**BAB 12: TARIAN BENANG KEMATIAN**
Asap tebal berwarna kelabu pekat mengalun bagai monster tak kasat mata, merayap di sepanjang pilar-pilar batu hitam yang menyangga puncak Menara Obsidian. Di luar, langit ibu kota telah berubah menjadi kanvas merah darah yang mengerikan. Dari ketinggian ini, raungan pertempuran di bawah sana terdengar samar, diredam oleh deru angin malam yang ma**k melalui jendela-jendela kaca patri yang telah hancur berantakan. Lidah-lidah api mulai menjilat dinding bagian dalam, melahap tirai-tirai beludru mahal dan mengubah udara malam yang dingin menjadi tungku pembakaran yang menyesakkan napas.
Elian melangkah melewati ambang pintu ganda yang telah hancur. Setiap helaan napasnya terasa seperti menghirup serpihan kaca. Luka tembak di bahu kirinya berdenyut hebat, mengalirkan darah segar yang merembes melalui robekan kain jubah taktisnya, menetes lambat ke atas lant** marmer yang dilapisi jelaga. Di tangan kanannya, pedang bermata dua berhulu obsidian tergenggam eratβbaja dingin yang telah merenggut nyawa lima penjaga di aula bawah.
Pandangan Elian langsung tertuju ke tengah ruangan luas itu.
Di sana, terikat pada sebuah kursi besi berat yang terpaku ke lant**, adalah Valerie. Wajahnya yang biasa memancarkan ketegasan kini pucat pasi, dihiasi memar keunguan di sudut bibir dan pelipisnya. Rambut gelapnya yang kusut basah oleh keringat. Ketika mata mereka bertemu, sebuah kilatan ketakutan yang bercampur dengan kelegaan luar biasa melintas di bola mata abu-abu wanita itu.
"Elian... jangan..." bisik Valerie. Suaranya serak, hampir tenggelam oleh deru api yang melahap sisi kanan ruangan. "Ini perangkap..."
"Diamlah, Gadis Penenun," sebuah suara berat, tenang, dan teramat akrab memotong dari kegelapan di balik singgasana.
Dari balik bayang-bayang pilar raksasa, sesosok pria melangkah maju dengan keanggunan yang menakutkan. Grandmaster Arkan. Pria paruh baya itu sama sekali tidak terlihat seperti seorang konspirator yang sedang disudutkan oleh kudeta berdarah. Ia mengenakan jubah kebesaran *Benang Merah* berwarna hitam pekat dengan sulaman benang emas yang melingkari kerah dan lengan bajunya. Rambut peraknya tertata rapi, dan wajahnya yang dihiasi garis-garis usia tampak setenang permukaan danau di malam hari. Di pinggangnya, tersampir sebilah pedang yang bentuknya identik dengan milik Elianβpedang kembar sang penempa takdir.
Arkan berhenti tepat beberapa langkah di depan Valerie, menatap Elian dengan seulas senyum tipis yang sarat akan rasa bangga yang dingin.
"Kau berhasil sampai ke puncak, Elian. Aku selalu tahu bahwa dari semua anak an**** yang kupungut dari jalanan, kaulah yang memiliki taring paling tajam," ucap Arkan. Suaranya terdengar seperti melodi lembut di tengah simfoni kehancuran kota.
"Lepaskan dia, Arkan," geram Elian. Suaranya rendah, bergetar oleh amarah yang telah ia pendam selama bertahun-tahun. "Urusanmu adalah denganku. Akhiri semua keg***an ini."
Arkan terkekeh pelan, sebuah suara kering yang tidak sampai ke matanya yang sedingin es. Ia berjalan perlahan mengitari kursi Valerie, jemarinya yang mengenakan cincin segel perak mengetuk-ngetuk sandaran kursi dengan ritme yang konstan.
"Keg***an? Kau menyebut restrukturisasi kekaisaran ini sebagai keg***an?" Arkan menggelengkan kepala, tampak kecewa. "Kau melihat dunia ini dengan mata seorang picik, Elian. Kau hanya melihat api dan darah. Kau tidak melihat fondasi baru yang sedang kubangun di atas abu ini. Manusia adalah makhluk yang lemah. Jika dibiarkan tanpa kendali, mereka hanya akan saling menghancurkan dalam kebebasan yang sia-sia. Mereka butuh penenun. Mereka butuh seseorang yang menarik benang takdir mereka agar tercipta sebuah harmoni."
