**BAB 6: BAJA DAN MESIU**
Kesepakatan yang lahir dari ujung pedang selalu meninggalkan rasa pahit di tenggorokan. Bagi Elian, bersekutu dengan faksi pemberontak pimpinan Valerie bukanlah pilihan yang lahir dari kepercayaan, melainkan kebutuhan mutlak untuk bertahan hidup. Di sebuah ruang bawah tanah yang berbau apak dan diterangi sebatang lilin yang hampir habis, peta distrik industri pinggiran kota terbentang di atas meja kayu yang lapuk.
"Pengecoran Besi Hitam," ujar Valerie, jemarinya yang ramping namun kokoh menunjuk pada sebuah area luas di tepi dermaga sungai. "Di sinilah seluruh pasokan senjata untuk faksi Benang Merah diproduksi. Pedang, senapan, hingga peluru mesiu yang merobek dada kawan-kawan kami, semuanya berasal dari sana. Dan otak di balik seluruh monster mekanis ini adalah Panglima Hector."
Elian berdiri di sudut bayangan, menyilangkan lengan di dada. Luka di bahunya telah dibalut dengan kasar, namun rasa perihnya justru menjadi pengingat yang baik akan kematian yang selalu mengint**. "Hector. Raksasa besi dari perbatasan utara. Aku mendengar dia tidak memiliki belas kasihan."
"Lebih buruk dari itu," sahut Valerie, matanya yang sebiru langit malam menatap Elian dengan kesungguhan yang dingin. "Dia adalah mesin pembunuh yang dibalut zirah. Jika kita tidak menghancurkan pabrik itu malam ini, besok lusa seribu senapan baru akan tiba di tangan Garda Kota. Kita akan dibant** dalam tidur kita."
"Aku tidak peduli dengan perang sucimu, Valerie," desis Elian, suaranya parau seperti gesekan batu. "Aku hanya ingin kepala orang-orang yang mengendalikan Benang Merah."
"Dan Hector adalah salah satu pilar utamanya," balas Valerie cepat. "Hancurkan dia, maka kau akan memotong tangan kanan organisasi itu. Bagaimana? Apakah belatimu c**up tajam untuk menembus baja?"
Elian tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menarik belati bermata gandanya, membiarkan cahaya lilin memantul pada permukaan logamnya yang berkilau dingin. Senyum tipis yang penuh ancaman terukir di wajahnya.
***
Malam itu, langit di atas pinggiran kota tampak merah berkarat, terpantul oleh asap tebal dan percikan api yang menyembur dari cerobong-cerobong raksasa Pengecoran Besi Hitam. Suara dentum mesin uap terdengar bagai detak jantung monster bawah tanah yang kelaparan. Bau belerang, batu bara, dan minyak pelumas menyengat hidung, menyesakkan dada siapa pun yang mendekat.
Pa**kan pemberontak Valerie bergerak bagai bayang-bayang di antara tumpukan pipa raksasa dan tangki penyimpanan batu bara. Elian memimpin barisan depan, menyusup melalui saluran pembuangan air hangat yang bermuara di sisi barat pabrik.
Saat mereka berhasil menembus pintu jeruji besi yang telah digergaji, pemandangan di dalam pabrik langsung menyambut mereka dengan keganasan industri. Di bawah atap berkubah tinggi yang disangga oleh pilar-pilar baja, parit-parit berisi besi cair mengalir membara, memancarkan cahaya oranye yang menyilaukan sekaligus mematikan. Ratusan pekerja paksa bertubuh kurus kering bergerak layaknya hantu di bawah cambukan para pengawas zirah hitam.
"Sekarang!" teriak Valerie dari kejauhan, memecah kesunyian dengan tembakan pistol suar ke udara.
Kekacauan pecah seketika. Para pemberontak menyerbu ma**k, melepaskan tembakan dan terlibat dalam pertempuran jarak dekat yang sengit dengan para penjaga. Pekikan ketakutan beradu dengan dentuman mesiu dan dentang logam yang beradu.
Elian tidak membuang waktu. Fokusnya hanya tertuju pada satu titik: sebuah anjungan tinggi di tengah pabrik, di mana sesosok tubuh raksasa berdiri memperhatikan pertempuran dengan tangan bersedekap.
Panglima Hector.
Tingginya hampir dua setengah meter, mengenakan zirah lempeng hitam yang tebal dan berat. Di punggungnya, tersandang sebuah gada besi raksasa yang dilengkapi dengan mesin uap mini di bagian pangkalnya—sebuah senjata penghancur yang mampu meremukkan tulang zirah sekalipun dengan sekali ayun.
