**Bab 11: Malam yang Terbakar**
Elena meremas kertas perkamen itu hingga kusut di dalam genggamannya. Napasnya memburu, memecah kesunyian kamarnya yang dingin. Di tangan kanannya, botol kecil berisi Ekstrak Belladonna terasa seperti bara api yang siap membakar kulitnya. Cairan bening di dalamnya bergoyang lambat, sewarna dengan air mata, namun membawa kematian yang sunyi.
*“C**up tiga tetes, dan keadilan akan tegak...”* Kata-kata pamannya, Hector, berputar di dalam kepalanya bagaikan mantra terkutuk.
Keadilan? Elena tersenyum getir. Sejak kapan keluarga Vandermeer peduli pada keadilan? Pamannya telah membiarkannya membusuk di Castle Marrow, menjadikannya jaminan atas utang-utang keluarga yang menumpuk. Dan kini, ketika sang paman melihat celah untuk merebut kembali kekuasaan, ia mengirimkan racun seolah-olah Elena adalah bidak catur tak bernyawa yang bisa digerakkan sesuka hati.
Elena menatap jendela yang basah oleh embun malam. Di luar sana, kabut tebal bergulung, menyembunyikan monster sesungguhnya. Namun, di dalam kastil ini, ada monster lain yang jauh lebih nyata. Adrian Marrow. Pria kejam yang menahannya, namun juga pria satu-satunya yang tidak pernah menyembunyikan belati di balik senyuman palsu.
Dengan tekad yang tiba-tiba membakar dadanya, Elena melangkah maju. Ia menyelipkan botol racun itu ke dalam saku gaun malamnya, sementara kertas perkamen itu digenggamnya erat-erat. Ia tidak akan menjadi pembunuh merangkak di kegelapan. Ia tidak akan menjadi alat pemuas dendam Hector Vandermeer.
Elena membuka pintu kamarnya dengan tergesa-gesa. Lorong Castle Marrow sunyi dan temaram, hanya diterangi oleh pendar lilin-lilin dinding yang bergoyang ditiup angin malam. Langkah kakinya yang tergesa-gesa menggema di atas lant** batu yang dingin saat ia menuju ke sayap barat kastil, tempat ruang kerja pribadi Adrian berada.
Ketika ia tiba di depan pintu kayu oak besar yang berukir lambang keluarga Marrow—seekor gagak mencengkeram belati—Elena berhenti sejenak untuk mengatur napasnya yang tidak beraturan. Sebelum ia sempat mengetuk, pintu itu tiba-tiba terbuka dari dalam.
Adrian berdiri di sana. Ia tidak lagi mengenakan jubah kebesarannya, melainkan hanya kemeja hitam longgar dengan kancing atas yang terbuka, memperlihatkan garis lehernya yang kokoh. Matanya yang tajam dan sekelam malam langsung tertuju pada wajah Elena yang pucat.
"Elena?" Suara berat Adrian memecah kesunyian, mengalir dengan nada dingin yang biasa, namun ada kilatan rasa ingin tahu di matanya. "Ini sudah lewat tengah malam. Apa yang membuatmu berkeliaran di luar kamarmu? Apakah kau akhirnya memutuskan bahwa kamarmu terlalu dingin, atau kau merindukan ancamanku?"
Elena tidak membalas sarkasme itu. Ia melangkah maju, melewati ambang pintu dan ma**k ke dalam ruang kerja Adrian tanpa diundang.
Adrian menaikkan satu alisnya, menutup pintu dengan pelan, lalu berbalik mengikutinya. "Keberanianmu meningkat di tengah malam, rupanya."
"Lihat ini," kata Elena, suaranya bergetar namun tegas. Ia berbalik dan menyodorkan kertas perkamen yang sudah kusut ke hadapan Adrian.
