**BAB 13: PENGHAKIMAN DI BALIK KABUT**
Darah yang mengalir dari pelipis Adrian berkilau merah tua di bawah temaram nyala pemantik kuno. Elena mengulurkan tangan yang gemetar, jemarinya menyentuh luka itu dengan sangat perlahan. Adrian tersentak kecil, namun ia tidak menjauh. Matanya yang gelap menatap Elena menembus keremangan, sedalam jurang yang tak berdasar.
"Kita tidak boleh mati di sini, Adrian," bisik Elena, suaranya kini tidak lagi bergetar oleh ketakutan, melainkan oleh tekad yang baru lahir dari abu kehancuran. "Tidak setelah apa yang paman lakukan. Tidak setelah semua ini."
Adrian mendengus pelan, menahan rasa sakit yang berdenyut di kepalanya. Ia mematikan pemantik api. Kegelapan kembali menyelimuti mereka, namun indra mereka justru menjadi lebih tajam. Di atas sana, suara runtuhan batu mulai mereda, digantikan oleh deru angin malam yang menyusup melalui celah-celah reruntuhan yang baru terbentuk.
"Kau benar, Vandermeer," jawab Adrian, suaranya serak namun terdengar berbahaya. "Kematian terlalu mewah untuk ba******-ba****** di luar sana. Pegang tanganku. Kita merangkak keluar melalui celah di sebelah kiri. Fondasi di bagian itu tidak sepenuhnya runtuh."
Dengan sisa tenaga yang ada, mereka merangkak di antara himpitan batu granit dan debu yang menyesakkan napas. Setiap jengkal gerakan terasa seperti siksaan bagi tubuh mereka yang memar. Adrian memimpin di depan, menggunakan bahunya yang kokoh untuk mendorong bongkahan batu yang menghalangi jalan, sementara Elena mengikuti tepat di belakangnya, memastikan mereka tidak tertimbun oleh runtuhan susulan.
Ketika jemari Elena akhirnya menyentuh dedaunan basah dan tanah yang dingin, ia tahu mereka telah berhasil keluar. Mereka merangkak keluar dari lubang sempit di kaki bukit, tepat di mana Castle Marrow yang agung kini berdiri sebagai kerangka hitam yang membara, dilalap api yang menjilat langit malam.
Namun, kebebasan mereka langsung disambut oleh hawa dingin yang menusuk tulang. Kabut tebal khas hutan Marrow telah turun, bergulung-gulung seperti makhluk hidup, menyelimuti pepohonan pinus yang menjulang tinggi bagai barisan raksasa yang membisu. Bau hangus dari kastil bercampur dengan aroma tanah basah dan pinus yang pekat.
"Tahan napasmu," bisik Adrian tiba-tiba, menarik Elena ke balik sebatang pohon ek besar yang tumbang.
Dari balik kegelapan kabut, terdengar derap langkah kaki yang tergesa-gesa, diiringi oleh gemerincing zirah besi dan desis obor yang dipadamkan oleh kelembapan udara.
"Cari mereka! Mereka tidak mungkin mati di dalam sana! Seseorang melihat bayangan bergerak di dekat lereng!" sebuah suara yang sangat dikenal Elena memecah kesunyian hutan. Suara itu dingin, berwibawa, dan sarat akan keserakahan.
Baron Richard Vandermeer. Pamannya sendiri.
Elena merasakan darahnya mendidih. Rasa takut yang selama ini memenjarakannya luruh, digantikan oleh kemurkaan yang murni. Di sampingnya, Adrian perlahan menghunus belati panjangnya dari balik jubah yang terkoyak. Bilah baja itu berkilau dingin, memantulkan sisa-sisa cahaya merah dari kastil yang terbakar.
"Ada setidaknya sepuluh orang," bisik Adrian, matanya menyusuri kegelapan di balik kabut. "Aku akan memancing mereka. Kau tetap di sini, Elena. Ini bukan pertempuranmu."
