**BAB 7: DESIS ULAR DI ISTANA**
Jika Pengecoran Besi Hitam adalah neraka yang bising oleh jelaga dan raungan mesin, maka Istana Obsidian adalah makam megah yang dibungkus oleh keheningan yang mematikan.
Malam itu, langit di atas ibu kota diselimuti awan kelabu tebal, menyembunyikan sang rembulan dan membiarkan kegelapan menguasai menara-menara tinggi berlapis emas. Di bawah lengkungan koridor luar yang disangga pilar-pilar marmer putih, sesosok bayangan bergerak tanpa suara. Elian melebur dengan kegelapan, tubuhnya yang berbalut pakaian kulit hitam rapat nyaris tak kasat mata.
Napasnya teratur, lambat, dan terkendali. Rasa perih di bahunya—sisa-sisa pertempuran berdarah melawan Hector di pabrik mesiu kemarin malam—masih berdenyut konstan. Namun, Elian telah lama berteman dengan rasa sakit. Baginya, rasa sakit adalah kompas yang menjaga kesadarannya agar tetap tajam.
Di ujung koridor, terdengar dentang zirah besi yang beradu ritmis. Dua orang Garda Elit Mahkota berjalan mendekat, membawa tombak panjang berujung perak dengan obor yang menari-nari ditiup angin malam.
Elian merapatkan tubuhnya pada ceruk dinding di balik patung malaikat marmer yang dingin. Ia menahan napas. Matanya yang tajam mengawasi dari balik celah sayap patung. Cahaya obor menyapu lant** marmer berkilau, hanya berjarak beberapa senti dari ujung sepatunya.
"Kau mendengar rumor tentang Pengecoran Besi Hitam?" bisik salah satu penjaga, suaranya menggema pelan di koridor yang sunyi.
"Ya. Kabarnya tempat itu hancur total. Hector tewas," jawab temannya dengan nada tegang. "Kaisar murka. Seluruh kota kini dalam siaga satu. Siapa pun penyusup itu, dia bukan manusia biasa."
"Kuharap dia tidak c**up g*** untuk datang ke mari."
"Ke istana ini? Mustahil. Tempat ini dijaga ketat oleh tiga ratus prajurit pilihan. Menembus tempat ini sama saja dengan bunuh diri."
Sayup-sayup, suara langkah mereka menjauh. Elian mengembuskan napas perlahan. Senyum tipis, dingin dan tanpa selera, tersungging di sudut bibirnya. *Mustahil,* pikirnya. Kata itu tidak pernah ada dalam kamus seorang penenun takdir yang telah kehilangan segalanya.
Elian keluar dari tempat persembunyiannya, bergerak secepat embusan angin malam. Tujuan utamanya adalah Sayap Barat istana—kediaman pribadi Duke Kaelen.
Kaelen bukan sekadar menteri biasa. Dia adalah ular berbisa di dalam jubah sutra. Melalui pengaruh politiknya yang luar biasa, Kaelen mendanai faksi Benang Merah dari balik bayang-bayang, menyalurkan upeti haram, dan memuluskan jalan bagi Arkan untuk merebut takhta. Menyingkirkan Kaelen berarti mematahkan sayap finansial dan politik yang menyokong kekuasaan Arkan.
Elian melompati balkon lant** dua, mendarat tanpa suara di atas karpet beludru merah yang tebal. Ia berada di galeri seni pribadi sang Duke. Lukisan-lukisan potret diri yang angkuh berjejer di dinding, menatapnya dengan tatapan kosong yang menghakimi.
Di ujung galeri, sebuah pintu kayu ek berukir emas berdiri dengan anggun. Pintu ruang kerja Duke Kaelen.
Elian mengeluarkan sebilah kawat tipis dari balik pergelangan tangannya. Dengan gerakan yang sangat terlatih, ia mema**kkan kawat itu ke dalam lubang kunci kuningan yang rumit. Telinganya ditempelkan ke daun pintu, mendengarkan pergerakan mekanisme internal kunci.
*Klik.*
Pintu terbuka dengan suara desah yang halus. Elian menyelinap ma**k dan segera menutup kembali pintu tersebut.
Bau lilin lebah, parfum lavender yang pekat, dan aroma kertas tua menyengat indra penciumannya. Ruangan itu sangat luas, didominasi oleh sebuah meja m***ni besar yang dipenuhi tumpukan dokumen dan peta wilayah kekaisaran. Di sudut ruangan, sebuah perapian menyala redup, menyisakan bara merah yang memberikan cahaya temaram.
Elian segera bergerak menuju meja kerja tersebut. Jemarinya yang tangkas mulai memeriksa laci-laci yang terkunci. Menggunakan belatinya, ia mencongkel laci rahasia di bagian bawah meja. Sebuah kotak kayu hitam kecil berlambang segel lilin merah darah—lambang Benang Merah—berhasil ia temukan.
Elian membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat gulungan perkamen yang diikat pita sutra merah. Ketika ia membuka dan membaca baris-baris tulisan di dalamnya, darah Elian seketika berdesir dingin. Matanya melebar, memancarkan kemarahan yang begitu pekat hingga tangannya gemetar.
*Rencana Operasi: Pembersihan Lembah Barat.*
*Subjek: Pemusnahan sisa-sisa etnis Penenun Takdir dan penyitaan aset tanah demi pembangunan pangkalan militer Faksi Arkan.*
*Catatan: Eksekusi mati harus dilakukan tanpa sisa. Jangan biarkan ada darah penenun yang mengalir di atas tanah kekaisaran setelah bulan purnama ketiga.*
Di bawah instruksi keji tersebut, tertera tanda tangan tinta emas yang sangat ia kenal: *Duke Kaelen*, berdampingan dengan stempel pribadi *Arkan*.
"Jadi... ini bukan sekadar perebutan takhta," desis Elian, suaranya parau oleh kebencian yang mendalam. Air mata kemarahan hampir menetes dari sudut matanya, namun segera mengering oleh api dendam yang membakar dadanya. "Kalian ingin memusnahkan darahku hingga ke akarnya."
"Sebuah rencana yang brilian, bukan?"
Suara dingin dan sarkastis itu memecah keheningan ruangan.
Elian tersentak, namun dengan refleks yang luar biasa cepat, ia langsung berbalik dan menyembunyikan gulungan dokumen itu di balik jubahnya. Tangannya kini mencengkeram hulu belati ganda di pinggangnya.
Dari balik bayang-bayang tirai beludru yang menutupi jendela besar, sesosok pria paruh baya melangkah keluar. Ia mengenakan jubah sutra hijau zamrud yang mewah dengan sulaman benang emas. Rambutnya yang mulai memutih disisir rapi ke belakang, dan sepasang mata sipitnya memancarkan kelicikan yang tak terbantahkan. Duke Kaelen. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah gelas piala berisi anggur merah, sementara tangan kirinya bertumpu pada tongkat kepala perak berkepala ular.
"Aku sudah menduga tikus sepertimu akan datang, Elian," ujar Kaelen, menyesap anggurnya dengan sant**, seolah kehadiran seorang pembunuh di kamarnya hanyalah gangguan kecil di sore hari. "Kematian Hector mengirimkan pesan yang c**up jelas. Tapi, menyusup ke istanaku? Sungguh tindakan yang sangat bodoh... atau sangat putus asa."
"Kaelen," desis Elian, suaranya terdengar seperti gesekan dua bilah pedang. "Kau telah menandatangani surat kematianmu sendiri saat kau menulis dokumen ini."
Kaelen tertawa kecil, suara tawa yang kering dan meremehkan. "Dokumen itu? Itu hanyalah bisnis, Anak Muda. Kaum Penenun Takdir adalah sisa-sisa masa lalu yang tidak berguna. Kemampuan kalian meramal masa depan melalui pola tenunan hanya membuat Kaisar paranoid. Arkan menawarkan kepastian. Kekuasaan yang dibangun di atas fondasi baja dan darah, bukan takhayul benang rajut."
"Kalian membant** wanita dan anak-anak yang tidak berdosa!" seru Elian, langkahnya maju satu tindak, memancarkan aura membunuh yang begitu pekat hingga suhu di ruangan itu seolah anjlok drastis.
"Dalam membangun imperium yang agung, beberapa rumput liar harus dicabut," balas Kaelen dingin. Ia meletakkan gelas pialanya di atas meja kecil, lalu menatap Elian dengan pandangan menilai. "Dengar, Elian. Kau berbakat. Kau berhasil menembus penjagaan istana ini sendirian. Bergabunglah dengan kami. Arkan bisa memberimu tempat yang layak di dunia baru yang sedang kami bangun. Berikan dokumen itu padaku, dan aku akan menjamin hidupmu."
Elian menatap pria di hadapannya dengan tatapan muak. "Dunia yang dibangun di atas abu keluargaku bukanlah dunia yang ingin kulihat."
"Sayang sekali," desis Kaelen. Detik berikutnya, ia mengetukkan tongkat peraknya ke lant** marmer sebanyak dua kali. "Kalau begitu, matilah bersama sejarahmu!"
Tiba-tiba, pintu di belakang Elian mendob**k terbuka. Tiga orang pengawal berbaju zirah lengkap dengan pedang terhunus menerobos ma**k. Di saat yang sama, Kaelen menarik sebuah tuas tersembunyi di balik dinding, berniat melarikan diri melalui jalan rahasia di belakang kursinya.
"Tidak akan!" teriak Elian.
Dengan gerakan secepat kilat, Elian memutar tubuhnya. Belati pertamanya melesat di udara, memotong kegelapan sebelum bersarang tepat di tenggorokan pengawal pertama yang baru saja ma**k. Darah menyembur, dan prajurit itu ambruk ke lant**.
Dua pengawal lainnya menerjang maju dengan tebasan pedang yang mematikan. Elian melompat mundur, menghindari tebasan horizontal yang membelah udara. Ia memanfaatkan meja kerja m***ni sebagai pijakan, melompat ke atasnya, dan meluncurkan tendangan lutut yang keras ke arah wajah pengawal kedua hingga terdengar bunyi tulang hidung yang patah.
Pengawal ketiga mencoba menusuk lambung Elian dari bawah. Namun, dengan kelenturan seorang penari maut, Elian meliukkan tubuhnya di udara, mendarat di belakang prajurit itu, dan dalam satu gerakan mengalir, ia menyabetkan belati keduanya ke celah zirah di bagian leher belakang pengawal tersebut. Tubuh kekar itu jatuh berdebam tanpa sempat bersuara.
Semua itu terjadi dalam waktu kurang dari sepuluh detik.
Kaelen, yang baru saja berhasil membuka pintu rahasianya setengah jalan, menoleh ke belakang dan membelalakkan mata melihat ketiga pengawal terbaiknya telah tewas bersimbah darah. Wajahnya yang semula angkuh kini pucat pasi bagai mayat.
"T-tunggu! Elian!" teriak Kaelen, suaranya gemetar hebat saat melihat Elian melangkah turun dari meja dengan belati yang meneteskan darah segar. "Aku bisa memberimu emas! Informasi! Aku tahu di mana Arkan menyembunyikan senjata rahasianya! Aku bisa membantumu membunuhnya!"
"Ular tidak akan pernah setia pada majikannya, Kaelen," kata Elian dengan suara yang sangat tenang, namun justru ketenangan itulah yang membuat Kaelen merasa seolah-olah malaikat maut sedang mencengkeram dadanya. "Dan aku tidak butuh bantuan dari seekor ular."
Kaelen mencoba menarik belati kecil yang tersembunyi di dalam jubahnya, namun sebelum tangannya sempat menyentuh hulu senjata itu, Elian telah menerjang maju.
Dengan kecepatan yang tak kasat mata, Elian mencengkeram kerah jubah sutra Kaelen dan menghempaskannya ke dinding m***ni dengan keras. Kepala Kaelen membentur kayu, membuatnya pening dan kehilangan keseimbangan.
Elian menekan leher Kaelen dengan lengan kirinya, menahannya agar tidak bergerak, sementara ujung belatinya yang dingin ditempelkan tepat di bawah dagu sang Duke.
"Tolong... kasihanilah aku..." bisik Kaelen, air mata ketakutan kini membasahi pipinya yang keriput. Keangkuhan seorang menteri agung menguap tanpa bekas, menyisakan seorang pengecut yang gemetar menghadapi ajalnya.
Elian menatap mata Kaelen dalam-dalam. Di dalam mata tua itu, ia melihat refleksi dari ribuan jeritan kaumnya yang terbakar di Lembah Barat. Ia melihat wajah ibunya, adiknya, dan semua mimpi yang terkubur bersama abu pembant**an.
"Apakah kau mendengarkan permohonan mereka saat mereka memohon untuk hidup mereka, Kaelen?" bisik Elian, suaranya bergetar oleh emosi yang tertahan.
"Aku... aku hanya mengikuti perintah..."
"Dan aku," desis Elian, mendekatkan wajahnya ke telinga Kaelen, "hanya menenun takdir yang telah kau pilih sendiri."
Dengan satu sentakan yang cepat dan presisi, Elian menggorok leher Duke Kaelen.
Mata sang Duke terbelalak lebar saat napas terakhirnya terputus. Darah hangat menyembur, membasahi tangan Elian dan mengotori jubah sutra hijau zamrud yang mewah itu. Tubuh Kaelen perlahan merosot ke lant**, lunglai dan tak bernyawa di samping jalan rahasia yang gagal ia gunakan untuk melarikan diri.
Elian berdiri di tengah ruangan yang kini berbau anyir darah. Ia menatap tangannya yang merah, lalu mengusapkannya ke jubah Kaelen untuk membersihkan sisa darah pada belatinya.
Ia mengambil kembali gulungan dokumen rahasia dari balik bajunya, memastikannya aman. Dokumen ini adalah bukti nyata yang akan ia gunakan untuk menghancurkan legitimasi Arkan dan Benang Merah di hadapan publik kekaisaran.
Di luar, suara lonceng menara istana mulai berdentang, menandakan pergantian jaga malam. Elian tahu, dalam beberapa menit, hilangnya para penjaga ini akan disadari.
Ia berjalan menuju balkon, menatap kegelapan malam yang luas di luar sana. Angin malam bertiup kencang, menerpa wajahnya yang dingin dan tanpa ekspresi. Satu pilar penyokong Arkan telah runtuh malam ini. Masih ada beberapa pilar lagi yang harus ia hancurkan sebelum ia bisa menancapkan belatinya langsung ke jantung sang penghianat utama.
Tanpa menoleh ke belakang, Elian melompat ke dalam kegelapan malam, lenyap bagaikan hantu, meninggalkan keheningan istana yang kini telah ternoda oleh desis kematian sang ular.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!