Dendam Sang Penenun Takdir

Bab 1: Benang yang Terputus

Pengaturan Membaca

Hujan deras memba**h sisa-sisa darah yang mengalir di sepanjang bilah belati perak milik Elian. Di bawah guyuran badai yang melanda ibu kota kekaisaran, tubuh Lord Vaneβ€”menteri pertahanan yang korup dan dijaga ketat oleh puluhan prajurit elitβ€”kini terbujur kaku di atas lant** marmer kamarnya yang dingin. Tidak ada suara jeritan. Tidak ada alarm yang berbunyi. Pembunuhan itu begitu rapi, begitu sunyi, seolah-olah kematian sang menteri adalah takdir alamiah yang memang harus terjadi malam itu.

Elian menyeka wajahnya yang basah oleh air hujan dan peluh. Di dunia bawah tanah, ia dikenal dengan julukan yang mengerikan sekaligus diagungkan: *Penenun Takdir*. Julukan itu bukan tanpa alasan. Setiap target yang ditunjuk oleh organisasi Benang Merah tidak akan pernah bisa lari. Elian tidak sekadar membunuh; ia menganyam strategi, menyusup bagai udara, dan memotong benang kehidupan korbannya tepat pada detik yang telah ia tentukan sendiri.

Malam ini, misi tingkat tinggi yang mustahil bagi pembunuh biasa telah ia selesaikan dengan sempurna. Demi kejayaan Benang Merah, demi masa depan klan yang telah membesarkannya dari sebatang kara.

"Selesai," bisik Elian pada kegelapan malam. Suaranya serak, diredam oleh gemuruh petir di langit.

Dengan gerakan seringan bulu, Elian melompati jendela kastil, melebur kembali ke dalam bayang-bayang malam. Pikirannya melayang pada kehangatan markas rahasia klannya yang terletak di puncak tebing bersalju Lembah Sunyi. Ia membayangkan sambutan hangat dari saudara-saudara seperguruannya, dan yang terpenting, senyum bangga dari Grandmaster Arkanβ€”pria paruh baya yang telah menyelamatkannya dari jalanan dingin belasan tahun lalu, mentor yang telah ia anggap sebagai ayahnya sendiri.

Namun, semakin dekat Elian dengan gerbang tersembunyi Lembah Sunyi, detak jantungnya justru kian berdegup kencang oleh firasat buruk yang asing.

Udara malam yang biasanya berbau pinus segar dan salju bersih kini tercemar oleh aroma yang sangat ia kenal, namun selalu ia benci jika harus menghirupnya di rumah sendiri: bau tembaga yang pekat dari darah segar, bercampur dengan asap hitam yang mengepul dari balik dinding batu pertahanan klan.

Elian mempercepat langkahnya, berlari secepat angin melewati lorong-lorong batu yang gelap. Saat kakinya menapak di pelataran utama markas Benang Merah, langkahnya mendadak terkunci. Napasnya tercekat di tenggorokan.

Dunia di sekitarnya seolah runtuh seketika.

Lautan darah menggenang di atas salju yang memutih. Puluhan mayat tergeletak berserakan di tanah, tumpang tindih dalam posisi yang mengerikan. Elian mengenali mereka semua. Itu adalah Ken, pemuda ceria yang baru kemarin meminta diajari teknik belati baru. Di sudut lain, terbujur kaku tubuh Lia, gadis penyembuh yang selalu menyiapkan teh hangat setiap kali Elian kembali dari misi. Semua saudara seperguruannya, para pembunuh bayaran terbaik yang pernah dilatih klan, tewas tanpa ampun.

"Tidak... tidak mungkin..." Elian berlutut di samping tubuh Ken. Tangannya yang gemetar menyentuh luka robek di dada pemuda itu. Matanya melebar menyadari sesuatu. Luka itu... lurus, bersih, dan mematikan. Itu bukan hasil tebasan senjata musuh luar. Itu adalah teknik pedang khas klan mereka sendiri. Teknik tingkat tinggi yang hanya dikuasai oleh segelintir orang.

