**BAB 4: RIUH DI DISTRIK MERAH**
Lampion-lampion merah yang bergantungan di sepanjang jalan Distrik Merah bergoyang ditiup angin malam, membiaskan cahaya jingga kemerahan di atas genangan air hujan yang kotor. Di tempat ini, malam tidak pernah benar-benar sunyi. Wangi candu yang pekat beradu dengan aroma alkohol murah dan parfum menyengat para wanita penghibur, menciptakan atmosfer memabukkan yang menyamarkan segala macam kebusukan.
Elian berjalan menembus kerumunan. Jubah hitamnya basah oleh gerimis, namun tudungnya ditarik rendah, menyembunyikan topeng perak yang baru saja diba**h dari darah Baron Vane beberapa jam lalu. Di bawah lipatan jubahnya, jemari Elian meraba sekeping koin tembaga berukir labah-labah berkaki delapan—pemberian terakhir yang dipaksa keluar dari mulut Baron Vane yang sekarat sebelum Elian memotong urat nadinya.
*“Perg***h ke Griya Candu Merah,”* ratap Vane kala itu, gemetar di antara genangan darahnya sendiri. *“Sybilla... Madame Sybilla yang memegang semua benang informasi. Dialah mata dan telinga Arkan. Jangan bunuh aku, Elian! Aku hanya menyimpan uangnya!”*
Tentu saja, Elian tetap membunuhnya. Pengkhianat tidak berhak atas belas kasihan.
Kini, langkah kaki Elian terhenti di depan sebuah bangunan megah bertingkat tiga dengan pilar-pilar kayu hitam yang dipoles meng***p. Di atas pintu ma**knya yang terbuat dari kaca patri berwarna merah darah, terpampang papan nama kuningan bertuliskan: *Griya Candu Merah*. Dua orang penjaga bertubuh raksasa dengan tato ular di leher mereka berdiri waspada, namun mereka terlalu sibuk menggoda dua wanita berpakaian minim untuk menyadari kehadiran sang malaikat maut.
Elian melangkah ma**k tanpa suara, menyelinap melewati pintu ganda bagaikan embusan angin malam yang dingin.
Seketika, gemuruh suara manusia menghantam indra pendengarannya. Kasino bawah tanah milik Madame Sybilla adalah sarang dekadensi yang sesungguhnya. Di lant** bawah yang luas, ratusan orang dari berbagai kalangan—mulai dari bangsawan yang menyamar hingga ba****** pelabuhan—berkumpul di sekeliling meja-meja judi dari kayu m***ni. Gelak tawa kemenangan beradu dengan makian frustrasi. Asap cerutu membubung tebal ke langit-langit, berputar-putar di bawah kilauan lampu gantung kristal yang memantulkan cahaya keemasan dari tumpukan koin di atas meja.
Elian mengedarkan pandangan kelabunya yang tajam ke sekeliling ruangan. Ia tidak mencari kemenangan; ia mencari sang ratu labah-labah.
Pandangannya tertuju pada balkon lant** dua yang dibatasi oleh pagar ukiran kayu berlapis emas. Di sana, di balik tirai sutra tipis yang menjunt**, duduk seorang wanita dengan keanggunan yang mematikan. Madame Sybilla. Dia mengenakan gaun sutra merah menyala yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna. Rambut hitamnya disanggul tinggi, dihiasi dengan tusuk konde perak berbentuk kaki labah-labah. Di tangannya, ia memegang sebatang pipa rokok panjang dari gading, mengembuskan asap tipis beraroma melati ke udara sambil menatap para penjudi di bawahnya dengan tatapan meremehkan.
Elian mulai bergerak naik melalui tangga samping. Namun, seorang pelayan pria berjas hitam yang membawa nampan berisi gelas-gelas kristal menyadari langkahnya yang tidak biasa.
