**BAB 11: GERBANG MENARA OBSIDIAN**
Ibu kota tidak lagi sekadar membara; kota itu sedang mencabik dirinya sendiri.
Suara raungan sirene pertahanan udara berpadu dengan gemuruh artileri berat yang diletuskan dari sudut-sudut jalan protokoler. Kudeta militer yang dilancarkan oleh Arkan telah mengubah kota metropolitan yang megah itu menjadi palung pembant**an yang bising. Di bawah langit malam yang pekat oleh asap hitam, lidah-lidah api menjilat angkasa, memantulkan warna merah darah pada awan-awan rendah yang menggantung di atas kota. Barikade kawat berduri, rongsokan panser yang meledak, dan jasad-jasad tentara serta warga sipil yang bergelimpangan menjadi pemandangan biasa di setiap jengkal trotoar.
Di tengah-tengah simfoni kehancuran ini, Elian bergerak laksana bayangan badai.
Langkah kakinya cepat namun senyap, melompati puing-puing beton yang hancur akibat hantaman mortir. Luka di bahu kirinya berdenyut menyiksa, mengirimkan gelombang rasa sakit yang membakar setiap kali ia mengayunkan lengan. Namun, rasa sakit itu tak lebih dari sekadar ketukan lemah jika dibandingkan dengan badai amarah yang bergemuruh di dalam dadanya. Di tangannya, senapan karabin otomatis digenggam erat, sementara belati patah milik Valerie terselip aman di sabuk taktisnya—sebuah pengingat bisu akan janji yang harus ia penuhi.
Di ujung jalan distrik pusat, Menara Obsidian berdiri dengan keangkuhan yang mutlak.
Menara itu menjulang tinggi bagai pilar hitam raksasa yang menusuk langit. Dinding obsidiannya yang legam dan meng***p memantulkan kobaran api dari bangunan-bangunan di sekitarnya, membuatnya tampak seolah-olah sedang diselimuti oleh api abadi. Tempat itu adalah jantung dari *Benang Merah*, tempat di mana Arkan menenun konspirasi yang telah merenggut nyawa orang-orang yang dicint** Elian. Dan di sanalah, di puncak tertinggi menara itu, Valerie kemungkinan besar sedang disekap.
Saat Elian mendekati pelataran depan menara, sunyi mendadak menyergap. Suara pertempuran di jalanan luar seolah teredam oleh aura dingin yang dipancarkan oleh bangunan batu hitam tersebut. Gerbang utama menara yang terbuat dari baja cor setinggi lima meter telah terbuka lebar, seolah-olah menyambut kedatangannya dengan undangan kematian yang sunyi.
Elian melangkah melewati ambang pintu. Sepatu larasnya mengetuk lant** marmer hitam yang dingin, gema suaranya memantul di langit-langit aula lant** dasar yang luas dan melengkung tinggi. Cahaya bulan yang menembus jendela-jendela kaca patri besar memberikan penerangan temaram, menciptakan siluet-siluet panjang yang menari di dinding.
"Kau terlambat, Elian."
Sebuah suara dingin, monoton, dan tanpa emosi terdengar dari balik pilar-pilar besar yang menyangga aula.
Elian menghentikan langkahnya tepat di tengah-tengah lambang *Benang Merah* yang terukir besar di lant** marmer—sebuah lingkaran dengan pola jaring laba-laba berwarna merah tua. Dari balik bayang-bayang pilar, lima sosok bermunculan. Mereka mengenakan jubah hitam tanpa lengan yang pas di tubuh, memperlihatkan lengan-lengan yang dipenuhi tato simbol kuno faksi pembunuh elit. Wajah mereka ditutupi topeng porselen putih tanpa ekspresi, hanya menyisakan celah sempit untuk mata yang berkilat dingin.
Mereka adalah sisa-sisa dari *Sembilan Jarum Takdir*, pembunuh elit terbaik yang dimiliki organisasi ini.
"Di mana Arkan?" tanya Elian, suaranya rendah, parau, dan sarat dengan ancaman. Ia tidak menurunkan moncong senapannya. "Di mana Valerie?"
Salah satu pembunuh—yang berdiri di tengah dan memegang sepasang belati melengkung yang tipis—miringkan kepalanya sedikit. "Wanita itu berada di tempat yang semestinya. Menjadi benang tumbal untuk menyempurnakan tenunan Tuan Arkan. Dan kau... kau hanyalah simpul mati yang harus digunting malam ini."
