menghasilkan kehangatan sama sekali. Gemanya memantul di antara pilar-pilar batu yang mulai retak oleh jilatan api.
"Kau masih saja kekanak-kanakan, Elian," ucap Arkan, matanya yang kelabu berkilat memantulkan cahaya merah dari kebakaran di luar jendela. "Kau datang ke sini, membawa seluruh amarah yang kau pupuk selama sepuluh tahun, hanya untuk mati di tempat yang sama dengan tempatmu dilahirkan kembali. Tidakkah kau melihat keindahan dari lingkaran takdir ini?"
"Satu-satunya takdir yang kulihat malam ini adalah kematianmu, Arkan!" teriakan Elian menggelegar, memecah deru angin yang menderu ma**k dari jendela kaca yang pecah.
Tanpa peringatan lebih lanjut, Elian menerjang maju. Langkah kakinya seringan embun namun secepat kilat—sebuah teknik langkah yang diajarkan oleh Arkan sendiri. Bilah obsidian di tangan kanannya menebas udara, menciptakan lengkungan hitam yang mematikan.
*Trang!*
Arkan menangkis serangan itu dengan keanggunan yang menjengkelkan. Pedang kembar mereka beradu, menciptakan percikan api yang menerangi wajah kedua pria itu. Jarak mereka begitu dekat hingga Elian bisa mencium bau minyak wangi cendana yang biasa dipakai Arkan, bercampur dengan bau anyir darah segar dari bahunya sendiri.
"Masih terlalu terburu-buru," bisik Arkan di balik bilah pedang yang saling mengunci. Dengan satu hentakan pergelangan tangan yang presisi, ia memutar pedangnya, mengalirkan daya dorong yang memaksa Elian mundur beberapa langkah.
Elian meringis. Bahu kirinya yang tertembak berdenyut hebat, mengirimkan gelombang rasa sakit yang membuat pandangannya sempat mengabur. Namun, ia menolak untuk menyerah pada rasa sakit itu. Ia kembali menyerang, kali ini dengan kombinasi tebasan mendatar dan tusukan cepat yang bertubi-tubi.
Pertempuran itu menjelma menjadi tarian maut yang mengerikan. Di tengah kepulan asap tebal dan jilatan api yang kian mendekat, kedua penenun takdir itu saling menguji batas kemampuan masing-masing. Setiap benturan baja terdengar seperti dentang lonceng kematian. Arkan bertarung dengan ketenangan seorang maestro, sementara Elian bertarung dengan keputusasaan seorang pria yang tidak lagi memiliki apa pun untuk rontok—kecuali dendamnya.
"Elian, awas!" teriak Valerie dari kursinya, suaranya parau akibat menghirup asap.
Sebuah tebasan melintang dari Arkan nyaris menyayat leher Elian. Elian berhasil menghindar dengan melentingkan tubuhnya ke belakang, namun ujung jubah taktisnya robek terbasahi oleh darah yang merembes dari luka barunya di lengan atas. Napas Elian memburu, dadanya kembang kempis bagai pandai besi yang bekerja terlalu keras.
Arkan mundur beberapa langkah, menjaga jarak. Ia tidak tampak lelah sedikit pun, meskipun jubah hitamnya kini ternoda jelaga. Senyum tipisnya tidak pernah pudar.
"C**up main-mainnya," ujar Arkan dengan nada suara yang tiba-tiba berubah dingin dan datar. Ia melangkah mundur menuju ke bagian belakang ruangan, mendekati sebuah mezanin rendah tempat sebuah konsol kuningan besar berdiri kokoh. Konsol itu dipenuhi oleh roda gigi yang berputar lambat, tuas-tuas rumit, dan pipa-pipa tembaga yang menjalar ma**k ke dalam lant** batu.
Itu adalah jantung mekanis Menara Obsidian. Pusat kendali dari seluruh infrastruktur bawah tanah ibu kota.
Elian bersiap untuk menerjang lagi, namun langkahnya terhenti ketika Arkan meletakkan tangan kirinya di atas sebuah tuas besar berwarna merah darah yang berada di tengah konsol tersebut.
"Kau tahu apa ini, Elian?" tanya Arkan, jarinya membelai permukaan tuas yang dingin. "Ini adalah pena yang akan menulis ulang sejarah kota ini. Di bawah kaki kita, di kedalaman perut bumi, terdapat Bendungan Agung Aethelgard yang menahan jutaan kubik air dari Danau Utara. Dan tepat di sampingnya, di dalam labirin bawah tanah, tersimpan seluruh cadangan mesiu kerajaan yang kukumpulkan selama lima tahun terakhir."
Jantung Elian bagai berhenti berdetak. Ia menatap konsol itu, lalu beralih pada mata Arkan yang tidak menunjukkan keraguan sedikit pun. "Kau g***..." bisik Elian, suaranya tercekat di tenggorokan. "Jika kau meledakkan tempat itu, air dan api akan menyatu. Seluruh kota bawah... jutaan rakyat jelata... mereka semua akan mati dalam hitungan menit!"
"Bukan kematian, Elian. Melainkan pembersihan," koreksi Arkan dengan nada bicara yang teramat tenang, seolah sedang membicarakan cuaca esok hari. "Kaum pemberontak yang kau pimpin, para bangsawan korup yang kau bela, dan rakyat jelata yang tidak tahu diri itu—mereka semua adalah benang-benang kusut dalam tenunan takdirku. Untuk merajut pola yang baru dan sempurna, benang-benang lama ini harus dibakar hingga menjadi abu."
"Jangan lakukan itu, Arkan!" teriak Valerie, air mata akhirnya menetes melewati pipinya yang kotor oleh abu. "Mereka tidak bersalah! Ini bukan perang mereka!"
"Dalam permainan takdir, tidak ada yang namanya tidak bersalah, Gadis Penenun," sahut Arkan dingin.
Tanpa ragu sedikit pun, Arkan menarik tuas merah itu ke bawah.
*KLIK.*
Suara mekanisme logam yang berat mengunci terdengar sangat jelas di dalam ruangan yang bising itu. Seketika, getaran hebat mulai terasa dari bawah lant** marmer. Suara gemuruh rendah, mirip dengan erangan monster purba yang terbangun dari tidurnya, mulai bergema dari kedalaman menara. Lampu-lampu kristal yang bergantung di langit-langit bergoyang hebat, menjatuhkan pecahan kaca ke lant**.
"Mekanisme penghancur telah aktif," ucap Arkan, matanya berbinar oleh keg***an yang agung. "Dalam waktu tiga menit, katup bendungan akan terbuka penuh dan sumbu mesiu akan tersulut. Tidak ada jalan kembali."
Arkan kemudian menunjuk ke arah sisi kiri konsol, di mana sebuah tuas kecil berwarna perak berputar searah jarum jam secara perlahan, dilingkari oleh deretan angka penunjuk waktu yang terus berkurang.
"Itu adalah tuas penjinak manual," lanjut Arkan, menurunkan pedangnya ke posisi siaga. "Hanya bisa diaktifkan secara fisik dari dekat. Tapi, tentu saja, aku berdiri di sini. Jika kau ingin menjangkaunya, kau harus melewati bilah pedangku."
Arkan mengambil langkah menyamping, menempatkan dirinya tepat di depan tuas penjinak tersebut, namun matanya tetap tertuju pada pintu keluar di sayap barat menara—jalur pelarian pribadinya yang telah dipersiapkan dengan matang.
"Sekarang, Elian," Arkan menawarkan sebuah senyuman yang teramat kejam. "Pilihan ada di tanganmu. Kejar aku, puaskan dendam pribadimu atas kematian keluargamu, dan biarkan jutaan jiwa di bawah sana tenggelam dalam air bah dan api. Atau... selamatkan kota si**** ini, jadilah pahlawan yang tidak akan pernah mereka kenal, dan biarkan aku melenggang pergi untuk membangun kembali kerajaanku di tempat lain."
