**BAB 10: LANGKAH TANPA PENYESALAN**
Rasa sakit yang merobek bahu kirinya bukanlah apa-apa dibandingkan dengan kehampaan dingin yang mendadak melingkupi dadanya. Ketika Elian membuka matanya, bau mesiu gosong dan anyir darah langsung menyengat hidungnya. Langit-langit ruang bawah tanah pabrik tekstil itu telah runtuh sebagian, menyisakan kepulan asap kelabu yang menari di bawah siraman air hujan yang mulai menerobos ma**k.
Markas itu sepi. Terlalu sepi.
"Valerie..." bisik Elian, suaranya parau dan pecah.
Ia mencoba bangkit, namun rasa sakit yang luar biasa menjalar dari bahunya, memaksanya kembali berlutut di atas puing-puing beton. Elian mengerang, mencengkeram dadanya. Perbannya telah basah kuyup oleh darah segar. Di sekelilingnya, jasad para p***ang pemberontak tergeletak kaku, bersanding dengan mayat-mayat berbalut jubah hitam dari faksi Benang Merah. Namun, sosok wanita berambut sekelam malam dengan belati melengkung itu tidak ada di sana.
Hanya ada sebilah belati milik Valerie yang patah setengah, tergeletak di dekat genangan darah yang mulai mengencer disapu air hujan.
"Tidak, tidak, tidak..." Elian merangkak, mengabaikan rasa perih yang membakar tubuhnya. Ia menggenggam gagang belati yang patah itu erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah yang murni, yang disulut oleh rasa bersalah yang mendalam, mulai membakar habis sisa-sisa rasa sakit fisiknya. Valerie telah menyelamatkannya, merawatnya, dan sekarang, wanita itu diculik karena kelalaiannya. Karena dia membawa musuh ke pintu depan mereka.
Dengan gigi terkatup rapat, Elian menarik tali kulit dari saku jaketnya. Ia menggigit ujung tali tersebut, lalu melilitkannya kuat-kuat di atas perban bahunya, memaksa pendarahan itu berhenti dengan tekanan yang menyiksa. Ia berteriak tertahan, keringat dingin bercampur air hujan mengalir di pelipisnya.
"Jika ini adalah takdir yang kau tenun untukku, Arkan," desis Elian menatap kegelapan di luar celah dinding, "maka aku akan merobek setiap jalinan benangnya."
Ia tidak lagi peduli pada keselamatannya. Langkahnya kini murni didorong oleh satu tujuan: kehancuran musuh-musuhnya. Elian menggeledah sisa-sisa peti logistik yang tidak hancur. Ia menemukan apa yang dicarinya—tiga tabung bahan peledak cair berbahan dasar minyak rami dan fosfor murni, beberapa sumbu kejut, serta sebuah senapan karabin otomatis dengan dua magasin tersisa.
Malam itu, di bawah guyuran hujan badai yang melanda kota laksana murka dewa, Elian berjalan keluar dari reruntuhan. Langkah kakinya mantap, tanpa ragu, menuju pusat komando musuh: Garnisun Militer Sektor Barat.
***
Garnisun Sektor Barat berdiri tegak laksana monster besi di tengah kepungan permukiman kumuh. Dikelilingi oleh dinding batu setinggi lima meter dengan kawat berduri dialiri listrik, tempat ini adalah jantung dari rant** komando pa**kan pembersihan etnis yang dibentuk oleh Arkan. Dua menara pengawas di sudut depan terus menyapu jalanan basah di bawahnya dengan lampu sorot kuning yang tajam.
Di dalam pos penjagaan luar, dua prajurit sedang menyesap kopi hangat, mencoba mengusir kantuk dan dinginnya malam.
"Kudengar faksi Benang Merah berhasil menangkap wanita penenun itu," ujar salah satu prajurit, membenarkan letak kerah seragam militer hijaunya yang basah.
"Ya, pemberontakan ini akan berakhir sebelum fajar," jawab rekannya dengan seringai meremehkan. "Tanpa wanita itu, tikus-tikus parit itu tidak ada apa-apanya. Sebentar lagi, perintah pembersihan total akan turun dari Menara—"
Kalimatnya terputus secara brutal. sebuah anak panah mini dari peluncur pergelangan tangan Elian menembus tenggorokannya tanpa suara. Prajurit itu mencengkeram lehernya, matanya membelalak sebelum roboh ke meja. Sebelum prajurit kedua sempat berteriak atau meraih senapannya, bayangan hitam melompat dari jendela yang pecah.
Elian mendarat dengan lutut menekuk, tangan kanannya bergerak secepat kilat menancapkan pecahan belati Valerie tepat di bawah dagu prajurit kedua, menembus hingga ke otak. Senyap. Hanya ada suara hujan yang menghantam atap seng pos penjagaan.
Elian menarik napas dalam-dalam, dadanya naik turun dengan tidak teratur. Darah kembali merembes dari bahunya, namun matanya yang kelabu berkilat dingin, tanpa emosi. Ia menggeledah tubuh kedua prajurit tersebut, mengambil kunci gerbang utama dan beberapa granat asap.
"Satu langkah," bisik Elian pada dirinya sendiri. "Tanpa penyesalan."
Ia menyelinap keluar pos, bergerak seperti hantu di antara bayang-bayang truk militer yang diparkir di halaman dalam. Dengan ketepatan seorang ahli sabotase, Elian memasang bahan peledak cair pertama di generator listrik utama garnisun. Peledak kedua ia tempatkan di tangki bahan bakar kendaraan lapis baja yang berbaris rapi di hanggar.
Setelah memastikan semua sumbu terhubung dengan detonator nirkabel di tangannya, Elian berjalan dengan tenang menuju gedung utama komando. Ia tidak lagi bersembunyi. Ia berjalan di tengah koridor terbuka, membiarkan lampu sorot menara pengawas menangkap siluet tubuhnya yang basah kuyup.
"Hei! Siapa di sana?! Berhenti!" teriak seorang penjaga dari atas menara pengawas, mengokang senapan mesinnya.
Elian berhenti tepat di tengah halaman. Ia menatap ke arah menara pengawas, lalu perlahan mengangkat tangan kanannya yang memegang detonator. Sebuah senyum dingin, hampir g***, terukir di wajahnya yang pucat.
"Selamat malam," bisik Elian.
Ia menekan tombol merah pada detonator.
*BOOM!*
Ledakan dahsyat pertama mengguncang generator listrik, seketika memadamkan seluruh cahaya di garnisun dan melemparkan wilayah itu ke dalam kegelapan total. Detik berikutnya, ledakan kedua yang jauh lebih besar terjadi di hanggar kendaraan. Tangki bahan bakar meledak, menciptakan bola api raksasa yang membubung ke langit malam, mengubah hujan yang turun menjadi uap panas. Serpihan besi dan baja beterbangan, menghancurkan menara pengawas dan menewaskan para penjaga di dalamnya seketika.
Kekacauan pecah dalam sekejap. Sirene darurat meraung-raung manual, bertenaga baterai cadangan yang lemah. Prajurit-prajurit berlarian keluar dari barak dengan panik, setengah te******* dan bingung, mencoba memadamkan api yang berkobar hebat di bawah guyuran hujan.
Di tengah badai api dan kepanikan itu, Elian bergerak seperti malaikat maut yang tak kasat mata. Karabinnya menyalak dalam kegelapan. Setiap tembakan dilepaskan dengan presisi yang mengerikan—satu peluru, satu nyawa. Ia memanfaatkan kepulan asap hitam dari bahan bakar yang terbakar untuk mendekati musuh-musuhnya dari sudut yang tak terduga, menebas leher dengan belati patah di tangan kiri, dan menembak dengan tangan kanan.
"Penyusup! Ada di halaman—"
*Bang!*
Prajurit yang berteriak itu jatuh dengan dahi berlubang. Elian melompati tubuhnya, terus merangsek ma**k ke dalam gedung komando utama. Pintu kayu ek setebal sepuluh sentimeter itu hancur berantakan saat Elian menembakkan sisa bahan peledak cair ke arah engselnya.
Di dalam ruangan yang diterangi cahaya darurat kemerahan, Mayor Kenneth—komandan garnisun setempat—sedang tergesa-gesa mema**kkan dokumen-dokumen penting ke dalam tas jinjingnya. Mendengar pintu hancur, ia langsung mencabut pistol revolvernya. Namun, Elian jauh lebih cepat.
Sebuah tembakan karabin dari Elian tepat mengenai pergelangan tangan sang Mayor, membuat pistolnya terlempar dan hancur di lant**. Kenneth berteriak kesakitan, memegangi tangannya yang hancur seraya jatuh terduduk di balik meja kerjanya yang mewah.
Elian melangkah ma**k dengan tenang. Sepatu botnya meninggalkan jejak air bercampur darah di atas karpet merah ruangan itu. Wajahnya tercoreng jelaga hitam, dan matanya memancarkan aura kematian yang begitu pekat hingga membuat sang Mayor, seorang veteran perang yang tangguh, gemetar ketakutan.
