Dendam Sang Penenun Takdir

Bab 2: Bangkit dari Liang Kubur

Pengaturan Membaca

**BAB 2: BANGKIT DARI LIANG KUBUR**

Rasa dingin yang menusuk tulang adalah hal pertama yang menyentak kesadaran Elian. Namun, dinginnya salju Lembah Sunyi tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kekosongan yang menganga di dalam dadanya.

Saat matanya perlahan terbuka, langit di atasnya hanyalah kepulan kabut abu-abu yang berputar-putar di celah sempit tebing tinggi. Ia terlentang di atas tumpukan batu runcing yang dilapisi es tipis. Setiap kali napasnya berembus, rasa sakit yang luar biasa menjalar dari dada, menjalar ke seluruh tulang rusuknya yang patah, dan memuncak di bahu kirinya yang hancur.

Ia mengingat semuanya.

Malam itu, di tengah pembant**an klan Benang Merah. Saat ia berlutut di depan jasad Ken yang bersimbah darah, sebuah bilah pedang telah menembus punggungnya sendiri. Tusukan itu begitu presisi, begitu mematikan—sebuah teknik yang hanya dikuasai oleh satu orang di dunia ini.

*“Kau terlalu tajam, Elian. Dan jarum yang terlalu tajam hanya akan merusak anyaman yang sedang kubuat.”*

Suara itu. Suara Grandmaster Arkan. Pria yang ia panggil "Ayah", pria yang mengajarinya cara memegang belati, telah menatapnya dengan mata sedingin es sebelum menendang tubuhnya yang sekarat ke dalam jurang terdalam Lembah Sunyi.

"Arkan..." bisik Elian. Suaranya tidak lebih dari sekadar desis parau yang langsung ditelan deru angin badai. "Kau... ba******..."

Elian mencoba menggerakkan tangan kanannya. Jari-jarinya terasa kaku, membeku di bawah suhu sub-nol. Rasa sakit yang membakar dari luka tusukan di punggungnya kembali menyerang, membuatnya terbatuk hebat. Darah segar berwarna merah pekat menyembur dari mulutnya, menodai salju putih di sekitarnya.

Secara logika medis, ia seharusnya sudah mati. Jatuh dari ketinggian ratusan meter dengan luka tusuk di paru-paru adalah kepastian maut. Namun, takdir tampaknya belum selesai mempermainkannya. Atau mungkin, ada sesuatu yang lebih kuat dari kematian yang menahan jiwanya tetap melekat pada raga yang hancur ini: amarah. Amarah yang membakar, yang mendidih di dalam darahnya, melelehkan rasa dingin yang mencoba membekukan jantungnya.

"Aku tidak akan mati di sini," geram Elian pada dirinya sendiri. Gigi-giginya bergemertak, menahan rasa sakit yang luar biasa saat ia memaksa tubuhnya berputar, mengubah posisinya menjadi telungkup. "Belum... sebelum aku memotong tenggorokanmu, Arkan."

Dengan sisa-sisa tenaga yang tidak ma**k akal, Elian mulai merangkak.

Setiap jengkal pergerakan terasa seperti siksaan neraka. Siku kanannya yang terluka terseret di atas batu tajam, mengoyak kulit dan meninggalkan jejak darah di atas salju. Kakinya yang patah terseret tak berdaya di belakang bagai sepotong kayu mati. Ia merangkak tanpa arah, hanya mengandalkan insting bertahan hidup yang telah ditempa selama bertahun-tahun sebagai pembunuh bayaran terbaik.

Logika pembunuh dalam dirinya berbisik: *Cari tempat berlindung. Cari kehangatan, atau badai salju ini akan menyelesaikan apa yang gagal diselesaikan oleh Arkan.*

Setelah berjam-jam yang terasa seperti keabadian, dalam keadaan setengah sadar, mata Elian menangkap sebuah celah gelap di dinding tebing. Sebuah gua kecil yang tersembunyi di balik unt**an es yang menjunt**. Dengan sisa kesadaran yang kian menipis, ia menyeret tubuhnya ma**k ke dalam kegelapan gua tersebut, sebelum akhirnya kegelapan yang sesungguhnya merenggut kesadarannya.

***

Tiga bulan berlalu dalam keheningan yang menyiksa di dalam gua terpencil itu.

Gua itu menjadi saksi bisu dari rekonstruksi sebuah monster. Di dalam kegelapan yang lembap, Elian merawat dirinya sendiri dengan cara yang paling brutal. Tanpa tanaman obat, tanpa tabib, ia hanya mengandalkan pengetahuannya tentang anatomi tubuh manusia.

Suatu malam, di bawah cahaya temaram dari api unggun kecil yang dinyalakan dari dahan-dahan kering di sekitar mulut gua, Elian menggigit sepotong kayu tebal. Tangan kanannya memegang erat tulang bahu kirinya yang bergeser.

"Satu... dua..."

*KRAK!*

Suara tulang yang kembali ke sendinya bergema di dalam gua, diikuti oleh raungan tertahan dari tenggorokan Elian. Keringat dingin bercampur darah menetes dari dahinya. Tubuhnya mengejang hebat di atas tanah yang dingin, namun matanya tetap menyala dengan api kebencian yang tidak pernah padam.

Proses pemulihan fisiknya adalah lingkaran s**** dari rasa sakit dan latihan ekstrem. Begitu tulangnya mulai menyambung, Elian tidak membiarkan dirinya beristirahat. Ia memaksa tubuhnya bekerja melebihi batas kemanusiaan.

Di dalam gua, ia memasang tali tambang yang ditemukannya dari reruntuhan pos penjaga di dasar jurang. Ia melakukan *pull-up* dengan satu tangan, membiarkan luka di punggungnya kembali meregang dan berdarah, lalu mengering kembali menjadi jaringan parut yang tebal dan keras. Ia berlari di atas tumpukan batu dengan kaki yang baru saja sembuh, membiarkan rasa sakit melatih kembali saraf-sarafnya agar kebal terhadap penderitaan.

Setiap kali ia merasa lelah dan ingin menyerah pada kematian yang damai, bayangan wajah-wajah saudaranya yang tewas akan muncul di benaknya.

*“Kak Elian... dingin sekali...”* suara fiktif Ken berbisik dalam delusinya.

*“Kenapa kau tidak menyelamatkan kami, Elian?”* giliran Lia yang menatapnya dengan mata kosong dan berdarah dalam mimpinya.

"Aku akan membalaskan kalian," bisik Elian di tengah kegelapan malam, napasnya memburu setelah menyelesaikan seribu kali pukulan ke dinding batu gua hingga buku-buku jarinya hancur dan berdarah. "Aku akan merajut kembali benang-benang takdir mereka. Tapi kali ini, aku tidak akan merajut kehidupan. Aku akan merajut kain kafan untuk mereka semua."

***

Mema**ki bulan keempat, fisik Elian telah berubah sepenuhnya. Ia kehilangan berat badannya, namun tubuhnya kini tampak seperti unt**an kawat baja yang liat dan efisien. Kulitnya dipenuhi bekas luka baru yang tumpang tindih dengan tato klan Benang Merah yang kini tampak rusak di punggungnya.

Kini, tiba saatnya untuk bagian terpenting dari kebangkitannya: persenjataan.

Di sudut gua, terdapat sebuah celah vulkanis kecil yang mengalirkan panas bumi dari kedalaman gunung—sebuah tungku alami yang sempurna. Elian mengumpulkan sisa-sisa belati perak lamanya yang patah saat terjatuh, bersama dengan beberapa bilah pedang baja milik para prajurit pengkhianat yang tewas di sekitar tebing.

Dengan palu batu darurat dan landasan dari batu granit hitam yang keras, Elian mulai menempa.

*Ting! Ting! Ting!*

Suara benturan logam bergema ritmis di dalam gua, berirama dengan detak jantungnya yang dipenuhi dendam. Elian membiarkan api vulkanis melelehkan logam-logam tersebut, menyatukan perak murni yang melambangkan masa lalunya dengan baja hitam yang akan menjadi masa depannya.

"Arkan mengajariku bahwa senjata seorang penenun haruslah tidak terlihat," gumam Elian seraya menatap cairan logam yang membara merah. "Tapi dia salah. Senjata seorang penenun takdir yang baru haruslah sesuatu yang meninggalkan bekas yang tak terlupakan sebelum korbannya mati."

Selama berminggu-minggu, Elian tidak pernah tidur lebih dari dua jam sehari. Ia memoles, mengasah, dan membentuk kembali logam panas itu.

Hingga akhirnya, dari dalam tempaan dingin dan api kemarahan, lahirlah sepasang senjata baru.

Dua belati kembar. Bilahnya berwarna hitam kelam bagai malam tanpa bintang, namun di sepanjang tepinya yang melengkung tajam, terdapat guratan perak tipis yang menyerupai seutas benang. Desainnya sangat tidak biasa; bagian punggung belati memiliki gerigi halus yang dirancang bukan hanya untuk menusuk, melainkan untuk merobek daging dan mengunci bilah senjata musuh. Gagangnya dibebat dengan kulit tebal, pas di genggaman tangannya yang kini sekeras batu.

Elian mengangkat kedua belati itu sejajar dengan matanya. Cahaya api unggun memantul di permukaan bilahnya yang hitam, memproyeksikan bayangan sepasang mata yang telah kehilangan seluruh kemanusiaannya.

"Indah," bisik Elian. Suaranya dingin, tanpa emosi, bagai embusan angin makam. "Kusebut kalian *Benang Kematian*."

Ia melangkah menuju dinding gua yang kokoh. Dengan satu gerakan kilat yang hampir tidak tertangkap mata, tangannya menebas ke depan.

*SREK!*

Dinding batu yang keras terbelah, meninggalkan goresan dalam yang rapi tanpa membuat bilah belatinya gompal sedikit pun. Kecepatannya telah kembali, bahkan jauh lebih mematikan dari sebelumnya karena kini gerakannya tidak lagi tertahan oleh keraguan atau belas kasihan.

Elian menyelipkan kedua belati itu ke dalam sarung kulit baru yang ia pasang menyilang di punggungnya. Ia kemudian berjalan menuju mulut gua, menatap hamparan Lembah Sunyi yang tertutup salju di bawahnya. Badai salju telah reda, menyisakan pemandangan yang sunyi dan mati.

"Kalian mengira telah membunuh sang Penenun Takdir," kata Elian, matanya menatap tajam ke arah ibu kota kekaisaran yang samar-samar terlihat di balik cakrawala.

Ia menarik jubah hitamnya yang compang-camping, menutupi kepala dan sebagian wajahnya, menyembunyikan bekas luka yang melintang di pipi kirinya.

"Kalian salah. Kalian hanya membunuh pelayan yang patuh, dan melahirkan monster yang akan memburu kalian sampai ke ujung neraka."

Elian melangkah keluar dari gua, menginjakkan kakinya di atas salju tebal. Langkah kakinya tidak lagi meninggalkan jejak yang dalam; ia bergerak seringan bayangan, namun membawa beban dendam yang sanggup meruntuhkan sebuah kerajaan.

Babak baru telah dimulai. Dan benang takdir para pengkhianat kini telah berada di ujung belati kembarnya, siap untuk dipotong satu demi satu.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca