"Selesaikan apa yang telah kau mulai, Elena," suara Adrian terdengar bagai rintihan angin musim dingin yang menusuk tulang, namun di dalamnya masih tersimpan sisa-sisa keangkuhan seorang penguasa yang tak sudi memohon belas kasihan. "Jika kematianku adalah satu-satunya tebusan bagi kedamaian jiwamu yang terluka, maka ambillah. Aku tidak akan menghindar."
Elena menatap ujung belati perak yang menempel erat di dada Adrian. Kilauannya yang dingin tampak begitu kontras dengan warna merah darah yang terus merembes dari balik kemeja pria itu. Di bawah temaram sinar rembulan yang menyelinap di antara celah-celah daun pinus, wajah Adrian tampak bagaikan patung pualam yang retakβpucat, rapuh, namun tetap memancarkan pesona gelap yang selama ini menjerat Elena dalam pusaran obsesi tanpa akhir.
Tangan Elena bergetar. Ibu jarinya menyentuh hulu belati, merasakan ukiran lambang keluarganya yang telah lama hancur. Ini adalah senjata yang seharusnya membalaskan dendam kematian orang tuanya. Ini adalah alat yang ia persiapkan untuk merobek jantung pria yang kini berlutut tanpa daya di hadapannya.
Namun, mengapa dadanya terasa begitu sesak? Mengapa bayangan kematian Adrian justru mengirimkan rasa ngeri yang lebih hebat daripada bayangan kehancuran dirinya sendiri?
"Kenapa kau melakukan ini, Adrian?" bisik Elena, air mata kini mengalir perlahan melewati pipinya yang dingin. "Kau bisa saja menghindar. Kau bisa saja membiarkan paman Richard membunuhku, atau kau bisa membunuhku sendiri sejak dulu. Kenapa kau memilih untuk terluka demi melindungiku?"
Adrian menatap langsung ke dalam manik mata Elena. Senyum tipis yang getir mengembang di sudut bibirnya yang mulai membiru. "Karena duniaku telah runtuh sejak hari pertama aku melihatmu, Elena. Kebencianmu adalah nafasku, dan keselamatanmu adalah satu-satunya tujuanku yang tersisa. Jika aku harus mati, aku ingin mati di bawah tatapan matamu. Bukan karena pedang seorang pengkhianat."
Kata-kata itu menghantam kesadaran Elena bagaikan badai. Selama ini, ia mengira hubungan mereka hanyalah permainan kucing dan tikus, sebuah pertempuran ego dan dendam yang harus diakhiri dengan kematian salah satu dari mereka. Namun kini, di tengah kesunyian hutan Marrow yang berdarah, ia menyadari kebenaran yang mengerikan sekaligus indah: mereka berdua telah terikat oleh rant** tak kasat mata yang ditempa dari luka, obsesi, dan cinta yang tumbuh liar di antara puing-puing tragedi.
Perlahan, jemari Elena yang gemetar melonggar.
*Klanting.*
Suara logam beradu dengan batu terdengar begitu nyaring membelah kesunyian malam. Belati perak pusaka keluarga Vandermeer itu terjatuh, tergeletak tak berdaya di atas tanah yang basah oleh darah dan embun. Senjata yang selama ini menjadi simbol dendam tak berkesudahan itu kini terbuang, tak lagi memiliki arti di hadapan kebenaran yang baru saja terungkap.
Adrian tertegun. Matanya melebar menatap belati yang tergeletak di tanah, lalu beralih menatap Elena dengan tatapan tak percaya. "Elena... apa yang kau lakukan?"
"Aku menolak," ucap Elena, suaranya kini terdengar begitu tegap, membelah kabut malam dengan keyakinan yang baru lahir. Ia berlutut di hadapan Adrian, mengabaikan gaunnya yang kini kotor oleh lumpur dan darah. "Aku menolak menjadi tawanan masa lalu. Aku menolak membiarkan dendam ini mendikte sisa hidupku."
Dengan gerakan yang cepat namun lembut, Elena merobek ujung jubah tebalnya. Ia menekan kain itu ke luka robek di rusuk Adrian, mengabaikan rintihan tertahan dari pria itu.
"Bertahanlah, Adrian," bisik Elena dekat di telinganya, deru napasnya yang hangat menerpa kulit leher Adrian yang dingin. "Kau tidak boleh mati di sini. Kau tidak boleh meninggalkanku sendirian di dunia yang kejam ini. Jika kau memang milikku, maka hiduplah untukku."
Adrian memejamkan mata, merasakan sentuhan tangan Elena yang gemetar namun penuh tekad di tubuhnya. Untuk pertama kalinya, setelah bertahun-tahun hidup dalam kegelapan yang sunyi, ia merasakan kehangatan yang sesungguhnya menjalar di dadanya. Perlahan, ia mengangkat tangannya yang bernoda darah, menyentuh pipi Elena, menghapus air mata yang membasahi wajah wanita itu.
"Jika itu maumu, Elena," bisik Adrian, suaranya kini kembali memiliki kekuatan, disokong oleh keinginan kuat untuk bertahan hidup demi wanita di hadapannya. "Maka aku akan bangkit, bahkan dari dasar neraka sekalipun."
***
Beberapa minggu berlalu sejak malam berdarah di hutan Marrow.