"Kalau begitu, cobalah," desis Elian.
Pertempuran pecah dalam sekejap mata.
Dua pembunuh terdepan melesat maju dengan kecepatan yang hampir tidak manusiawi. Gerakan mereka begitu halus, laksana asap hitam yang tertiup angin. Pembunuh pertama melemparkan serangkaian jarum perak beracun yang bersiul di udara. Elian bereaksi seketika; ia menjatuhkan dirinya ke samping, berguling di atas lant** marmer yang licin sementara jarum-jarum itu menancap di pilar batu di belakangnya dengan dentang tajam.
Sambil berguling, Elian melepaskan tembakan karabinnya. Tiga peluru meluncur deras. Namun, pembunuh kedua melompat ke udara, berputar dengan kelenturan luar biasa untuk menghindari lintasan peluru, lalu mendarat hanya dua langkah di depan Elian dengan pedang tipis yang terhunus lurus ke arah tenggorokannya.
Elian tidak mundur. Dengan gerakan yang terlatih dari sisa-sisa insting bertahan hidupnya, ia mengangkat karabinnya secara horizontal.
*Prang!*
Bilah pedang sang pembunuh menghantam laras senapan baja Elian, memercikkan bunga api yang menerangi wajah murka Elian. Menggunakan momentum benturan tersebut, Elian memutar tubuhnya, melepaskan pegangan tangan kirinya pada senapan, dan menarik belati patah Valerie dengan tangan kanan. Dengan satu sentakan cepat yang estetis namun mematikan, ia menebas pergelangan tangan penyerangnya.
Darah segar menyembur. Pembunuh itu mengerang tertahan saat pedangnya terlepas dari genggaman. Tanpa memberi kesempatan untuk bernapas, Elian memutar belatinya ke posisi terbalik, lalu menghunjamkannya tepat ke celah topeng porselen musuhnya. Pisau itu menembus mata hingga ke otak. Pembunuh itu ambruk tanpa sempat mengeluarkan suara lagi.
Namun, tidak ada waktu untuk merayakan kemenangan kecil itu. Tiga pembunuh lainnya langsung mengepung Elian dari sudut-sudut mati.
Sabetan rant** berduri dari arah kanan menyambar bahu terluka Elian. Logam tajam itu merobek kain jaket dan perban kulitnya, memaksa darah segar kembali merembes keluar. Rasa sakit yang luar biasa membuat pandangan Elian sempat mengabur, namun ia menolak untuk menyerah pada kegelapan. Dengan geraman yang menyerupai raungan binatang buas, Elian menangkap rant** tersebut dengan tangan kirinya yang bebas, mengabaikan duri-duri yang menusuk telapak tangannya, lalu menyentak rant** itu dengan seluruh kekuatan tubuhnya.
Pembunuh yang memegang rant** itu tertarik maju tanpa keseimbangan. Elian menyambutnya dengan tembakan karabin tepat di dada dari jarak dekat. Dua tembakan beruntun merobek jubah hitam dan menghentikan detak jantung sang pembunuh seketika.
"Bant** dia!" teriak pembunuh bermata satu yang tampaknya menjadi pemimpin sisa kelompok ini.
Dua pembunuh tersisa menyerang secara sinkron. Mereka bergerak dalam formasi silang, mengayunkan belati-belati mereka dalam pola yang rumit dan mematikan, menciptakan dinding baja yang berputar di depan Elian.
Elian melepaskan senapan karabinnya yang kehabisan peluru. Kini, ia hanya mengandalkan belati patah di tangan kanan dan belati milik salah satu pembunuh mati yang sempat ia sambar dengan tangan kiri. Pertarungan jarak dekat yang murni dan brutal pun tak terelakkan.
Lant** marmer hitam Menara Obsidian kini menjadi panggung tarian maut yang mengerikan namun indah. Setiap tebasan, tangkisan, dan elakan dilakukan dengan presisi tinggi. Elian bergerak laksana seorang penari yang dipandu oleh melodi keputusasaan. Ia menangkis sabetan belati musuh di sebelah kiri, berputar di bawah ayunan senjata musuh di sebelah kanan, dan membalas dengan tusukan-tusukan cepat yang mengincar titik-titik vital—arteri leher, ulu hati, dan sendi lutut.
