**BAB 12: DALAM DEKAPAN BADAI**
Ledakan itu tidak memberikan peringatan. Hanya ada kilatan cahaya membutakan, disusul oleh gemuruh dahsyat yang meruntuhkan fondasi Castle Marrow. Bumi di bawah kaki mereka berguncang hebat, meretakkan lant** batu ruang kerja Adrian. Dalam sepersekian detik yang fatal, sebelum langit-langit runtuh sepenuhnya, Adrian menerjang maju. Dengan satu gerakan cepat dan brutal, ia merenggut pinggang Elena, menyeret tubuh wanita itu jatuh bersamanya ke dalam lubang gelap di balik dindingβsebuah jalur penyelamatan bawah tanah kuno yang hanya diketahui oleh garis keturunan Marrow.
Lalu, kegelapan pekat menyelimuti segalanya, diiringi suara dentuman bertubi-tubi dari batu-batu raksasa yang saling berbenturan di atas kepala mereka.
Napas Elena tercekat. Paru-parunya mendadak dipenuhi oleh debu tebal, abu, dan bau belerang yang menyengat. Ia terbatuk hebat, tubuhnya gemetar di atas lant** batu yang dingin dan lembap. Seluruh tubuhnya terasa sakit, namun ada beban berat yang menindihnyaβhangat, kokoh, dan beraroma maskulin bercampur anyir darah.
"Adrian..." bisik Elena, suaranya parau, nyaris tenggelam oleh dengung sunyi yang menyiksa di telinganya.
Beban di atasnya bergerak lambat. Adrian bangkit dengan bertumpu pada kedua tangannya, mengurung tubuh Elena di bawahnya. Dalam kegelapan yang pekat, Elena tidak bisa melihat wajah pria itu, namun ia bisa merasakan deru napas Adrian yang memburu di permukaan kulit lehernya.
"Kau masih hidup, Vandermeer?" Suara Adrian terdengar serak, lebih rendah dari biasanya, bergetar oleh kemarahan yang tertahan dan sisa-sisa adrenalin.
"Lepaskan... aku tidak bisa bernapas," bisik Elena, mendorong dada Adrian lemah.
Adrian bergeming sejenak sebelum akhirnya bergeser, duduk bersandar pada dinding batu yang dingin. Elena merangkak mundur, menjauh darinya, hingga punggungnya membentur tumpukan reruntuhan batu yang menutup jalan mereka. Ia meraba-raba kegelapan, mencari botol Belladonna di sakunya. Kosong. Botol itu telah pecah, cairannya menguap bersama debu-debu kehancuran di sekitar mereka. Keadilan yang ditawarkan pamannya telah hancur sebelum sempat ia wujudkan.
"Jangan sia-siakan tenagamu," sahut Adrian dingin. Sebuah pemantik kuno di tangannya mendenting, memercikkan api kecil yang bergoyang lemah. Cahaya jingga yang temaram itu menerangi ruang bawah tanah yang kini terasa seperti kuburan batu.
Dinding di sekeliling mereka retak. Pintu keluar di kedua ujung lorong sempit itu telah runtuh total, tertimbun berton-ton batu granit yang tidak mungkin bisa dipindahkan dengan tangan kosong. Di atas mereka, suara gemeretak kayu yang terbakar dan hawa panas yang perlahan turun menandakan bahwa Castle Marrow di atas sana sedang dilalap api. Asap hitam mulai menyusup melalui celah-celah sempit reruntuhan, menipiskan pasokan oksigen mereka yang berharga.
Elena menatap langit-langit yang retak, lalu beralih pada Adrian. Pria itu terluka. Darah segar mengalir dari pelipis kirinya, menetes ke rahangnya yang kokoh, mengotori kemeja hitamnya yang kini robek di beberapa bagian. Namun, tidak ada ketakutan di mata kelabu pria itu. Hanya ada kepuasan yang dingin dan gelap.
"Kita terjebak," kata Elena, suaranya bergetar bukan hanya karena dingin, melainkan karena keputusasaan yang mulai merayap naik ke dadanya. "Kita akan mati di sini. Kehabisan napas, atau terpanggang hidup-hidup."
Adrian mendengus pelan, mematikan pemantik apinya, mengembalikan mereka ke dalam kegelapan yang mencekam. "Apakah kau takut, Elena? Bukankah ini yang kau inginkan? Kematianku?"
"Aku menginginkan keadilan, Adrian! Bukan mati konyol di dalam lubang kotor ini bersama monster sepertimu!" teriak Elena, emosinya yang selama ini ia bendung rapat-rapat akhirnya pecah. Air mata kemarahan mulai mengalir di pipinya yang kotor oleh debu. "Pamanku... dia merencanakan ini semua. Dia mengirimkan racun itu agar aku membunuhmu, tapi dia bahkan tidak peduli jika aku harus mati bersama ledakan ini!"
"Hector Vandermeer adalah pengecut yang licik," suara Adrian terdengar sangat dekat, bergerak dalam kegelapan mendekati Elena. "Dan kau... kau hanyalah bidak yang bodoh karena mengira ada ruang untuk belas kasih di dunia kita."