Elena menatap Adrian, lalu beralih pada belati pendek yang terselip di pinggangnya sendiriβsebuah senjata yang sempat ia ambil dari ruang kerja Adrian sebelum ledakan terjadi. Ia menggenggam hulu belati itu erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Tidak," tegas Elena, sepasang matanya berkilat di balik kabut. "Dia adalah pamanku. Ini adalah takdirku yang tertunda. Aku bertarung bersamamu, Adrian."
Adrian menatapnya lama, mencari keraguan di wajah wanita itu, namun yang ia temukan hanyalah sepasang mata elang yang siap menerkam mangsanya. Sudut bibir Adrian terangkat membentuk senyuman tipis yang dingin. "Kalau begitu, jangan mati di belakangku."
Sebelum kabut sempat bergeser, Adrian melesat maju bagai bayangan hitam yang terlepas dari belenggunya.
*Sreeet!*
Sabetan pertama belati Adrian memotong tenggorokan seorang prajurit bayaran sebelum pria itu sempat berteriak. Tubuh prajurit itu tumbang ke atas tanah basah dengan suara deburan yang berat.
"Di sana! Mereka di sini!" teriak seorang prajurit lain.
Pertempuran pecah di tengah kegelapan hutan yang berkabut. Adrian bertarung dengan keganasan yang brutal. Meskipun terluka, gerakannya tetap mematikan. Ia menghindari tebasan pedang lawan dengan liukan tubuh yang presisi, lalu membalas dengan tusukan beruntun ke titik-titik vital. Namun, jumlah musuh terlalu banyak, dan stamina Adrian yang terkuras mulai memperlambat reaksinya.
Seorang prajurit bertubuh besar mengendap-endap di belakang Adrian, mengangkat kapak ganda dengan niat membelah punggung sang penguasa Marrow.
"Adrian, awas!"
Elena berteriak seraya menerjang maju dari kegelapan. Dengan keberanian yang tidak pernah ia duga ia miliki, Elena menusukkan belatinya ke sela-sela zirah di bagian leher samping prajurit tersebut. Pria itu mengerang kesakitan, berbalik dan mencoba mencengkeram leher Elena. Namun Elena tidak mundur. Ia memutar belatinya di dalam luka tersebut dengan sentakan kuat, lalu menariknya keluar. Darah hangat menyemprot wajah Elena, menodai kulitnya yang pucat. Pria bertubuh besar itu terhuyung dan roboh ke tanah, tewas seketika.
Adrian melirik Elena, matanya menyiratkan rasa kagum yang tak terucapkan, sebelum ia kembali menebas musuh di hadapannya. Mereka bertarung berdampingan, saling melindungi punggung dalam tarian maut yang mengerikan di balik selubung kabut. Satu demi satu, pa**kan sewaan Baron Richard bertumbangan, darah mereka meresap ke dalam tanah hutan yang haus akan pembalasan.
Hingga akhirnya, kesunyian kembali menguasai hutan. Hanya ada suara napas mereka yang memburu dan tetesan darah yang jatuh dari ujung bilah senjata mereka ke atas dedaunan kering.
Kabut perlahan menipis di sebuah kliring kecil, menyingkap sesosok pria yang tengah merangkak mundur dengan panik. Zirah mewahnya yang berlapis perak kini kotor oleh lumpur dan darah anak buahnya.
"Richard," desis Elena, melangkah maju dengan perlahan. Setiap langkahnya terasa begitu berat namun pasti. Belati di tangannya masih meneteskan darah segar.
Baron Richard mendongak. Wajahnya yang biasa dipenuhi keangkuhan kini pucat pasi, matanya membelalak ketakutan melihat keponakannya yang ia sangka lemah, kini berdiri di hadapannya bagai dewi kematian yang bangkit dari kubur. Di belakang Elena, Adrian berdiri seperti malaikat pencabut nyawa, mengawasi dengan tatapan dingin tanpa belas kasihan.
"Elena... keponakanku sayang..." suara Richard bergetar hebat. Ia mencoba bangkit, namun kakinya yang terluka akibat sabetan pedang Adrian sebelumnya menyerah, membuatnya kembali berlutut di atas tanah yang berlumpur. "T-tunggu... dengarkan paman dulu. Ini semua adalah kesalahpahaman!"
"Kesalahpahaman?" Elena tertawa, sebuah tawa kering yang terdengar begitu menyakitkan di tengah kesunyian hutan. "Kau meracuni ayahku. Kau merampas tanah keluargaku. Kau mencoba membunuhku di kastil itu! Apakah itu yang kau sebut kesalahpahaman, Paman?"
"Aku terpaksa, Elena! Aku melakukan ini demi nama baik Vandermeer! Ayahmu... dia lemah! Dia akan menghancurkan kita semua!" Richard merangkak mendekat, mencoba menggapai ujung gaun Elena yang telah robek dan kotor. "Tolong, Elena... aku adalah satu-satunya keluargamu yang tersisa. Darah yang mengalir di nadimu adalah darahku juga. Kau tidak mungkin membunuh pamanmu sendiri... kau terlalu baik untuk itu..."
Elena menatap pria paruh baya yang kini bersimpuh di kakinya. Pria yang selama bertahun-tahun ia takuti, pria yang bayang-bayangnya selalu menghantui mimpi-mimpi buruknya. Kini, pria itu tidak lebih dari seekor cacing yang menggeliat ketakutan di atas tanah.
"Kau benar, Paman," bisik Elena, suaranya begitu tenang hingga terasa sangat mengerikan. "Darah kita sama. Dan itulah mengapa aku tahu, bahwa tidak ada pengampunan bagi pengkhianat seperti kita."
Elena mengangkat belatinya tinggi-tinggi. Cahaya bulan yang samar menembus celah-celah pepohonan, menyinari bilah baja yang berkilau tajam.
"Elena, demi Tuhan, jangan! Aku mohon!" Richard menjerit, menutup wajahnya dengan kedua tangan yang gemetar.
Elena tidak ragu lagi. Dalam satu gerakan yang cepat, tegas, dan dipenuhi oleh seluruh rasa sakit yang dipendamnya selama bertahun-tahun, ia menghunjamkan belati itu tepat ke dada pamannya.
*Jleb.*
Napas Baron Richard tercekat. Matanya mendelik lebar, menatap Elena dengan sisa-sisa kehidupan yang perlahan meredup. Mulutnya terbuka seolah ingin meneriakkan satu kata terakhir, namun hanya darah kental yang keluar dari sela-sela bibirnya. Perlahan, tubuhnya terkulai lemas ke samping, jatuh ke dalam dekapan kabut dingin yang akan menyembunyikan dosanya untuk selamanya.
Elena melepaskan pegangannya pada hulu belati. Ia melangkah mundur satu langkah, tubuhnya mendadak lemas. Seluruh ketegangan yang menopangnya runtuh seketika. Ia hampir jatuh ke tanah jika sebuah tangan yang kokoh tidak segera menangkap pinggangnya.
Adrian menarik Elena ke dalam pelukannya. Hangat dan protektif. Elena menyandarkan kepalanya di dada Adrian, mendengarkan detak jantung pria itu yang kuat dan beraturan, sebuah bukti nyata bahwa mereka masih hidup.
"Semuanya sudah berakhir, Elena," bisik Adrian lembut di dekat telinganya, jemarinya membelai rambut Elena yang kusut secara perlahan.
Di balik kabut yang mulai bergerak menjauh, Castle Marrow yang terbakar perlahan-lahan meredup, meninggalkan abu yang beterbangan ditiup angin malam. Di tempat itu, di tengah hutan yang sunyi, mereka tahu bahwa perjalanan baru yang penuh dengan darah dan rahasia baru saja dimulai. Namun untuk saat ini, dalam dekapan kabut yang dingin, mereka telah menemukan keadilan mereka sendiri.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!