Dunia seakan melambat di sekitar Elian.
Di telinga kirinya, ia mendengar suara gemuruh air dan ledakan kecil yang mulai terjadi di kedalaman tanah, pertanda waktu mereka hampir habis. Di telinga kanannya, ia mendengar isak tangis Valerie yang memohon agar ia menghentikan keg***an ini. Dan di dalam dadanya, api dendam yang telah membakarnya selama sepuluh tahun berteriak menuntut darah Arkan.
Arkan berada hanya sepuluh langkah darinya. Jika Elian mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk menyerang, ia mungkin bisa menebas leher pria itu. Ia bisa melihat darah Arkan mengalir. Ia bisa mengakhiri mimpi buruknya. Namun, duel itu akan memakan waktu. Dan dalam waktu yang terbuang itu, jutaan orang yang tidak berdosa—anak-anak, ibu-ibu, orang-orang tua yang sedang meringkuk ketakutan di rumah mereka—akan tewas seketika.
*Apakah aku akan menjadi monster yang sama dengannya demi membalas dendam?* tanya Elian pada dirinya sendiri.
Kenangan masa kecilnya yang hancur karena keserakahan para penguasa melintas cepat. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia mengangkat senjata untuk melindungi mereka yang lemah, bukan untuk mengorbankan mereka demi kepuasan pribadinya.
"Aku bukan dirimu, Arkan," bisik Elian, suaranya begitu rendah namun sarat dengan ketetapan hati yang mutlak.
Elian melepaskan kuda-kuda bertarungnya. Ia menurunkan pedang obsidiannya, membiarkan ujung bilahnya menyeret lant** marmer dengan suara berkerit yang memilukan.
Arkan mengerutkan kening, tampak sedikit terkejut, namun kemudian seringai kemenangan tersungging di bibirnya yang tipis. "Kau lemah, Elian. Kasih sayang adalah kelemahan terbesar seorang penenun."
"Ini bukan kelemahan," geram Elian. "Ini adalah hal yang membedakanku darimu!"
Dengan raungan yang memecah kesunyian, Elian tidak menerjang ke arah Arkan untuk menyerang, melainkan melompat lurus ke arah konsol kuningan, tangannya terjulur bebas demi meraih tuas penjinak perak yang terus berputar cepat. Ia sengaja membuka seluruh pertahanan tubuhnya. Ia melepaskan semua perlindungan diri.
Mata Arkan menyipit dingin. Melihat celah lebar yang sengaja dibiarkan terbuka, ia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan kecepatan yang mengerikan, Arkan mengayunkan pedang obsidiannya dalam satu tebasan diagonal yang fatal, mengincar dada Elian yang tanpa perlindungan.
*SREEEET!*
Bilah baja hitam itu merobek jubah taktis Elian, menyayat kulit, memotong otot dada, dan menggores tulang rusuknya dengan kejam. Darah merah segar menyembur seketika, mengotori udara malam dan membasahi permukaan konsol kuningan yang berkilau.
Elian melolong kesakitan. Rasa sakit yang teramat sangat, bagai disiram minyak mendidih, menjalar ke seluruh sistem sarafnya. Pandangannya langsung memutih sekejap. Namun, dengan sisa kesadaran yang hampir padam dan kekuatan kehendak yang melampaui batas manusia biasa, Elian menolak untuk jatuh.
Sambil membiarkan pedang Arkan masih bersarang atau baru saja lewat dari tubuhnya, Elian melemparkan seluruh berat badannya ke depan. Tangan kanannya yang bersimbah darah berhasil mencengkeram tuas penjinak perak itu.
"Heeaaarrgghhh!"
Dengan satu sentakan terakhir yang menguras seluruh sisa hidupnya, Elian menarik tuas tersebut ke arah berlawanan.
*KRETEK... DUG!*
Roda-roda gigi di dalam konsol berputar balik dengan suara bising yang m****akkan telinga. Pipa-pipa tembaga yang tadinya bergetar hebat tiba-tiba melepaskan uap putih yang pekat, dan gemuruh dari bawah tanah perlahan-lahan mereda hingga akhirnya sunyi senyap. Lampu peringatan merah padam, digantikan oleh pendar hijau yang redup.
Sistem penghancur berhasil dijinakkan. Kota itu selamat.
Elian terhuyung ke belakang, tangannya terlepas dari tuas. Ia jatuh berlutut di atas lant** yang kini digenangi oleh darahnya sendiri. Tangan kirinya gemetar hebat saat mencoba menekan luka robek besar di dadanya, namun darah terus mengalir deras di sela-sela jarinya. Napasnya pendek dan tersengal-sengal, setiap hembusan mengeluarkan suara keputusasaan yang tipis.
Valerie menjerit histeris, mencoba melepaskan ikatan talinya dengan sia-sia. "Elian! Tidak! Bertahanlah, kumohon!"
Arkan berdiri beberapa langkah dari Elian, menatap mantan muridnya itu dengan ekspresi yang sulit diartikan. Ada sedikit rasa kecewa, namun juga ada semacam rasa hormat yang dingin di matanya yang kelabu. Ia menyeka setitik darah yang tepercik ke wajahnya sendiri dengan punggung tangan yang mengenakan sarung tangan kulit.
"Kau menyelamatkan mereka, Elian. Tapi dengan harga berapa?" Arkan bertanya, suaranya terdengar jauh di telinga Elian yang mulai berdengung. "Kau akan mati di sini, di tengah puing-puing ini, sementara mereka yang kau selamatkan bahkan tidak akan pernah tahu namamu. Sungguh akhir yang tragis untuk seorang penenun takdir."
Arkan menyarungkan kembali pedang obsidiannya dengan bunyi klik yang rapi. Ia melirik ke luar jendela, di mana fajar pertama mulai menyingsing di balik kepulan asap hitam kota yang terbakar, lalu kembali menatap Elian yang semakin melemah.
"Selamat tinggal, Elian. Kau adalah karya terbaikku yang gagal," ucap Arkan pelan.
Tanpa membuang waktu lagi, Arkan berbalik dan melangkah cepat menembus tirai asap di sayap barat menara, menghilang ke dalam kegelapan dan meninggalkan kekacauan yang telah ia ciptakan. Elian ingin sekali bangkit, ingin sekali mengejarnya, namun tubuhnya tidak lagi mematuhi perintah otaknya.
Pandangan Elian kian menggelap di sudut-sudutnya. Ia tersungkur ke samping, berbaring di atas marmer dingin yang bersimbah darahnya sendiri. Di tengah kesadarannya yang kian menipis, ia bisa mendengar langkah kaki yang mendekat dengan tergesa-gesa—Valerie yang entah bagaimana berhasil merenggut dirinya bebas dari kursi yang terbakar.
Tangan hangat Valerie menyentuh pipi Elian yang dingin, sementara air mata wanita itu menetes basah ke wajahnya.
"Tetap buka matamu, Elian... kumohon, tetaplah bersamaku..." bisik Valerie dengan suara yang terpecah oleh tangis.
Elian tidak bisa menjawab. Namun, saat ia menatap langit-langit menara yang runtuh dan melihat secercah cahaya matahari pagi yang mulai menembus kegelapan asap, sebuah kedamaian yang aneh merayapi hatinya. Ia memang kehilangan kesempatan untuk membalas dendamnya malam ini, dan ia mungkin kehilangan nyawanya. Namun, ia tahu, ia telah memenangkan pertempuran yang jauh lebih penting.
Ia telah memilih untuk tetap menjadi manusia.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!