Adrian menatap kertas itu, lalu menatap Elena dengan curiga. Perlahan, ia mengambil kertas itu. Jemarinya yang kasar bergesekan dengan kulit Elena, mengirimkan sengatan hangat yang aneh ke sekujur tubuh wanita itu. Adrian membuka lipatan kertas tersebut dan mulai membaca di bawah cahaya lampu minyak yang berpendar di atas meja kerjanya.
Seiring matanya bergerak menyusuri baris demi baris tulisan tangan Hector, rahang Adrian mengencang. Otot-otot di lengannya menegang. Selesai membaca, ia tidak langsung berbicara. Ia meletakkan kertas itu di atas meja dengan sangat tenang—ketenangan yang justru terasa lebih mengancam daripada ledakan amarah.
"Dan?" tanya Adrian dingin, matanya mengunci pandangan Elena. "Di mana racunnya?"
Elena merogoh saku gaunnya dan mengeluarkan botol kaca kecil berisi Belladonna. Ia meletakkannya di samping surat tersebut. Botol itu berdenting pelan saat menyentuh permukaan meja kayu.
"Pamanku menungguku di batas hutan selatan," ujar Elena dengan napas yang mulai teratur. "Dia ingin aku mencampurkan ini ke dalam anggurmu malam ini."
Adrian menatap botol kecil itu, lalu kembali menatap Elena. Langkah kakinya mendekat, lambat dan penuh perhitungan, seperti predator yang sedang mengitari mangsanya. Ia berhenti tepat di depan Elena, begitu dekat hingga Elena bisa mencium aroma kayu pinus, tembakau mahal, dan bahaya yang menguar dari tubuh pria itu.
"Kenapa, Elena?" bisik Adrian, suaranya begitu rendah hingga mengirimkan getaran ke tulang belakang Elena. "Ini adalah kesempatan yang kau dambakan. Kematianku adalah tiket kebebasanmu. Kau membenciku, kau takut padaku. Jadi, kenapa kau tidak meneteskan racun ini ke gelasku?"
Elena mendongak, menantang tatapan mata Adrian yang mengintimidasi. "Karena aku tidak ingin membeli kebebasanku dengan pengkhianatan yang pengecut! Dan aku tidak akan pernah membiarkan diriku menjadi boneka pamanku lagi." Ia menarik napas dalam, membiarkan emosi yang selama ini dipendamnya meledak. "Kau adalah monster, Adrian. Kau kejam, kau mengurungku di sini seperti burung dalam sangkar. Tapi kau jujur tentang siapa dirimu. Kau tidak pernah berpura-pura menyayangiku untuk memanfaatkan diriku. Pamanku... dia meninggalkan aku di sini demi menyelamatkan kulitnya sendiri, dan sekarang dia mengharapkanku melakukan pekerjaan kotornya. Aku menolak perintahnya. Aku memilih untuk menunjukkan ini padamu."
Sudut bibir Adrian berkedut, membentuk seringai tipis yang hampir tidak terlihat. "Kesetiaan yang baru lahir dari kebencian yang mendalam. Sungguh menarik." Ia mengulurkan tangan, jemarinya yang hangat menyentuh dagu Elena, mengangkat wajah wanita itu agar mata mereka bertemu sepenuhnya. "Kau baru saja membuat keputusan yang sangat berbahaya, Elena. Dengan menunjukkan ini padaku, kau telah memilih untuk berdiri di sisiku. Dan di sisiku, tidak ada jalan pulang."
"Aku tahu," bisik Elena, jantungnya berdegup kencang di bawah sentuhan Adrian.
Sebelum Adrian sempat membalas, sebuah getaran hebat mengguncang Castle Marrow.
*BOOM!*
Suara ledakan dahsyat terdengar dari arah gerbang depan, membuat kaca-kaca jendela di ruang kerja Adrian bergetar hebat. Beberapa detik kemudian, keheningan malam hancur berkeping-keping oleh suara tembakan beruntun dan teriakan-teriakan histeris dari halaman kastil.