"Siapa... siapa kau?!" tanya Kenneth dengan suara bergetar, merangkak mundur hingga punggungnya membentur lemari arsip. "Pemberontak ke*****! Kau tidak akan keluar dari sini hidup-hidup!"
Elian tidak menjawab. Ia mendekati meja kerja Kenneth, matanya langsung tertuju pada sebuah peta taktis besar yang terbentang di sana. Peta itu dipenuhi dengan coretan tinta merah, menunjukkan rute mobilisasi pa**kan militer dan titik-titik pembersihan etnis yang dijadwalkan akan dimulai tiga jam lagi.
Elian menyambar peta tersebut, melipatnya dengan satu tangan dan mema**kkannya ke dalam kantong jaketnya. "Rencana penyerangan Arkan," gumam Elian datar. "Ini akan menunda pembant**an itu."
Ia kemudian mengalihkan pandangannya kembali kepada Kenneth. Elian berjalan mendekat, lalu mencengkeram kerah seragam Kenneth dengan tangan kirinya yang terluka, mengabaikan rasa sakit yang menyengat bahunya sendiri. Ia mengangkat tubuh pria bertubuh gempal itu dengan kekuatan yang mustahil bagi orang yang sedang terluka parah.
"Di mana Valerie?" tanya Elian, suaranya dingin, berbisik tepat di depan wajah Kenneth.
Kenneth meludah, darah segar mengotori pipi Elian. "Penenun itu? Dia sudah tamat! Tuan Arkan sendiri yang membawanya. Kau hanya seekor tikus yang mencoba melawan dewa!"
Elian tidak berkedip. Ia menekan belati patahnya perlahan ke paha Kenneth, memutarnya perlahan. Jeritan kesakitan yang memilukan gema di dalam ruangan yang sunyi itu.
"Aku tidak punya banyak waktu, Mayor," ucap Elian, suaranya tetap tenang, tanpa nada amarah, yang justru membuatnya terdengar jauh lebih mengerikan. "Setiap detik yang kau buang untuk tidak menjawab, aku akan menguliti satu bagian dari tubuhmu. Di mana dia?"
"C-C**up! Hentikan!" Kenneth menangis, seluruh kesombongan militernya runtuh di bawah siksaan dingin Elian. "Dia... dia dibawa ke puncak Menara Obsidian! Tuan Arkan ingin menjadikannya contoh... dia akan dieksekusi di depan publik saat fajar menyingsing untuk menandai dimulainya pembersihan besar-besaran!"
Menara Obsidian. Jantung kekuasaan Arkan, sebuah pencakar langit hitam yang menjulang di pusat kota, tidak tertembus oleh siapapun.
Elian menatap mata Kenneth untuk terakhir kalinya, mencari kebohongan di sana. Namun, yang ia temukan hanyalah ketakutan murni yang jujur.
"Terima kasih atas informasinya," kata Elian pelan.
"Kau... kau akan melepaskanku, kan?" bisik Kenneth penuh harap, napasnya tersengal-sengal.
Elian melepaskan cengkeramannya pada kerah Kenneth, membiarkan sang Mayor merosot ke lant**. Elian berbalik, berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke arah Menara Obsidian yang berdiri megah di kejauhan, menantang badai.
"Aku melepaskanmu," kata Elian tanpa menoleh ke belakang. "Tapi api ini tidak."
Elian melompat keluar jendela, berguling di atas atap kanopi kaca yang pecah, tepat saat api dari hanggar menjalar ke tangki gas cadangan di bawah gedung komando. Ledakan ketiga yang paling dahsyat meluluhlantakkan seluruh gedung utama, mengubur Mayor Kenneth beserta seluruh dokumen militernya dalam lautan api yang tak terpadamkan oleh air hujan sekalipun.
Di bawah, di jalanan yang becek, Elian bangkit berdiri. Tubuhnya berguncang hebat, paru-parunya terasa terbakar, dan pandangannya mulai kabur di tepiannya. Darah mengalir deras dari bahu kirinya, mewarnai air hujan yang mengalir di aspal menjadi kemerahan.
Namun, ia tidak merasakan penyesalan. Tidak ada lagi rasa takut.
Ia memegang peta rencana penyerangan Arkan di satu tangan, dan belati patah Valerie di tangan lainnya. Menara Obsidian menjulang tinggi di hadapannya, gelap dan mengancam, seperti takdir yang menantangnya untuk datang.
Elian menyeka darah di wajahnya, lalu melangkah maju ke dalam kegelapan malam, menuju menara tersebut. Setiap langkah yang ia ambil adalah langkah menuju kematian, atau kebebasan. Dan ia telah memilih jalannya.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!