Dekapan Kabut dan Belati

Bab 2: Perangkap yang Terbuka

Pengaturan Membaca

**Bab 2: Perangkap yang Terbuka**

Langkah-langkah sunyi Elena menyusuri koridor Castle Marrow yang sedingin es tidak menyisakan suara sedikit pun. Malam pertamanya di kastil terkutuk ini terasa seperti siksaan tanpa akhir, namun malam ini juga merupakan kesempatan emas yang tidak boleh ia sia-siakan. Di bawah remang cahaya obor dinding yang berkedip-kedip ditiup angin malam, bayangan tubuhnya memanjang dan meliuk di atas lant** batu hitam, menyerupai sulur-sulur hantu yang ingin menyeretnya ke dalam kegelapan yang tak berdasar.

*Malam itu... malam di mana bau darah bercampur dengan abu pembakaran rumah keluarganya...*

Ingatan yang terputus saat ia melangkah di jalan setapak tadi kini kembali menghantam dada Elena dengan telak. Sentuhan dingin belati perak di balik gaunnya seolah menjadi pemantik api dendam yang selama tujuh tahun ini ia rawat dalam kesunyian. Ayahnya yang bersimbah darah, ibunya yang menjerit histeris sebelum suaranya dibungkam selamanya, dan kepulan asap hitam yang melahap seluruh dunianya—semua mimpi buruk itu bermuara pada satu nama: Adrian. Dan malam ini, Elena bersumpah akan mengakhiri mimpi buruk itu dengan tangannya sendiri.

Kastil ini begitu sepi, seolah-olah seluruh penghuninya telah tertidur lelap di bawah pengaruh sihir hitam. Elena telah mempelajari denah kastil secara kasar dari desas-desus para pelayan tua di kota perbatasan. Ruang kerja pribadi Adrian terletak di sayap barat, di balik koridor melingkar yang dijuluki 'Lorong Penyesalan'.

Setiap jengkal udara di lorong ini terasa kental dengan kelembapan kabut yang merembes melalui celah-celah jendela lengkung yang tinggi. Ketika Elena akhirnya tiba di depan pintu kayu ek hitam yang dihiasi ukiran kepala serigala perak yang menganga, jantungnya berdegup kencang, bagaikan kepakan sayap burung yang terperangkap di dalam sangkar dadanya. Udara dingin yang dihirupnya terasa tajam, membekukan tenggorokan, namun telapak tangannya justru berkeringat.

Ia menempelkan telinganya ke permukaan pintu yang dingin. Hening. Tidak ada suara gesekan pena di atas kertas, tidak ada derit langkah kaki, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Hanya suara gemertak kayu yang terbakar samar dari perapian di dalam ruangan.

Dengan gerakan perlahan yang telah ia latih ribuan kali, Elena menekan gagang pintu besi tempa tersebut. Pintu itu terbuka tanpa derit terkecil sekalipun—seolah-olah engsel-engselnya sengaja diberi minyak agar tidak mengganggu kesunyian malam. Elena menyelinap ma**k dengan keanggunan seorang predator, lalu menutup kembali pintu di belakangnya dengan sangat rapat.

Cahaya di dalam ruangan itu sangat temaram. Satu-satunya sumber cahaya berasal dari bara merah di perapian besar dan sebatang lilin yang hampir meleleh di atas meja kerja m***ni yang megah. Bau kertas tua, kulit pembungkus buku, dan aroma maskulin yang tajam bercampur wangi pinus basah segera memenuhi indra penciumannya.

Di sana, di balik meja kerja yang luas, sebuah kursi bersandaran tinggi berbahan beludru hitam membelakanginya. Di atas sandaran kursi itu, samar-samar terlihat siluet kepala dan bahu seorang pria yang sedang bersandar pasrah, seolah-olah sang pemilik tubuh sedang tenggelam dalam lamunan yang dalam atau kelelahan yang luar biasa.

*Adrian.*

Nama itu bergema di kepala Elena bagai lonceng kematian. Darahnya mendidih seketika. Rasa sakit, penderitaan, dan kesepian selama tujuh tahun menumpuk di ujung jemarinya saat ia meraba paha kirinya, lalu menarik belati perak warisan keluarganya dari balik lipatan gaun pelayanannya. Logam mulia itu berkilau dingin, memantulkan sisa cahaya lilin yang bergoyang ditiup angin malam dari jendela yang sedikit terbuka.

Elena melangkah maju tanpa suara. Ia menahan napas, menstabilkan gemetar di tangannya, dan memusatkan seluruh fokusnya pada titik di mana leher pria itu seharusnya berada. Satu langkah. Dua langkah. Jarak mereka kini hanya tersisa beberapa jengkal. Tubuhnya menegang, seluruh ototnya bersiap untuk meledakkan kekuatan yang telah ia simpan bertahun-tahun.

Dengan segenap tenaga, kebencian, dan keputusasaan yang telah mengkristal di dadanya, Elena melompat maju. Ia mengayunkan belati perak itu dengan gerakan mematikan, menghunuskannya langsung ke arah leher sosok yang memunggungi pintu tersebut.

*Jleb!*

Namun, tidak ada perlawanan dari daging yang tertusuk. Tidak ada pekikan kesakitan. Tidak ada darah hangat yang menyembur untuk membasahi tangannya. Sensasi yang dirasakan tangan Elena hanyalah tusukan pada tumpukan jubah wol tebal dan bantal yang disusun sedemikian rupa untuk membentuk siluet manusia di bawah remang cahaya ruangan.

Mata Elena melebar seketika. Napasnya tercekat di tenggorokan, menyisakan rasa sesak yang luar biasa. "Apa...?"

"Sebuah tusukan yang presisi, Gadis Kecil. Tapi sayangnya, sasarannya salah."

Sebuah suara bariton yang berat, dingin, sekaligus memikat terdengar dari sudut tergelap ruangan, dekat jendela besar yang terbuka di mana kabut malam merayap ma**k seperti ular-ular putih yang patuh pada tuannya.

Elena tersentak hebat, berusaha membalikkan tubuhnya dengan panik untuk menghadap sumber suara. Namun, sebelum ia sempat berputar sepenuhnya, sebuah gerakan secepat kilat menyergapnya dari kegelapan.

Sebuah tangan yang besar, kuat, dan sedingin es mencengkeram pergelangan tangan kanannya yang masih memegang belati dengan sangat erat. Kekuatan cengkeraman itu begitu besar hingga membuat sendi-sendi pergelangan tangan Elena terasa hampir remuk. Rasa sakit yang tajam membuat jarinya melemah seketika, menyebabkan belati perak itu terlepas dari genggamannya dan jatuh ke atas karpet tebal tanpa mengeluarkan suara keras.

Sebelum Elena sempat menjerit, tubuhnya didorong ke belakang hingga punggungnya membentur tepi meja kerja m***ni yang keras. Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan cepat saat sepasang mata gelap sedalam jurang menatapnya dari jarak yang begitu dekat.

Adrian, sang penguasa Castle Marrow, berdiri tepat di hadapannya.

Pria itu mengenakan kemeja sutra hitam longgar dengan kancing atas yang terbuka, membiarkan kabut malam yang dingin membelai kulit dadanya yang pucat. Rambut hitamnya yang sedikit berantakan membingkai wajahnya yang memiliki pahatan begitu sempurna—seperti malaikat yang jatuh, tampan namun mematikan bagai patung marmer pemakaman kuno. Di wajah tampan yang menakutkan itu, sebuah seringai dingin perlahan terukir. Itu bukan seringai kemarahan, melainkan seringai penuh kepuasan yang didorong oleh obsesi yang gelap.

"Lepaskan aku!" Elena mendesis, mencoba menyentakkan tangannya dengan sisa-sisa kekuatannya. Namun, cengkeraman Adrian pada pergelangan tangannya justru semakin mengencang, menarik tubuh Elena hingga dada mereka hampir bersentuhan. Elena bisa mencium aroma kayu pinus dan besi yang menguar kuat dari tubuh pria itu.

"Melepaskanmu?" Adrian berbisik, suaranya bergetar dengan nada geli yang mengerikan. Hembusan napasnya yang dingin menerpa wajah pucat Elena. "Setelah aku menunggu begitu lama untuk kedatanganmu, Elena?"

Elena membeku seketika. Nama aslinya terucap dari bibir pria yang sangat ingin ia bunuh itu dengan begitu fasih, begitu intim, seolah-olah pria itu telah melatihnya berulang kali di dalam kegelapan malam yang sunyi.

"Bagaimana... bagaimana kau..." Elena terbata-bata, topeng ketegarannya mulai retak oleh rasa ngeri yang menjalar cepat di sekujur tubuhnya.

"Bagaimana aku tahu namamu?" Adrian terkekeh rendah, suara tawa yang terdengar seperti gesekan belati pada batu asah yang tajam. Ia mendekatkan wajahnya, menatap langsung ke dalam manik mata Elena yang dipenuhi ketakutan dan kemarahan yang membara. "Atau bagaimana aku tahu bahwa pelayan baru yang pemalu dengan gaun kusam ini sebenarnya adalah putri terakhir dari keluarga Laurent yang tersisa? Keluarga yang kupikir telah lenyap terbakar bersama abu tujuh tahun lalu."

"Kau i****!" Elena meludahi kata-kata itu dengan penuh kebencian. Air mata kemarahan mulai menggenang di sudut matanya, namun ia menolak keras untuk membiarkannya jatuh di hadapan monster ini. "Kau membant** keluargaku! Kau menghancurkan hidupku! Aku datang ke sini untuk mengirimmu ke neraka, Adrian!"

Adrian tidak tampak terganggu sedikit pun oleh makian Elena. Sebaliknya, seringai di bibirnya semakin lebar. Jemari tangan kirinya yang bebas perlahan naik, membelai garis rahang Elena yang tegang dengan kelembutan yang terasa aneh dan sangat mengancam. Kulit tangan Adrian terasa sedingin es, mengirimkan getaran ngeri ke seluruh saraf Elena. Elena mencoba memalingkan wajahnya dengan jijik, namun Adrian mencengkeram dagunya dengan tegas, memaksanya untuk terus menatap mata gelapnya yang tak menyisakan ruang untuk belas kasihan.

"Kematian adalah hadiah yang terlalu sederhana untuk seseorang seperti aku, Elena," bisik Adrian, matanya berkilat dengan kilatan obsesif yang g*** di bawah temaram cahaya lilin. "Dan kau... kau mengira bisa ma**k ke kastilku, menghirup udaraku, dan mendekati ruang kerjaku tanpa seizinku? Setiap embusan angin di tempat ini adalah mataku. Setiap kabut yang merayap adalah telingaku. Aku tahu kau akan datang sejak kau pertama kali menginjakkan kakimu yang gemetar di perbatasan desa."

Elena merasa seluruh persendiannya mendadak lemas. Semua rencana yang telah ia susun dengan matang selama bertahun-tahun, semua latihan fisik yang menyiksa yang ia jalani demi malam ini—semuanya hanyalah sebuah lelucon konyol di hadapan pria ini. Ia tidak sedang memburu serigala; ia sedang berjalan dengan sukarela ma**k ke dalam rahangnya.

"Jadi, kau sengaja membiarkanku ma**k?" suara Elena bergetar, berjuang mempertahankan sisa-sisa harga dirinya di tengah keputusasaan yang melumpuhkan.

"Tentu saja," jawab Adrian dengan nada sant**, seolah sedang membicarakan permainan catur yang membosankan. "Menyenangkan sekali melihat mangsa kecil yang begitu berani merangkak ma**k ke sarang serigala. Aku ingin melihat seberapa jauh kebencianmu mampu membawamu. Dan harus kuakui, kau tidak mengecewakanku. Keberanianmu... ketajaman matamu saat mengayunkan belati itu... sungguh indah. Kau begitu hidup di tengah tempat yang mati ini."

Adrian membungkuk lebih dalam, menempelkan bibirnya sangat dekat ke telinga Elena, membuat bulu kuduk gadis itu merinding ngeri oleh sensasi dingin yang menusuk. "Kau adalah buruan paling indah yang pernah ma**k ke perangkapku, Elena Laurent. Dan sekarang, setelah gerbang kastil ini tertutup rapat di belakangmu, kau tidak akan pernah bisa pergi lagi."

Elena memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba menahan gelombang keputusasaan yang mengancam akan menenggelamkannya ke dalam keg***an. Di bawah cengkeraman erat Adrian, ia bisa merasakan denyut nadi pria itu—cepat, kuat, dan penuh kehidupan. Sangat ironis bahwa pria yang telah merenggut nyawa orang-orang yang dicint**nya justru terasa begitu nyata dan hidup di dekatnya.

"Bunuh saja aku sekarang," tantang Elena, membuka matanya kembali dengan tatapan menantang yang membara seperti api di tengah salju. "Jika kau tahu siapa aku, lakukan saja. Akhiri ini semua. Aku tidak takut mati!"

Adrian terdiam sejenak. Ia menatap mata Elena yang berkilat berani, mencari-cari tanda kelemahan atau kepasrahan di sana, namun yang ia temukan hanyalah api kebencian murni yang menolak untuk padam. Hal itu tampaknya semakin memikat rasa ingin tahunya yang gelap dan obsesif.

Perlahan, Adrian melepaskan cengkeramannya pada pergelangan tangan Elena. Namun, sebelum Elena sempat bergerak untuk melarikan diri atau mengambil senjatanya, Adrian terlebih dahulu membungkuk dengan gerakan anggun dan memungut belati perak tersebut dari atas karpet.

Ia mengamati belati itu di bawah sisa cahaya lilin, mengagumi ukiran lambang keluarga Laurent yang terpatri indah pada gagang peraknya yang berkilau.

"Membunuhmu?" Adrian bergumam, seolah memikirkan ide itu dengan rasa geli yang mendalam. Ia memutar belati itu dengan lihai di antara jari-jemarinya yang panjang, lalu mengarahkan ujung tajamnya ke dagu Elena, mengangkat wajah gadis itu agar kembali menatap langsung ke dalam matanya. "Itu akan menjadi akhir permainan yang sangat membosankan, Sayangku. Kematian terlalu cepat untuk menebus semua kebencian yang kau simpan selama tujuh tahun ini. Aku ingin melihatmu berjuang. Aku ingin melihat bagaimana kabut kastil ini perlahan-lahan mengikis harapanmu, sampai tidak ada yang tersisa di dalam dirimu selain aku."

"Kau g***," bisik Elena dengan suara tercekat, merasakan dinginnya ujung belati peraknya sendiri yang menekan lembut kulit lehernya yang sensitif.

"Mungkin," Adrian menyeringai lebar, matanya memancarkan kegelapan yang tak berdasar, seolah menyimpan seluruh misteri dan kekejaman Castle Marrow di dalamnya. "Tapi di tempat ini, keg***anku adalah hukum yang mutlak. Selamat datang di rumah barumu, Elena. Perangkapmu baru saja terbuka, dan kau adalah tawanan pribadiku."

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca