Bab 8: Bisikan di Lorong Sunyi
Denyut perih di bahu kiri Elena adalah alarm alami yang terjaga setiap kali ia menarik napas terlalu dalam. Jahitan yang dibuat Adrian malam itu terasa kencang, mencengkeram kulitnya seerat rant** tak kasat mata yang mengikatnya di Castle Marrow. Namun, rasa sakit fisik itu tidak sebanding dengan badai yang berkecamuk di dalam dadanya.
Pagi ini, kabut di luar jendela kamarnya tidak lagi tampak seperti penjara, melainkan selubung misteri yang menanti untuk disingkap. Adrian menepati janjinya—sebuah konsesi langka yang diberikan pria itu setelah Elena mempertaruhkan nyawa demi menghalangi belati beracun.
"Kau boleh bergerak bebas di lant** dasar dan sayap timur," ucap Adrian dingin sebelum meninggalkan kamarnya beberapa jam lalu. "Namun, ingat batasannmu, Elena. Sekali kau melangkahi batas yang kutentukan, kebebasan ini akan berubah menjadi peti matimu."
Elena tidak peduli pada ancaman itu. Kebebasan terbatas ini adalah celah sempit yang telah ia tunggu-tunggu selama berbulan-bulan. Tujuannya hanya satu: perpustakaan utama di sayap timur, tempat yang ia yakini menyimpan arsip-arsip lama Castle Marrow.
Langkah kaki Elena nyaris tak terdengar saat ia menyusuri lorong panjang berlant** marmer hitam. Dinding-dinding lorong itu dihiasi oleh lukisan-lukisan potret leluhur keluarga Marrow yang berwajah dingin dan kaku, seolah mata-mata di dalam kanvas itu terus mengawasi setiap gerak-geriknya. Suasana begitu sunyi, hanya diinterupsi oleh lolongan angin yang menyusup dari celah-celah jendela tinggi.
Ketika ia tiba di depan pintu kayu ek ganda yang menjulang tinggi, Elena menahan napas sejenak. Ia mendorong pintu itu perlahan. Suara derit halus terdengar, menyambutnya ke dalam keheningan yang lebih pekat.
Perpustakaan itu adalah sebuah labirin raksasa yang terdiri dari ribuan buku bersampul kulit tebal, tersusun rapi hingga menyentuh langit-langit berkubah. Aroma kertas tua, debu, dan lilin lebah menguar kuat, menciptakan atmosfer yang menyesakkan sekaligus memikat. Cahaya matahari yang temaram menerobos ma**k melalui kaca patri patriarki, melukis bayang-bayang panjang di lant**.
Elena melangkah ma**k, jemarinya meraba barisan buku di rak terdekat. Matanya bergerak cepat, mencari bagian yang menyimpan dokumen hukum, catatan sejarah wilayah, dan transaksi dagang. Ia tahu, kejatuhan bisnis perkapalan keluarganya—Keluarga Vandermeer—lima tahun lalu bukanlah sebuah kecelakaan murni. Adrian Marrow dituding sebagai dalang utama yang merampas seluruh aset mereka, menyudutkan ayahnya hingga memilih mengakhiri hidup dalam kobaran api yang menghanguskan kediaman mereka.
"Pasti ada di sini," bisik Elena pada dirinya sendiri. Suaranya terdengar asing di tengah keheningan yang megah itu.
Ia berjalan lebih dalam, melewati sekat-sekat rak buku yang semakin gelap. Di ujung ruangan, di balik tirai beludru hijau tua yang telah memudar, ia menemukan sebuah pintu besi kecil yang setengah tersembunyi. Jantung Elena berdegup kencang. Pintu itu tidak terkunci sepenuhnya; grendel besinya tampak longgar, mungkin karena kelalaian pelayan atau memang sengaja ditinggalkan demikian.
Dengan hati-hati, Elena mendorong pintu tersebut. Di baliknya terdapat sebuah ruang kerja kecil yang pengap, dipenuhi oleh tumpukan map kulit dan peti-peti kayu kecil. Ini adalah ruang arsip rahasia.
Elena mendekati meja kayu jati di tengah ruangan. Ia mulai memeriksa dokumen satu per satu dengan tangan gemetar. Lembaran-lembaran kertas kuning kecokelatan itu berisi laporan pajak, akta tanah, dan surat perjanjian dagang. Hingga akhirnya, matanya tertuju pada sebuah map hitam tebal berlogo segel lilin merah yang telah pecah. Segel itu bergambar burung pemangsa—lambang dari konsorsium dagang keluarganya dahulu.
Dengan napas tertahan, Elena membuka map tersebut. Di dalamnya terdapat salinan dokumen transaksi keuangan dari lima tahun lalu. Ia membaca baris demi baris angka yang tertera di sana. Nilai transfernya sangat fantastis, mengalir keluar dari rekening perusahaan ayahnya menuju sebuah rekening bank bayangan di luar negeri.
Namun, bukan angka-angka itu yang membuat darah Elena mendadak dingin, melainkan nama-nama yang tertera di bagian tanda tangan otorisasi.
Di sana, di bawah kolom persetujuan penjualan aset Vandermeer, tertulis nama Adrian Marrow. Tapi di samping nama itu, ada tanda tangan lain yang sangat ia kenal. Tanda tangan dengan goresan meliuk tegas yang mustahil salah ia kenali.
"Tidak... ini tidak mungkin," gumam Elena, melangkah mundur hingga pinggulnya membentur tepi meja. Suaranya bergetar hebat, dipenuhi penolakan.
Itu adalah tanda tangan Julian Vance—paman kandungnya sendiri, pria yang merawatnya setelah kematian orang tuanya, pria yang selalu mengutuk nama Adrian Marrow di hadapannya setiap hari.
"Apa yang kau temukan di sana, Elena?"
Sebuah suara berat dan dingin memecah keheningan dari arah pintu ma**k ruang arsip.
Elena tersentak hebat. Map di tangannya hampir saja terjatuh jika ia tidak segera mencengkeramnya dengan erat. Ia berbalik dan mendapati Adrian berdiri di ambang pintu, bersedekap dada. Sosoknya yang tinggi besar tampak mendominasi ruangan sempit itu, memblokir satu-satunya jalan keluar. Mata abu-abunya menatap Elena dengan ketajaman yang mampu menguliti jiwa.
Elena berusaha menguasai diri, meski gemetar di tubuhnya sulit disembunyikan. "Kau... sejak kapan kau di sana?"
"C**up lama untuk melihatmu menemukan apa yang tidak seharusnya kau cari," jawab Adrian tenang, namun ada nada mengancam yang tersirat dalam suaranya. Ia melangkah maju perlahan, setiap ketukan sepatunya di lant** kayu terdengar seperti vonis mati bagi Elena.
"Apa arti semua ini, Adrian?!" tuntut Elena, mengangkat dokumen itu dengan tangan yang gemetar. Air mata kemarahan dan kebingungan mulai menggenang di pelupuk matanya. "Katakan padaku! Mengapa tanda tangan pamanku ada di dokumen penjualan aset keluargaku? Mengapa aset-aset itu dialihkan kepadamu sebelum rumah kami dibakar?!"
Adrian berhenti tepat satu langkah di depan Elena. Jarak mereka begitu dekat hingga Elena bisa mencium aroma kayu cendana dan tembakau tipis yang menguar dari tubuh pria itu. Adrian menatap dokumen di tangan Elena, lalu beralih menatap wajah wanita itu yang pucat pasi.
"Kau menuduhku menghancurkan keluargamu, Elena. Kau datang ke kastel ini dengan belati tersembunyi di balik gaunmu, berniat menusuk jantungku demi membalaskan dendam ayahmu," ucap Adrian, suaranya sangat rendah, hampir berupa bisikan yang menggetarkan udara. "Tapi kau tidak pernah bertanya, siapa yang membukakan pintu gerbang untukku."
"Kau berbohong!" pekik Elena, air matanya akhirnya luruh membasahi pipinya. "Pamanku sangat menyayangi ayahku! Dia membantuku bertahan hidup! Dia yang mengatakan bahwa kaulah i**** yang merampas segalanya dari kami!"
"I**** yang sebenarnya sering kali memakai topeng malaikat pelindung, Elena," sahut Adrian dingin. Pria itu mengulurkan tangan, merebut dokumen tersebut dari cengkeraman Elena dengan gerakan lembut namun tegas. Ia membuka halaman berikutnya, lalu mengarahkannya ke depan wajah Elena. "Lihat tanggal transaksi ini. Tiga bulan sebelum kebakaran itu terjadi, Julian Vance telah menjual seluruh saham perkapalan Vandermeer kepadaku dengan harga sepertiga dari nilai pasar. Dan tebak ke mana uang itu pergi?"
