gua menyeka sisa air di sudut bibir gua yang robek dengan punggung tangan. "Gua utang nyawa sama lu, Ken. Tapi... gimana caranya lu bisa nge-hack sistem listrik sektor interogasi secepat itu?"
Kenji gak langsung menjawab dengan nada sombong seperti biasanya. Dia malah menghela napas berat, lalu berjalan mendekati sebuah meja kayu rapuh di sudut ruangan, tempat sebuah laptop militer curian miliknya dalam kondisi menyala dengan baris-baris kode hijau yang terus berjalan di layarnya.
"Gua gak cuma nge-hack sistem listrik buat nyelametin lu, Al," kata Kenji. Suaranya terdengar sangat pelan, bergetar, dan dingin.
Gua mengernyitkan dahi. Perasaan gua mendadak gak enak. "Maksud lu?"
"Pas gua lagi nyusup ke server lokal buat matiin sirkuit listrik di sektor lu, gua gak sengaja nemu sebuah *backdoor* yang terhubung langsung ke satelit komunikasi militer pusat. Keamanan mereka lagi kacau banget di tingkat atas, makanya gua bisa tembus ma**k sampai ke arsip pesan terenkripsi mereka," jelas Kenji tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
Gua memaksakan diri buat berdiri dengan susah payah, memegangi tulang rusuk gua yang kerasa ngilu, lalu berjalan pelan ke samping Kenji. Di layar laptopnya, ada sebuah dokumen berformat PDF yang baru saja selesai didekripsi dengan logo tengkorak merah di bagian atasnya.
"Ada apa, Ken? Jangan bikin gua jantungan deh," desak gua, mulai ngerasa cemas melihat ekspresi wajah Kenji yang makin tegang.
Kenji menoleh ke arah gua. Matanya yang ada di balik kacamata itu kelihatan bergetar hebat. "Eksperimen 'Genesis'... proyek mutasi genetik ilegal yang selama ini dijalanin di kamp ini... udah bocor ke publik, Al. Skalanya emang masih kecil, cuma menyebar di forum underground asing, tapi itu udah c**up buat bikin para petinggi militer di pusat panik setengah mati."
"Bocor?" Gua tertegun. "Bukannya itu bagus buat kita? Kalau dunia luar tahu ada eksperimen g*** di kamp ini, kita semua harusnya bakal diselametin, kan?"
Kenji tertawa. Tapi itu adalah tawa paling getir dan paling putus asa yang pernah gua dengar seumur hidup gua. "Diselametin? Lu terlalu naif, Al. Lu pikir militer pusat bakal mau mengakui kalau mereka udah ngelakuin eksperimen keji ini ke warga sipil dan tahanan?"
Gua terdiam. Otak gua mendadak macet.
Kenji mengklik mouse-nya, membuka sebuah dokumen instruksi yang dikirim langsung dari markas komando pusat militer ke komputer pribadi Mayor Boris beberapa jam yang lalu.
"Mereka gak bakal nyelametin kita, Al," bisik Kenji dengan suara yang nyaris hilang. "Satu-satunya cara biar reputasi mereka tetep bersih adalah dengan menghapus semua bukti fisik. Dan bagi mereka... bukti fisik itu adalah Kamp 99 beserta seluruh isinya."
Gua langsung membaca teks yang ada di layar laptop Kenji. Setiap kata yang tertulis di sana rasanya kayak jarum es yang ditusukkan langsung ke dada gua.
*PROTOKOL PEMBERSIHAN TOTAL (CLEAN SLATE)*
*STATUS: AKTIF.*
*TARGET: KAMP 99.*
*METODE: ELEMINASI TOTAL SELURUH SUBJEK DAN PERSONEL.*
"Semua?" suara gua mendadak serak, tenggorokan gua kembali terasa tercekat. "Maksud lu... kita semua?"
"Iya, Al! Semua!" Kenji setengah berteriak, frustrasi. "Bukan cuma para tahanan kayak kita, tapi semua penjaga, staf medis, bahkan Mayor Boris dan seluruh instruktur militer di kamp ini bakal dieliminasi! Gak boleh ada satu pun saksi hidup yang tersisa di dalam radius lima kilometer dari tempat ini!"
"Gimana... gimana caranya mereka bakal ngelakuin itu?" tanya gua, jantung gua mulai berdegup kencang banget sampai rasanya mau melompat keluar dari dada.
Kenji mengusap wajahnya dengan kasar. "Mereka bakal mengunci semua gerbang keluar secara otomatis dari pusat. Setelah itu, sistem ventilasi udara utama di seluruh kamp bakal dialirin gas neurotoksin dosis tinggi yang bisa bikin manusia tewas dalam waktu kurang dari lima menit. Dan buat mastiin gak ada mutan atau bukti biologis yang tersisa, mereka bakal ngirim serangan udara—bom pemusnah massal—buat meratakan seluruh kamp ini dengan tanah."
Gua terperangah. Tubuh gua mendadak lemas sampai gua harus berpegangan pada pinggiran meja kayu buat menopang badan gua yang gemetar. "G***... mereka bener-bener i****."
"Dan lu tahu apa bagian yang paling buruk dari semua ini?" Kenji menatap gua dengan pandangan kosong. "Hitung mundurnya udah dimulai, Al."
Gua menelan ludah dengan susah payah. "Sisa berapa waktu lagi kita punya?"
Kenji menunjuk ke arah pojok kanan bawah layar laptopnya, di mana ada sebuah *timer* digital berwarna merah yang sedang berjalan mundur secara konstan.
*47:52:14.*
"Kurang dari 48 jam," kata Kenji, suaranya terdengar sangat rapuh. "Dalam waktu dua hari, tempat ini bakal berubah jadi kuburan massal yang hangus terbakar."
Hening langsung menyergap ruangan bawah tanah itu. Satu-satunya suara yang terdengar cuma dengungan kipas laptop Kenji dan tetesan air dari pipa bocor di sudut ruangan. Informasi ini bener-bener bikin mental gua jatuh ke titik paling bawah. Selama ini gua bertahan hidup di kamp neraka ini dengan harapan kalau suatu hari nanti gua bisa kabur atau dibebaskan. Tapi sekarang? Harapan itu dihancurkan berkeping-keping dalam hitungan detik.
Gua mengepalkan tangan gua dengan sangat erat sampai kuku-kuku gua menusuk telapak tangan sendiri, menyalurkan rasa marah, takut, dan frustrasi yang bercampur aduk di dalam dada.
"Gua gak mau mati konyol di sini, Ken," kata gua dengan nada yang dalam dan penuh penekanan. "Gua udah dipukulin, disiksa, kelaparan, dan ngeliat temen-temen gua mati satu per satu di kamp ini. Gua gak mau berakhir jadi abu cuma demi nutupin dosa para petinggi militer itu!"
"Gua juga gak mau, Al! Tapi kita bisa apa?!" sahut Kenji dengan nada putus asa. "Gerbang luar dijaga ketat sama senapan mesin otomatis. Kalau kita nekat lari sekarang, kita bakal langsung bolong-bolong sebelum sempat nyentuh pagar kawat!"
Gua mencoba menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan pikiran gua yang sempat kacau. Sebagai orang yang selalu dituntut buat bertahan hidup, gua tahu kepanikan adalah musuh terbesar di situasi kayak gini. Gua harus berpikir taktis.
"Tenang dulu, Ken. Berpikir jernih," kata gua sambil memegang bahu Kenji, memaksa dia buat menatap mata gua. "Lu adalah orang paling pinter di sini. Lu bisa nge-hack sistem apa aja. Pasti ada celah keamanan atau jalan keluar darurat yang gak diketahui sama penjaga biasa."
Kenji menarik napas panjang, mencoba mengontrol emosinya yang sempat meluap. Dia membetulkan letak kacamatanya, lalu kembali menatap layar laptop dan mulai mengetik barisan perintah baru dengan sangat cepat.
"Ada satu jalur," kata Kenji setelah beberapa saat mencari di dalam database peta sanitasi kamp. "Ada pipa pembuangan limbah tua di bawah Sektor 4. Jalur itu mengarah langsung ke sungai luar yang ada di balik perbatasan bukit. Tapi jalurnya ditutup rapat sama pintu baja hidrolik tebal."
"Bisa lu hack dari sini?" tanya gua penuh harap.
Kenji menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Gak bisa. Konsol kontrol buat pintu hidrolik itu tipenya analog, gak terhubung ke jaringan server lokal. Satu-satunya cara buat ngebuka pintu itu adalah lewat sakelar manual yang ada di dalam ruang kerja pribadi Mayor Boris."
Mendengar nama itu, bulu kuduk gua langsung meremang. Ruang kerja Boris adalah area paling aman di seluruh kamp ini, letaknya ada di pusat gedung administrasi utama yang dijaga ketat selama 24 jam penuh. Ditambah lagi dengan kejadian gua kabur dari ruang interogasi tadi, Boris pasti bakal memperketat penjagaan sampai tingkat maksimal.
"Itu sama aja kayak bunuh diri langsung ke kandang macan," gumam gua.
"Emang," balas Kenji. "Tapi itu satu-satunya jalan keluar yang kita punya sebelum seluruh tempat ini diledakkan dari udara."
Gua terdiam sejenak, memikirkan rencana g*** yang tiba-tiba melintas di kepala gua. Ini adalah rencana yang sangat berisiko, tapi kalau berhasil, ini bisa menyelamatkan gak cuma nyawa kami berdua, tapi juga ratusan tahanan lain yang ada di Kamp 99.
"Ken," panggil gua, mata gua menatap tajam ke arah dokumen 'Clean Slate' di layar. "Lu bisa sebarin dokumen pembersihan total ini ke sistem komunikasi internal blok tahanan?"
Kenji mengerutkan kening, kelihatan bingung dengan pertanyaan gua. "Bisa sih. Gua bisa nge-bypass speaker pengumuman dan layar monitor di kafetaria buat muter dokumen ini dalam bentuk pesan siaran berulang. Tapi buat apa? Itu cuma bakal bikin seisi kamp panik massal!"
"Bukan panik, Ken. Tapi berontak," kata gua dengan senyum tipis yang terasa perih di bibir gua yang robek. "Tahanan di sini udah di batas kesabaran mereka. B**m dan Vito emang lagi musuhan, tapi kalau mereka tahu kalau mereka semua—tanpa terkecuali—bakal dibant** habis dalam waktu 48 jam, mereka gak bakal punya pilihan lain selain bersatu."
Mata Kenji perlahan melebar begitu dia mulai menangkap arah rencana gua.
"Gua bakal sebarin informasi ini," lanjut gua, tekad gua makin bulat. "Kita bikin kerusuhan paling gede yang pernah ada di sejarah Kamp 99. Begitu semua tahanan berontak dan menyerang para penjaga, seluruh fokus keamanan kamp bakal pecah. Boris pasti bakal sibuk ngurusin kerusuhan itu di lapangan."
"Dan di saat mereka semua lagi saling bunuh..." Kenji menyambung kalimat gua dengan nada takjub.
"Kita menyusup ke ruang kerja Boris, buka gerbang hidrolik di Sektor 4, dan bawa semua orang yang mau selamat buat keluar dari neraka ini," tegas gua.
Kenji menatap gua selama beberapa detik, seolah-olah lagi menakar apakah gua beneran udah g*** atau jenius. Tapi akhirnya, dia menghela napas panjang dan sebuah senyuman tipis muncul di sudut bibirnya.
"G*** sih rencana lu," kata Kenji sambil mulai mengetik dengan kecepatan penuh di keyboard-nya. "Tapi gua suka. Ayo kita mulai, Al. Waktu kita gak banyak."
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!