Bab 9: Kebenaran yang Terkoyak
Pintu besi kecil itu berderit pelan, sebuah suara parau yang mengoyak keheningan absolut di sudut terdalam perpustakaan Castle Marrow. Elena menahan napas, membiarkan jemarinya yang gemetar mendorong daun besi yang terasa dingin dan berkarat tersebut. Di balik pintu, sebuah ceruk sempit yang diterangi oleh seberkas cahaya kelabu dari celah ventilasi tinggi menyambutnya. Di atas sebuah meja kayu ek kecil yang berdebu, terletak sebuah kotak beludru hitam dengan lambang keluarga Vandermeer yang telah memudar—sebuah jangkar emas yang kini tertutup jelaga waktu.
Jantung Elena berdentang begitu keras hingga ia khawatir suaranya akan menggema keluar. Dengan sisa-sisa keberaniannya, ia membuka kotak tersebut. Di dalamnya terdapat tumpukan dokumen tebal dengan segel lilin merah yang telah pecah. Matanya menyusuri baris demi baris tulisan tangan bergaya gotik di atas kertas jorok kekuningan tersebut. Nama ayahnya, Albert Vandermeer, tercantum di sana. Namun, yang membuat darah Elena seketika membeku adalah tanggal yang tertera pada dokumen pengalihan seluruh aset galangan kapal Vandermeer.
"Kau melanggar batas, Elena."
Suara bariton yang dingin dan familier itu memotong kesunyian bagai belati yang menebas kain sutra.
Elena tersentak hebat, hampir menjatuhkan dokumen di tangannya. Ia berbalik dengan cepat, punggungnya membentur tepian meja kayu. Di ambang pintu ceruk yang sempit, berdiri Adrian Marrow. Pria itu bersandar pada pilar batu dengan kedua tangan bersilang di dada. Jubah hitam panjangnya tampak menyatu dengan kegelapan di belakangnya, sementara matanya yang sekelam malam menatap Elena dengan intensitas yang sanggup menghentikan detak jantung siapa pun.
"A-Adrian..." Elena terbata, berusaha menyembunyikan dokumen di balik punggungnya, meskipun ia tahu usaha itu sepenuhnya sia-sia.
Adrian melangkah maju. Setiap ketukan langkah sepatunya di atas lant** batu terdengar seperti lonceng kematian bagi Elena. Langkah pria itu tenang, tanpa kemarahan yang meledak-ledak, namun aura dominasi yang dipancarkannya begitu menyesakkan napas.
"Kertas-kertas tua itu tidak akan bisa melindungimu jika aku memutuskan untuk mengakhiri kebebasanmu detik ini juga," ucap Adrian datar, kini hanya berjarak dua langkah dari Elena. Aroma kayu cedar dan embun dingin yang selalu melekat pada pria itu menginvasi indra penciuman Elena.
Elena mendongak, memaksakan matanya menatap langsung manik mata Adrian. Rasa takutnya perlahan menguap, digantikan oleh kobaran amarah yang selama lima tahun ini membakar jiwanya. Ia mengangkat dokumen tersebut ke udara, mengacungkannya tepat di depan dada Adrian.
"Ini adalah bukti!" suara Elena bergetar oleh emosi yang membuncah. "Kau merampas segalanya! Kau menghancurkan bisnis ayahku, menyudutkan keluarga kami hingga kami tidak memiliki apa-apa lagi! Dokumen ini... ini adalah bukti bahwa Castle Marrow dibangun di atas darah dan air mata keluarga Vandermeer! Kau membunuh mereka, Adrian! Kau membakar rumah kami dan membiarkan ayahku mati dalam api!"
Napas Elena memburu, dadanya naik turun dengan cepat. Bahu kirinya yang terluka berdenyut nyeri akibat gerakan yang terlalu tiba-tiba, namun ia mengabaikannya. Ia siap menghadapi murka Adrian. Ia siap jika pria ini mencekiknya atau menghunuskan belati ke dadanya saat ini juga. Setidaknya, ia mati setelah menyuarakan kebenaran.
Namun, reaksi Adrian justru di luar dugaan.
Pria itu tidak marah. Tidak ada guratan kepanikan atau kekejaman di wajahnya yang tegas dan pucat. Sebaliknya, sudut bibir Adrian terangkat sedikit, membentuk sebuah senyuman tipis yang sarat akan ironi dan kepedihan yang tersembunyi. Ia menghela napas panjang, sebuah desahan yang terdengar sangat lelah.
"Kebenaran adalah hal yang rapuh, Elena," kata Adrian pelan, suaranya nyaris menyerupai bisikan angin malam. "Dan kau... kau hanya melihat bayang-bayang yang sengaja dipantulkan ke dinding untuk mengelabui matamu."
"Jangan mencoba memanipulasiku lagi!" teriak Elena, air mata kemarahan mulai menggenang di pelupuk matanya. "Aku tidak bodoh! Segel ini, tanda tangan ini... semuanya mengarah padamu!"
Adrian mengulurkan tangan seolah hendak mengambil dokumen itu, namun Elena menariknya mundur dengan protektif. Adrian tidak memaksa. Ia hanya menunjuk baris paling bawah dokumen tersebut dengan jari telunjuknya yang kokoh.
"Bacalah dengan teliti, Elena. Jangan hanya membaca apa yang ingin kaukutuk," titah Adrian dingin. "Siapa yang menandatangani persetujuan pengalihan aset itu sebelum kebakaran terjadi? Siapa yang memberikan kuasa penuh atas kapal-kapal Vandermeer kepada pihak ketiga?"
Elena mengerutkan kening. Mengabaikan gemetar di tangannya, ia memfokuskan pandangannya pada baris tanda tangan yang ditunjuk Adrian. Di sana, di samping stempel lilin merah yang rusak, tertera sebuah nama yang sangat ia kenal. Nama yang selama ini selalu memeluknya setelah pemakaman orang tuanya. Nama yang selalu berbisik di telinganya bahwa Adrian Marrow adalah i**** yang harus dimusnahkan.
*Ronald Vandermeer.*
Paman kandungnya sendiri.
Elena menggelengkan kepalanya dengan cepat, menolak mempercayai apa yang dilihatnya. "Tidak... ini tidak mungkin. Paman Ronald... dia membantuku bertahan hidup. Dia yang menyelamatkanku dari puing-puing kebakaran itu! Ini pasti palsu! Kau memalsukan tanda tangan ini!"
"Untuk apa aku memalsukannya?" tanya Adrian dingin, langkahnya kembali mendekat hingga Elena terdesak ke dinding. Adrian menunduk, menatap Elena dengan tatapan yang begitu tajam hingga seolah mampu menguliti isi kepala wanita itu. "Untuk membersihkan namaku di hadapanmu? Kau hanyalah seorang tawanan di kastilku, Elena. Aku tidak butuh persetujuanmu, apalagi maafmu. Jika aku ingin kau mempercayai kebohongan, aku tidak akan membiarkanmu menginjakkan kaki di perpustakaan ini."
"Tapi Paman Ronald—"
"Ronald Vandermeer adalah seorang penjudi dan pengecut," potong Adrian tajam, setiap katanya bagai palu godam yang menghantam pertahanan Elena. "Dia terlilit utang besar pada Silas Vance—musuh bebuyutanku yang menguasai jalur penyelundupan selatan. Ronald tahu ayahmu tidak akan pernah membiarkan armada Vandermeer digunakan untuk menyelundupkan opium dan senjata. Jadi, apa yang dilakukan paman tercintamu?"
Adrian menjeda kalimatnya, memberikan jeda yang menyiksa bagi Elena. Keheningan di dalam ceruk itu terasa kian mencekam, seolah udara di sekitar mereka membeku.
"Dia menjual keluarganya sendiri," lanjut Adrian dengan nada tanpa emosi. "Dia bersekutu dengan Silas Vance. Mereka merencanakan 'kecelakaan' malam itu. Kebakaran yang menghanguskan kediaman Vandermeer... itu bukan ulahku. Itu dipimpin oleh anak buah Silas, dengan bantuan Ronald yang membukakan pintu belakang mansion kalian dari dalam."
"Bohong..." bisik Elena. Suaranya kehilangan kekuatannya, berubah menjadi rintihan lirih. Air mata pertamanya jatuh, membasahi pipinya yang pucat. "Kau bohong..."
"Aku tiba di sana saat api sudah membubung setinggi langit," ucap Adrian, matanya menerawang seolah kembali ke malam mengerikan lima tahun lalu. "Aku datang untuk menyelamatkan kesepakatan dagang yang telah kubuat dengan ayahmu. Namun, yang kutemukan hanyalah abu. Dan pamanmu... dia sudah melarikan diri membawa peti emas pertama yang diberikan Silas Vance sebagai upeti."
Elena merasakan lututnya melemas. Dunia di sekitarnya perlahan mulai berputar. "Lalu... lalu kenapa kau mengambil alih sisa aset kami? Kenapa kau menguasai pelabuhan kami?"
"Karena jika aku tidak melakukannya, Silas Vance akan menguasai seluruh pelabuhan utara dan mengubah kota ini menjadi sarang bandit," jawab Adrian tegas. "Aku mengambil alih sisa aset yang hancur, membayar utang-utang yang ditinggalkan ayahmu demi menyelamatkan nama baik Vandermeer, dan mengamankan pelabuhan. Aku mengumpulkan sisa-sisa reruntuhan keluargamu agar tidak dieksploitasi oleh Vance. Dokumen yang kaupegang itu adalah akta penebusan, bukan perampasan. Aku membayar Ronald untuk pergi sejauh mungkin dari kota ini agar dia tidak menghabisi nyawamu yang merupakan saksi satu-satunya."
Kata-kata Adrian mengalir ma**k ke dalam telinga Elena bagai racun yang perlahan tapi pasti membunuh keyakinan yang selama ini menopang hidupnya. Selama lima tahun, dendam adalah bahan bakarnya. Dendam adalah alasan mengapa ia belajar memegang belati, mengapa ia rela menyusup ke Castle Marrow, dan mengapa ia menahan setiap penderitaan. Semua itu ia lakukan untuk membalaskan dendam keluarganya pada Adrian Marrow.
Dan sekarang, pria di hadapannya baru saja meruntuhkan pondasi hidupnya hingga menjadi debu.
"Kenapa..." Elena mendongak, matanya yang basah menatap Adrian dengan keputusasaan yang mendalam. "Kenapa paman melakukan itu? Dia saudaraku... dia keluargaku yang tersisa..."
"Keserakahan tidak mengenal ikatan darah, Elena," ucap Adrian, suaranya melunak sesaat, menampilkan secercah empati yang sangat langka di balik wajah batunya. "Ronald menggunakanmu. Dia memelihara dendammu, mengarahkan belatimu kepadaku, agar kau tidak pernah melihat ke arahnya. Selama kau sibuk membenciku, dia bisa menikmati uang hasil penjualan darah orang tuamu dengan tenang di luar sana."
Elena merasakan dadanya begitu sesak, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya hingga hancur. Napasnya terengah-engah, air matanya kini mengalir deras tanpa bisa dibendung lagi. Dokumen di tangannya terlepas, jatuh berserakan di atas lant** berdebu seperti dedaunan kering di musim gugur.
Ia salah sasaran.
Selama ini, ia membenci pria yang justru mencoba menyelamatkan apa yang tersisa dari kehancuran keluarganya. Ia mengarahkan belatinya pada orang yang salah, sementara pembunuh sebenarnya—darah dagingnya sendiri—berkeliaran bebas di luar sana sambil menertawakan kebodohannya.
"Tidak... tidak..." Elena meracau, kedua tangannya naik mencengkeram kepalanya sendiri. Rasa sakit emosional yang teramat sangat menyiksa fisiknya. Luka jahitannya di bahu kiri terasa seperti terbakar, namun rasa sakit itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kehampaan yang tiba-tiba merenggut jiwanya. Dendam yang selama ini menghangatkannya di malam-malam dingin kini telah tiada, meninggalkannya dalam kegelapan yang hampa dan dingin.
Lutut Elena akhirnya menyerah. Ia jatuh terduduk di lant** batu yang dingin, menyembunyikan wajahnya di balik kedua lututnya, terisak dalam tangis yang memilukan. Bahunya terguncang hebat oleh badai kepedihan yang tak tertahankan.
Adrian berdiri terpaku di hadapannya. Untuk beberapa saat, pria yang dikenal kejam dan tak berhati itu hanya menatap sosok Elena yang rapuh di bawah kakinya. Kabut yang menyelimuti Castle Marrow di luar jendela tampak semakin pekat, seolah ikut berduka atas kebenaran yang baru saja terkoyak.
Perlahan, Adrian berlutut di hadapan Elena. Jarak mereka begitu dekat hingga Elena bisa merasakan kehangatan samar yang terpancar dari tubuh pria itu. Jemari Adrian yang panjang dan kokoh bergerak perlahan, menyentuh dagu Elena dan mengangkat wajah wanita itu dengan lembut namun tegas, memaksanya untuk menatap kembali mata kelamnya.
"Menangislah, Elena," bisik Adrian, suaranya kini terdengar sangat dekat, hampir seperti dekapan hangat di tengah badai salju. "Tangisi kebodohanmu, tangisi keluargamu, dan habiskan air matamu malam ini. Karena mulai besok... kau harus memutuskan."
Elena menatap Adrian melalui pandangannya yang kabur oleh air mata. "Me-memutuskan apa?" tanyanya dengan suara serak yang hampir habis.
Adrian menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara ketegasan dingin dan tekad yang membara.
"Apakah kau akan membiarkan dirimu hancur oleh kebenaran ini," ucap Adrian lambat-lambat, "atau kau akan membantuku mengarahkan belatimu pada target yang sebenarnya."
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!