"Maaf, Tuan, lant** atas adalah area privat untuk tamu undangan Madame—"
Sebelum pelayan itu menyelesaikan kalimatnya, Elian mencengkeram kerah bajunya dan berbisik tepat di telinganya, "Katakan pada Sybilla, seorang utusan dari masa lalu membawa salam dari Baron Vane."
Elian melepaskan cengkeramannya, membiarkan pelayan yang ketakutan itu berlari menaiki tangga dengan lutut gemetar. Dari balik tirai sutra di lant** dua, Elian melihat gerakan Sybilla terhenti. Wanita itu menurunkan pipa rokoknya, lalu membisikkan sesuatu kepada dua pengawal berbaju zirah hitam yang berdiri di sisinya.
Sybilla menyibak tirai sutra dan menatap langsung ke arah Elian yang berdiri di kaki tangga. Senyum tipis yang penuh racun mengembang di bibirnya yang merah merona.
"Bawa dia naik," suara Sybilla terdengar merdu namun dingin, bergema di antara kebisingan kasino. "Aku selalu menyukai tamu yang membawa aroma kematian."
Elian melangkah naik tanpa ragu. Setiap langkahnya terasa berat oleh beban dendam yang menumpuk selama setengah tahun di liang kubur. Ketika ia menginjakkan kaki di lant** dua, tirai sutra di belakangnya langsung ditutup oleh dua pengawal bertubuh kekar. Mereka segera mengunci posisi di belakang Elian, memotong jalan keluarnya.
"Jadi, kau adalah hantu yang dibicarakan Vane sebelum dia... kehilangan suaranya?" Sybilla mengembuskan asap rokoknya ke wajah Elian. Matanya yang tajam bagai belati mencoba menembus kegelapan di balik topeng perak pria itu. "Topeng yang indah. Tapi bau darah di jubahmu terlalu kentara, Sayang."
"Sybilla," suara Elian terdengar seperti gesekan batu kuburan. "Kau mengendalikan Benang Merah. Kau tahu mengapa aku di sini."
Sybilla tertawa renyah, sebuah tawa yang terdengar sangat palsu dan berbahaya. "Tentu saja aku tahu. Elian dari Klan Penenun Takdir. Bocah yang seharusnya mati di Lembah Sunyi. Sungguh keajaiban medis yang luar biasa kau masih bisa berdiri di hadapanku dengan tulang-tulang yang utuh." Ia melangkah mendekat, jemari lentiknya yang berkuku panjang menyentuh dada Elian, menelusuri tekstur jubah hitamnya. "Arkan pasti akan membayar sangat mahal jika aku menyerahkan kepalamu malam ini."
"Dia tidak akan memiliki kesempatan itu," jawab Elian dingin.
Sybilla mendesah pelan, berpura-pura kecewa. "Sayang sekali. Kau begitu tampan di balik topeng itu—aku bisa merasakannya. Bagaimana kalau kita minum dulu sebelum kau mencoba membunuhku? Sebagai penghormatan terakhir untuk klanmu yang malang."
Sybilla berbalik menuju meja kayu kecil di sudut ruangan, di mana sebuah botol kristal berisi cairan merah pekat dan dua gelas kosong telah menunggu. Dengan gerakan yang sangat anggun, ia menuangkan cairan tersebut. Namun, Elian melihat gerakan cepat ibu jari Sybilla yang menekan bagian bawah cincin giok besarnya di atas salah satu gelas. Setitik bubuk putih tak kasatmata jatuh ke dalam cairan merah tersebut.
Sybilla berbalik, menyodorkan gelas beracun itu kepada Elian dengan senyuman paling menawan yang bisa ia tunjukkan. "Minumlah. Ini adalah anggur terbaik dari selatan. Anggur yang bisa membuatmu melupakan rasa sakit."
Elian menerima gelas itu. Ia menatap cairan merah di dalamnya, lalu menatap mata Sybilla yang berkilat penuh antisipasi.