"Siapa... siapa yang melakukan ini?!" lolong Elian, suaranya pecah di tengah kesunyian yang mencekam. Kemarahan dan kesedihan memuncak, membakar dadanya hingga sesak.

"Aku yang melakukannya, Elian."

Sebuah suara berat, berwibawa, dan sangat akrab terdengar dari balik tirai asap yang membubung di depan aula utama.

Dari balik kabut kelabu, sesosok pria melangkah keluar dengan tenang. Jubah hitamnya yang bersulam benang emas tampak bersih, kontras dengan pedang panjang di tangan kanannya yang meneteskan darah segar ke atas salju. Wajahnya yang dihiasi janggut tipis tampak dingin tanpa emosi sedikit pun.

"Guru...?" Elian bangkit dengan susah payah, matanya menatap tidak percaya pada sosok di depannya. "Grandmaster Arkan... Apa yang terjadi di sini? Mengapa klan kita diserang? Dan mengapa... mengapa pedang Anda..."

Kalimat Elian menggantung di udara saat melihat tatapan mata Arkan. Tidak ada kesedihan di sana. Tidak ada keputusasaan seorang pemimpin yang kehilangan pa**kannya. Yang ada hanyalah kekosongan yang dingin, sedingin es yang membeku di Lembah Sunyi.

"Mereka tidak diserang, Elian. Mereka dieksekusi," jawab Arkan tenang, seolah sedang membicarakan cuaca malam ini. Ia mengangkat pedangnya, membiarkan sisa darah anak didiknya mengalir ke ujung bilah. "Dan akulah yang mengeksekusi mereka."

Kata-kata itu menghantam dada Elian lebih keras dari hantaman palu godam. Ia terhuyung mundur satu langkah, kepalanya berputar hebat mencoba mencerna kenyataan yang teramat kejam ini.

"Mengapa?!" teriak Elian dengan sisa-sisa suaranya yang serak karena emosi. "Mereka adalah anak-anakmu! Mereka mengabdi padamu dengan segenap jiwa mereka! Aku baru saja membunuh Lord Vane untukmu, untuk Benang Merah! Mengapa Anda membant** mereka semua?!"

Arkan menghela napas panjang, menatap Elian dengan pandangan yang hampir menyerupai rasa kasihan, namun tetap tanpa kehangatan.

"Benang Merah hanyalah sebuah alat, Elian. Dan sebuah alat memiliki masa pakainya sendiri," ujar Arkan dengan nada datar yang mengerikan. "Kekaisaran sedang berada di ambang perubahan besar. Kaisar yang baru membutuhkan kekuatan yang sah, bukan organisasi pembunuh bayaran yang bergerak di dalam bayang-bayang. Aku telah membuat kesepakatan dengan perdana menteri. Aku akan memimpin pa**kan elit kekaisaran yang baru, dan sebagai gantinya, keberadaan Benang Merah harus dihapuskan sepenuhnya dari sejarah. Tidak boleh ada bukti, tidak boleh ada saksi."

"Dan Anda... mengorbankan kami semua demi jabatan itu?" tanya Elian, air mata kemarahan mulai mengalir di pipinya yang kotor oleh debu pertarungan. "Demi ambisi picik Anda, Anda membuang semua yang telah kita bangun bersama? Saya menganggap Anda sebagai ayah saya sendiri, Guru!"

"Dan kau adalah putra terbaik yang pernah kumiliki, Elian. Penenun Takdir legendaris," Arkan melangkah mendekat, langkah kakinya terdengar begitu mengancam di atas salju. "Namun justru karena itulah kau harus mati malam ini. Kau terlalu berbahaya untuk dibiarkan hidup. Reputasimu, kemampuanmu... jika kau tahu tentang rencana ini, kau akan menjadi ancaman terbesar bagi posisi baruku di kekaisaran. Era Benang Merah telah berakhir, Elian. Dan era baruku tidak membutuhkan penenun takdir sepertimu."

"Aku tidak akan membiarkanmu pergi setelah apa yang kau lakukan pada mereka!" teriak Elian dengan murka yang membakar seluruh akal sehatnya. Ia mencabut belati peraknya, bersiap untuk menerjang pria yang selama ini ia hormati melebihi hidupnya sendiri.

Namun, tubuh Elian sudah terlalu lelah setelah menyelesaikan misi pembunuhan Lord Vane yang menguras energi. Di sisi lain, Arkan berada dalam kondisi prima.

Sebelum Elian sempat melangkah, gerakan Arkan melesat bagai kilat. Kecepatan sang Grandmaster berada di tingkat yang sepenuhnya berbeda. Dalam satu kedipan mata, Arkan sudah berada di hadapan Elian. Bilah pedang *Nadi Hitam* milik Arkan berputar di udara, memotong pertahanan Elian dengan mudah.

*SREKK!*

Sensasi dingin yang teramat sangat menusuk dada kiri Elian.

Dunia seakan berhenti berputar. Elian menunduk perlahan, menatap bilah pedang hitam yang kini telah menembus dadanya hingga ke punggung. Darah hangat menyembur dari mulutnya, membasahi jubah Arkan yang berada tepat di depannya.

Napas Elian tercekat. Rasa sakit yang luar biasa menjalar ke seluruh sarafnya, namun rasa sakit fisik itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa sakit akibat pengkhianatan dari orang yang paling ia percayai di dunia ini.

Arkan menatap mata Elian yang mulai kehilangan cahayanya dari jarak dekat. Tangan sang Grandmaster memutar gagang pedangnya sedikit, memperdalam luka di jantung Elian, sebelum akhirnya menarik pedang itu keluar dengan satu sentakan kasar.

"Uhukk!" Elian jatuh berlutut, tangannya mendekap dadanya yang mengalirkan darah deras. Pandangannya mulai kabur, tertutup oleh kabut hitam kematian yang perlahan mendekat.

Arkan melangkah ke belakang Elian, menatap ke arah ujung tebing yang berada tepat di belakang tempat mereka berdiri. Di bawah tebing itu terbentang Jurang Jiwaβ€”sebuah jurang tak berdasar yang diselimuti kabut abadi, tempat di mana tidak ada satu pun makhluk hidup yang pernah kembali setelah terjatuh ke dalamnya.

"Kau telah menyelesaikan tugas terakhirmu dengan baik, Elian. Tidurlah bersama saudaramu yang lain," ucap Arkan tanpa belas kasihan.

Dengan satu tendangan kuat di punggung Elian yang sudah tak berdaya, Arkan mendorong tubuh murid terbaiknya itu melewati tepi tebing.

Tubuh Elian melayang jatuh bebas ke dalam kegelapan jurang yang pekat. Angin malam yang dingin menusuk kulitnya yang kian mendingin akibat kehilangan darah. Saat tubuhnya tenggelam ke dalam kabut abadi Jurang Jiwa, matanya yang sayu menatap ke atas, ke arah sosok Arkan yang berdiri tegak di tepi tebing di bawah rintik hujan, tampak begitu kecil namun begitu penuh dengan kejahatan.

Di ambang kesadarannya yang kian menipis, di antara dinginnya kematian yang menjemput, satu perasaan terakhir membakar sisa-sisa jiwa Elian yang hancur. Bukan kesedihan, bukan pula keputusasaan.

*Dendam.*

Sebuah dendam yang teramat sangat pekat, yang belum pernah dirasakan oleh manusia mana pun.

*Jika aku harus membusuk di neraka,* bisik batin Elian saat kegelapan total akhirnya merenggut kesadarannya, *aku bersumpah... aku akan merangkak kembali ke dunia ini, memburu jiwamu, Arkan, dan merobek takdir yang kau tenun dengan tanganku sendiri.*

Benang merah takdir Elian malam itu memang telah terputus dengan kejam. Namun di kedalaman jurang yang tak berdasar, kegelapan mulai merajut kembali sisa-sisa benang yang rusak itu dengan warna hitam legam yang dipenuhi oleh murka yang tak terpadamkan.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca