Bab 6: Refleks yang Menyakitkan
Gemerlap lampu gantung kristal di langit-langit aula agung Castle Marrow tidak mampu mengusir bayang-bayang dingin yang merayap di setiap sudut ruangan. Musik klasik mengalun lambat, berpadu dengan denting gelas sampanye dan bisik-bisik rendah dari para tamu yang mengenakan topeng kemewahan mereka. Di tengah pusaran manusia yang berbahaya ini, Elena merasa seperti seekor domba yang dilemparkan ke tengah kawanan serigala kelaparan.
Gaun sutra merah yang dipaksakan Adrian untuk dipakainya terasa seperti lapisan kulit kedua yang membakar. Warna merahnya begitu mencolok, kontras dengan setelan hitam kelam para pria dan gaun gelap para wanita di ruangan itu. Seolah-olah Adrian sengaja menandainya sebagai miliknya—sebuah trofi, atau mungkin target.
"Tetap di dekatku, Elena," bisik Adrian, suaranya yang rendah menggetarkan udara di dekat telinga Elena. Tangannya yang hangat dan kokoh melingkar di pinggang Elena, menarik tubuh wanita itu mendekat hingga tidak ada jarak di antara mereka. "Mata mereka sedang menguliti kita. Tunjukkan pada mereka bahwa kau tidak takut."
Elena mengeraskan rahangnya, berusaha tidak gemetar di bawah sentuhan pria itu. "Aku tidak takut pada mereka, Adrian. Aku takut pada monster yang memegang pinggangku saat ini."
Sebuah senyuman tipis, nyaris tak terlihat, tersungging di sudut bibir kokoh Adrian. "Bagus. Ketakutanmu padaku adalah satu-satunya hal yang akan membuatmu tetap hidup di ruangan ini."
Mereka melangkah mendekati meja panjang yang dipenuhi hidangan mewah. Beberapa pria paruh baya berpakaian formal dengan tatapan mata yang dingin dan penuh kalkulasi mendekat, memberikan penghormatan palsu kepada Adrian. Salah satu dari mereka adalah Baron Valerius, seorang sekutu lama yang wilayah kekuasaannya berbatasan langsung dengan Castle Marrow.
"Tuan Adrian," sapa Valerius dengan bungkukan khidmat, namun matanya yang kecil dan licik terus melirik ke arah Elena. "Malam ini Anda membawa perhiasan yang sangat indah. Merah begitu cocok untuknya, seolah meramalkan... pertumpahan darah."
"Valerius," sahut Adrian dingin, nadanya datar tanpa emosi namun sarat akan ancaman yang tak terucapkan. "Kuharap bisnismu di pelabuhan selatan berjalan selancar bicaramu malam ini."
"Tentu saja, tentu saja," jawab Valerius dengan tawa yang terdengar dipaksakan.
Saat Adrian sedikit membalikkan tubuhnya untuk menanggapi pertanyaan dari tamu lain, mata Elena tidak sengaja menangkap gerakan mencurigakan dari salah satu pelayan yang berdiri di belakang Valerius. Pelayan itu tidak membawa nampan minuman, melainkan berjalan dengan langkah yang terlalu tegap, matanya terpaku lurus pada punggung Adrian.
Waktu seolah melambat. Elena melihat pelayan itu merogoh bagian dalam jasnya, menarik sebilah belati tipis berpendar perak yang dilapisi racun gelap pada ujungnya. Kecepatan gerakan pelayan itu menunjukkan bahwa dia adalah seorang pembunuh terlatih yang dikirim khusus untuk mengakhiri hidup sang penguasa Castle Marrow.
Adrian masih memunggungi ancaman itu, sibuk berbicara dengan nada dinginnya yang biasa.
Sesuatu meledak di dalam dada Elena. Itu bukan logika. Logika di kepalanya berteriak agar ia membiarkan belati itu menembus jantung Adrian. Jika Adrian mati, ia bebas. Jika monster ini lenyap, penderitaannya berakhir. Namun, tubuh Elena mengkhianati pikirannya sendiri. Didorong oleh insting pertahanan yang rumit—sebuah refleks purba yang menolak melihat nyawa melayang di depan matanya, atau mungkin sesuatu yang lebih gelap dan tak terdefinisikan yang mengikatnya pada Adrian—Elena bergerak.
"Adrian, awas!" teriak Elena.
Sebelum otaknya sempat memproses tindakannya, Elena menjatuhkan dirinya ke arah Adrian, mendorong tubuh tegap pria itu ke samping.
*Sret!*
Rasa perih yang tajam dan membakar langsung menyengat lengan atas Elena saat belati itu menyayat kulitnya, merobek sutra merah gaunnya, dan menyisakan jalur darah yang mengalir deras. Elena merintih kesakitan, tubuhnya limbung dan hampir terjatuh ke lant** marmer yang dingin jika sebuah tangan kekar tidak segera menangkap pinggangnya dengan sigap.
Hening seketika mencengkeram aula. Musik berhenti mendadak.
Adrian menatap noda darah segar yang mulai merembes di gaun merah Elena, lalu matanya beralih ke arah sang penyerang. Dalam sekejap mata, ekspresi tenang dan dingin di wajah Adrian menguap, digantikan oleh murka yang begitu pekat dan mengerikan hingga membuat atmosfer di ruangan itu terasa menyesakkan.
"Kau..." desis Adrian, suaranya terdengar seperti raungan monster dari dasar neraka.
Pelayan itu mencoba menyerang kembali, namun gerakannya terlalu lambat dibanding murka Adrian. Dengan kecepatan yang tidak manusiawi, Adrian mencengkeram pergelangan tangan sang penyerang, memelintirnya hingga terdengar bunyi patahan tulang yang mengerikan. Pelayan itu menjerit kesakitan, melepaskan belatinya.
Adrian tidak berhenti di situ. Ia merebut belati yang terjatuh di udara, lalu dengan satu gerakan yang teramat presisi dan kejam, ia menancapkannya tepat di tenggorokan sang pembunuh. Darah segar menyembur, membasahi wajah dan kemeja putih Adrian. Pria itu menatap lurus ke dalam mata korbannya yang perlahan meredup, tanpa belas kasihan sedikit pun.
Dengan satu sentakan kasar, Adrian mencabut belati itu dan membiarkan tubuh tak bernyawa sang penyerang ambruk ke lant** seperti tumpukan sampah. Adrian mengedarkan pandangan matanya yang merah oleh amarah ke seluruh penjuru ruangan. Para tamu, terma**k Baron Valerius, mundur beberapa langkah dengan wajah pucat pasi.
"Siapa pun yang berada di balik ini," ujar Adrian, suaranya menggema di keheningan yang mencekam, "aku akan menemukan kalian. Dan kematian kalian tidak akan secepat ba****** ini."
Tanpa memedulikan tatapan ngeri ratusan pasang mata, Adrian berbalik dan langsung menyambar tubuh Elena ke dalam dekapannya. Ia mengabaikan gaun merah Elena yang kini basah oleh darah, menggendong wanita itu dengan posesif dan melangkah lebar meninggalkan aula, membiarkan kabut malam menyelimuti kekacauan di belakang mereka.
***
Pintu kamar tidur Elena ditendang terbuka hingga menghantam dinding. Adrian melangkah ma**k, lalu membaringkan Elena di atas ranjang beludru dengan kelembutan yang sangat kontradiktif dengan kekejaman yang baru saja ia tunjukkan di aula bawah.
Napas Elena memburu, wajahnya pucat karena syok dan rasa perih yang menjalar dari lengannya. "Lepaskan... aku bisa berjalan sendiri," bisiknya lemah, mencoba menjauhkan diri dari Adrian yang saat ini tampak begitu mengerikan dengan sisa-sisa darah musuhnya yang mengering di rahangnya.
Adrian tidak menjawab. Ia berjalan cepat ke arah kamar mandi dalam, lalu kembali dengan sebuah kotak medis kayu berukir dan sebaskom air hangat. Pria itu berlutut di tepi ranjang, menatap lengan Elena yang terluka.
Dengan jemari yang luar biasa hati-hati, Adrian merobek lengan gaun sutra Elena yang telah rusak untuk mengekspos luka sayatan tersebut. Elena meringis saat kain basah itu ditarik dari kulitnya yang terluka.
"Kenapa kau melakukannya?" tanya Adrian tiba-tiba. Suaranya tidak lagi menggelegar penuh amarah, melainkan rendah, serak, dan sarat akan ketegangan yang tertahan.
"Apa?" tanya Elena, mencoba menahan air mata yang mendesak keluar akibat rasa perih saat Adrian mulai membersihkan luka itu dengan kain kasa yang dibasahi air hangat.
"Kenapa kau menyelamatkanku, Elena?" Adrian mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata Elena. Sepasang mata gelapnya yang biasanya sedingin es kini tampak berkilat oleh badai emosi yang membingungkan. "Kau membenciku. Kau ingin aku mati. Mengapa kau justru menghalangi belati itu dengan tubuhmu?"
