**BAB 14: SAJAK TERAKHIR PENENUN TAKDIR**
Konsol kuningan di hadapan Arkan bergetar hebat, memancarkan cahaya merah pekat yang berpendar dari sela-sela roda gigi mekanisnya. Alat itu bukan sekadar mesin biasa; itu adalah *Jantung Aethelgard*, sebuah artefak kuno yang terhubung langsung dengan jaringan pipa gas ether di bawah fondasi ibu kota. Satu tarikan tuas lagi, dan seluruh kota akan tenggelam dalam lautan api yang tak akan menyisakan apa pun selain abu dan penyesalan.
"Lihatlah keindahan ini, Elian," bisik Arkan, jemarinya yang ramping dan pucat mengelus tuas kuningan dengan kemesraan seorang kekasih. "Semua fajar yang pernah kau saksikan akan memucat dibanding keindahan api penyuci yang akan segera melahap kota ini. Kekaisaran yang korup ini butuh pembersihan, dan kita adalah para penenun yang terpilih untuk merajut lembaran barunya."
"Kau g***, Arkan!" suara Valerie memecah keheningan yang mencekam, meskipun ia harus terbatuk karena asap yang kian menebal di udara. Tubuhnya yang terikat pada pilar batu tampak gemetar, namun matanya memancarkan keberanian yang tak padam. "Itu bukan penenunan takdir, itu adalah pembant**an massal!"
Arkan tidak memedulikan teriakan Valerie. Tatapannya tetap terkunci pada Elian, yang kini bertumpu pada satu lututnya. Darah segar terus mengalir dari bahu kiri Elian, menetes lambat di atas lant** marmer yang retak, menciptakan pola-pola merah yang ganjil. Napas pemuda itu terdengar berat dan tersengal, seperti helaan napas seekor binatang buruan yang telah terdesak di ujung jurang.
"Nah, Elian," Arkan tersenyum, senyum dingin yang selalu ia tunjukkan saat memberikan pilihan mustahil pada murid-muridnya di masa lalu. "Kau punya dua pilihan. Menyerangku dengan sisa tenagamu yang menyedihkan itu dan membiarkan tuas ini kuturunkan sepenuhnya, atau mencoba menghentikan aliran ether ini dengan merusak konsol, yang berarti kau harus memunggungi pedangku. Pilihan yang adil bagi seorang pembawa dendam, bukan?"
Dilema itu menghantam Elian seperti hantaman godam tak kasat mata. Otaknya berputar cepat di antara rasa sakit yang mendera seluruh tubuhnya. Jika ia menyerang Arkan, pria itu pasti akan sempat menarik tuas sebelum napas terakhirnya, mengorbankan ratusan ribu jiwa tak berdosa di luar sana. Namun, jika ia memusatkan tenaganya untuk menyabotase konsol kuningan itu, ia akan membiarkan dirinya terbuka sepenuhnya terhadap serangan mematikan dari sang Grandmaster.
Sepuluh tahun hidupnya dihabiskan hanya untuk satu tujuan: membalas dendam atas pembant**an keluarganya. Namun, saat ia menatap ke luar jendela yang pecah—melihat kelap-kelip lampu rumah-rumah penduduk yang masih terlelap, tidak menyadari maut yang mengint** di bawah kaki mereka—sesuatu dalam diri Elian bergeser. Ia teringat akan janjinya pada dirinya sendiri saat masih kecil, sebelum dendam meracuni jiwanya. Ia ingin menjadi seorang pelindung, bukan monster yang menumpahkan darah demi memuaskan amarahnya sendiri.
*Aku tidak akan membiarkanmu merenggut kota ini, Arkan,* batin Elian. Tekadnya membulat.
"Valerie..." bisik Elian, suaranya nyaris tak terdengar, namun matanya yang terlindung di balik helaian rambut basah menatap gadis itu dengan kejelasan yang mutlak. "Maafkan aku."
Tanpa menunggu jawaban, Elian mengerahkan seluruh sisa energi *Aura Tenun* yang tersisa di dalam pusat jiwanya. Alih-alih menerjang Arkan, ia melompat ke arah konsol kuningan. Dengan raungan yang memecah kesunyian, Elian menghantamkan tangan kanannya yang diselimuti energi murni langsung ke dalam celah roda gigi *Jantung Aethelgard*.
*BUM!*
Ledakan energi balik menghantam tubuh Elian, mengirimkan rasa sakit yang luar biasa seolah-olah seluruh urat nadinya dibakar dari dalam. Namun, ia bertahan. Jemarinya mencengkeram poros utama mesin, memutarnya dengan paksa berlawanan arah jarum jam demi mengunci aliran gas ether. Suara logam berdecit keras, diiringi oleh kepulan asap hitam dan percikan api biru yang menyembur ke wajah Elian. Mesin itu mendengus mati; aliran destruktif berhasil dihentikan. Kota itu aman.
Namun, harga yang harus dibayar sangatlah mahal.
"Keputusan yang sangat bodoh, Elian," suara Arkan terdengar tepat di belakang telinganya, dingin dan tanpa ampun.
*SREK!*
Bilah pedang perak milik Arkan menusuk tepat di sela belikat kiri Elian, menembus bahunya hingga ujung logam tajam itu muncul di bagian depan dadanya. Elian memuntahkan darah segar, tubuhnya menegang hebat saat rasa dingin yang membekukan dari pedang Arkan menjalar ke jantungnya.
"Kau mengorbankan nyawamu demi orang-orang yang bahkan tidak akan pernah mengetahui namamu," Arkan berbisik di dekat telinga Elian, suaranya dipenuhi kekecewaan yang mendalam. "Kau mati sebagai pion yang gagal."
Namun, di tengah rasa sakit yang mematikan itu, sebuah senyuman tipis terukir di sudut bibir Elian yang berlumuran darah. Arkan mengira ia telah menang. Arkan mengira pengorbanan Elian adalah bentuk keputusasaan. Grandmaster itu terlalu sombong hingga ia tidak menyadari satu hal: dengan menusuk Elian dari belakang, Arkan harus melangkah sangat dekat, meninggalkan posisi bertahannya yang sempurna. Dan yang paling penting, pedang Arkan kini tertancap di tubuh Elian, membuat kedua tangan sang Grandmaster terikat pada gagang pedangnya sendiri untuk sesaat.
Ini adalah celah terkecil, sebuah fraksi detik yang ditenun oleh takdir dari keputusan tanpa pamrih Elian.
"Aku bukan pion, Arkan..." bisik Elian, suaranya parau namun mantap. "Aku adalah penenun takdirku sendiri."
Dengan sentakan liar yang tak terduga, Elian tidak mencoba melepaskan diri dari pedang yang menancap di tubuhnya. Sebaliknya, ia justru merangsek mundur, membiarkan pedang Arkan menusuk lebih dalam ke tubuhnya demi memperdekat jarak di antara mereka. Tangan kanan Elian yang memegang bilah obsidian melesat ke belakang dalam satu gerakan memutar yang presisi—sebuah teknik terlarang yang pernah diajarkan Arkan untuk situasi tanpa harapan.
*SPLAT!*
Ujung tajam bilah obsidian milik Elian menembus dada kiri Arkan, tepat di mana jantung sang Grandmaster berdetak.
Waktu seakan berhenti berputar.
Mata kelabu Arkan melebar dalam keterkejutan yang amat sangat. Napasnya tercekat di tenggorokan saat ia merasakan dinginnya logam obsidian mulai membekukan aliran darahnya. Ia menatap Elian, lalu menatap pedang hitam yang bersarang di dadanya. Keanggunan dan kesombongan yang selama ini melekat erat pada dirinya runtuh seketika, digantikan oleh ketakutan purba yang tak terbendung.
"Bagaimana... bagaimana mungkin..." bisik Arkan, darah mulai menetes dari sela bibirnya yang memucat. "Benang takdirmu... seharusnya sudah terputus..."
"Benang takdirku tidak pernah putus, Arkan," ucap Elian, menatap langsung ke dalam mata pria yang telah menghancurkan hidupnya, kini tanpa ada lagi rasa benci, hanya ada kedamaian yang murni. "Aku hanya memilih untuk menenunnya dengan benang yang berbeda. Bukan dengan dendam... tapi dengan perlindungan."
Elian menarik bilah obsidiannya dengan satu sentakan terakhir. Tubuh Arkan limbung ke belakang. Grandmaster legendaris yang pernah mengguncang kekaisaran itu jatuh berlutut, sebelum akhirnya tersungkur di atas lant** marmer yang dingin. Matanya tetap terbuka, menatap langit-langit aula yang runtuh, kosong tanpa menyisakan kehidupan lagi. Teror sang Grandmaster telah berakhir untuk selamanya.
Bersamaan dengan jatuhnya Arkan, kekuatan Elian benar-benar terkuras habis. Lututnya goyah, dan ia terjatuh ke samping, napasnya terdengar seperti embusan angin malam yang sekarat.
"Elian!"
Dengan sisa kekuatan yang ada, Valerie berhasil merenggut dirinya dari pilar batu setelah ikatan talinya melonggar akibat guncangan ledakan sebelumnya. Ia berlari panik, lututnya menghantam lant** saat ia menjatuhkan diri di samping tubuh Elian. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia mengangkat kepala Elian dan menyandarkannya di pangkuannya, mencoba menahan pendarahan hebat di dada pemuda itu dengan telapak tangannya.
"Tidak, tidak, tidak... Elian, bertahanlah!" tangis Valerie pecah. Air matanya jatuh menetes di pipi Elian yang kotor oleh jelaga dan darah. "Mesinnya sudah mati, Arkan sudah kalah! Kita bisa pergi dari sini. Aku akan mencarikan tabib untukmu. Kau harus hidup!"
Elian menatap wajah Valerie yang buram di sela pandangannya yang mulai menggelap. Ia merasakan kehangatan jemari gadis itu, sebuah kontras yang indah dari dinginnya kematian yang perlahan merayapi ujung-ujung jarinya.
"Valerie..." bisik Elian lemah. Setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti beban seberat gunung, namun ia memaksakan diri untuk berbicara. "Jangan menangis... Lihatlah ke luar."
Valerie menolehkan kepalanya ke arah jendela besar yang hancur. Di ufuk timur, kegelapan malam yang pekat perlahan memudar, digantikan oleh semburat warna merah muda, jingga, dan emas yang lembut. Langit subuh merekah dengan begitu indahnya di atas kota Aethelgard. Asap kebakaran di luar perlahan menipis, digantikan oleh ketenangan fajar yang baru. Kota itu telah selamat. Kekaisaran itu memiliki kesempatan untuk memulai kembali, bebas dari bayang-bayang tirani Arkan maupun lingkaran s**** dendam masalalu.
"Indah sekali, bukan?" gumam Elian, matanya merefleksikan cahaya fajar yang perlahan menyinari wajahnya. "Sajak terakhir... yang kutulis untuk dunia ini."
"Ini bukan akhir darimu, Elian," isak Valerie, mendekap tubuh pemuda itu lebih erat, mengabaikan darah yang kini menodai pakaiannya sendiri. "Kau menyelamatkan mereka semua. Kau adalah pahlawan kota ini. Mereka harus tahu apa yang telah kau lakukan!"
Elian menggelengkan kepalanya dengan sangat lambat. "Biarkan mereka mengingatku sebagai... sang pelindung yang menenun kedamaian. Bukan sebagai monster dendam yang haus darah. Aku telah menyelesaikan bagianku, Valerie..."
Kesadaran Elian mulai mengapung, menjauh dari rasa sakit fisik yang sedari tadi menyiksanya. Rasa dingin itu kini terasa hangat, seperti selimut lembut di malam musim dingin. Ia tidak lagi merasakan amarah, tidak lagi merasakan kepedihan atas masa lalunya yang kelam. Semua benang takdirnya yang kusut dan penuh duri kini telah terurai menjadi jalinan kain yang halus dan indah.
Ia menatap Valerie untuk terakhir kalinya, mengukir wajah gadis itu dalam ingatannya yang paling dalam.
"Terima kasih... telah menemaniku di ujung benang ini," bisik Elian, nyaris berupa embusan napas.
Sebuah senyuman damai yang tulus—senyuman yang belum pernah ia tunjukkan selama sepuluh tahun terakhir—terukir di wajahnya. Perlahan, kelopak mata Elian menutup, meredupkan binar keemasan di matanya untuk selamanya. Kepalanya terkulai pasrah di bahu Valerie, seiring dengan helaan napas terakhirnya yang terlepas dengan begitu lembut, menyatu bersama angin subuh yang bertiup ma**k membawa aroma tanah basah dan harapan baru.
Valerie terisak dalam diam, mendekap erat tubuh yang kini telah kehilangan kehangatannya itu. Di bawah langit subuh yang kian terang benderang menerangi kehancuran di sekitar mereka, sebuah sajak takdir telah selesai ditulis. Elian tidak mati sebagai korban, tidak pula sebagai monster yang tersesat dalam dendamnya. Ia pergi sebagai seorang penenun sejati—yang dengan benang hidupnya sendiri, telah merajut fajar yang baru bagi kekaisaran.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!