**BAB 3: DARAH DI ATAS KANVAS**
Gerimis tipis membungkus Ibu Kota Kekaisaran, menyelimuti jalanan berbatu dengan kabut dingin yang kelabu. Cahaya dari lampu gantung kristal di sepanjang jalan distrik bangsawan tampak pudar, seolah-olah kemewahan kota ini pun enggan berhadapan dengan kegelapan malam. Di bawah bayang-bayang pilar marmer sebuah teater tua, seorang pria berdiri tak bergerak.
Jubah beludru hitam berkerah tinggi menutupi hampir seluruh tubuhnya, menyembunyikan siluet kurus namun kokoh yang menyimpan selaksa luka. Topeng perak berukir sulur-sulur mati menutupi wajah bagian atasnya, menyisakan sepasang mata kelabu yang menatap tanpa emosi ke arah seberang jalan. Di sana berdiri Galeri Emas Vane, sebuah bangunan megah bergaya gotik yang menjadi simbol kekayaan tak terbatas pemiliknya.
Elian telah kembali dari liang kubur.
Enam bulan dihabiskan dalam penderitaan fisik yang tak terbayangkan untuk menyembuhkan tulang-tulang yang remuk dan merajut kembali otot-otot yang terkoyak. Kini, setiap hembusan napasnya tidak lagi berbau salju Lembah Sunyi, melainkan aroma anyir dari dendam yang telah matang.
"Baron Vane," bisik Elian, suaranya parau dan dingin, bagai gesekan dua bilah pedang karatan. "Mari kita lihat seberapa mahal harga darah klanku di dalam pembukuanmu."
Baron Vane bukan sekadar kolektor seni yang gemar memamerkan lukisan kuno. Di balik jubah sutra dan senyum ramahnya di kalangan istana, ia adalah bendahara utama Benang Merah. Dialah yang mencuci uang hasil pembunuhan, dan yang lebih penting, dialah yang mendanai persenjataan serta tentara bayaran yang membant** klan Elian atas perintah Grandmaster Arkan.
Elian melangkah keluar dari bayang-bayang. Gerakannya begitu sunyi, hampir-hampir menyerupai hantu yang melayang di atas genangan air hujan.
Pintu ma**k galeri dijaga oleh empat tentara bayaran bertubuh kekar. Mereka mengenakan zirah rant** dan memegang tombak berujung perak. Mereka adalah anggota faksi "Taring besi", kelompok pembunuh bayaran kelas dua yang terkenal kejam.
"Hei! Galeri sudah ditutup untuk umum. Pergi dariβ"
Kata-kata penjaga itu terputus. Elian tidak memberinya kesempatan untuk menyelesaikan kalimat. Dalam satu gerakan yang mustahil diikuti mata te*******, Elian melesat maju. Tangan kanannya mencengkeram tenggorokan penjaga pertama, sementara tangan kirinya merebut belati dari pinggang penjaga tersebut dan menusukkannya tepat di bawah rahang penjaga kedua hingga menembus otak.
*Jleb!*
Darah segar menyembur hangat, membasahi topeng perak Elian. Dua penjaga lainnya terperangah, namun sebelum mereka sempat berteriak atau membunyikan lonceng peringatan, Elian memutar tubuhnya. Ia menggunakan tubuh penjaga pertama yang sekarat sebagai tameng dari tusukan tombak, lalu menyapu kaki penjaga ketiga hingga jatuh menghantam lant** marmer. Dengan tumitnya, Elian menghentak dada pria itu hingga terdengar bunyi berderak mengerikan dari tulang rusuk yang patah menembus jantung.
Penjaga terakhir, yang gemetar ketakutan, mencoba mundur dan menarik pelatuk busur silang di tangannya. Namun, Elian meluncurkan belati yang masih berlumuran darah di tangannya dengan presisi mematikan. Belati itu tertancap tepat di tengah dahinya. Pria itu ambruk tanpa suara.
Elian melompati mayat-mayat itu. Ia mendorong pintu ganda galeri yang terbuat dari kayu ek tebal berlapis emas, lalu melangkah ma**k ke dalam sarang sang monster.
Di dalam galeri, suasananya begitu kontras. Hangat, diterangi oleh ratusan lilin aromatik, dan dipenuhi oleh ratusan lukisan serta patung bernilai jutaan keping emas. Di tengah ruangan luas itu, belasan penjaga patroli langsung menyadari kehadirannya. Lonceng peringatan akhirnya berdentang nyaring, memecah kesunyian malam.
"Penyusup! Bunuh dia!" teriak seorang kapten penjaga berbaju zirah lengkap.
"Tangkap dia hidup-hidup! Baron Vane benci jika darah mengotori lant** marmernya!" teriak yang lain.
Elian mendengus dingin di balik topengnya. "Lant** ini memang terlalu bersih," gumamnya.
Badai aksi brutal pun dimulai.
Tiga prajurit menyerbu dengan pedang terhunus. Elian menghindari tebasan pertama dengan meliukkan tubuhnya ke belakang, sebuah gerakan fleksibel yang melampaui batas manusia biasaβwarisan dari latihan kerasnya di Benang Merah. Ia merebut kapak perang dari tangan salah satu penyerang, memutarnya, dan menebas leher pria itu hingga kepalanya menggelinding di atas karpet beludru merah.
Menggunakan kapak perang yang berat itu, Elian menjadi mesin pembant** yang tak terhentikan. Ia tidak hanya mengandalkan kekuatan, melainkan estetika mematikan yang diajarkan Arkan. Setiap tebasan, setiap tusukan, adalah tarian kematian yang efisien.
Seorang pemanah menembakkan anak panah dari lant** mezanin di atas. Tanpa melihat, Elian menangkap sebuah perisai kayu yang tergantung sebagai pajangan di dinding, menangkis anak panah tersebut, lalu melemparkan kapak perangnya ke atas. Senjata berat itu berputar di udara dan membelah dada sang pemanah, menjatuhkan tubuhnya dari lant** dua langsung menghantam sebuah patung marmer dewi kesuburan hingga hancur berkeping-keping.
"I****! Dia bukan manusia!" teriak salah satu penjaga yang tersisa, matanya terbelalak melihat bagaimana rekan-rekannya dibant** dalam hitungan menit.
Elian mendekati pria yang ketakutan itu. Ia merebut pedang panjang milik kapten yang sudah tewas. Dengan satu tebasan horizontal, ia memutus kaki pria itu, membiarkannya mengerang kesakitan di atas lant** yang kini ba**** oleh darah segar.
Bau anyir darah bercampur dengan aroma lilin mawar menciptakan atmosfer yang memuakkan. Dinding-dinding galeri yang tadinya dihiasi lukisan pemandangan indah kini tercoreng oleh cipratan darah merah pekat. Sungguh sebuah karya seni yang baru.
Elian melangkah perlahan menaiki tangga melingkar menuju ruang pribadi Baron Vane di lant** teratas. Di ujung koridor, pintu ganda berukir naga tampak tertutup rapat. Dari dalam, terdengar suara gemetar yang mencoba mengunci pintu berkali-kali.
Elian tidak repot-repot memutar pegangan pintu. Dengan satu tendangan bertenaga penuh yang dialiri sisa tenaga dalamnya, pintu kayu tebal itu jebol, terlempar dari engselnya dan menghantam meja kerja di dalam ruangan.
Baron Vane, seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan pakaian sutra hijau zamrud yang mewah, terjatuh ke belakang dengan wajah sepucat mayat. Di tangannya, ia memegang sebuah pistol pemantik api berlapis emas yang bergetar hebat.
"Si-siapa kau?! Siapa yang mengirimmu?!" teriak Vane, suaranya melengking tinggi karena panik. "Aku bisa membayarmu dua kali lipat! Tiga kali lipat! Katakan berapa hargamu!"
Elian melangkah ma**k, membiarkan pedang panjang yang diseretnya meninggalkan jejak darah panjang di atas karpet sutra Persia milik Vane. Ia melepas topeng peraknya dengan tangan kiri, memperlihatkan wajahnya yang kini dihiasi bekas luka bakar dingin di pipi kiri, namun matanya tetap samaβmata yang pernah menghantui mimpi buruk para musuh Benang Merah.
Vane tersentak. Napasnya tercekat di tenggorokan. "E-Elian...? Tidak... Tidak mungkin! Kau sudah mati! Arkan sendiri yang mengatakan bahwa kau telah dibuang ke jurang Lembah Sunyi!"
"Kematian adalah konsep yang subjektif, Baron," kata Elian, suaranya begitu tenang namun menekan udara di sekitar mereka hingga terasa menyesakkan. "Aku telah merangkak keluar dari neraka hanya untuk menepati satu janji."
Vane mencoba mengarahkan pistolnya ke dada Elian. *Dor!*
Tembakan itu menyalak, namun Elian telah memprediksi arah peluru. Ia memiringkan kepalanya sedikit, membiarkan timah panas itu lewat hanya beberapa sentimeter dari telinganya dan menghantam lukisan potret diri Vane di belakangnya. Sebelum Vane sempat mengisi ulang peluru, Elian sudah berada di depannya.
*Sret!*
Pedang Elian menebas pergelangan tangan kanan Vane. Pistol emas itu jatuh ke lant** bersama dengan tangan yang masih mencengkeramnya.
"AAAAAARRGGHHH! TANGANKU! TANGANKUUU!" raung Vane, berguling-guling di lant** sambil memegangi pangkal lengannya yang menyemburkan darah.
Elian menancapkan pedangnya ke lant** tepat di samping kepala Vane, membuat sang Baron seketika berhenti berguling karena ketakutan yang luar biasa. Elian berlutut, menjambak rambut berminyak Vane, dan memaksa pria gemuk itu menatap langsung ke dalam sepasang matanya yang sedingin es.
"Di mana Arkan?" tanya Elian, nadanya datar namun menuntut jawaban mutlak.
