Bab 1: Gerbang Kabut Abadi
Kabut di Castle Marrow tidak pernah benar-benar pergi. Ia merayap turun dari puncak-puncak tebing karang yang curam, bergulung-gulung seperti napas hantu yang mendinginkan udara, lalu mengepung setiap sudut kastil batu hitam itu dengan kepekatan yang nyaris mencekik. Bagi dunia luar, tempat ini adalah mitos yang menakutkan. Bagi mereka yang hidup di bawah bayang-bayangnya, kastil ini adalah penjara tak kasat mata yang dikuasai oleh i**** berwujud manusia.
Elena merapatkan jubah wol kasarnya yang basah oleh embun tipis. Tubuhnya gemetar, bukan hanya karena hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang, melainkan karena ketakutan yang terus membisikkan kata-kata mundur di telinganya. Di depannya, jalan setapak berbatu menanjak curam, menghilang ke dalam keabuan yang pekat.
"Hanya sampai di sini, Gadis Kecil," suara parau kusir kereta kuda memecah keheningan yang mati. Pria tua itu menolak keras untuk melajukan keretanya satu jengkal pun lebih dekat ke gerbang Castle Marrow. "Jika kau masih menyayangi nyawamu, kembalilah bersamaku ke kota. Tempat ini bukan untuk gadis sepertimu."
Elena menoleh, menatap kusir itu dengan sepasang mata yang menyembunyikan badai kesedihan dan tekad yang membara. Ia memaksakan sebuah senyuman tipis, senyuman yang tampak begitu rapuh di wajahnya yang pucat.
"Terima kasih atas peringatanmu, Paman. Tapi, saya membutuhkan pekerjaan ini. Keluarga saya di desa kelaparan," dusta Elena, suaranya bergetar dengan nada keputusasaan yang sengaja ia buat-buat demi meyakinkan sang kusir.
Pria tua itu menggelengkan kepala, menatap Elena dengan pandangan iba yang mendalam. "Kelaparan di desa jauh lebih baik daripada menjadi santapan serigala di atas sana. Adrian bukan manusia. Dia penguasa yang tidak mengenal ampun. Siapa pun yang ma**k ke dalam kastil itu, jarang ada yang kembali dalam keadaan utuh."
*Aku tahu,* batin Elena. *Aku sangat tahu siapa dia.*
Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Elena turun dari kereta. Begitu kakinya memijak tanah yang basah dan berlumpur, kereta kuda di belakangnya langsung berputar balik dengan tergesa-gesa, seolah-olah i**** sendiri sedang mengejar mereka dari balik kabut. Suara derap kaki kuda dan gemerincing roda kereta perlahan memudar, meninggalkan Elena sendirian dalam keheningan yang mencekam.
Elena menarik napas dalam-dalam. Udara yang dihirupnya terasa tajam dan berbau pinus busuk serta besi berkarat. Di bawah lipatan gaun pelayanannya yang sederhana—gaun abu-abu kusam dengan celemek putih yang sedikit robek di bagian keliman—tangan kanannya perlahan meraba paha kirinya. Di sana, terikat erat pada sabuk kulit tersembunyi, sebilah belati perak warisan keluarganya mendekam dengan anggun.
Elena mengusap gagang belati tersebut dari balik kain gaunnya. Logam dingin itu adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak jatuh dalam keg***an. Sentuhan itu seketika memicu memori yang selama tujuh tahun ini terkunci rapat di sudut tergelap benaknya.
*Malam itu... malam ketika langit berubah menjadi merah darah.*
*Bau asap mengepung mansion keluarganya. Suara teriakan pelayan, denting pedang, dan bau anyir darah yang memenuhi koridor. Elena yang baru berusia lima belas tahun bersembunyi di dalam lemari pakaian, menyaksikan melalui celah kecil bagaimana ayahnya, Lord Vane, berlutut dengan tubuh bersimbah darah. Di hadapan ayahnya, berdiri seorang pria jangkung berpakaian hitam dengan jubah yang melambai ditiup angin malam. Pria itu memegang pedang yang meneteskan darah ibunya.*
*"Kau tidak akan pernah menang, Adrian," bisik ayah Elena dengan sisa-sisa napas terakhirnya.*
*Adrian—pria dengan mata sedingin es dan senyuman yang lebih kejam daripada maut—hanya mendengus dingin. "Kemenangan sudah menjadi milikku sejak lama, Vane. Dan keluargamu adalah harga yang harus dibayar atas pembangkanganmu."*
*Dengan satu tebasan cepat, segalanya berakhir. Ayah Elena tumbang. Rumah mereka dibakar habis, dan hanya Elena yang berhasil lolos dari maut, merangkak di antara mayat-mayat dengan membawa belati perak ini.*
Elena memejamkan mata erat-erat, menghalau air mata yang nyaris menetes. Ketika ia membuka matanya kembali, kesedihan itu telah mengkristal menjadi kebencian yang murni dan dingin.
"Aku bersumpah demi darah yang tumpah malam itu," bisik Elena pada kabut yang bergerak lambat di sekelilingnya. "Aku akan menuntut balas. Nyawa harus dibayar dengan nyawa, Adrian."
Elena mulai melangkah, menembus kabut tebal yang menyelimuti Castle Marrow. Setiap langkahnya terasa berat, seolah-olah tanah di bawah kakinya sendiri menolak kehadirannya. Setelah beberapa menit berjalan dalam kesunyian yang menulikan, bayangan hitam raksasa mulai terbentuk di hadapannya.
Gerbang Castle Marrow berdiri kokoh. Terbuat dari besi tempa hitam yang runcing di bagian atasnya, gerbang itu tampak seperti deretan taring monster raksasa yang siap mengunyah siapa saja yang berani mendekat. Kabut tebal menggantung di sela-sela jeruji besinya, memberikan kesan seolah-olah gerbang itu adalah pembatas antara dunia nyata dan dunia bawah yang terkutuk.
Elena mendekati lonceng besi besar yang tergantung di sisi gerbang. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menarik talinya.
*Dentang!*
Suara lonceng menggema keras, memecah keheningan kabut, terdengar seperti ratapan kematian. Elena menunggu, jantungnya bertalu-talu di dalam rongga dadanya.
Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki berat yang mendekat dari balik gerbang. Sesosok tubuh tinggi besar muncul dari dalam kabut. Pria itu mengenakan zirah kulit hitam dengan lambang serigala mencabik mangsa terukir di dadanya—lambang kekuasaan Adrian. Wajah pria itu kasar, dihiasi bekas luka melintang di pipi kirinya.
"Siapa di sana?" bentak pria itu, suaranya parau dan penuh kecurigaan. Matanya yang tajam menatap Elena dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Elena menundukkan kepalanya dalam-dalam, mengambil postur tubuh seorang gadis desa yang ketakutan dan patuh. "Maaf mengganggu, Tuan. Nama saya Lena. Saya... saya pelayan baru yang dikirim oleh agensi di kota bawah untuk menggantikan pelayan yang dipecat minggu lalu."
Penjaga itu menyipitkan matanya, mengamati surat rekomendasi kumal yang diulurkan Elena melalui celah gerbang. Ia menyambar surat itu dengan kasar, membacanya sekilas, lalu beralih menatap wajah Elena yang tertutup sebagian oleh tudung jubahnya.
"Angkat kepalamu," perintah sang penjaga dingin.
Elena perlahan mendongak. Ia memastikan matanya menunjukkan ketakutan yang tulus—tidak sulit untuk dilakukan dalam situasi seperti ini—sementara pikirannya tetap fokus pada belati di paha kirinya.
Penjaga itu menatap wajah pucat Elena, lalu mendengus meremehkan. "Gadis kecil yang malang. Berapa umurmu? Sembilan belas? Dua puluh? Mengapa kau memilih datang ke tempat ini? Apakah kau sudah bosan hidup?"
"Saya tidak memiliki pilihan lain, Tuan. Ibu saya sakit, dan adik-adik saya butuh makan," jawab Elena, menggunakan nada suara yang bergetar.
"Pilihan yang salah," gumam penjaga itu seraya memutar kunci besi besar.
Suara derit gerbang besi yang terbuka terdengar sangat memilukan, seperti jeritan jiwa-jiwa yang tersesat. Gerbang itu terbuka c**up lebar untuk membiarkan Elena ma**k. Begitu Elena melangkah melewati batas gerbang, ia merasakan sensasi dingin yang luar biasa menerpa kulitnya, seolah-olah ia baru saja melintasi batas antara kehidupan dan kematian.
"Ma**klah," kata penjaga itu, menunjuk ke arah jalan setapak yang menuju ke pintu ma**k utama kastil. "Ikuti jalan ini sampai kau menemukan pintu kayu besar di sayap timur. Nyonya Gable sudah menunggumu. Dan ingat satu hal, Gadis Kecil... jangan pernah berkeliaran di malam hari jika kau tidak ingin berakhir sebagai pajangan dinding."
Elena menunduk hormat. "Terima kasih, Tuan."
Ia berjalan menyusuri jalan setapak berbatu yang licin. Castle Marrow kini menjulang tinggi di atasnya, sebuah struktur arsitektur gotik yang megah namun mengerikan. Menara-menaranya yang tinggi seolah-olah menusuk langit abu-abu, dan jendela-jendela kacanya yang gelap tampak seperti mata-mata kosong yang mengawasinya dengan penuh ancaman.
Ketika Elena tiba di pintu kayu besar di sayap timur, pintu itu tiba-tiba terbuka sebelum ia sempat mengetuknya. Di balik pintu, berdiri seorang wanita paruh baya dengan gaun hitam ketat tanpa hiasan apa pun. Rambut kelabunya disanggul sangat rapi, dan wajahnya tampak kaku seperti batu pahatan. Dialah Nyonya Gable, kepala pelayan Castle Marrow yang terkenal kejam.
"Kau terlambat, Lena," sapa Nyonya Gable dengan suara dingin yang tidak bersahabat. Matanya yang kelabu menatap Elena dengan tajam, seolah-olah sedang mencari celah dari kebohongan gadis itu.
"Maafkan saya, Nyonya. Kereta kuda yang saya tumpangi menolak untuk mendekati kastil, jadi saya harus berjalan kaki menembus kabut," jawab Elena dengan kepala tertunduk.
Nyonya Gable mendengus, lalu berbalik dan berjalan ma**k ke dalam koridor kastil yang remang-remang, memberi isyarat agar Elena mengikutinya.
"Kusir-kusir pengecut itu selalu melebih-lebihkan cerita tentang tempat ini," ujar Nyonya Gable sambil melangkah dengan anggun namun cepat. "Namun, di kastil ini, kedisiplinan adalah segalanya. Kami tidak menoleransi keterlambatan, kecerobohan, atau kelalaian. Di sini, satu kesalahan kecil bisa berakibat fatal."
Elena mengikuti dari belakang, matanya dengan cepat memetakan setiap sudut koridor yang mereka lewati. Dinding batu kastil ini dilapisi oleh permadani-permadani tua yang menggambarkan pertempuran-pertempuran berdarah. Lilin-lilin dinding yang menyala temaram memberikan pencahayaan yang minim, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari-nari di dinding.
"Tugas utamamu adalah membersihkan perpustakaan di sayap barat dan koridor lant** dua," jelas Nyonya Gable tanpa menoleh. "Kau akan bekerja mulai dari fajar hingga matahari terbenam. Setelah itu, kau harus segera kembali ke kamarmu di lant** bawah tanah dan mengunci pintu. Apakah kau mengerti?"
"Mengerti, Nyonya," jawab Elena patuh. "Tetapi... bolehkah saya bertanya mengapa kami tidak boleh keluar setelah matahari terbenam?"
Nyonya Gable menghentikan langkahnya secara tiba-tiba. Ia berbalik dan menatap Elena dengan pandangan yang begitu dingin hingga membuat bulu kuduk Elena berdiri.
"Ada aturan emas di Castle Marrow yang harus kau patuhi jika kau ingin tetap bernapas, Lena," bisik Nyonya Gable, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Elena. "Pertama, jangan pernah berjalan-jalan di sayap utara kastil. Itu adalah wilayah pribadi Tuan Adrian. Kedua, jangan pernah membuat suara berisik yang dapat mengganggu ketenangannya. Dan yang ketiga, yang paling penting dari semuanya..."
Nyonya Gable mencengkeram bahu Elena dengan jari-jarinya yang kurus namun kuat seperti cakar besi.
"...jika kau tidak sengaja berpapasan dengan Tuan Adrian di koridor, tundukkan kepalamu. Jangan pernah, sekali pun, kau berani menatap langsung ke dalam matanya. Dia bisa mencium ketakutan, dan dia tidak akan segan-segan merobek tenggorokanmu jika dia merasa terganggu. Apakah kau paham, Gadis Bodoh?"
Elena menelan ludahnya yang terasa kesat. Rasa takut yang nyata merayapi hatinya, namun di balik rasa takut itu, api dendamnya justru berkobar semakin terang.
"S-saya paham, Nyonya," jawab Elena dengan suara gemetar yang meyakinkan.
Nyonya Gable melepaskan cengkeramannya, lalu merapikan gaunnya sendiri dengan acuh tak acuh. "Bagus. Sekarang ikut aku ke kamarmu. Kau harus mengganti pakaianmu dan segera mulai bekerja. Kastil ini tidak menggaji orang untuk bermalas-malasan."
Saat mereka melanjutkan perjalanan menyusuri koridor yang dingin dan sunyi, Elena mendongak sejenak ke arah tangga melingkar yang menuju ke lant** atas—sayap utara, tempat Adrian berada. Di atas sana, kegelapan tampak begitu pekat, seolah-olah kabut dari luar kastil telah merembes ma**k dan bersarang di sana.
Elena menyentuh sisi gaunnya sekali lagi, memastikan belati perak itu masih berada di tempatnya.
*Aku sudah berada di sarangmu, Adrian,* batin Elena dengan senyuman tersembunyi di balik kegelapan koridor. *Nikmatilah sisa hari-harimu di atas takhta berdarahmu, karena tidak lama lagi, belati ini akan merobek kesombonganmu.*
Langkah kaki Elena terus terdengar bergaung di koridor batu yang dingin, menuntunnya semakin dalam ke dalam dekapan kabut dan bahaya yang menanti di balik pintu-pintu Castle Marrow. Babak pertama dari pembalasan dendamnya baru saja dimulai.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!