"Kau tahu, Sybilla," bisik Elian, suaranya sangat tenang. "Klan Penenun Takdir tidak hanya belajar tentang benang dan jarum. Kami merajut hidup di antara tanaman beracun di Lembah Sunyi. Aku bisa mencium aroma *Bisa Air Mata Malaikat* bahkan dari jarak satu depa."
Senyum Sybilla membeku.
Sebelum wanita itu sempat bereaksi, Elian menyiramkan isi gelas tersebut tepat ke mata Sybilla.
"Aaaakh!" Sybilla menjerit histeris, menutup wajahnya saat cairan beracun itu mulai membakar kulit dan matanya. "Bunuh dia! Sekarang!" teriaknya histeris.
Dua pengawal bertubuh kekar di belakang Elian langsung mencabut pedang mereka dan menerjang maju. Pengawal pertama menebaskan pedang besarnya dengan gerakan horizontal, mengincar leher Elian. Elian merunduk dengan kecepatan yang luar biasa, membiarkan bilah pedang itu menebas udara kosong dan menghantam tiang kayu penyangga hingga retak.
Dengan satu gerakan mengalir, Elian mencabut belati bermata dua dari pinggangnya. Ia berputar ke belakang pengawal pertama, lalu menusukkan belatinya tepat di sela-sela zirah rant** yang melindungi ketiak pria itu.
*Jleb!*
Pria itu melenguh kesakitan sebelum Elian menarik belatinya kembali, membiarkan darah hangat menyembur membasahi lant** kayu. Sebelum tubuh pengawal pertama roboh, Elian menggunakannya sebagai tameng untuk menahan tusukan dari pengawal kedua.
Pedang pengawal kedua menembus tubuh rekannya sendiri. Memanfaatkan momentum keterkejutan lawan, Elian menendang tubuh pengawal pertama yang sekarat ke arah pengawal kedua hingga keduanya terjatuh melewati pagar pembatas balkoni.
*Prang! B**k!*
Mereka berdua jatuh menghantam meja judi roulette di lant** bawah. Kepingan koin emas dan perak beterbangan ke udara, diiringi teriakan histeris para pengunjung kasino yang panik. Kekacauan langsung meledak di lant** bawah. Orang-orang berlarian saling injak untuk menyelamatkan diri, sementara kepulan asap cerutu kini bercampur dengan kepulan debu dan kepanikan.
Sybilla, dengan sebagian wajahnya yang mulai melepuh dan mata kiri yang memerah akibat racun, mencoba merangkak menuju sebuah laci rahasia di balik mejanya. Ia berniat mengambil pistol kecil berlaras ganda yang tersimpan di sana.
Namun, sebelum jemarinya menyentuh pegangan laci, sebuah belati melesat cepat dan menancap tepat di punggung tangannya, menembus daging hingga menancap dalam di kayu meja.
"Aaaaghh!" Sybilla melolong kesakitan, tubuhnya gemetar hebat saat darah segar mulai mengalir membasahi dokumen-dokumen di atas meja.
Elian melangkah mendekat dengan tenang. Di bawah cahaya lampu gantung yang bergoyang, ia tampak seperti malaikat pencabut nyawa yang keluar dari mimpi buruk terdalam Sybilla. Elian mencengkeram rambut Sybilla dengan tangan kirinya, memaksa kepala wanita itu mendongak ke belakang.
"Di mana Arkan?" tanya Elian, suaranya sedingin es di puncak gunung.
Sybilla terengah-engah, air mata bercampur darah mengalir dari mata kirinya yang rusak. Rasa sakit yang luar biasa membakar tubuhnya, namun sisa-sisa kelicikannya masih mencoba bertahan. "Jika... jika aku memberitahumu... apa kau akan membiarkanku hidup?" tanyanya dengan suara parau yang gemetar.
Elian mendekatkan wajahnya yang tertutup topeng perak, hingga Sybilla bisa melihat sepasang mata kelabu yang kosong tanpa sedikit pun kehangatan manusia di dalamnya. "Aku tidak pernah membuat janji pada orang mati, Sybilla. Tapi aku bisa membuat kematianmu menjadi lebih cepat dan tidak terlalu menyakitkan. Pilihan ada di tanganmu."
Sybilla menatap belati yang masih menancap di tangannya, lalu menatap Elian. Ia tahu tidak ada jalan keluar. Jaringan mata-mata Benang Merah yang ia bangun dengan susah payah selama bertahun-tahun runtuh dalam satu malam di tangan satu orang hantu.
Sambil terbatuk dan memuntahkan sedikit darah, Sybilla tertawa lemah—sebuah suara serak yang mengerikan. "Kau... kau pikir kau bisa menghentikannya, Elian? Kau hanya sebutir debu di bawah kaki Grandmaster."
Elian menekan belati di tangan Sybilla lebih dalam. "Katakan."
"Arkan..." Sybilla meringis kesakitan, napasnya semakin memendek. "Dia tidak sedang menunggumu di ibu kota... Dia... dia telah mengumpulkan pa**kan Taring Besi dan legiun hitam di perbatasan utara..."
Elian mengernyit di balik topengnya. "Untuk apa?"
"Pembersihan..." bisik Sybilla, matanya melebar ketakutan saat membayangkan apa yang akan terjadi. "Pembersihan etnis berskala besar... Dia akan membakar habis seluruh distrik kumuh dan membant** setiap manusia yang memiliki darah klan Penenun atau pemberontak yang tersisa... dalam waktu tiga hari dari sekarang. Dia ingin... menghapus sejarah kalian... selamanya dari muka bumi ini..."
Jantung Elian berdegup kencang. Sisa-sisa klan dan orang-orang tak bersalah di perbatasan utara—mereka yang berhasil selamat dari pembant**an pertama—kini berada di ambang kemusnahan total. Arkan tidak hanya ingin membunuh Elian; ia ingin menghapus keberadaan mereka dari sejarah.
"Di mana lokasi tepatnya?" tuntut Elian, suaranya sedikit bergetar oleh amarah yang membara.
"Benteng... Benteng Obsidian... di celah gunung utara..." Sybilla terengah-engah, dadanya naik turun dengan tidak teratur. "Sekarang... tepati janjimu... akhiri ini..."
Elian menatap wanita di hadapannya tanpa emosi. "Kematianmu adalah benang terakhir yang kau tenun sendiri, Sybilla."
Dengan satu gerakan cepat dan presisi, Elian mencabut belati dari tangan Sybilla lalu menyayatkan bilahnya yang tajam ke tenggorokan wanita itu. Sybilla tersedak oleh darahnya sendiri, matanya perlahan kehilangan cahaya kehidupan hingga akhirnya tubuhnya terkulai lemas di atas meja kerja yang kini bersimbah darah.
Di lant** bawah, riuh kepanikan masih terdengar, namun di lant** dua, keheningan yang mencekam kembali bertahta.
Elian menarik belatinya, membersihkan darah Sybilla pada helai sutra merah gaun wanita itu. Ia berdiri tegak, menatap ke luar jendela besar yang menghadap ke jalanan Distrik Merah yang basah oleh hujan. Informasi dari Sybilla mengubah segalanya. Ini bukan lagi sekadar misi balas dendam pribadi yang lambat dan penuh perhitungan.
Waktu tidak lagi berpihak padanya. Tiga hari.
Elian melompat keluar dari jendela lant** dua, mendarat dengan mulus di gang sempit yang gelap di samping kasino. Ia menarik tudung jubahnya kembali, menyatu dengan kegelapan malam malam yang dingin, meninggalkan riuh rendah kepanikan Distrik Merah di belakangnya. Tujuannya kini beralih ke utara, tempat badai darah yang sesungguhnya tengah dipersiapkan.
Lanjutkan Membaca Bab 4 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!