Sisa-sisa pengikut Baron Richard Vandermeer yang mencoba melakukan kudeta telah dibasmi tanpa ampun. Kastel Marrow yang megah, yang sempat menjadi saksi bisu pengkhianatan dan kehancuran, kini berdiri di bawah kepemimpinan yang baru. Kastel itu memang sempat terbakar di beberapa bagian, menyisakan jelaga hitam dan abu yang menyelimuti dinding-dinding batu tuanya. Namun, di balik kehancuran fisik itu, sebuah kekuatan baru tengah bangkit.
Pagi itu, kabut tebal seperti biasa bergulung-gulung menyelimuti seluruh lembah, menyembunyikan Kastel Marrow dari dunia luar. Di atas balkon tertinggi yang menghadap langsung ke arah tebing curam, Adrian berdiri tegak. Luka di rusuknya telah berangsur pulih, meninggalkan bekas luka baru yang akan selalu mengingatkannya pada malam di mana ia hampir kehilangan nyawanyaβdan malam di mana ia mendapatkan kembali jiwanya.
Sebuah jubah beludru hitam berhiaskan bulu serigala tergantung gagah di bahunya. Di tangannya, ia memegang sebuah mahkota yang baru ditempa: mahkota perak yang dihiasi dengan batu obsidian hitam, melambangkan malam dan kabut abadi yang menaungi wilayah mereka.
Langkah kaki yang ringan dan anggun terdengar mendekat dari arah dalam kamar. Adrian tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang. Aroma harum bunga mawar hutan dan wangi samar besi yang selalu melekat pada wanita itu langsung memenuhi indra penciumannya.
Elena melangkah ke balkon, mengenakan gaun beludru berwarna merah darah yang kontras dengan kulit pualamnya. Rambut gelapnya dibiarkan terurai ditiup angin pegunungan yang dingin. Di tangannya, tidak ada lagi belati perak yang melambangkan dendam. Sebagai gantinya, jemarinya kini dihiasi oleh cincin dengan lambang keluarga gabungan merekaβsebuah aliansi yang lahir dari darah dan cinta yang gelap.
"Kau sedang memikirkan apa?" tanya Elena lembut, menyandarkan tubuhnya pada lengan kekar Adrian.
Adrian menoleh, menatap wajah Elena yang kini tampak begitu tenang, tanpa ada lagi bayang-bayang ketakutan atau kebencian yang dulu selalu menghantuinya. Ia merangkul pinggang Elena, menarik tubuh wanita itu mendekat ke dadanya.
"Aku sedang memikirkan betapa indahnya abu ini, Elena," jawab Adrian, suaranya berat dan penuh dengan nada kepemilikan yang absolut. Ia mengarahkan pandangannya ke arah lembah di bawah mereka yang tertutup kabut tebal. "Kastel ini pernah hancur. Keluarga kita pernah saling membant**. Namun di atas puing-puing dan abu masa lalu itu, kita berdiri hari ini."
Elena tersenyum, sebuah senyuman misterius yang hanya ditunjukkannya pada Adrian. Ia mendongak, menatap mata kelabu pria itu yang kini memancarkan obsesi yang sama besarnya dengan apa yang ia rasakan di dalam dadanya.
"Masa lalu telah terkubur bersama paman Richard dan belati perak itu, Adrian," ucap Elena tegap. "Hari ini, tidak ada lagi keluarga Vandermeer yang tertindas, dan tidak ada lagi keluarga Blackwood yang kejam. Yang ada hanyalah kita. Penguasa di balik kabut ini."
Adrian mengangkat mahkota perak di tangannya, lalu dengan gerakan yang penuh penghormatan, ia meletakkannya di atas kepala Elena. Mahkota itu berkilau indah di bawah langit yang mendung, tampak begitu serasi dengan gaun merah darah dan kecantikan Elena yang dingin.
"Maka kenakanlah mahkota ini, Ratu-ku," bisik Adrian, suaranya bergetar oleh emosi yang mendalam. "Mahkota yang lahir dari abu kehancuran dan darah musuh-musuh kita. Bersamaku, kau akan menguasai wilayah ini tanpa ada seorang pun yang berani menentangmu."
Elena menyentuh mahkota di kepalanya, lalu beralih menatap Adrian dengan tatapan yang penuh gairah dan ketegasan. Ia menarik kerah jubah Adrian, memaksa pria itu untuk menunduk dan menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang intens, penuh dengan rasa kepemilikan yang posesif dan cinta yang berbahaya. Ciuman itu adalah segel bagi takdir merekaβsebuah sumpah yang ditulis bukan dengan tinta, melainkan dengan darah dan air mata yang telah mereka tumpahkan.
Ketika mereka akhirnya melepaskan tautan bibir mereka, kabut tebal di sekeliling kastel tampak bergulung semakin pekat, seolah merayakan persatuan kedua penguasa baru tersebut. Di balik selubung kabut abadi itu, mereka tidak lagi membutuhkan cahaya terang dunia luar. Mereka telah menemukan kegelapan mereka sendiri, tempat di mana mereka bisa memerintah bersama, tak tergoyahkan, selamanya.
"Di bawah dekapan kabut ini," bisik Elena di dada Adrian, mendengarkan detak jantung pria itu yang kini berdetak seirama dengan miliknya. "Kita adalah raja dan ratu atas takdir kita sendiri."
Adrian mempererat pelukannya, mencium puncak kepala Elena sembari menatap ke arah luar, ke arah wilayah kekuasaan mereka yang kini membentang luas dalam keheningan yang megah. "Dan tidak akan ada satu belati pun di dunia ini yang mampu memisahkan kita lagi."
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!