"Penyusup tak tahu diri!" suara Hector menggelegar, mengatasi deru mesin pabrik. Ia melompat turun dari anjungan setinggi empat meter, mendarat dengan dentuman keras yang menggetarkan lant** besi di bawah kaki Elian. "Kalian pikir bisa menghentikan roda takdir yang digerakkan oleh Benang Merah?"
Elian melangkah maju dari balik kepulan asap uap panas. Tudung kepalanya tersingkap, memperlihatkan mata kelabunya yang tajam dan penuh dendam. "Takdirmu berakhir di sini, Hector."
"Hanya seorang bocah dengan mainan kecil," ejek Hector, matanya yang kecil dan kejam menatap belati di tangan Elian. Dengan gerakan yang luar biasa cepat untuk ukuran tubuh raksasanya, Hector menarik gada besinya. Mesin uap di senjata itu mendesis keras, mengeluarkan asap putih pekat dari katupnya saat roda gerigi di dalamnya mulai berputar.
*Syuut!*
Hector menerjang. Gada raksasa itu diayunkan dalam sapuan horizontal yang mematikan. Elian merebahkan tubuhnya ke belakang, membiarkan senjata maut itu lewat hanya beberapa inci di atas dadanya. Angin yang dihasilkan oleh ayunan tersebut begitu kuat hingga merobek ujung jubah Elian.
Elian segera bangkit dan melakukan serangan balasan. Ia melompat, mengarahkan belatinya ke celah zirah di leher Hector. Namun, Hector bukanlah prajurit biasa. Dengan tangan kirinya yang dilapisi sarung tangan besi tebal, ia menangkis bilah belati Elian.
*Klang!*
Benturan itu mengirimkan getaran hebat yang membuat lengan Elian mati rasa. Ia terlempar mundur beberapa langkah, menapakkan kakinya dengan susah payah di atas lant** kisi-kisi besi yang licin oleh minyak.
"Lemah!" raung Hector. Ia mengangkat gadanya tinggi-tinggi dan menghantamkannya ke tanah.
Elian berguling ke samping tepat saat gada itu menghantam lant**. Hantaman tersebut menghancurkan lant** besi, menyemburkan uap panas dari pipa bawah tanah yang pecah. Uap panas itu mengenai lengan kiri Elian, membuatnya meringis menahan perih yang membakar kulitnya.
Pertarungan berlanjut dengan brutal. Elian mengandalkan kelincahannya, bergerak lincah di antara pilar-papan baja dan parit besi cair. Ia berhasil mendaratkan beberapa sayatan di sambungan zirah Hector—di belakang lutut, di bawah ketiak—namun luka-luka itu tampaknya hanya membuat sang raksasa semakin murka. Hector tidak menunjukkan rasa sakit; ia terus mengayunkan gadanya dengan stamina yang seolah tak terbatas.
*Bugh!*
Satu hantaman dari pelindung siku Hector mengenai dada Elian saat ia mencoba mendekat. Elian terlempar ke belakang, menab**k tangki uap cadangan dengan keras. Ia jatuh tersungkur, memuntahkan darah segar dari mulutnya. Dadanya terasa sesak, beberapa tulang rusuknya dipastikan retak atau patah.
"Kau memiliki mata seorang pembunuh, Bocah," ujar Hector, melangkah mendekat dengan langkah berat yang berirama. Gada besinya terseret di lant**, menimbulkan percikan api yang bising. "Tapi di hadapan baja dan mesiu, kemauan kerasmu tidak ada artinya. Kau hanyalah serangga yang merayap di bawah kaki Kekaisaran."
Elian berusaha bangkit, bertumpu pada lututnya yang gemetar. Pandangannya agak kabur, namun otaknya yang dingin tetap bekerja dengan cepat. Di belakang Hector, ia melihat pipa distribusi utama uap bertekanan tinggi yang terhubung langsung ke tungku peleburan baja utama. Di sana terdapat sebuah katup manual besar berwarna merah, dengan jarum indikator tekanan yang sudah berada di zona merah akibat kekacauan pertempuran.
*Jika tekanan itu dilepaskan sekaligus...* pikir Elian.
"Aku mungkin serangga," bisik Elian, menyeka darah dari sudut bibirnya. Ia berdiri dengan tegak, menyembunyikan rasa sakit yang luar biasa di dadanya. "Tapi serangga bisa merayap ke dalam mesinmu dan menghancurkannya dari dalam."
Elian sengaja menjatuhkan belati di tangan kanannya. Tindakan itu membuat Hector tertawa terbahak-bahak.
"Menyerah? Pilihan yang bijak, walau sudah terlambat," ucap Hector, mengangkat gadanya untuk hantaman terakhir yang akan meratakan kepala Elian.
Namun, alih-alih melarikan diri, Elian justru menerjang maju ke arah dada Hector. Ia menghindari ayunan gada yang lambat karena terlalu percaya diri, menyelinap di bawah ketiak raksasa itu, dan melompat ke punggung Hector. Dengan sisa kekuatannya, Elian melingkarkan lengan kanannya yang bebas ke leher Hector, sementara tangan kirinya mengambil belati cadangan yang tersembunyi di pelindung kakinya dan menusukkannya berkali-kali ke celah helm baja Hector.
"Argh! Ba******!" teriak Hector kesakitan saat ujung belati Elian mengenai matanya.
Hector meronta-ronta dengan liar, mencoba melepaskan Elian dari punggungnya. Ia menubrukkan tubuhnya ke pilar-pilar besi, mencoba menghancurkan tubuh Elian di antara zirah beratnya dan pilar. Setiap tab**kan membuat pandangan Elian semakin gelap, namun ia menolak untuk melepaskan cengkeramannya.
Dengan sisa kesadaran yang ada, Elian mengarahkan gerakan meronta Hector menuju ke arah pipa uap utama. Saat tubuh mereka menab**k pipa raksasa tersebut, Elian melepaskan cengkeramannya dan jatuh ke lant**.
Sebelum Hector sempat berbalik, Elian meraih sebuah tuas besi panjang yang tergeletak di dekatnya. Dengan seluruh berat badannya, ia melompat dan menghantamkan tuas tersebut ke arah katup pengaman uap bertekanan tinggi.
*KRETEK!*
Katup merah itu patah.
"Tidak!" teriak Hector, namun suaranya langsung tenggelam oleh raungan uap yang mengerikan.
*WUUUUUUUSSSSSHHHH!!!*
Uap super panas bertekanan ribuan pon menyembur keluar bagai naga putih yang mengamuk. Semburan uap tersebut menghantam Hector secara langsung di bagian wajah dan tubuhnya yang zirahnya telah retak dan terbuka akibat tusukan belati Elian. Suhu panas yang ekstrem itu langsung melepuhkan kulit dan merebus Hector hidup-hidup di dalam zirahnya sendiri.
Panglima Hector melolong kesakitan, sebuah suara melengking yang tidak manusiawi, sebelum akhirnya tubuh raksasa itu ambruk ke dalam parit besi cair di bawahnya. Logam panas itu langsung menelan tubuhnya dalam kepulan asap hitam yang pekat.
Namun, bahaya belum usai. Pecahnya katup utama memicu reaksi berant**. Jarum tekanan di tangki-tangki lain melonjak drastis. Dinding-dinding besi mulai meliuk dan retak.
"Elian!" teriak Valerie yang tiba-tiba muncul dari balik kepulan asap, wajahnya coret-moret oleh jelaga dan darah. Ia melihat situasi yang kritis dan segera merangkul bahu Elian yang hampir pingsan. "Pabrik ini akan meledak! Kita harus keluar sekarang!"
Sambil saling memapah, dengan sisa-sisa tenaga yang ada, mereka berlari melintasi jembatan besi yang mulai runtuh. Di belakang mereka, tangki-tangki raksasa mulai meledak satu per satu, menyemburkan api dan baja cair ke segala arah bagai kembang api maut.
Mereka melompat keluar melalui jendela kaca yang pecah tepat saat ledakan terbesar mengguncang seluruh distrik industri.
*BOOOOOMMMM!!!*
Gelombang kejut melemparkan tubuh mereka ke atas tumpukan jerami di halaman luar. Di belakang mereka, Pengecoran Besi Hitam—simbol kekuatan militer Benang Merah—runtuh menjadi puing-puing yang membara di bawah langit malam yang merah menyala.
Elian berbaring telentang, menatap hujan abu dan percikan api yang turun perlahan dari langit. Napasnya terengah-engah, tubuhnya hancur, namun di dalam dadanya, benang takdir yang mengikat dendamnya terasa sedikit lebih longgar. Satu musuh telah tumbang, namun perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!