Elena memalingkan wajahnya, enggan menatap intensitas di mata pria itu. "Aku... aku tidak tahu. Itu hanya refleks. Aku tidak ingin melihat seseorang terbunuh di depanku."
"Bohong," potong Adrian cepat. Jemarinya yang panjang mencengkeram dagu Elena dengan lembut namun tegas, memaksanya untuk kembali menatapnya. "Di duniaku, tidak ada yang namanya refleks tanpa motif. Kau bisa saja membiarkanku mati malam ini dan mengakhiri penawananmu. Tapi kau memilih untuk terluka demi aku."
"Hentikan, Adrian!" air mata Elena akhirnya jatuh, melintasi pipinya yang pucat. "Aku tidak tahu mengapa tubuhku bergerak sendiri! Aku membencimu, ya! Aku membenci setiap detik aku berada di kastil terkutuk ini bersamamu! Tapi melihatmu akan ditusuk... aku..." Elena kehabisan kata-kata, dadanya naik turun oleh gejolak emosi yang bercampur aduk.
Adrian menatap air mata Elena yang jatuh. Untuk pertama kalinya, Elena melihat kilasan sesuatu yang menyerupai rasa bersalah—atau mungkin kepedihan—di wajah pria berhati batu itu.
Adrian mengalihkan pandangannya kembali ke luka di lengan Elena. Ia mengambil botol antiseptik cair. "Ini akan sangat sakit. Tahan."
Sebelum Elena sempat bersiap, cairan itu dituangkan di atas lukanya. Elena m****ik kesakitan, tubuhnya mengejang, dan tanpa sadar jemarinya mencengkeram erat bahu tegap Adrian. Ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Adrian, menghirup aroma maskulin yang bercampur dengan bau besi darah, mencari pegangan di tengah badai rasa sakit yang menderanya.
Adrian tidak menjauhkan diri. Sebaliknya, ia melingkarkan satu lengannya yang bebas ke pinggang Elena, mendekap tubuh wanita itu erat-erat ke dadanya yang bidang, memberikan kehangatan yang kontras dengan dinginnya malam. Tangan Adrian yang lain dengan cepat namun teliti mengoleskan salep herbal dan membalut luka tersebut dengan perban putih yang bersih.
Setiap sentuhan Adrian pada kulit Elena setelah itu terasa begitu lembut, seolah-olah ia sedang memegang porselen paling rapuh di dunia yang takut pecah jika ia memberikan tekanan terlalu banyak. Kelembutan ini terasa begitu asing, begitu bertolak belakang dengan fakta bahwa beberapa menit yang lalu, tangan yang sama telah mencabut nyawa seorang manusia tanpa berkedip.
Setelah perban terpasang sempurna, Adrian tidak langsung melepaskan dekapannya. Ia membiarkan Elena menenangkan napasnya yang tersengal-sengal di dalam pelukannya.
"Kau adalah wanita paling bodoh yang pernah kutemui," bisik Adrian di dekat telinga Elena, suaranya bergetar halus. "Dan juga yang paling berbahaya."
Elena, yang perlahan mulai menguasai dirinya kembali, mendorong dada Adrian dengan lemah agar pria itu menjauh. "Mengapa aku berbahaya?"
Adrian menatap Elena dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia mengulurkan tangannya, dengan lembut mengusap sisa air mata di pipi Elena dengan ibu jarinya. Sentuhan itu membuat jantung Elena berdegup kencang, bukan karena rasa takut, melainkan karena sesuatu yang jauh lebih membingungkan dan menakutkan.
"Karena kau," ujar Adrian pelan, suaranya nyaris seperti bisikan angin malam, "adalah satu-satunya kelemahan yang tidak bisa kuhancurkan."
Adrian bangkit berdiri, merapikan kembali kotak medisnya. Sebelum melangkah keluar dari kamar, ia berhenti di ambang pintu, menatap Elena yang masih terduduk di ranjang dengan gaun merahnya yang ternoda.
"Beristirahatlah. Besok, seluruh Castle Marrow akan tahu bahwa siapa pun yang berani menyentuhmu, bahkan seujung rambut pun, akan berakhir seperti an**** di aula malam ini."
Pintu tertutup rapat, meninggalkan Elena dalam kesunyian kamar yang dingin, ditemani oleh aroma tubuh Adrian yang masih tertinggal di kulitnya, dan sebuah rasa sakit baru yang mulai tumbuh di sudut hatinya yang terdalam—sebuah refleks yang ternyata jauh lebih menyakitkan daripada luka di lengannya.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!