Malam di Castle Marrow tidak pernah benar-benar menjanjikan kedamaian. Kabut tebal yang merayap dari tebing utara menyelimuti dinding-dinding batu kastil, menyaring cahaya bulan menjadi pendar kelabu yang muram. Di dalam kamarnya yang berbau kayu pinus dan lilin lebah, Elena Vandermeer duduk di tepi ranjang bertiang empat. Tubuhnya masih bergetar hebat.
Kata-kata Adrian di perpustakaan beberapa jam lalu masih terngiang, berdentang di kepalanya seperti lonceng kematian. *“Kertas-kertas tua itu tidak akan bisa melindungimu jika aku memutuskan untuk mengakhiri kebebasanmu...”*
Adrian Marrow adalah monster. Pria itu dingin, kejam, dan menguasai seluruh hidup Elena dengan cengkeraman besi. Namun, di balik semua kekejaman itu, ada satu hal yang membuat Elena terusik: Adrian tidak pernah berbohong. Setiap ancaman, setiap kebenaran pahit yang dilontarkannya, selalu disajikan tanpa topeng. Pria itu tidak pernah merasa perlu berpura-pura menjadi malaikat untuk menutupi i**** di dalam dirinya.
Ketukan lirih di jendela kaca membuyarkan lamunan Elena.
Ia tersentak, menoleh cepat ke arah balkon yang diselimuti kabut. Ketukan itu terdengar lagi, berpola—tiga ketukan pendek, jeda, lalu satu ketukan panjang. Jantung Elena berdegup kencang. Itu adalah sandi keluarga Vandermeer. Sandi yang diajarkan ayahnya saat mereka masih bermain di pelabuhan lama.
Dengan langkah ragu dan napas tertahan, Elena mendekati jendela. Ia membuka selot besi dan mendorong daun jendela. Angin malam yang sedingin es segera menerpa wajahnya, membawa serta aroma garam laut dan pembusukan. Di atas lant** balkon yang basah oleh embun, tidak ada siapa-siapa. Namun, sebuah batu kecil berbalut kain beludru merah maroon terletak di sana.
Elena memungutnya dengan jemari gemetar. Ia segera menutup kembali jendela, menarik tirai rapat-rapat, dan mundur ke sudut tergelap di dekat perapian.
Dengan napas memburu, ia membuka lipatan kain tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah botol kaca kecil berukuran ibu jari yang berisi cairan bening sekental madu, serta selembar kertas perkamen yang terlipat rapi. Elena mengenali tulisan tangan di atas kertas itu. Tulisan yang miring, anggun, dan ditulis dengan tinta emas.
Itu adalah tulisan pamannya, Hector Vandermeer.
*Elena, putri saudaraku yang malang.*
*Waktu kita tidak banyak. I**** Marrow itu telah lengah karena menganggapmu tawanan yang tak berdaya. Malam ini adalah kesempatanmu. Di dalam botol ini adalah Ekstrak Belladonna murni, tak berbau dan tak berasa jika dicampurkan ke dalam anggur merahnya. C**up tiga tetes, dan keadilan akan tegak bagi keluarga kita. Marrow akan mati sebelum fajar, dan kematiannya akan dianggap sebagai serangan jantung akibat keletihan.*
*Paman telah menyiapkan kereta kuda dan beberapa pengawal setia di batas hutan selatan tepat pada tengah malam. Lakukan ini, Elena. Bersihkan nama baik Vandermeer dari noda yang ditinggalkan ayahmu. Selamatkan diri dan kehormatan kita.*
*Paman yang selalu menyayangimu, Hector.*
Elena meremas kertas itu ke dadanya, merosot hingga terduduk di lant** batu yang dingin. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya tumpah, membasahi pipinya yang pucat.
"Paman Hector..." bisiknya lirih, suaranya tercekat di tenggorokan.
Dilema besar kini menghantam jiwanya, mencabik-cabik sisa-sisa kewarasan yang dimilikinya.
Di satu sisi, ada Adrian Marrow. Pria yang telah merampas kejayaan keluarganya, yang menatapnya seolah ia hanyalah debu di bawah sepatunya. Namun, Adrian adalah pria yang menatap matanya secara langsung saat mengumumkan kehancurannya. Adrian tidak menyembunyikan belatinya; ia menunjukkannya dengan bangga.
Di sisi lain, ada Paman Hector. Satu-satunya kerabat darah yang tersisa. Pria yang selalu memeluknya dengan hangat dan memberinya gaun-gaun indah saat ia kecil. Namun, Elena tidak bisa melupakan bagaimana pamannya itu menghilang secara misterius sesaat sebelum galangan kapal ayahnya dinyatakan bangkrut dan terbakar habis. Mengapa Hector baru muncul sekarang, mengirimkan racun alih-alih pa**kan untuk menyelamatkannya? Mengapa harus tangan Elena yang berlumuran darah?
"Siapa yang harus kupercayai?" ratap Elena dalam kesunyian kamar. "I**** yang jujur, atau malaikat yang bermuka dua?"
Ia menatap botol kaca kecil di genggamannya. Cairan di dalamnya tampak berkilau di bawah cahaya api perapian, seolah-olah memiliki nyawa sendiri yang berbisik menggoda: *Bebaskan dirimu, Elena. Akhiri ini semua.*
***
Pukul sepuluh malam. Castle Marrow telah tenggelam dalam kesunyian yang mencekam.
Elena berjalan menyusuri lorong panjang yang remang-remang menuju ruang kerja pribadi Adrian. Di tangannya, ia membawa sebuah nampan perak berisi sebotol anggur merah vintage dan dua buah gelas piala perak. Langkah kakinya yang terbungkus sepatu beludru tidak bersuara di atas karpet tebal, namun detak jantungnya sendiri terdengar begitu keras di telinganya, seperti genderang perang yang bertalu-talu.
Di dalam saku gaun tidurnya, botol racun dari Pamannya terasa begitu berat, seolah terbuat dari timah padat.
Dua pengawal yang menjaga pintu ruang kerja Adrian menunduk hormat saat melihat Elena. Tanpa kata, mereka membukakan pintu kayu ek ganda yang kokoh itu.
Elena melangkah ma**k. Ruangan itu luas, didominasi oleh rak-rak buku tinggi dan aroma maskulin dari kayu cedar, tembakau, dan kulit. Di ujung ruangan, di balik meja kerja raksasa yang dipenuhi tumpukan dokumen, Adrian Marrow sedang duduk. Ia tidak mengenakan jubah luarnya, hanya kemeja sutra hitam dengan kancing atas yang terbuka, memperlihatkan garis lehernya yang kokoh. Rambut hitamnya sedikit berantakan, dan wajahnya tampak lelah, namun mata abu-abunya yang tajam langsung mengunci pergerakan Elena begitu wanita itu melintasi ambang pintu.
"Aku tidak ingat pernah memanggilmu, Elena," ucap Adrian, suaranya bariton rendah, bergema di ruangan yang sunyi.
Elena berusaha menjaga agar tangannya tidak gemetar saat meletakkan nampan perak di atas meja kerja Adrian. "Aku... aku tidak bisa tidur. Dan kupikir, setelah apa yang terjadi di perpustakaan, kita perlu bicara tanpa ada amarah."
Adrian menyandarkan punggungnya pada kursi tinggi berlapis kulit. Ia menatap Elena dengan tatapan menyelidik, seolah sedang membaca setiap helai pikiran di balik dahi wanita itu. Keheningan merayap di antara mereka, begitu tebal hingga rasanya bisa dipotong dengan belati.
"Bicara?" Adrian mendengus pelan, sebuah senyuman tipis yang dingin tersungging di sudut bibirnya. "Sejak kapan seorang Vandermeer ingin bicara dengan pembant** keluarganya?"
"Kau selalu mengatakan bahwa ada kebenaran yang tidak kuketahui," sahut Elena, memaksakan suaranya terdengar tenang meskipun badai sedang berkecamuk di dalam dadanya. Ia menuangkan anggur merah ke dalam kedua gelas piala. Aliran cairan merah pekat itu terlihat persis seperti darah yang mengalir dari luka segar. "Aku ingin mendengarnya dari mulutmu sendiri. Tanpa dinding pembatas di antara kita."
Adrian memperhatikan gerakan tangan Elena. Sesaat, matanya beralih ke jemari Elena yang tampak kaku. "Kau gemetar, Elena. Apakah hawa dingin Castle Marrow mulai mera**k ke dalam tulangmu, atau kau sedang menyembunyikan sesuatu?"
Jantung Elena seakan berhenti berdetak. Ia memegang botol racun di dalam sakunya, jemarinya meraba tutup penyumbatnya. C**up satu gerakan cepat saat Adrian berpaling, dan segalanya akan berakhir. Kebebasannya hanya berjarak tiga tetes cairan bening itu.
"Aku hanya... takut padamu, Adrian," aku Elena jujur. Dan untuk pertama kalinya, kejujuran itu bukanlah sebuah taktik, melainkan kepasrahan. "Aku selalu takut padamu."
Adrian terdiam. Sorot matanya yang biasanya sedingin es perlahan melembut, menyisakan tatapan kelam yang sulit diartikan. Ia berdiri dari kursinya, berjalan memutari meja kerja, dan berhenti tepat di hadapan Elena. Jarak mereka begitu dekat hingga Elena bisa merasakan kehangatan yang memancar dari tubuh pria itu, kontras dengan dinginnya malam.
"Takut adalah reaksi yang sehat bagi siapa pun yang berhadapan denganku," ujar Adrian pelan, hampir berupa bisikan. Ia meraih salah satu gelas piala perak yang telah dituangkan anggur oleh Elena. "Namun, aku lebih memilih ketakutan yang jujur daripada kepatuhan yang palsu."
Adrian mengangkat gelasnya, bersiap untuk menyesapnya.
Tangan Elena yang berada di dalam saku meremas botol racun itu begitu erat hingga sudut-sudut kacanya menyakiti telapak tangannya. Pikiran-pikirannya saling berbenturan dengan dahsyat.
*Biarkan dia minum,* bisik suara di kepalanya. *Dia pantas mati. Dia yang menghancurkan ayahmu!*
Namun, suara lain, yang lebih jernih dan penuh ketakutan, menyahut: *Jika kau membunuhnya dengan cara ini, kau tidak lebih dari seorang pengecut yang digerakkan oleh benang tak terlihat milik Paman Hector. Kau akan menjadi pembunuh berdarah dingin.*
"Adrian, tunggu," ucap Elena setengah tercekat.
Adrian menghentikan gelasnya yang baru saja menyentuh bibirnya. Ia menaikkan sebelah alisnya. "Ada apa?"
Elena menelan ludah. Tenggorokannya terasa sekering gurun pasir. "Sebelum kau minum... katakan padaku yang sebenarnya. Tentang ayahku. Tentang malam saat galangan kapal terbakar. Siapa yang benar-benar menandatangani dokumen pengalihan aset itu? Apakah ayahku melakukannya dengan sukarela?"
Adrian menatap anggur di dalam gelasnya, lalu kembali menatap Elena. Ada kilatan kekecewaan yang sangat tipis di matanya, seolah ia mengharapkan hal lain dari wanita di hadapannya.
"Ayahmu," mulai Adrian dengan nada datar, "adalah pria yang lemah, Elena. Dia terlilit utang judi kepada para lintah darat di selatan. Dan orang yang memperkenalkannya pada lingkaran s**** itu, orang yang membujuknya untuk mempertaruhkan seluruh galangan kapal Vandermeer sebagai jaminan... adalah saudaranya sendiri. Hector Vandermeer."
Kata-kata itu menghantam Elena seperti gada besi. "Tidak... itu tidak mungkin. Paman Hector sangat menyayangi ayahku!"
"Hector menginginkan bisnis itu untuk dirinya sendiri," lanjut Adrian tanpa belas kasihan, setiap katanya seperti belati yang menguliti kebohongan yang selama ini dipercayai Elena. "Namun, ketika dia menyadari bahwa utang ayahmu terlalu besar untuk diselamatkan, dia menjual seluruh informasi itu kepadaku. Dia menukarkan dokumen galangan kapal itu dengan sejumlah besar emas, lalu membiarkan ayahmu menanggung seluruh kemarahan para penagih utang. Kebakaran itu? Itu bukan pekerjaanku, Elena. Itu adalah cara Hector untuk menghilangkan jejak pembukuan ganda yang dilakukannya."
"Kau bohong!" teriak Elena, air mata kembali merebak di pelupuk matanya. "Kau hanya ingin memanipulasiku agar aku membenci keluargaku sendiri!"
"Aku tidak pernah memaksamu untuk memercayaiku," jawab Adrian tenang, suaranya tetap stabil di tengah ledakan emosi Elena. "Namun, tanyakan pada dirimu sendiri: ke mana pamanmu pergi saat rumahmu terbakar? Ke mana dia saat kau diseret ke kastil ini sebagai tawanan perang? Dia hidup mewah di ibu kota dengan emas yang kuberikan padanya."
Adrian kembali mengangkat gelas peraknya. "Dan sekarang, setelah emasnya habis, dia pasti sedang mencari cara untuk kembali ke sini. Mungkin... dengan menggunakanmu sebagai alatnya."
Elena terpaku. Kata-kata Adrian beresonansi dengan kecurigaan-kecurigaan kecil yang selama bertahun-tahun ini selalu berusaha ia kubur dalam-dalam. Surat dari pamannya, racun di sakunya, kereta kuda yang menunggu di hutan... semuanya terasa terlalu rapi, terlalu nyaman untuk sebuah penyelamatan yang tulus.
Pamannya tidak ingin menyelamatkannya. Pamannya hanya ingin Adrian mati agar ia bisa mengklaim kembali sisa aset Vandermeer melalui Elena, menjadikannya boneka baru dalam permainan kekuasaannya.
Adrian mendekatkan gelas perak itu ke mulutnya lagi.
"Jangan minum!"
Dengan gerakan refleks yang cepat, Elena menepis tangan Adrian. Gelas perak itu terlepas dari genggaman, jatuh ke lant** batu dan menumpahkan cairan merah pekatnya yang mengalir seperti darah segar di atas permadani.
Napas Elena memburu. Wajahnya pucat pasi, seluruh tubuhnya gemetar karena kepanikan dan kelegaan yang datang bersamaan.
Adrian tidak bergerak. Ia menatap genangan anggur di lant**, lalu perlahan mengalihkan pandangannya ke arah Elena. Tidak ada kemarahan di wajahnya, hanya sebuah tatapan dingin yang tajam, menembus langsung ke dalam rahasia terdalam Elena.
"Mengapa, Elena?" tanya Adrian pelan, namun nadanya mengandung ancaman yang mematikan. "Apakah anggur itu memiliki rasa yang terlalu pahit malam ini?"
Dengan jemari yang gemetar hebat, Elena merogoh saku gaunnya. Ia mengeluarkan botol kaca kecil berisi racun Belladonna murni dan meletakkannya di atas meja kerja, tepat di antara mereka berdua.
"Paman Hector mengirimkannya malam ini," bisik Elena, suaranya nyaris hilang ditiup angin yang melolong di luar jendela. "Dia... dia memintaku untuk meracunimu. Dia menungguku di batas hutan selatan."
Adrian menatap botol kecil itu. Sesaat, ekspresi wajahnya mengeras, sebelum akhirnya kembali menjadi topeng dingin yang tak terbaca. Ia melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga Elena bisa merasakan embusan napas pria itu di keningnya.
Adrian mengulurkan tangan, jemarinya yang panjang dan kuat menyentuh dagu Elena, memaksanya untuk mendongak dan menatap langsung ke dalam mata abu-abunya yang kelam.
"Kau memiliki kesempatan untuk membunuhku, Elena," bisik Adrian, suaranya begitu dekat, begitu intim, namun menyimpan bahaya yang nyata. "Kau bisa mengakhiri penderitaanmu. Kau bisa menjadi pahlawan bagi keluargamu. Mengapa kau menghentikannya?"
Air mata Elena mengalir bebas, membasahi jemari Adrian yang mencengkeram dagunya. "Karena... karena aku tidak ingin menjadi seperti dia. Aku tidak ingin menjadi bagian dari pengkhianatan yang licik. Jika aku harus menghancurkanmu, Adrian... aku akan melakukannya dengan tanganku sendiri, secara terbuka. Bukan sebagai boneka dari seorang pengecut yang bersembunyi di balik kegelapan."
Adrian menatap Elena dalam diam untuk waktu yang terasa seperti selamanya. Ibu jarinya bergerak perlahan, menghapus air mata yang membasahi pipi wanita itu. Sentuhannya terasa hangat, sebuah anomali di dalam kastil yang beku ini.
Sebuah senyuman tipis—kali ini tanpa sinisme—muncul di wajah Adrian.
"Pilihan yang bijaksana, Elena," bisik Adrian, suaranya terdengar hampir seperti pujian yang tulus. Ia melepaskan cengkeramannya pada dagu Elena, lalu berbalik menuju pintu ruang kerjanya.
"Pengawal!" panggil Adrian dengan suara menggelegar.
Pintu segera terbuka, dan dua pengawal ma**k dengan posisi siaga.
"Siapkan pa**kan berkuda," perintah Adrian, matanya kembali menatap botol racun di atas meja dengan kilat kemarahan yang tertahan. "Kita memiliki seorang tamu dari keluarga Vandermeer yang sedang menunggu di hutan selatan. Pastikan dia mendapatkan sambutan yang layak dari Castle Marrow."
"Baik, Yang Mulia!" Kedua pengawal itu memberi hormat dan segera bergegas pergi untuk melaksanakan perintah.
Adrian berbalik kembali menghadap Elena. Ia berjalan mendekati meja kerja, mengambil botol racun tersebut, dan mema**kkannya ke dalam saku jubahnya sendiri.
"Malam ini, kau telah memilih sekutumu, Elena," ucap Adrian, suaranya kembali dingin namun memiliki kedalaman baru yang belum pernah didengar Elena sebelumnya. "Dan di kastil ini, kesetiaan adalah satu-satunya hal yang bisa menjamin napasmu untuk esok hari."
Elena berdiri terpaku di tengah ruangan yang sunyi, menatap punggung Adrian yang kini berjalan menuju balkon, menatap kabut tebal yang menyelimuti hutan di bawah mereka. Di dalam dadanya, rasa sakit akibat pengkhianatan pamannya masih terasa perih, namun di atas segalanya, ia tahu bahwa malam ini, ia telah menyerahkan jiwanya ke dalam dekapan kabut dan belati yang jauh lebih berbahaya.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!