"Aku tidak bodoh!" Elena berteriak, namun suaranya tercekat oleh batuk karena asap yang semakin tebal. "Aku hanya ingin bebas! Bebas darimu, bebas dari keluargaku yang busuk!"
Tiba-tiba, sepasang tangan yang kuat mencengkeram kedua pergelangan tangan Elena, menguncinya ke atas kepala dan menekannya ke dinding batu yang kasar. Napas Elena memburu saat tubuh Adrian kembali merapat, memojokkannya tanpa ampun. Kehangatan tubuh pria itu terasa kontras dengan dinginnya batu di punggungnya, menciptakan sensasi terbakar yang aneh di dalam dadanya.
"Kau tidak akan pernah bebas dariku, Elena," bisik Adrian tepat di depan bibirnya. Sentuhan napasnya terasa panas, mengirimkan getaran hebat ke seluruh tubuh Elena. "Bahkan jika tempat ini runtuh dan mengubur kita sedalam ratusan kaki, jiwamu tetap milikku. Aku memilikimu sejak hari pertama kau melangkah ma**k ke kastilku dengan belati tersembunyi di balik gaunmu."
"Lepaskan..." Elena meronta, namun cengkeraman Adrian justru semakin erat, menimbulkan rasa sakit yang memabukkan. "Aku membencimu, Adrian Marrow. Aku membencimu dengan setiap embusan napas yang tersisa di dadaku!"
"Katakan lagi," tantang Adrian, suaranya bergetar oleh gairah yang gelap dan destruktif. "Katakan bahwa kau membenciku, sementara tubuhmu bergetar setiap kali kusentuh. Katakan bahwa kau menginginkan kematianku, sementara kau tahu bahwa hanya di dalam pelukankulah kau merasa benar-benar hidup!"
Pertahanan emosional yang selama ini dibangun Elena dengan susah payahβdinding es yang ia gunakan untuk melindungi hatinya dari pesona kejam sang penculikβruntuh sepenuhnya. Di ambang kematian yang nyata, di mana waktu mereka dihitung dalam setiap tarikan napas yang semakin menyesakkan, kemarahan, kebencian, dan gairah bercampur aduk menjadi satu badai emosi yang tak tertahankan.
Elena menatap kegelapan di depannya, mencari sepasang mata Adrian yang ia tahu sedang menatapnya dengan intensitas yang sama. "Kau adalah racun, Adrian," bisik Elena, suaranya kini melunak, dipenuhi kepasrahan yang berbahaya. "Racun yang lebih mematikan daripada Belladonna."
"Dan kau adalah candu yang mengutukku, Elena," balas Adrian.
Cengkeraman Adrian pada pergelangan tangan Elena mengendur, beralih ke tengkuk wanita itu, menariknya kasar ke dalam sebuah ciuman yang membara.
Itu bukanlah ciuman yang lembut atau penuh kasih sayang, melainkan sebuah pertempuran. Ciuman yang kasar, menuntut, dan penuh keputusasaan yang merusak. Rasa darah yang asin dan abu yang pahit bercampur di bibir mereka, namun tak satu pun dari mereka yang peduli. Elena melingkarkan lengannya di leher Adrian, menarik pria itu lebih dekat, membalas ciumannya dengan intensitas yang sama liarnya.
Semua ketakutan akan kematian, semua dendam keluarga, dan semua logika lenyap ditelan kegelapan ruang bawah tanah. Yang tersisa hanyalah kebutuhan primitif untuk saling memiliki, untuk saling menghancurkan dan dihancurkan sebelum takdir merenggut nyawa mereka.
Adrian mengerang rendah, tangannya merobek bagian depan gaun malam Elena yang tipis, mengekspos kulit hangatnya pada udara malam yang berdebu. Jemarinya yang kasar menelusuri lekuk tubuh Elena dengan kepemilikan yang mutlak, meninggalkan jejak panas yang membakar setiap jengkal kulit yang disentuhnya. Elena melengkungkan tubuhnya, mendesah pasrah dalam dekapan pria yang seharusnya ia bunuh.
"Milikku," bisik Adrian di sela-sela ciumannya yang turun ke leher dan tulang selangka Elena. Gigi-giginya menggigit kecil kulit lembut itu, menandai wanita itu sebagai miliknya untuk terakhir kali. "Katakan bahwa kau milikku, Elena. Katakan sebelum kegelapan ini merenggut kita."
Elena mencengkeram bahu Adrian yang kokoh, membiarkan dirinya tenggelam sepenuhnya ke dalam badai gairah toksik ini. "Aku milikmu, Adrian... Di dalam hidup, di dalam mati, aku milikmu."
Di tengah kepungan asap yang semakin pekat dan menyesakkan dada, di bawah ancaman runtuhnya langit-langit batu yang siap mengubur mereka kapan saja, dua jiwa yang terluka dan saling membenci itu bersatu dalam keg***an yang membara. Mereka saling mendekap erat, seolah-olah tubuh mereka adalah satu-satunya pelindung dari kehancuran dunia di luar sana. Mereka bercinta dengan keputusasaan orang-orang yang tahu bahwa hari esok tidak akan pernah datang, menyerahkan seluruh sisa napas mereka pada api gairah yang membakar di dalam pelukan badai.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!