Adrian melepaskan cengkeramannya pada dagu Elena seketika. Matanya langsung berubah menjadi setajam pisau. Ia melangkah cepat ke arah jendela besar yang menghadap ke halaman depan dan menarik tirai berat dengan satu sentakan kasar.
Elena menyusul di belakangnya, menatap ke luar jendela dengan mata terbelalak ngeri.
Di bawah sana, dalam kegelapan malam dan kabut yang tebal, Castle Marrow sedang diserang. Lidah-lidah api berwarna jingga kemerahan mulai menjulur dari arah pos penjagaan depan, melahap dinding-dinding kayu dan merayap naik ke menara luar. Suara tembakan senapan bergema berulang kali, memecah kesunyian malam dengan dentuman yang mematikan. Lusinan pria bersenjata, mengenakan pakaian hitam dengan lencana Vandermeer dan faksi sekutu dunia bawah mereka, terlihat merangsek ma**k melewati gerbang besi yang telah hancur diledakkan.
"Mereka datang lebih cepat dari yang kukira," desis Adrian, suaranya dingin tanpa riak kepanikan sedikit pun.
"Pamanku..." bisik Elena, tangannya menutup mulutnya sendiri karena terkejut. "Dia tidak pernah berniat menungguku. Surat itu... itu hanya pengalih perhatian untuk memastikan kau lengah di dalam kamarmu!"
"Atau, jika kau berhasil meracuniku, kastil ini akan kehilangan pemimpinnya sebelum mereka menyerang. Taktik yang cerdik dari seorang pengecut," kata Adrian datar. Ia berbalik dengan cepat, melangkah ke arah lemari besi di sudut ruangan. Dengan gerakan terlatih, ia membuka lemari tersebut dan mengeluarkan dua puc** pistol revolver berlapis perak serta sebilah belati berukir indah di sarungnya.
Adrian menyelipkan belati itu ke pinggangnya, lalu memeriksa peluru di kedua senjatanya. Sambil melakukan itu, ia menatap Elena yang masih terpaku di dekat jendela.
"Kau harus ikut denganku," perintah Adrian, suaranya tidak menerima bantahan. "Kastil ini tidak lagi aman. Anak buah pamanku tidak akan membiarkanmu hidup begitu mereka menyadari kau tidak menjalankan tugasmu."
"Tapi ke mana kita akan pergi?" tanya Elena panik. Aroma asap mulai menyusup ke dalam ruangan melalui celah pintu, tipis namun menyesakkan dada. Suara kayu yang terbakar dan runtuh terdengar semakin dekat.
"Ke tempat di mana aku bisa membant** mereka satu per satu," jawab Adrian dingin. Ia melangkah mendekati Elena, menggenggam pergelangan tangan wanita itu dengan erat. "Tetap di belakangku, Elena. Jangan pernah melepaskan genggamanmu jika kau masih ingin melihat matahari terbit."
Pintu ruang kerja tiba-tiba didob**k dari luar. Dua orang pria bersenjata dengan topeng kain hitam menyeruak ma**k, moncong senapan mereka langsung mengarah ke arah Adrian.
Tanpa berkedip, Adrian mengangkat tangan kanannya.
*BANG! BANG!*
Dua tembakan beruntun terdengar m****akkan telinga di dalam ruangan yang sempit itu. Kedua penyerang itu langsung roboh ke lant** batu dengan luka tembak tepat di dahi mereka. Darah segar mulai mengalir, merembes ke celah-celah ubin.
Elena terkesiap, menahan jeritannya di dalam tenggorokan. Ini adalah pertama kalinya ia melihat Adrian membunuh secara langsung di depannya—begitu cepat, begitu efisien, dan tanpa keraguan sedikit pun.
"Jalan," perintah Adrian pendek, menarik Elena melewati mayat-mayat yang masih hangat itu menuju lorong yang kini mulai dipenuhi asap hitam tebal.
Udara di luar ruang kerja terasa panas menyengat. Api telah berhasil merambat ke koridor atas, melahap permadani-permadani kuno dan lukisan para leluhur Marrow yang tergantung di dinding. Suara tembakan dan denting baja saling beradu di lant** bawah. Castle Marrow yang megah dan penuh rahasia kini menjelma menjadi neraka yang membara di atas bukit batu.
Adrian memimpin jalan dengan pistol kokang di tangan, matanya terus waspada memindai setiap sudut koridor yang remang-remang akibat kepulan asap dan pendar api. Beberapa kali mereka harus merunduk di balik pilar batu saat peluru-peluru nyasar melesat melewati mereka, menghancurkan dinding plester dan mengirimkan serpihan tajam ke udara.
"Adrian! Di sebelah kiri!" teriak Elena tiba-tiba ketika ia melihat siluet seorang pria muncul dari balik kepulan asap di persimpangan koridor, mengarahkan senapan ke arah mereka.
Sebelum pria itu sempat menarik pelatuknya, Adrian menerjang maju. Dengan gerakan secepat kilat, ia menepis moncong senapan lawan ke atas hingga tembakannya melesat ke langit-langit. Menggunakan tangan kirinya, Adrian menghujamkan sikunya ke rahang pria itu, lalu dengan satu gerakan putar yang brutal, ia menancapkan belatinya tepat di leher penyerang tersebut.
Pria itu mengerang pendek sebelum akhirnya ambruk ke lant**. Adrian menarik belatinya kembali, membiarkan darah musuhnya menetes ke lant** yang mulai memanas karena api di bawah mereka.
Ia berbalik menatap Elena, napasnya sedikit memburu, dengan noda darah tepercik di pipi kirinya. "Kerja bagus," bisiknya, kilatan apresiasi melintas cepat di matanya. "Sekarang, kita harus turun ke ruang bawah tanah. Ada jalan keluar rahasia yang menuju ke tebing utara."
Namun, sebelum mereka sempat melangkah lebih jauh, bagian langit-langit kayu di depan mereka runtuh dengan suara gemuruh yang dahsyat. Balok-balok kayu besar yang membara jatuh menghalangi jalan, menciptakan dinding api yang berkobar hebat, memutus akses mereka menuju tangga turun.
Elena terbatuk-batuk karena asap tebal yang tiba-tiba memenuhi paru-parunya. "Jalannya tertutup! Kita terjebak!" serunya di tengah deru suara api yang melahap segalanya.
Adrian menatap dinding api di depan mereka dengan rahang mengeras. Panas yang menyengat mulai membakar kulit mereka, dan udara semakin tipis untuk dihirup. Di belakang mereka, suara langkah kaki sekelompok orang yang berlarian terdengar semakin mendekat. Musuh sedang mengepung mereka dari belakang, sementara api menutup jalan di depan.
Dalam situasi yang tampaknya tanpa harapan itu, Adrian berbalik menatap Elena. Di bawah pendar cahaya api yang kemerahan, wajah Adrian tampak seperti malaikat maut yang agung namun mematikan. Ia menggenggam kedua bahu Elena, memaksa wanita itu menatap langsung ke dalam matanya yang tak kenal takut.
"Dengar aku, Elena," kata Adrian, suaranya terdengar sangat jelas di tengah kebisingan malam yang terbakar itu. "Aku telah membangun kekaisaran ini dari abu, dan aku tidak akan membiarkan seorang Vandermeer pun merebutnya dariku. Kau telah memilih untuk tidak membunuhku malam ini. Sekarang, percayalah padaku untuk membuat kita tetap hidup."
Di dalam dekapan kabut asap yang menyesakkan dan ancaman belati musuh yang mengint** dari kegelapan, Elena menatap pria di hadapannya. Ketakutannya perlahan melebur menjadi sesuatu yang lain—sesuatu yang lebih kuat, sebuah keyakinan aneh yang tak terjelaskan pada sang monster.
"Aku percaya padamu," jawab Elena, suaranya mantap di tengah gemuruh api yang semakin mendekat.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!