"Kau bukan penenun, Arkan! Kau hanya seorang jagal yang bersembunyi di balik jubah filsafat!" Elian melangkah maju, pedangnya terangkat sedikit, ujungnya menunjuk langsung ke dada sang mentor. "Kau membant** keluargaku, kau menghancurkan hidup Valerie, kau membakar kota ini hanya demi sebuah takhta kosong! Di mana letak harmoni dalam genosida?!"
Arkan menghentikan langkahnya. Matanya menyipit, memancarkan kilatan otoritas yang pernah membuat Elian gemetar ketakutan saat masih kanak-kanak.
"Keluargamu adalah korban yang diperlukan, Elian. Kematian mereka adalah sumbu yang menyalakan apimu. Tanpa tragedi itu, kau tidak akan pernah menjadi pria yang berdiri di hadapanku hari ini. Kau tidak akan memiliki kekuatan untuk memotong benang-benang yang mengikat dunia ini," ujar Arkan dengan nada mutlak, seolah-olah ia sedang membacakan hukum alam yang tidak terbantahkan. "Aku membentukmu. Aku menciptakanmu dari rasa sakit. Kesetiaanmu seharusnya berada di sampingku, sebagai tangan kanan yang mengeksekusi kehendak sejarah, bukan berlutut demi belas kasihan seorang wanita yang bahkan tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri."
Valerie mendongak, menatap Arkan dengan tatapan menantang meski tubuhnya gemetar menahan sakit. "Kau tidak membentuk siapa pun, Arkan. Kau hanya merusak semua yang kau sentuh. Elian bukan alatmu. Dia tidak akan pernah menjadi sepertimu!"
Arkan tidak memandang Valerie. Pandangannya tetap terkunci pada Elian. "Apakah benar begitu, muridku? Kau datang ke sini untuk membalas dendam, bukan? Dendam adalah emosi paling murni dari ego manusia. Kau bertarung demi masa lalu yang sudah mati, sementara aku bertarung demi masa depan yang abadi. Katakan padaku, siapa di antara kita yang lebih mulia?"
"Aku tidak peduli tentang kemuliaan," sahut Elian. Ia menurunkan tubuhnya sedikit, memasang kuda-kuda bertarung yang telah diajarkan oleh Arkan sendiri bertahun-tahun lalu. "Aku di sini untuk memastikan bahwa benang takdirmu... putus malam ini."
"Sangat baik," Arkan menghela napas panjang, sebuah penyesalan palsu melintas di wajahnya. "Jika sang benang telah kusut dan tidak bisa lagi ditenun, maka satu-satunya jalan adalah memotongnya."
Dengan gerakan yang begitu cepat hingga nyaris tak kasat mata, Arkan menarik pedangnya dari sarung. Denting baja yang keluar terdengar nyaring, membelah suara gemeretak api yang kian membesar. Bilah pedang Arkan berkilat memantulkan cahaya jingga dari kebakaran di sekeliling mereka.
Sunyi menyergap sesaat, seolah-olah waktu melambat di dalam ruang singgasana yang membara itu. Hanya ada deru napas mereka dan detak jantung yang berpacu liar.
Lalu, badai pun pecah.
Elian melesat maju. Langkah kakinya seringkas angin, melompati lidah api yang menjalar di lant**. Ia mengayunkan pedangnya dari kanan bawah, sebuah tebasan diagonal yang mengarah langsung ke leher Arkan. Namun, Arkan telah mengantisipasi gerakan itu. Dengan pergelangan tangan yang kokoh, ia menangkis tebasan Elian.
*KLANG!*
Benturan logam itu menciptakan percikan api yang melompat ke udara. Getaran kuat merambat naik ke lengan Elian, membuat luka di bahunya kembali menyemburkan darah segar. Elian meringis, namun ia tidak berhenti. Memanfaatkan momentum, ia berputar dan melepaskan tendangan memutar ke arah rusuk Arkan.
Arkan mundur satu langkah dengan anggun, menghindari tendangan itu dengan selisih beberapa milimeter, lalu langsung membalas dengan tusukan cepat ke arah dada Elian. Elian memiringkan tubuhnya, membiarkan ujung pedang Arkan merobek sedikit jubah taktisnya, dan membalas dengan sabetan balik menggunakan belati patah milik Valerie yang ia cabut dengan tangan kirinya.
Dua senjata bertemu dalam simfoni kematian yang bising. Mereka bergerak dalam lingkaran yang mematikan, saling bertukar serangan dengan teknik tingkat tinggi yang serupa. Setiap tangkisan, setiap tusukan, dan setiap hindaran adalah cerminan dari latihan spartan yang mereka jalani bersama selama bertahun-tahun. Itu bukan sekadar pertarungan fisik; itu adalah percakapan berdarah antara guru dan murid yang saling mengetahui setiap kebiasaan, setiap celah, dan setiap kelemahan masing-masing.