Elena menggelengkan kepala, enggan melihat angka-angka yang menari-nari di hadapannya. Namun, Adrian mencengkeram dagunya dengan lembut namun tak tergoyahkan, memaksanya untuk menatap dokumen tersebut.
"Uang itu ditransfer ke rekening pribadi Julian di Swiss," lanjut Adrian, matanya berkilat tajam. "Ayahmu dikhianati oleh saudaranya sendiri. Julian menjadikanku kambing hitam yang sempurna. Dia tahu aku menginginkan jalur pelayaran Vandermeer, dan dia memanfaatkan ambisiku untuk menutupi jejak keserakahannya sendiri."
"Tidak... tidak..." Elena terisak, tubuhnya mendadak lemas seolah seluruh tulangnya telah diloloskan. Ia terhuyung mundur, namun tangan Adrian dengan cepat berpindah ke pinggangnya, menahan tubuh wanita itu agar tidak terjatuh.
Sentuhan Adrian hangat, sangat kontras dengan dinginnya kebenaran yang baru saja menghantam Elena. Untuk pertama kalinya, Elena tidak menolak dekapan itu. Ia mencengkeram dada kemeja Adrian, menyembunyikan wajahnya yang basah oleh air mata di sana. Rasa benci yang selama ini menjadi bahan bakar hidupnya mendadak terasa hampa, digantikan oleh kekosongan yang mengerikan.
"Kenapa?" bisik Elena di sela tangisnya yang tertahan. "Jika kau tahu semua ini, kenapa kau membiarkanku membencimu? Kenapa kau membiarkan seluruh dunia menuduhmu sebagai pembunuh?"
Adrian terdiam sejenak. Ia mengusap punggung Elena dengan gerakan canggung yang perlahan menjadi lebih ritmis, seolah mencoba menenangkan badai yang sedang mengamuk di dalam diri wanita itu.
"Karena reputasi sebagai i**** pelindung bisnisku lebih baik daripada dicitrakan sebagai pria yang lemah," jawab Adrian, suaranya melembut, kehilangan sebagian dari kekakuannya yang biasa. "Dan karena aku tahu, jika aku mengatakan yang sebenarnya sejak awal, kau tidak akan pernah percaya. Kau butuh melihatnya sendiri, Elena."
Elena mendongak, menatap mata abu-abu Adrian yang kini tampak begitu dekat. Di dalam badai mata itu, ia tidak lagi melihat seorang pembunuh berdarah dingin, melainkan seorang pria yang memikul beban rahasia yang sama beratnya dengan rant** dendam yang ia bawa.
"Jadi... pamanku yang membunuh ayahku?" tanya Elena, suaranya nyaris tak terdengar, serak oleh kepedihan.
"Aku tidak memiliki bukti bahwa dia yang menyulut api di rumahmu," ujar Adrian, jemarinya bergerak menghapus air mata di pipi Elena dengan ibu jarinya yang kasar. "Namun, tak lama setelah kebakaran itu, Julian Vance melunasi seluruh utang judinya dan membeli sebuah rumah mewah di pinggiran ibu kota. Kau bisa menyimpulkannya sendiri."
Keheningan kembali merayap di ruang arsip yang sunyi itu. Kabut di luar jendela tampaknya semakin tebal, menelan sisa-sisa cahaya sore dan meninggalkan mereka dalam keremangan yang mencekam.
Elena merasakan dunianya runtuh berkeping-keping. Musuh yang selama ini ia incar berada di tempat lain, sementara pria yang ingin ia bunuh justru adalah orang yang mengobati lukanya, menjaganya tetap hidup, dan kini... memegang tubuhnya yang hancur dalam sebuah dekapan yang terasa begitu nyata.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar dari lorong di luar perpustakaan, memecah keheningan yang rapuh di antara mereka.
Adrian seketika menegang. Ia melepaskan dekapannya pada Elena dan meletakkan satu tangannya di gagang belati yang selalu terselip di pinggangnya. Matanya kembali menajam, menatap ke arah pintu keluar dengan waspada.
"Tetap di belakangku," bisik Adrian, suaranya kembali dipenuhi otoritas yang dingin.
Elena menahan napas, merapatkan tubuhnya ke dinding di belakang Adrian. Di dalam lorong yang sunyi dan berkabut itu, sebuah bayangan perlahan mendekat, membawa serta bisikan misteri baru yang siap menguji kebenaran yang baru saja terungkap.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!