Bab 7: Simfoni Luka
Bau besi yang anyir dan aroma antiseptik yang tajam berbaur di dalam keheningan kamar pribadi Adrian di menara barat Castle Marrow. Di luar jendela besar yang melengkung, kabut malam merayap tebal, seolah ingin menelan seluruh kastel ke dalam keabadian yang dingin. Namun, keheningan di dalam ruangan itu jauh lebih mencekam daripada kegelapan di luar.
Elena duduk di tepi ranjang berkanopi besar yang dilapisi beludru hitam. Gaun sutra merahnya yang indah kini robek di bagian bahu kiri, menampakkan luka sayatan yang c**up dalam. Darah segar masih merembes, menodai kain sutra merah itu menjadi warna yang lebih gelap, hampir sepekat malam.
Di hadapannya, Adrian berlutut dengan satu kaki. Pria yang beberapa saat lalu mematahkan leher sang pembunuh di aula agung tanpa mengedipkan mata, kini memegang sebotol cairan pembersih luka dan selembar kain kasa dengan kelembutan yang terasa asing, bahkan hampir mengerikan.
"Tahan," bisik Adrian. Suaranya rendah, bergetar rendah di dada bidangnya.
Saat cairan antiseptik itu menyentuh lukanya, Elena memejamkan mata rapat-rapat. Rahangnya mengatup rapat hingga giginya bergemeretak, menahan pekikan perih yang mendesak keluar dari tenggorokannya. Jemarinya mencengkeram sprei tempat tidur dengan begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Kenapa kau melakukannya, Elena?" tanya Adrian tanpa mendongak. Tangannya yang besar dan penuh kapalan bergerak dengan presisi yang terlatih, menyeka darah yang mengalir di lengan mulus Elena.
"Melakukan apa?" tanya Elena dengan napas yang memburu, mencoba mengalihkan rasa sakit yang membakar bahunya.
"Menghalangi belati itu," Adrian mendongak, mempertemukan sepasang mata abu-abunya yang sedalam badai dengan mata Elena. "Belati itu dilapisi racun belladonna. Jika sayatan ini sedikit lebih bergeser ke lehermu, kau sudah menjadi mayat sekarang. Kenapa kau menyelamatkanku?"
Elena tertawa hambar, sebuah tawa yang terdengar getir di tengah kesunyian kamar. "Jangan terlalu percaya diri, Tuan Penguasa Marrow. Aku tidak menyelamatkanmu. Aku hanya... refleks. Dan jika ada orang yang berhak mencabut nyawamu, orang itu adalah aku. Aku tidak akan membiarkan seorang pembunuh bayaran murahan merebut hak eksklusifku untuk mengirimmu ke neraka."
Sudut bibir Adrian terangkat, membentuk senyuman tipis yang dingin namun anehnya tidak memiliki kebiasaan mengancam seperti biasanya. "Alasan yang sangat menyedihkan untuk mempertaruhkan nyawa."
Adrian kembali fokus pada luka Elena. Dia mengambil jarum perak dan benang bedah halus. "Ini akan jauh lebih sakit daripada cairan tadi. Aku harus menjahitnya."
"Lakukan saja," tantang Elena, meski tubuhnya sedikit gemetar.
Saat jarum pertama menembus kulitnya, Elena tidak mampu menahan erangan tertahan. Dia secara refleks meraih bahu Adrian, mencengkeram jas hitam pria itu saat rasa sakit yang luar biasa menusuk saraf-sarafnya. Adrian tidak menghindar. Dia membiarkan Elena meluapkan rasa sakitnya pada tubuhnya, terus menjahit dengan gerakan yang tenang dan ritmis, seolah dia sedang merajut selembar kain biasa, bukan kulit manusia.
"Kau sangat terbiasa dengan ini," bisik Elena di sela-sela napasnya yang tersengal, matanya menatap jemari Adrian yang begitu cekatan. "Menjahit luka, menghadapi kematian... seolah-olah ini adalah rutinitas harianmu."
"Ini memang rutinitasku," jawab Adrian datar. Dia menarik simpul terakhir, memotong benang dengan pisau kecil, lalu mulai membalut bahu Elena dengan perban bersih. "Sejak aku berusia sepuluh tahun, luka adalah satu-satunya hal yang konstan dalam hidupku."
Elena menatap Adrian, mengamati garis wajah pria itu yang keras, seolah dipahat dari batu obsidian. Di bawah cahaya temaram lampu dinding, dia menyadari sesuatu yang belum pernah dia perhatikan sebelumnya—sebuah bekas luka tipis yang memanjang dari bawah telinga kiri Adrian, turun ke balik kerah kemejanya.
"Siapa yang melakukan itu padamu?" tanya Elena tanpa sadar, jarinya menunjuk ke arah leher Adrian.
Adrian terdiam sejenak. Tangannya yang sedang merapikan kotak obat terhenti di udara. Suasana kamar mendadak mendingin, kabut di luar seolah merangsek ma**k ke dalam ruangan. Untuk beberapa detik, Elena menyesali pertanyaannya, mengira Adrian akan murka dan mencekiknya.
Namun, Adrian justru mengembuskan napas perlahan. Dia duduk di kursi kayu berukir di samping ranjang, menatap tangannya sendiri yang kini ternoda oleh darah Elena.
"Orang-orang memanggilku monster, Elena. Mereka berbisik di belakangku, menyebutku i**** tanpa jiwa yang gemar menumpahkan darah," Adrian memulai, suaranya terdengar sangat jauh, seolah dia sedang berbicara dari masa lalu yang kelam. "Tapi mereka lupa, tidak ada monster yang lahir begitu saja. Kami diciptakan."
Elena mendengarkan, menahan napasnya. Rasa sakit di bahunya seolah memudar, digantikan oleh rasa ingin tahu yang mendalam sekaligus ketakutan akan apa yang akan dia dengar.
"Bekas luka di leher ini," Adrian menyentuh kulitnya sendiri dengan ujung jari, "adalah hadiah ulang tahun kesebelas dari paman kandungku sendiri. Orang yang seharusnya melindungiku setelah ayah dan ibuku tewas dalam kebakaran yang—belakangan kuketahui—ternyata dia sendiri yang merencanakannya."
Elena tersentak. "Pamannmu?"
"Dia menginginkan takhta kepemimpinan Marrow," lanjut Adrian, matanya menatap kosong ke arah perapian yang menyala redup. "Dia mengurungku di ruang bawah tanah kastel ini selama tiga tahun. Setiap hari, dia mengirim para pengawalnya untuk menyiksaku, mengujiku, melihat sejauh mana seorang anak kecil bisa bertahan sebelum akalnya benar-benar hilang. Dia ingin aku mati, tetapi dia ingin kematianku terlihat seperti akibat dari kelemahan fisikku sendiri."
Adrian mengepalkan tangannya, ingatan masa lalu itu tampak nyata di pelupuk matanya. "Aku belajar menjahit lukaku sendiri di dalam kegelapan itu, Elena. Tanpa lampu, tanpa antiseptik. Hanya dengan jarum berkarat yang kutemukan di lant** dan benang dari pakaianku yang robek. Aku belajar bahwa berteriak tidak akan menghentikan cambuk, dan memohon hanya akan membuat mereka memukul lebih keras."
Elena memandang pria di hadapannya dengan tatapan yang sepenuhnya baru. Di balik sosok kejam yang selama ini menerornya, yang telah menghancurkan hidupnya dan menahannya di kastel terkutuk ini, ada seorang anak kecil yang hancur, yang dibentuk oleh pengkhianatan paling keji dari darah dagingnya sendiri.
"Bagaimana... bagaimana kau bisa keluar?" tanya Elena, suaranya kini nyaris berupa bisikan yang sarat akan empati yang tidak mampu ia bendung.
Adrian menoleh ke arah Elena, matanya berkilat dengan kegelapan yang pekat. "Aku berhenti menjadi mangsa. Pada malam musim dingin ketika aku berusia empat belas tahun, aku berhasil melepaskan rant** pengikatku. Aku menggunakan rant** itu untuk menjerat leher penjagaku hingga tewas. Lalu, aku berjalan ke kamar pamanku yang sedang tertidur lelap."
Adrian berhenti sejenak, wajahnya tanpa emosi saat menceritakan bagian paling mengerikan dari hidupnya. "Aku tidak membunuhnya dengan cepat. Aku ingin dia merasakan setiap detik ketakutan yang kurasakan selama tiga tahun di kegelapan. Aku memotong urat nadinya, membiarkannya perlahan-lahan kehabisan darah sementara aku duduk di kursi di samping tempat tidurnya, mengawasinya hingga napas terakhirnya berembus. Sejak malam itu, aku bersumpah tidak akan pernah membiarkan siapa pun mengendalikan hidupku lagi. Jika dunia ini hanya memahami bahasa kekerasan, maka aku akan menjadi fasih dalam bahasa itu."
Mendengar cerita itu, dada Elena bergemuruh hebat. Konflik batin yang menyiksa mulai mencabik-cabik dadanya. Pria ini adalah monster—dia tahu itu. Adrian telah merampas kebebasannya, mengurungnya, dan memperlakukannya seperti bidak catur. Dia seharusnya membenci pria ini dengan setiap tetes darahnya. Dia seharusnya merayakan setiap luka yang dialami Adrian.
Namun, mengapa ada rasa sesak yang menghimpit dadanya sekarang? Mengapa dia melihat bayangan dirinya sendiri di dalam diri Adrian? Elena juga kehilangan keluarganya, dia juga didorong oleh dendam yang membara, dan dia juga rela melakukan apa saja demi membalas rasa sakitnya. Mereka berdua adalah produk dari tragedi, dua jiwa yang rusak yang menyanyikan simfoni luka yang sama.
"Kau melihatku dengan tatapan itu lagi," ucap Adrian memecah keheningan, suaranya kini kembali dingin, memutus koneksi emosional yang sempat tercipta.
"Tatapan apa?" tanya Elena pelan.
"Kasihan," desis Adrian, berdiri dari kursinya dan melangkah mendekati Elena hingga bayangannya yang tinggi besar menyelimuti wanita itu. "Jangan pernah mengasihaniku, Elena. Kasihan adalah emosi yang tidak berguna. Itu adalah kelemahan yang akan membuatmu terbunuh di tempat ini."
Adrian membungkuk, wajahnya kini hanya berjarak beberapa inci dari wajah Elena. Elena bisa mencium aroma kayu cendana dan samar-samar bau mesiu dari tubuh pria itu. Napas Adrian yang hangat menerpa wajahnya, membuat jantung Elena berdegup kencang—bukan karena ketakutan, melainkan karena sesuatu yang jauh lebih membingungkan dan berbahaya.
"Aku menceritakan ini bukan agar kau memahamiku, apalagi memaafkanku," bisik Adrian, matanya terkunci pada bibir Elena sebelum kembali menatap matanya. "Aku menceritakannya agar kau tahu dengan siapa kau berhadapan. Aku adalah monster yang memakan monster lain. Jadi, jika kau ingin membunuhku, pastikan belatimu c**up tajam untuk menembus kulitku yang keras, karena aku tidak akan memberikan ampunan kedua kalinya jika kau gagal."
Elena menatap mata abu-abu itu, mencari sisa-sisa kehangatan manusiawi yang baru saja dia lihat, namun yang tersisa kini hanyalah dinding es yang kokoh. Elena mengeraskan hatinya, mencoba mengusir rasa empati yang baru saja mekar di dadanya. Dia tidak boleh goyah. Pengkhianatan adalah sifat dasar manusia di kastel ini, dan dia tidak boleh jatuh ke dalam perangkap simpati.
"Belatiku akan sangat tajam, Adrian," jawab Elena dengan nada suara yang dipaksakan untuk terdengar sedingin es, meski matanya berkaca-kaca. "Dan saat hari itu tiba, aku tidak akan ragu."
Adrian menatapnya lama, seolah sedang membaca setiap baris kebohongan dan keraguan di dalam diri Elena. Perlahan, dia menegakkan tubuhnya kembali.
"Kuharap begitu, Elena. Demi kebaikanmu sendiri," ujar Adrian dingin. Dia berbalik dan melangkah menuju pintu keluar kamar. "Istirahatlah. Besok, kabut di Marrow akan menjadi lebih tebal, dan permainan kita yang sesungguhnya baru saja dimulai."
Pintu kayu jati yang berat itu tertutup dengan dentuman keras, meninggalkan Elena sendirian di dalam kamar yang luas dan sunyi. Elena menyentuh bahunya yang terbalut perban, merasakan denyut nyeri yang kini berpadu dengan gemuruh di dadanya. Di bawah dekapan kabut malam Castle Marrow, dia menyadari satu hal yang paling menakutkan: musuh terbesarnya bukanlah Adrian, melainkan hatinya sendiri yang mulai terbelah antara belati dendam dan empati yang mematikan.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!