"Bentuk Keempat: Jarum Penembus!" Arkan bergumam dingin di tengah denting pedang. Ia melancarkan serangkaian tusukan bertubi-tubi yang mengincar titik-titik vital di tubuh Elian.
Elian terpaksa mundur beberapa langkah, menangkis setiap serangan dengan susah payah. Rasa sakit di bahunya mulai mengaburkan fokusnya. Setiap kali ia menangkis tebasan berat Arkan, tulang belikatnya seolah-olah dipahat oleh besi panas.
"Kau melambat, Elian!" seru Arkan, menekan serangannya tanpa ampun. "Luka itu menahanmu. Emosimu membuatmu goyah. Kau membiarkan rasa bersalah atas kematian keluargamu dan ketakutanmu kehilangan wanita itu mendikte setiap gerakanmu!"
Arkan memutar pedangnya, mengunci bilah pedang Elian, lalu dengan sentakan kuat mengirimkan tendangan lutut yang mendarat telak di ulu hati Elian.
Elian terbatuk, darah kental keluar dari mulutnya saat ia terlempar ke belakang, menghantam pilar batu yang mulai retak akibat panas api. Ia jatuh berlutut, napasnya tersengal-sengal, pedangnya nyaris terlepas dari genggaman yang melemah.
"Elian!" teriak Valerie, air mata akhirnya menetes di pipinya yang kotor oleh jelaga. "Bangkitlah! Jangan biarkan dia menang!"
Arkan berjalan mendekat dengan langkah sant**, pedangnya diseret di atas marmer hitam, menghasilkan suara decitan logam yang menyayat hati di tengah gemuruh api. "Sia-sia, Valerie. Dia telah mencapai batasnya. Dia hanyalah sebuah produk gagal dari ambisiku sendiri. Sebuah benang yang c****."
Arkan mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dengan kedua tangan, bersiap untuk memberikan tebasan pemungkas yang akan membelah tubuh Elian menjadi dua.
Namun, di bawah bayang-bayang kematian yang mendekat, Elian mendongak. Di dalam matanya yang merah karena asap dan amarah, tidak ada lagi ketakutan. Yang tersisa hanyalah tekad yang murniβsebuah api yang jauh lebih panas daripada kebakaran yang sedang melahap Menara Obsidian.
"Aku mungkin c****, Arkan..." bisik Elian, suaranya serak namun terdengar jelas di antara jilatan api. "...tapi akulah yang akan menulis akhir dari bab ini."
Dengan sisa kekuatan terakhirnya, Elian tidak mencoba untuk bangkit berdiri guna menangkis tebasan itu. Sebaliknya, ia meluncur ke depan di atas lant** marmer yang licin oleh darahnya sendiri, menyusup di bawah jangkauan pedang Arkan yang sedang mengayun turun.
Mata Arkan membelalak kaget. Untuk pertama kalinya dalam pertarungan itu, sang Grandmaster kehilangan ketenangannya.
Sebelum Arkan sempat memulihkan posisinya, Elian menggunakan tangan kirinya yang bebas untuk menancapkan belati patah milik Valerie dalam-dalam ke paha kanan Arkan. Pria paruh baya itu mengerang kesakitan, lututnya goyah seketika. Bersamaan dengan itu, Elian memutar tubuhnya dan mengayunkan pedang obsidiannya dengan sapuan horizontal yang kuat, mengincar pergelangan kaki sang mentor.
*CRASH!*
Darah segar menyembur ke udara malam saat pedang Elian berhasil menyayat dalam kaki Arkan, merusak otot tendonnya. Grandmaster itu terhuyung-huyung jatuh berlutut, napasnya kini memburu kasar, dan untuk pertama kalinya, ia menatap muridnya dengan tatapan yang menyiratkan rasa tidak percaya.
Di sekeliling mereka, atap kayu Menara Obsidian mulai runtuh. Balok-balok kayu yang terbakar jatuh berdentum di lant**, menciptakan barikade api baru yang mengisolasi mereka bertiga di puncak menara yang kini berada di ambang kehancuran total.
Elian bangkit berdiri perlahan, tubuhnya gemetar, namun pedangnya tetap terarah lurus ke depan. Tarian benang kematian belum berakhir, dan malam ini, takdir baru sedang ditulis di atas altar api.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!