Dekapan Kabut dan Belati

Bab 5: Topeng-Topeng Kematian

Pengaturan Membaca

**Bab 5: Topeng-Topeng Kematian**

Gaun itu terhampar di atas ranjang beludru bagaikan genangan darah segar yang baru tumpah. Sutra merah itu begitu halus, berkilau di bawah temaram lampu gantung Castle Marrow, memantulkan kemewahan yang terasa intim sekaligus mengintimidasi. Elena berdiri beberapa langkah dari ranjang, menatap kain berkilau itu dengan sepasang mata yang menyipit penuh penolakan.

"Aku tidak akan memakainya," cetus Elena, suaranya menggema di kesunyian kamar tidurnya.

Di ambang pintu, Adrian berdiri dengan keanggunan yang dingin. Setelan tuksedo hitamnya melekat sempurna pada tubuh tegapnya, tanpa cela, tanpa kerutan. Rambut gelapnya disisir rapi ke belakang, mempertegas garis rahangnya yang keras dan sepasang mata kelam yang selalu tampak mampu membaca isi kepala Elena.

"Kau akan memakainya, Elena," sahut Adrian pelan, namun setiap suku katanya membawa bobot titah yang mutlak. "Malam ini bukan sekadar makan malam biasa. Ini adalah pengadilan bagi mereka yang mengira bisa merongrong kekuasaanku. Dan kau akan berada di sana, di sisiku."

"Sebagai apa? Pajangan? Korban penculikan yang kau pamerkan seperti piala?" Elena melangkah maju, dadanya naik turun oleh kemarahan yang tertahan. "Aku bukan milikmu, Adrian. Kau bisa mengurungku di kastil terkutuk ini, tapi kau tidak bisa mendikte bagaimana aku bersikap!"

Adrian tidak membalas dengan kemarahan. Ia justru melangkah mendekat, perlahan, seperti predator yang sedang mempersempit jarak dengan mangsanya. Langkah kakinya hampir tidak terdengar di atas karpet tebal. Ketika ia berdiri tepat di depan Elena, aroma maskulin yang bercampur dengan dinginnya udara malam langsung mengunci indra penciuman Elena.

Jemari Adrian yang panjang dan dingin terangkat, menyentuh dagu Elena, memaksanya mendongak untuk menatap langsung ke dalam manik mata yang sehitam jurang terdalam itu.

"Kau salah," bisik Adrian, suaranya rendah dan serak, mengirimkan getaran aneh yang menjalar di sepanjang tulang belakang Elena. "Kau adalah milikku sejak detik pertama kau melangkah ma**k ke wilayahku. Malam ini, para serigala dari seluruh penjuru dunia bawah akan berkumpul di aula bawah. Mereka lapar, Elena. Mereka mencari kelemahan. Jika kau memakai gaun lusuhmu dan tampil seperti tawanan yang ketakutan, mereka akan melihatmu sebagai mangsa. Dan di duniaku, mangsa yang lemah akan langsung dikoyak hingga tak bersisa."

Ibu jari Adrian mengusap bibir bawah Elena dengan kelembutan yang terasa berbahaya. "Pakai gaun itu. Biarkan mereka tahu bahwa kau berada di bawah perlindunganku. Bahwa menyentuhmu berarti mengundang murka yang tidak akan bisa mereka bayangkan."

Elena terpaku. Sentuhan Adrian terasa hangat sekaligus membakar kulitnya. Ada intensitas yang begitu pekat dalam tatapan pria ituβ€”sebuah janji proteksi yang dibungkus dalam ancaman kepemilikan mutlak. Elena ingin sekali menepis tangan itu, ingin meludahi wajah tampannya yang angkuh, namun logika dingin di kepalanya berbisik bahwa Adrian berkata jujur. Di luar sana, di balik kabut tebal Castle Marrow, ada monster-monster yang jauh lebih mengerikan dari pria yang kini berdiri di hadapannya.

Dengan helaan napas berat yang terdengar seperti kekalahan, Elena memalingkan wajahnya, melepaskan diri dari sentuhan Adrian. "Keluar dari kamarku. Aku butuh waktu untuk bersiap."

Sudut bibir Adrian terangkat membentuk senyuman tipis yang nyaris tak kentara. "Aku menunggumu di ujung koridor, *mia cara*."

***

Aula utama Castle Marrow telah disulap menjadi ruang perjamuan yang luar biasa megah sekaligus mencekam. Meja kayu ek panjang membentang di tengah ruangan, dilapisi kain linen hitam dan dihiasi oleh lilin-lilin perak yang tinggi. Cahaya api lilin yang bergoyang menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding batu kastil yang dingin.

Di sekeliling meja, belasan pria dan wanita berpakaian formal mewah telah duduk. Mereka adalah para pemimpin sindikat, penyelundup senjata terbesar, dan gembong narkotika internasional. Wajah-wajah mereka tampak beradab di balik setelan mahal dan gaun rancangan desainer, namun mata mereka memancarkan kekejaman yang dingin. Mereka adalah para pembunuh yang mengenakan topeng kesopanan.

Pintu ganda aula terbuka lebar. Suara percakapan yang tadinya berdengung langsung lenyap seketika. Keheningan yang pekat dan menekan menyelimuti ruangan.

Adrian melangkah ma**k dengan tangan kiri yang ditekuk, tempat tangan Elena bersandar.

Elena bisa merasakan seluruh mata di ruangan itu langsung tertuju pada mereka. Lebih tepatnya, tertuju padanya. Gaun sutra merah yang dikenakannya melekat indah, mengekspos bahunya yang putih porselen dan memberikan kontras yang mencolok di tengah-tengah dominasi warna hitam dan gelap di aula tersebut. Ia merasa seperti setetes darah segar di atas salju.

"Lord Adrian," seorang pria paruh baya dengan bekas luka melintang di pipinya berdiri, membungkuk hormat dengan senyum yang dipaksakan. "Suatu kehormatan bisa memenuhi undangan Anda."

Adrian hanya mengangguk dingin, membimbing Elena menuju kursi di ujung mejaβ€”singgasananya. Adrian duduk di kursi kepala meja yang megah, sementara Elena ditempatkan di kursi tepat di sebelah kanannya.

"Silakan duduk, Tuan-Tuan," ujar Adrian datar. Suaranya tidak keras, namun memiliki otoritas yang membuat tidak ada satu orang pun yang berani membantah.

Makan malam dimulai dalam ketegangan yang nyaris bisa dipotong dengan pisau. Denting garpu dan pisau perak yang beradu dengan piring porselen terdengar seperti ketukan lonceng kematian. Elena hanya menatap makanannya tanpa minat. Jantungnya berdegup kencang saat menyadari tatapan-tatapan lapar dan penuh selidik dari para tamu di seberang meja.

"Jadi, Adrian..." suara berat dari ujung meja memecah kesunyian. Itu adalah Don Marcello, pemimpin kartel terkuat dari wilayah selatan. Pria itu memiliki mata yang licik dan senyum yang menjijikkan. "Kau tidak memperkenalkan wanita cantik di sebelahmu? Kami semua penasaran, siapakah mawar merah yang berhasil bertengger di sarang serigala ini?"

Elena menegang. Ia bisa merasakan tatapan Marcello yang menelanjangi dirinya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Rasa jijik dan takut mulai merayapi tengkuknya.

Sebelum Elena sempat merespons, Adrian meletakkan gelas anggurnya dengan pelan. Suara ketukan kaca pada meja kayu itu terdengar begitu nyaring di tengah keheningan.

"Namanya Elena," jawab Adrian dingin. Matanya menatap Marcello dengan intensitas yang membuat pria paruh baya itu sedikit menggeser posisi duduknya. "Dan dia adalah milikku. Hanya milikku."

"Ah, milikmu," Marcello terkekeh, mencoba mencairkan ketegangan yang tiba-tiba meningkat. "Aku tidak tahu seorang Adrian memiliki selera pada wanita... rapuh seperti ini. Biasanya kau lebih menyukai belati daripada mawar."

"Mawar ini memiliki duri yang bisa membunuhmu sebelum kau sempat menyadarinya, Marcello," sahut Adrian, suaranya kini terdengar sangat rendah, hampir seperti desisan ular. "Dan jika ada orang yang berani mencoba memetiknya tanpa izinku, aku akan memastikan tangannya dipotong sebelum ia sempat menyentuh kelopak pertamanya."

Kalimat itu diucapkan tanpa nada emosi, namun semua orang di ruangan itu tahu bahwa itu bukan sekadar gertakan. Itu adalah ancaman hukuman mati yang nyata. Marcello menelan ludah dengan susah payah, senyum liciknya perlahan memudar dari wajahnya. Ia segera mengangkat gelasnya ke arah Adrian sebagai tanda tunduk.

"Tentu saja, Lord Adrian. Hanya sekadar mengagumi keindahan. Tidak lebih."

Elena menatap Adrian dari samping. Profil wajah pria itu tampak begitu keras, bagaikan dipahat dari batu gunung yang paling kokoh. Di tengah kepungan pria-pria berbahaya yang bisa dengan mudah menghancurkan hidupnya, Elena menyadari sebuah kebenaran yang menakutkan.

Kekuasaan Adrian yang mutlak adalah satu-satunya dinding pelindung yang berdiri di antara dirinya dan monster-monster di ruangan ini. Tanpa Adrian, ia hanya akan menjadi mangsa yang diperebutkan. Namun, menyadari hal itu justru membuat hatinya semakin perih. Ia terlindung, namun di saat yang sama, ia menyadari betapa dalam dirinya telah terseret ke dalam kegelapan dunia Adrian. Ia bukan lagi sekadar penonton; ia telah menjadi bagian dari permainan maut ini.

Adrian menoleh sedikit ke arah Elena, seolah bisa merasakan pergolakan batin wanita itu. Di bawah meja yang tertutup kain hitam panjang, Adrian meraih tangan Elena. Jemarinya yang besar menggenggam tangan Elena yang dingin dengan erat, memberikan kehangatan yang kontradiktif dengan aura dingin yang dipancarkannya ke seluruh ruangan.

Elena mencoba menarik tangannya, namun genggaman Adrian terlalu kuat. Pria itu tidak menatapnya, matanya kembali fokus pada para tamunya, namun genggaman tangannya seolah berbisik: *Kau aman bersamaku, selama kau tetap berada di sisiku.*

Malam itu, di bawah tatapan mata-mata yang penuh kedengkian dan topeng-topeng kematian para penguasa dunia bawah, Elena akhirnya mengerti. Castle Marrow bukan sekadar penjara fisik baginya. Tempat ini, dengan segala kegelapan dan kabut yang mengepungnya, kini telah mengurung jiwanya dalam dekapan yang tak mungkin lagi bisa ia lepaskan.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca