Dekapan Kabut dan Belati

Bab 4: Tarian di Atas Bara

Pengaturan Membaca

**Bab 4: Tarian di Atas Bara**

Siang hari di Castle Marrow tidak pernah benar-benar membawa kehangatan. Sinar matahari yang berusaha menembus dari balik awan kelabu hanya mampu menciptakan pendar temaram yang pucat, kalah telak oleh kabut tebal yang terus mengepung kastil batu tersebut. Bagi Elena, setiap detik yang berlalu di dalam kamar megah berkepala dua ini terasa seperti racun yang mengendap perlahan di dalam nadinya.

Ia tidak bisa hanya diam dan menerima nasib sebagai burung dalam sangkar emas.

Setelah memastikan tidak ada suara langkah kaki di koridor luar, Elena mendekati pintu kayu ek yang tebal. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia memutar pegangan kuningan yang dingin. Jantungnya berdentang kencang saat pintu itu berderit pelan dan terbuka. Mengejutkanβ€”pintu itu tidak dikunci dari luar. Apakah ini sebuah kecerobohan, ataukah sebuah jebakan yang disengaja?

Elena melangkah keluar dengan sangat berhati-hati. Lorong-lorong Castle Marrow terasa seperti labirin kuno yang lembap. Lant** batunya begitu dingin hingga menembus sol sepatu kulitnya yang tipis. Di setiap beberapa puluh langkah, obor-obor dinding menyala dengan api biru yang aneh, melemparkan bayang-bayang panjang yang menari-nari di dinding batu yang mulai berlumut.

"Kau tersesat, Nona?"

Suara berat dan datar itu membuat Elena tersentak. Ia berbalik dengan cepat, punggungnya merapat ke dinding. Dua orang penjaga dengan zirah besi hitam pekat berdiri beberapa langkah di depannya. Wajah mereka tersembunyi di balik helm baja, namun tatapan dingin mereka terasa begitu nyata. Di dada zirah mereka, lambang serigala mencengkeram belati terukir dengan sangat det**lβ€”lambang keluarga Adrian.

Elena berusaha menegakkan bahunya, memanggil kembali sisa-sisa keberanian warisan keluarganya. "Aku hanya ingin menghirup udara segar. Di mana jalan menuju halaman tengah?"

"Perintah Lord Adrian sangat jelas," jawab penjaga di sebelah kanan, suaranya tanpa emosi, bagaikan mesin yang diprogram. "Nona Elena diperbolehkan berjalan-jalan, namun tidak untuk meninggalkan area dalam kastil."

"Aku bukan tahanan yang harus dikurung di dalam ruangan pengap ini!" potong Elena tajam. "Biarkan aku lewat."

Kedua penjaga itu tidak bergerak seinci pun. Mereka berdiri sekokoh pilar batu kastil. "Kesetiaan kami hanya tertuju pada Lord Adrian. Nyawa kami adalah miliknya, begitu pula setiap jengkal tanah di kastil ini. Silakan kembali ke kamar Anda, Nona, sebelum kami terpaksa menggunakan kekerasan."

Elena mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa frustrasi mulai membakar dadanya. Ia menyadari satu hal yang mengerikan: tidak ada celah untuk menyuap atau membujuk para penjaga ini. Kepatuhan mereka pada Adrian melampaui rasa takut akan kematian itu sendiri. Mereka tunduk mutlak, seolah-olah Adrian adalah dewa yang mengendalikan napas mereka.

Dengan kemarahan yang tertahan, Elena berbalik dan melangkah menuju sebuah jendela besar di ujung koridor yang menghadap langsung ke arah luar kastil. Ia menatap ke bawah. Di balik jeruji besi, jurang menganga lebar dengan bebatuan runcing yang siap mencabik siapa saja yang terjatuh. Namun, yang lebih mengerikan adalah kabut di luar sana. Kabut itu tidak sekadar tebal; ia bergerak, bergulung-gulung lambat, dan tampak hidup. Seolah-olah ada mata tak kasat mata yang mengawasinya dari dalam kegelapan putih itu. Elena tahu, bahkan jika ia berhasil melompati pagar pembatas, kabut itu akan menyesatkannya dalam hitungan detik, menuntun langkahnya menuju kematian di dasar jurang yang tak berdasar.

Ia benar-benar terperangkap. Kastil ini adalah penjara yang sempurna, dan Adrian adalah sipir yang memegang kunci jiwanya.

***

Malam tiba dengan keheningan yang mencekam. Suara lolongan angin di luar beradu dengan ketukan keras di pintu kamar Elena.

Seorang pelayan wanita paruh baya berwajah pucat ma**k tanpa senyuman. Di tangannya, ia membawa sebuah gaun beludru berwarna merah marun pekat, sepekat darah yang baru mengering.

"Lord Adrian meminta kehadiran Anda di ruang makan malam dalam tiga puluh menit," ujar pelayan itu dengan suara monoton. "Beliau mengharapkan Anda mengenakan gaun ini."

Elena menatap gaun itu dengan rasa muak yang mendalam. "Katakan pada tuanmu, aku tidak lapar dan aku tidak sudi menjadi boneka pajangannya."

Pelayan itu tidak mendebat. Ia hanya meletakkan gaun itu di atas tempat tidur, lalu menatap Elena dengan mata yang layu. "Lord Adrian tidak menerima penolakan, Nona. Dan percayalah, Anda tidak ingin melihat apa yang akan terjadi jika beliau harus menjemput Anda sendiri."

Kata-kata itu mengandung ancaman dingin yang membuat bulu kuduk Elena meremang. Setelah pelayan itu pergi, Elena menatap gaun merah itu. Dengan helaan napas berat dan penuh dendam, ia akhirnya meraih gaun tersebut. Jika ia harus menghadapi sang monster malam ini, ia tidak akan melakukannya dengan menunjukkan kelemahan.

***

Ruang makan Castle Marrow adalah sebuah ruangan luas dengan langit-langit tinggi yang disangga oleh pilar-pilar batu hitam. Sebuah meja kayu panjang berbahan ek gelap membentang di tengah ruangan, namun hanya ada dua kursi yang disiapkan di ujung yang saling berhadapan. Di dinding, sebuah perapian raksasa menyala, mengirimkan lidah-lidah api yang menjilat kayu bakar, menciptakan bayangan merah yang dramatis di seluruh ruangan.

Adrian sudah duduk di kursinya saat Elena ma**k. Pria itu telah menanggalkan jubah bulunya, kini hanya mengenakan kemeja sutra hitam dengan sulaman perak di kerahnya. Rambut gelapnya sedikit berantakan, dan di bawah cahaya api, wajahnya tampak lebih tegas, hampir seperti i**** yang tampan namun mematikan.

Mata kelabu Adrian langsung tertuju pada Elena saat gadis itu melangkah ma**k. Tatapannya menyapu gaun merah yang melekat pas di tubuh ramping Elena, menonjolkan lekuk tubuh dan kulit bahunya yang seputih porselen. Sudut bibir Adrian terangkat sangat tipis.

"Merah sangat cocok untukmu, Elena," suara bariton Adrian bergema di ruangan yang sunyi itu. "Warna kemarahan. Warna darah."

Elena tidak membalas pujian beracun itu. Ia berjalan dengan anggun yang dipaksakan, lalu menarik kursi di ujung meja yang berseberangan dengan Adrian. Jarak di antara mereka c**up jauh, namun Elena bisa merasakan kehadiran Adrian seolah pria itu berdiri tepat di belakang lehernya.

"Aku tidak ke sini untuk mendengar bualanmu," kata Elena dingin, menatap piring perak kosong di depannya.

"Tentu saja tidak. Kau ke sini karena kau tahu kau tidak punya pilihan lain," sahut Adrian sant**. Ia mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat halus.

Dua orang pelayan segera ma**k, menyajikan hidangan daging panggang dengan aroma rempah yang kuat, ditemani anggur merah yang dituangkan ke dalam piala kristal. Setelah selesai, para pelayan itu membungkuk khidmat dan langsung meninggalkan ruangan, menyisakan keheningan yang kembali merayap di antara mereka berdua.

"Makanlah. Kau butuh energi jika ingin terus merencanakan pelarianmu yang sia-sia itu," ujar Adrian, nadanya terdengar seperti ejekan yang halus.

Elena mencengkeram garpu perak di tangannya dengan erat. "Kau tahu tentang usahaku tadi siang?"

"Tidak ada satu pun hal yang terjadi di dalam kastil ini yang luput dari perhatianku, Elena. Bahkan detak jantungmu yang terlalu cepat saat kau menatap kabut di luar jendela," Adrian memotong dagingnya dengan gerakan yang sangat rapi dan presisi. "Kabut itu adalah pelindungku. Dan para penjelajah yang mencoba menembusnya tanpa izin dariku... biasanya berakhir sebagai tulang-belulang di dasar tebing."

Elena menelan ludah. Rasa ngeri sempat melintas di matanya, namun ia dengan cepat menyembunyikannya di balik tatapan menantang. "Kau pikir kau bisa menahanku di sini selamanya? Keluargakuβ€”"

"Keluargamu sudah runtuh, Elena," potong Adrian cepat, matanya kini menatap lurus ke dalam manik mata Elena. Kehangatan palsu di wajahnya lenyap, digantikan oleh kedinginan yang mutlak. "Sisa-sisa sekutumu bersembunyi seperti tikus di dalam got. Kau adalah kartu terakhir yang mereka miliki, dan sekarang, kartu itu ada di tanganku."

"Aku bukan alat negosiasimu!" desis Elena, emosinya mulai tersulut. Ia berdiri dari kursinya, meletakkan kedua tangannya di atas meja, mencondongkan tubuhnya ke depan. "Kau membunuh ayahku. Kau merebut tanah kami. Dan kau mengharapkan aku duduk di sini, berbagi makan malam dengan pembunuh berdarah dingin?"

Adrian tidak langsung menjawab. Ia meletakkan pisau dan garpunya dengan perlahan, lalu bangkit berdiri. Postur tubuhnya yang tinggi menjulang menciptakan bayangan besar yang menelan sosok Elena. Dengan langkah lambat dan berwibawa, Adrian berjalan memutari meja panjang itu. Setiap ketukan langkah sepatunya di atas lant** batu terdengar seperti hitung mundur menuju bahaya.

Elena ingin mundur, namun harga dirinya melarangnya untuk menunjukkan ketakutan. Ia tetap berdiri tegak, meski jantungnya kini berdegup kencang bagai tabuh perang.

Adrian berhenti tepat di hadapan Elena. Jarak di antara mereka kini begitu dekat hingga Elena bisa menghirup aroma pinus yang segar bercampur dengan aroma samar besi yang dingin dari tubuh pria itu. Ketegangan fisik di antara mereka terasa begitu pekat, seolah-olah udara di sekitar mereka telah bermuatan listrik yang siap menyengat.

Adrian mengulurkan tangan. Ibu jarinya yang kasar tanpa sarung tangan menyentuh dagu Elena, memaksanya untuk mendongak menatap matanya yang kelabu sedalam badai. Sentuhan itu terasa hangat, kontras dengan hawa dingin yang selalu dipancarkan pria itu, menciptakan sensasi aneh yang menggelitik kulit Elena. Elena gemetar halus, bukan hanya karena marah, tapi karena sebuah tarikan magnetis yang sangat berbahaya dan membingungkan yang tiba-tiba bangkit di dalam dadanya.

"Kau membenciku, Elena. Aku bisa melihatnya di matamu yang indah ini," bisik Adrian, suaranya kini begitu rendah dan intim, bergetar di dekat bibir Elena. "Tapi kau juga takut... dan kau penasaran. Kau penasaran mengapa aku membiarkanmu hidup setelah kau mencoba menusukku."

Elena berusaha menarik wajahnya, namun cengkeraman Adrian di dagunya menguat, tidak menyakiti, namun mutlak tak tergoyahkan. "Aku tidak penasaran pada monster sepertimu. Lepaskan aku!"

"Monster?" Adrian terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar begitu gelap namun menawan. "Mungkin. Tapi aku adalah monster yang memegang kendali atas hidupmu saat ini. Dan jika aku menginginkannya, aku bisa menghancurkanmu sekarang juga."

Adrian mendekatkan wajahnya, hembusan napas hangatnya menerpa pipi Elena. "Namun, membunuhmu terlalu mudah. Aku ingin melihat seberapa lama kau bisa bertahan di bawah tatapanku tanpa memohon belas kasihan."

Elena menatap tepat ke dalam mata Adrian. Di bawah intimidasi yang begitu kuat, ia merasakan amarahnya bercampur aduk dengan desakan aneh yang membuatnya sulit bernapas. Detak jantungnya berpacu dalam irama liar yang membingungkan. Mengapa ia merasa begitu tertarik pada kegelapan yang memancar dari pria ini? Mengapa sentuhannya, yang seharusnya ia benci setengah mati, justru mengirimkan getaran yang membuat lututnya terasa lemas?

Ini adalah siksaan yang sesungguhnya. Bukan jeruji besi, melainkan ketegangan emosional yang menjeratnya seperti jaring laba-laba.

"Aku tidak akan pernah memohon padamu," desis Elena dengan suara serak, menolak untuk kalah dalam permainan tatapan ini. "Suatu hari nanti, aku yang akan memegang belati itu kembali. Dan saat hari itu tiba, aku tidak akan ragu."

Adrian menatap bibir Elena yang sedikit bergetar, lalu kembali menatap matanya. Perlahan, ia melepaskan cengkeramannya dari dagu Elena. Ia mundur satu langkah, memberikan ruang yang langsung terasa dingin bagi Elena.

"Aku sangat menantikan hari itu, Elena," ujar Adrian dengan senyum misterius yang menghiasi wajah tampannya. "Tapi sampai hari itu tiba... kau adalah milikku. Dan kau akan menari di atas bara api yang kukobarkan di kastil ini."

Adrian berbalik, kembali ke kursinya dan mengangkat piala anggurnya, membiarkan Elena berdiri terpaku di sana dengan napas yang memburu dan jantung yang masih menari liar dalam ketakutan dan gairah yang membingungkan.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca