**Bab 3: Sangkar Emas dan Beludru**
Kemilau emas yang memantulkan cahaya lilin di dinding tidak mampu mengusir hawa dingin yang merayap dari lant** batu Castle Marrow. Elena terbangun dengan rasa sakit yang berdenyut di pelipisnya, menyadari bahwa ia tidak lagi berada di koridor gelap berbau debu, melainkan di sebuah ruangan yang terlalu megah untuk ukuran seorang tawanan, namun terlalu menyesakkan untuk disebut sebagai tempat perlindungan.
Ia bangkit perlahan dari lant**, mengedarkan pandangan ke sekeliling. Dinding-dinding kamar itu dilapisi sutra merah tua dengan ukiran emas murni bermotif sulur mawar liar yang tampak meliuk-liuk seperti ular di bawah cahaya temaram. Sebuah tempat tidur besar berkaki empat dengan kelambu brokat keemasan berdiri angkuh di tengah ruangan, beralaskan ka**r beludru hijau zamrud yang begitu tebal dan empuk, seolah menjanjikan kenyamanan yang mematikan. Namun, kemewahan ini hanyalah fatamorgana yang kejam. Ketika Elena melangkah mendekati jendela tinggi yang melengkung di sudut ruangan, ia menemukan jeruji besi hitam yang tebal, kokoh terpatri pada bingkai batu luar kastil. Di balik jeruji itu, kabut tebal bergulung-gulung bagaikan monster yang lapar, menyembunyikan tebing curam dan jurang yang menganga di bawah Castle Marrow.
Ini bukan sekadar kamar tidur. Ini adalah sangkar emas yang dirancang dengan kejam untuk membunuh jiwanya secara perlahan. Kehangatan beludru di tempat tidur itu terasa seperti ejekan, sementara emas di dinding adalah jeruji tak kasat mata yang terus mengingatkannya pada ketidakberdayaan.
Elena meraba pinggangnya. Kosong. Belati perak warisan keluarganya—satu-satunya senjata dan kenangan yang tersisa—telah lenyap. Ingatan tentang kegagalannya beberapa jam lalu kembali menghantam dengan telak. Ia hampir berhasil. Ia telah berdiri di belakang kursi bersandaran tinggi itu, belati telah terangkat, namun dalam sekejap mata yang tak ma**k akal, pergelangan tangannya dicengkeram dengan kekuatan yang sanggup meremukkan tulang. Napas dingin beraroma pinus berbisik di telinganya sebelum kegelapan merenggut kesadarannya.
"Kau menyukainya?"
Suara bariton yang berat, rendah, dan sedingin es memecah keheningan yang mencekam.
Elena tersentak. Ia berbalik dengan cepat hingga ujung gaun sutranya menyapu lant**, menimbulkan desau halus. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rongga dadanya bagaikan kepakan burung liar yang panik. Di ambang pintu ek hitam yang terbuka lebar, berdiri sosok yang paling ia benci sekaligus ia takuti di dunia ini.
Adrian.
Pria itu berdiri dengan postur tubuh yang tegap dan keanggunan yang mengintimidasi. Jubah hitam panjangnya yang berhias bulu serigala kelabu di bagian bahu tampak kontras dengan dekorasi kamar yang hangat dan cerah. Wajahnya yang tegas, dengan rahang kokoh sekeras pahatan batu dan sepasang mata sekelabu langit badai, sama sekali tidak menunjukkan emosi. Di tangan kanannya yang terbungkus sarung tangan kulit hitam, sebilah belati perak berkilauan di bawah cahaya lilin—belati milik Elena sendiri.
Elena mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh, mencoba menahan getaran hebat yang mulai menjalar dari lutut hingga ke ujung jarinya. "Kenapa aku berada di sini?" tanyanya, berusaha keras menyembunyikan getaran dalam suaranya, meskipun nadanya terdengar serak dan rapuh. "Jika kau ingin mengeksekusiku atas apa yang kulakukan di ruang kerjamu, lakukan sekarang. Jangan mempermainkanku dengan kemewahan menjijikkan ini."
Adrian melangkah ma**k ke dalam kamar. Setiap derap langkah sepatu bot kulitnya di atas lant** kayu terdengar seperti ketukan lonceng kematian yang lambat di telinga Elena. Pria itu tidak terburu-buru. Ia berjalan mengitari tempat tidur beludru, jemarinya yang panjang mengusap tiang ranjang yang berukir rumit dengan gerakan sant**, seolah-olah ia sedang menikmati keindahan propertinya sendiri.
"Mengeksekusimu?" Adrian mengulang kata-kata itu dengan nada geli yang dingin. "Kematian yang cepat adalah sebuah pemborosan, Elena. Terutama bagi seorang penyusup yang telah bersusah payah menembus pertahanan Castle Marrow hanya untuk membawakan sebilah mainan seindah ini kepadaku."
Ia mengangkat belati perak itu setinggi mata, memutarnya di antara jemarinya dengan kemahiran yang menakutkan. Cahaya lilin memantul di permukaan bilah baja yang tajam, memproyeksikan kilatan cahaya dingin di wajah Elena yang pucat pasi.
"Belati ini dibuat dengan sangat baik," lanjut Adrian, suaranya tenang, hampir seperti seorang kurator yang sedang mengagumi karya seni kuno. "Gagang perak murni, dihiasi ukiran kepala burung elang... lambang keluarga bangsawan wilayah selatan yang telah runtuh dari sejarah. Kau datang untuk menuntut balas atas nama darah mereka, bukan?"
Mendengar penyebutan keluarganya dari mulut pria yang menghancurkan hidupnya, amarah Elena meledak seketika, membakar habis rasa takut yang sempat melumpuhkan akal sehatnya. Ia melangkah maju dua tapak, menentang bahaya yang mengint** di hadapannya.
"Kau membant** mereka!" jerit Elena, suaranya gemetar oleh kepedihan dan kebencian yang mendalam. "Kau membakar rumahku, membiarkan orang tuaku mati terpanggang dalam abu, dan merebut semua yang kami miliki! Kau adalah i**** tanpa jiwa, Adrian! Aku bersumpah demi sisa darah yang mengalir di tubuhku, aku akan mengirimmu ke neraka, bahkan jika aku harus menyeret diriku sendiri ke dalamnya!"
Adrian berhenti melangkah. Tatapan matanya yang sehangat es mengunci mata Elena. Alih-alih marah atau tersinggung oleh makian tersebut, sebuah senyuman tipis—hampir tak kasat mata dan sangat merendahkan—terukir di sudut bibirnya. Itu adalah senyuman seorang predator puncak yang sedang mengamati mangsa kecilnya meronta-ronta dalam jebakan yang mustahil ditembus.
"Kemarahan yang sangat indah," bisik Adrian.
Ia melangkah mendekat. Gerakannya begitu cepat dan senyap, bagaikan kabut malam yang merayap tanpa suara. Sebelum Elena sempat menyadarinya atau mengambil langkah mundur, Adrian sudah berada tepat di hadapannya. Jarak di antara mereka terkikis habis hingga Elena bisa merasakan embusan napas hangat pria itu yang berbau pinus basah dan sedikit aroma tembakau mahal.
Napas Elena tertahan di tenggorokan. Tubuhnya menegang seperti busur panah yang siap lepas, namun ia menolak untuk menundukkan kepalanya. Ia menatap langsung ke dalam mata kelabu Adrian, sepasang mata yang tampak kosong namun menyimpan kegelapan yang tak berdasar.
"Tetapi kemarahan tanpa kekuatan hanyalah sebuah lelucon yang menyedihkan, Elena," ucap Adrian, suaranya kini merayap ma**k ke dalam sanubari wanita itu, berbisik dengan nada intimidasi yang mematikan. "Kau menantangku dengan kata-kata yang tajam, namun tubuhmu tidak bisa berbohong. Kau gemetar. Bahkan sekarang, ketika kau mengancam akan mengirimku ke neraka, jantungmu berdetak begitu cepat dan liar hingga aku bisa merasakannya bergetar di udara."
"Aku tidak takut padamu!" desis Elena, meskipun giginya bergeletuk menahan gelombang ketakutan yang berusaha merobohkan pertahanannya.
"Benarkah?"
Dengan satu gerakan yang terlampau cepat untuk diikuti mata manusia biasa, Adrian mengangkat tangannya. Sebelum Elena sempat mengelak, punggung tangan Adrian yang terbungkus kulit hitam yang dingin menyentuh pipi Elena, mengusapnya dengan kelembutan yang terasa lebih mengerikan daripada tamparan. Ibu jarinya bergerak perlahan ke bawah, menelusuri garis rahang Elena yang tegang, sebelum akhirnya berhenti di leher wanita itu.
Detik berikutnya, Elena merasakan dingin yang membekukan bersarang di kulit lehernya yang sensitif.
Bilah dingin belati peraknya sendiri kini menempel erat di atas urat nadinya.
Elena berhenti bernapas sepenuhnya. Sensasi logam dingin yang tajam itu mengirimkan sengatan ketakutan yang primal langsung ke otaknya. Satu tekanan kecil, satu sentakan tidak disengaja dari tangan Adrian, dan darah hangatnya akan menyembur keluar, menodai gaun sutra mewah yang dipakaikannya. Amarahnya yang meluap-luap seketika tersedak oleh insting bertahan hidup. Tubuhnya bergetar semakin hebat, sebuah pengkhianatan dari fisiknya sendiri yang membuktikan betapa besarnya dominasi Adrian atas dirinya di ruangan ini.
Adrian menatap wajah Elena yang kini berjarak hanya beberapa senti dari wajahnya sendiri. Ia memperhatikan setiap perubahan ekspresi di wajah wanita itu—pupil matanya yang melebar, napasnya yang tertahan, dan rona merah kemarahan yang perlahan memudar menjadi pucatnya rasa takut.
"Kau menatapku seolah kau ingin mengoyak dadaku dan memakan jantungku," bisik Adrian, suaranya terdengar seperti beludru yang menyapu luka terbuka. "Namun kulitmu meremang karena ketakutan saat belati ini menyentuhmu. Sentuhan baja dingin ini... katakan padaku, apakah ini mengingatkanmu pada malam itu? Malam ketika kau bersembunyi di balik lemari kayu, menyaksikan ibumu memohon belas kasihan sementara darahnya mengalir di atas lant** batu?"
Air mata kemarahan dan luka lama yang terkoyak kembali menggenang di sudut mata Elena. Dada wanita itu naik turun dengan tidak teratur, menahan sesak yang teramat sangat. Mengapa pria ini tahu det**l itu? Mengapa dia harus mengingatkannya pada mimpi buruk yang selalu menghantuinya setiap malam? Namun, Elena menolak untuk membiarkan air mata itu jatuh di hadapan pembunuh keluarganya. Ia menolak memberikan kepuasan itu kepada Adrian.
"Bunuh aku," tantang Elena dengan suara yang bergetar hebat namun sarat dengan kebencian yang mengakar. "Jika kau tidak membunuhku sekarang, Adrian... demi setiap tarikan napas yang tersisa di dadaku, aku akan mencari cara untuk menancapkan belati ini ke jantungmu. Aku akan menjadi bayangan yang mengint**mu dalam setiap tidurmu."
Adrian menatap mata Elena yang berkilat dengan kobaran api kebencian murni. Selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian, keheningan yang menyesakkan menyelimuti kamar tersebut. Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah derit dinding kastil tua yang dihantam badai angin malam dari luar jendela.
Secara perlahan dan tanpa diduga, Adrian menarik kembali bilah belati itu dari leher Elena. Ia tidak menyarungkannya, melainkan memainkannya kembali dengan sant** di jemarinya.
"Tidak, Elena. Aku tidak akan membunuhmu," kata Adrian, suaranya kembali datar, dingin, dan berwibawa. "Kematian adalah pembebasan yang terlalu mudah untuk seorang pembunuh amatir sepertimu. Aku ingin kau tinggal di sini, di dalam sangkar emas ini. Nikmati kehangatan beludrunya, makanlah makanan terbaik yang disediakan para pelayanku, dan tataplah kabut tebal yang mengurungmu di luar sana setiap hari."
Adrian berbalik, melangkah dengan tenang menuju pintu kayu ek yang terbuka lebar. Jubah hitamnya melambai dramatis, menyapu hawa dingin di sekitarnya. Tepat di ambang pintu, ia menghentikan langkahnya dan menoleh sedikit ke belakang, memberikan tatapan samping yang membuat darah Elena serasa membeku di pembuluh darahnya.
"Pelihara kebencianmu itu, Elena. Biarkan ia menjadi bahan bakar yang membakarmu dari dalam setiap malam. Gunakan waktu yang kuberikan kepadamu di sangkar ini untuk belajar bagaimana cara memegang belati dengan benar tanpa membiarkan tanganmu gemetar karena ketakutan," ucap Adrian dengan nada menantang yang dingin, namun terselip kepuasan yang aneh di dalamnya. "Dan ketika saatnya tiba... ketika kau merasa telah c**up kuat... cobalah untuk membunuhku lagi. Aku akan menunggumu."
Tanpa menunggu tanggapan, Adrian melangkah keluar dari kamar. Pintu kayu ek yang tebal itu menutup dengan debuman keras yang menggetarkan dinding kamar, disusul oleh suara mekanis yang tajam saat kunci besi diputar dari luar. *Klek.*
Elena berdiri mematung di tengah ruangan yang sunyi senyap. Ketika gema langkah kaki Adrian perlahan memudar di lorong luar, kekuatan di lutut Elena benar-benar lenyap. Ia jatuh terduduk di atas lant** batu yang dingin di samping tempat tidur beludru yang megah. Napasnya terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat seolah-olah ia baru saja melarikan diri dari cengkeraman maut yang nyaris merenggut nyawanya.
Ia menatap pintu yang kini terkunci rapat, lalu beralih menatap telapak tangannya sendiri yang masih bergetar hebat. Di sekelilingnya, dinding-dinding berlapis emas dan kelambu sutra merah itu tampak seperti monster yang diam, siap mengurungnya dalam keg***an dan keputusasaan yang tak berujung. Namun, di balik ketakutan yang mencengkeram erat jiwanya, satu hal tetap menyala terang di dalam dada Elena: sumpah yang membara untuk menghancurkan sangkar emas ini, dan suatu hari nanti, merobek kabut Castle Marrow dengan darah hangat Adrian.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!