"Aku... aku tidak tahu! Dia tidak pernah memberi tahu siapa pun tentang keberadaannya!" rintih Vane dengan air mata dan keringat dingin yang membasahi wajahnya. "Tolong, Elian... kita pernah bekerja sama. Aku hanya mengurus keuangan! Aku tidak ikut membant** klanmu!"
"Kau yang membeli racun yang dima**kkan ke dalam makanan mereka, Vane," bisik Elian tepat di telinga Vane, membuat pria itu gemetar hebat. "Setiap keping emas yang kau salurkan adalah satu tebasan pedang pada saudara-saudaraku. Jangan berani-berani berbohong padaku. Apa rencana besar Arkan? Mengapa dia menghancurkan klan yang telah membesarkannya?"
Vane mengerang kesakitan, napasnya tersengal-sengal. "Dia... dia ingin menenun takdir yang baru... Dia berkata klan Benang Merah hanyalah benang-benang usang yang harus dibuang agar pola yang baru bisa tercipta..."
"Pola apa?!" Elian mencengkeram rambut Vane lebih erat, menariknya hingga kulit kepala pria itu nyaris robek. "Bicaralah, atau aku akan menguliti setiap jengkal kulit sutramu ini selagi kau masih bernapas!"
"Pemberontakan!" teriak Vane akhirnya, putus asa. "Dia... dia bekerja sama dengan faksi pemberontak di dalam kekaisaran! Dia ingin menjatuhkan Kaisar dan mendudukkan seorang boneka di atas takhta! Benang Merah harus dilenyapkan agar tidak ada bukti bahwa pembunuhan-pembunuhan politik yang terjadi selama ini adalah perintah dari faksi tersebut! Arkan ingin menjadi bayang-bayang di balik takhta... Dia ingin menjadi sang Penenun Takdir yang sesungguhnya!"
Elian terdiam sesaat. Informasi itu ma**k akal. Arkan selalu terobsesi dengan kendali. Baginya, manusia hanyalah bidak-bidak catur yang bisa digerakkan di atas papan takdir yang ia buat sendiri. Klan Benang Merah, meskipun setia, terlalu berbahaya jika tetap hidup karena mereka tahu terlalu banyak rahasia kotor masa lalu Arkan.
"Di mana pertemuan berikutnya?" tanya Elian lagi.
"Di... di Pelabuhan Hitam. Tiga hari lagi. Kapal dagang *The Crimson Wave*... Arkan akan bertemu dengan utusan dari utara untuk menyegel kesepakatan senjata," jawab Vane terbata-bata, darahnya kini telah membentuk genangan besar di bawah tubuhnya. "Aku... aku sudah menceritakan semuanya... Tolong... ampuni nyawaku... panggilkan tabib..."
Elian menatap Vane dengan tatapan yang sangat dingin. Tidak ada kebencian yang meledak-ledak di matanya, hanya kekosongan yang mengerikan. Kebencian adalah emosi yang terlalu berharga untuk diberikan kepada pria seperti Vane.
"Kau menyukai seni, bukan, Baron?" tanya Elian perlahan.
Vane menatapnya dengan bingung dan ketakutan yang amat sangat. "Apa...?"
Elian melepaskan jambakannya pada rambut Vane. Ia berjalan menuju sebuah kanvas putih besar yang terpasang di atas dudukan kayu di sudut ruangan. Kanvas itu adalah karya yang belum selesai, disiapkan Vane untuk pelukis istana terbaik minggu depan.
Elian mencabut pedang panjangnya dari lant**, lalu mendekati Vane kembali.
"Sebuah kanvas kosong selalu membutuhkan warna yang berani untuk memulai sebuah mahakarya," ujar Elian datar.
"Tidak... tidak! Elian, kumohonβ!"
Sebelum Vane sempat menyelesaikan teriakannya, Elian mengayunkan pedangnya dengan satu gerakan bersih. Kepala Baron Vane terpenggal dari lehernya. Darah segar menyembur deras dari arteri leher yang terputus, memercik dengan estetika yang mengerikan, tepat di atas kanvas putih bersih di sudut ruangan.
Cipratan darah itu membentuk pola abstrak yang tajam, merah pekat di atas latar belakang putih, seolah-olah menggambarkan benang-benang takdir yang terputus.
Elian menatap kanvas yang kini telah ternoda darah itu selama beberapa detik. Ia menghela napas panjang, lalu menyeka bilah pedangnya dengan jubah sutra hijau milik Vane yang kini tak bernyawa.
Ia mengambil topeng perak di lant**, mengenakannya kembali, dan melangkah keluar dari ruangan yang kini telah berubah menjadi kuburan seni tersebut.
Satu nama telah dicoret dari daftar. Masih ada banyak benang yang harus dipotong sebelum ia bisa menjerat leher Arkan. Elian berjalan menembus malam yang diguyur hujan, meninggalkan Galeri Emas Vane yang kini dipenuhi oleh bau kematian dan mahakarya darah di atas kanvas.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!