**BAB 5: BAYANG-BAYANG PEMBERONTAK**
Suara lonceng peringatan berdentang bertalu-talu dari menara pengawas, memecah kesunyian malam yang basah di Distrik Merah. Di belakang Elian, Griya Candu Merah telah berubah menjadi sarang kepanikan. Teriakan histeris para pelesir beradu dengan derap langkah sepatu bot besi milik Garda Kota yang mulai mengepung area tersebut. Kematian Madame Sybilla—sang ratu informasi yang tenggorokannya baru saja disayat oleh belati Elian—telah menyulut sumbu kekacauan yang siap meledakkan seluruh kota.
Elian melompati genangan air hujan di gang sempit yang gelap, napasnya memburu, meninggalkan uap tipis di udara malam yang dingin. Jubah hitamnya yang basah terasa berat, dan luka gores di bahu kirinya akibat pecahan kaca patri mulai terasa perih menyengat. Di bawah tudung kepalanya, mata kelabu Elian terus bergerak waspada, mencari jalan keluar dari labirin gang-gang kumuh yang kini mulai dijaga ketat.
"Tutup gerbang barat! Jangan biarkan siapa pun lewat!" lolos sebuah teriakan dari arah jalan utama, disusul oleh gemerincing zirah rant** yang mendekat.
Elian berbelok tajam ke sebuah lorong buntu yang dipenuhi tumpukan krat kayu busuk. Sial. Jalannya tertutup. Saat ia berbalik untuk mencari rute lain, embusan angin malam membawa aroma tipis minyak senjata dan bubuk mesiu. Insting pembunuhnya berteriak nyaring.
*Wush!*
Sebuah anak panah melesat dari kegelapan, menancap tepat di dinding batu, hanya beberapa inci dari pipi Elian. Sebelum ia sempat menarik belatinya, tiga bayangan melompat turun dari atap bangunan rendah di sekitarnya, mengepungnya dalam formasi segitiga yang sempurna. Langkah mereka begitu sunyi, terlalu terlatih untuk ukuran Garda Kota yang ceroboh.
"Menyerahlah, Pembunuh," sebuah suara perempuan terdengar dari balik kegelapan lorong. Dingin, tegas, dan sarat akan wibawa yang tak bisa disembunyikan. "Kau tidak akan bisa keluar dari distrik ini hidup-hidup tanpa bantuan kami."
Dari balik bayang-bayang, sesosok wanita melangkah maju. Ia mengenakan zirah ringan dari kulit gelap yang dilapisi mantel biru tua yang telah pudar warnanya. Rambut emasnya diikat tinggi ke belakang, membingkai wajahnya yang rupawan namun tegas. Di tangannya, sebilah pedang ramping khas ksatria kekaisaran berkilau di bawah temaram cahaya bulan yang mengintip dari balik awan mendung.
Elian tidak menjawab. Alih-alih menyerah, ia merendahkan tubuhnya, mengambil kuda-kuda bertarung. Belati bermata ganda di tangan kanannya berputar cepat, berkilau memantulkan cahaya malam yang redup. "Aku tidak punya waktu untuk bermain-main dengan bandit jalanan," desis Elian, suaranya parau dan dingin.
"Bandit?" Wanita itu tersenyum tipis, sebuah senyuman tanpa rasa humor. "Kami adalah hukum yang sesungguhnya di tempat yang terlupakan ini. Dan kau... kau baru saja mengacaukan rencana yang telah kami susun selama berbulan-bulan dengan membunuh Sybilla."
Tanpa peringatan lebih lanjut, wanita itu menerjang maju. Gerakannya luar biasa cepat dan presisi. Pedang rampingnya menusuk lurus ke arah dada Elian.
Elian menepis tusukan itu dengan bilah belatinya. Dentang logam beradu memercikkan bunga api di kegelapan gang. Wanita itu tidak kehilangan momentum; ia memutar tubuhnya, memanfaatkan berat badannya untuk melayangkan tendangan memutar ke arah rusuk Elian. Elian menangkis dengan lengan kirinya, namun kekuatan benturan itu c**up untuk membuatnya mundur dua langkah.
*Dia bukan petarung sembarangan,* batin Elian, menyipitkan mata. Teknik pedang wanita ini adalah gaya bela diri tingkat tinggi yang hanya diajarkan di akademi militer elit kekaisaran.
Elian membalas serangan. Ia bergerak bagai bayangan, melesat ke samping dan melayangkan rentetan tebasan cepat ke arah titik-titik vital musuhnya. Namun, wanita itu bertahan dengan sangat taktis. Ia tidak mencoba menahan kekuatan penuh Elian, melainkan mengalihkan arah setiap tebasan dengan tangkisan-tangkisan sudut kecil yang efisien.
Di sela-sela pertarungan yang sengit itu, tiga anak buah wanita tersebut tetap diam di posisi mereka, mengamankan perimeter agar tidak ada Garda Kota yang mendekat, sekaligus memastikan Elian tidak bisa melarikan diri. Ini bukan sekadar penyergapan biasa; ini adalah operasi militer yang terencana dengan rapi.
"Kau c**up tangguh untuk seorang pembunuh bayaran," ujar wanita itu di sela deru napasnya, saat pedang dan belati mereka kembali beradu, terkunci dalam adu kekuatan yang saling menekan. Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa inci. Elian bisa melihat sepasang mata safir wanita itu—mata yang memancarkan tekad baja, namun juga menyimpan kepedihan mendalam.
"Aku bukan pembunuh bayaran," desis Elian, matanya berkilat penuh amarah. Dengan satu sentakan kuat, ia membebaskan belatinya, lalu melakukan sapuan kaki rendah untuk menjatuhkan wanita itu.
Wanita itu melompat mundur dengan anggun, menghindari sapuan Elian, namun tudung kepala mantelnya terlepas. Di bawah cahaya bulan, tanda lahir berbentuk bunga lili perak—lambang kuno dinasti kekaisaran yang telah runtuh—terlihat jelas di pangkal lehernya.
Elian tertegun sesaat. Ingatannya kembali ke masa lalu, ke dokumen-dokumen rahasia yang pernah ia baca di perpustakaan Arkan. "Tanda itu... Kau adalah Valerie. Valerie de Valois. Putri mahkota yang dibuang."
Wanita itu, Valerie, menatap Elian dengan tatapan tajam yang seolah bisa menembus jiwa. Ia menurunkan pedangnya sedikit, meskipun tubuhnya tetap dalam posisi waspada. "Dan kau... kau adalah Elian. Bocah yang selamat dari pembant**an Klan Penenun sepuluh tahun lalu. Alat pembalasan dendam yang kini berkeliaran di malam hari."
Elian mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Bagaimana kau tahu siapa aku?"
"Karena kita mencari orang yang sama, Elian," jawab Valerie tenang, meskipun ada getaran emosi yang tertahan dalam suaranya. "Grandmaster Arkan."
Mendengar nama itu disebut, kemarahan Elian yang semula meredup kembali berkobar bagai disiram minyak. "Arkan adalah milikku. Kematiannya adalah takdir yang akan kutulis dengan tanganku sendiri. Siapa pun yang menghalangi jalan mendaki menara kepalanya akan kuhancurkan, terma**k seorang putri yang terbuang."
Valerie melangkah maju, tidak gentar oleh ancaman Elian. Ia menyarungkan pedangnya dengan satu gerakan tegas, sebuah isyarat perdamaian yang berisiko tinggi. "Kau pikir dengan membunuh pion-pionnya seperti Baron Vane dan Sybilla, kau sedang mendekati Arkan? Tidak, Elian! Kau hanya sedang membuat singa itu memperketat penjagaannya!"
"Aku tidak butuh nasihat dari seorang bangsawan yang kehilangan kerajaannya!" bentak Elian, suaranya bergaung pelan di antara dinding batu gang. "Kau tidak tahu apa-apa tentang rasanya kehilangan! Kau tidak tahu bagaimana rasanya melihat seluruh keluargamu dibant**, rumahmu dibakar, dan takdirmu dirampas paksa!"
"Aku tidak tahu?" Suara Valerie tiba-tiba meninggi, bergetar oleh emosi yang membuncah. Setitik air mata mengambang di sudut matanya, namun ia menolak untuk membiarkannya jatuh. "Kau pikir hanya kau yang menderita di bawah cengkeraman Arkan? Ba****** itu meracuni ayahku, membant** seluruh menteri yang setia pada kekaisaran, dan merebut takhta dari tanganku! Ia membuangku ke selokan ini seperti sampah, sementara ia memeras darah dan keringat rakyat jelata untuk mendanai eksperimen sihir hitamnya!"
Valerie mendekati Elian hingga mereka berdiri sangat dekat. Udara di antara mereka terasa begitu tegang dan sarat akan kesedihan yang serupa.
"Dendam pribadimu sangat suci bagimu, Elian, aku tahu itu," lanjut Valerie dengan suara yang kini melunak namun penuh penekanan. "Tetapi lihatlah di sekelilingmu. Di luar gang gelap ini, jutaan nyawa rakyat jelata hidup dalam ketakutan dan kelaparan. Arkan bukan sekadar seorang pria yang membunuh keluargamu; dia adalah kanker yang sedang menggerogoti negeri ini hingga ke tulang-tulangnya. Jika kau hanya bergerak atas nama dendam pribadimu, kau hanya akan berakhir sebagai pembunuh berdarah dingin yang mati di tiang gantungan, tanpa mengubah apa pun!"
Elian terdiam. Kata-kata Valerie menghantam dadanya lebih keras daripada hantaman pedang mana pun. Bayangan wajah adik perempuannya yang menangis di tengah kobaran api sepuluh tahun lalu kembali terlintas di benaknya. Ia selalu berpikir bahwa jalannya adalah jalan kesunyian, jalan satu arah yang hanya akan berakhir dengan kematiannya atau kematian Arkan.
"Dendammu," Valerie berbisik, matanya menatap langsung ke dalam manik mata kelabu Elian, "bersinggungan dengan nasib jutaan jiwa yang tertindas. Bergabunglah dengan kami. Bantu kami meruntuhkan fondasi kekuasaan Arkan dari bawah. Kita hancurkan jaring-jaring kekuasaannya, dan ketika saatnya tiba, aku bersumpah demi darah leluhurku, aku sendiri yang akan menyerahkan leher Arkan ke bawah bilah belatimu."
Dari kejauhan, suara derap kaki Garda Kota terdengar semakin dekat. Cahaya obor mereka mulai membiaskan bayangan-bayangan panjang di dinding gang ma**k.
"Mereka mendekat," ujar salah satu anak buah Valerie yang berjaga di atap. "Kita harus pergi sekarang, Yang Mulia."
Valerie mengulurkan tangannya yang mengenakan sarung tangan kulit kepada Elian. "Pilihan ada di tanganmu, Penenun Takdir. Terus berlari sebagai buronan yang kesepian, atau bertarung bersama kami sebagai bayang-bayang yang akan menumbangkan seorang tiran."
Elian menatap tangan yang terulur itu, lalu beralih menatap belatinya yang masih basah oleh darah Sybilla. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, ia merasakan keraguan dalam langkahnya. Namun, di dalam keraguan itu, ia juga melihat sebersit cahaya yang berbeda—sebuah jalan di mana kematiannya nanti mungkin akan memiliki arti yang lebih besar daripada sekadar abu pembalasan dendam.
Dengan helaan napas berat, Elian menyarungkan belatinya. Ia tidak menjabat tangan Valerie, namun ia melangkah maju mendahuluinya, ma**k ke dalam kegelapan lorong yang lebih dalam.
"Tunjukkan jalannya, Putri," ujar Elian dingin, tanpa menoleh ke belakang. "Tetapi ingat satu hal: jika kau berbohong padaku tentang Arkan, belatiku tidak akan ragu untuk mencari tenggorokanmu selanjutnya."
Valerie menarik napas lega, sebuah senyuman tipis penuh tekad tersungging di bibirnya. "Aku tidak akan pernah mengingkari janji yang ditulis dengan darah, Elian."
Dengan gerakan cepat dan terlatih, kelompok pemberontak itu melesat menembus malam, menyatu dengan bayang-bayang kota yang meratap, meninggalkan para penjaga kota yang kebingungan di balik kabut Distrik Merah yang perlahan mulai memudar.
Lanjutkan Membaca Bab 5 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!