Suara dentingan logam yang saling beradu bergaung di aula sunyi itu, berpadu dengan napas terengah-engah dari mereka yang bertarung demi hidup dan mati.
Pembunuh ketiga berhasil menyayat pipi Elian, meninggalkan garis merah yang meneteskan darah di wajahnya. Namun, kesalahan kecil itu dibayar mahal. Elian merunduk rendah, menyapu kaki pembunuh tersebut hingga terjatuh, dan dalam gerakan yang mengalir tanpa jeda, ia menancapkan belati patahnya ke dada kiri sang musuh, menembus jantungnya.
Kini, tersisa sang pemimpin kelompok.
Pria bertopeng itu mundur selangkah, menatap Elian dengan tatapan yang kini dipenuhi oleh keraguan dan ketakutan yang mulai menjalar. Di sekeliling mereka, empat pembunuh terbaik organisasi tergeletak tak bernyawa dalam genangan darah mereka sendiri yang perlahan melebar di atas marmer hitam.
"Kau... kau bukan lagi manusia, Elian," bisik pemimpin pembunuh itu, suaranya bergetar di balik topeng porselennya yang kini terciprat darah rekan-rekannya. "Kau adalah i**** yang dilepaskan dari neraka."
Elian berdiri tegak, napasnya memburu berat. Darah—campuran antara darahnya sendiri dan darah musuh-musuhnya—menetes dari ujung-ujung belatinya, menimbulkan suara *tik... tik... tik...* yang konsisten di lant** yang sunyi. Matanya menatap tajam, dingin, dan benar-benar kosong dari rasa kemanusiaan.
"Aku adalah akhir dari kalian," jawab Elian dingin.
Sang pemimpin pembunuh berteriak histeris, melepaskan seluruh sisa keberaniannya dalam satu serangan putus asa. Ia menerjang maju, mengayunkan kedua belati melengkungnya dalam tebasan menyilang yang mengarah ke leher Elian.
Elian tidak menghindar. Ia justru melangkah maju menyongsong serangan tersebut.
Dengan kecepatan yang menentang rasa sakit di bahunya, Elian menangkap kedua pergelangan tangan pembunuh itu saat tebasan hampir mengenai kulit lehernya. Untuk sesaat, keduanya saling mengunci dalam adu kekuatan yang menegangkan. Mata mereka bertemu di balik celah topeng.
"Katakan padaku," desis Elian tepat di depan wajah musuhnya, "di mana Arkan menyembunyikan Valerie?"
"Dia... dia berada di Aula Penenun... di puncak tertinggi," bisik pembunuh itu dengan sisa-sisa kekuatannya, mencoba meludah ke arah Elian. "Tapi kau tidak akan pernah bisa menyelamatkannya. Takdirnya... sudah disegel."
"Aku tidak percaya pada takdir," ujar Elian datar.
Dengan satu gerakan memutar yang cepat, Elian mematahkan kedua pergelangan tangan sang pembunuh. Suara retakan tulang terdengar mengerikan di aula yang sunyi. Sebelum pria itu sempat berteriak kesakitan, Elian memutar belati patah Valerie dan menghujamkannya dalam-dalam ke leher sang pembunuh, memotong aliran suaranya seketika.
Pemimpin pembunuh itu terengah-engah, matanya membelalak lebar sebelum akhirnya meredup dan tubuhnya ambruk bersandar pada pilar batu, lalu merosot ke lant** tanpa nyawa.
Elian berdiri sendirian di tengah-tengah pembant**an itu. Tubuhnya gemetar karena kelelahan, rasa sakit yang luar biasa kini menghujam bahu dan dadanya saat adrenalinnya perlahan menurun. Namun, ia menolak untuk jatuh. Ia memejamkan mata sejenak, membayangkan wajah Valerie yang tersenyum di tengah-tengah malam yang sunyi, satu-satunya cahaya yang tersisa di dalam hidupnya yang kelam.
Ia membuka matanya kembali. Tatapannya kini tertuju pada tangga spiral besar terbuat dari obsidian hitam yang melingkar naik menuju kegelapan di puncak menara.
Sambil menyeret langkahnya yang berat namun penuh kepastian, Elian mulai melangkah menaiki anak tangga pertama. Setiap langkah yang ia ambil meninggalkan jejak kaki berdarah di atas batu hitam. Gerbang Menara Obsidian telah ia lalui, dan kini, perjalanan terakhir menuju puncak takdirnya baru saja dimulai.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!