**BAB 8: AIR PASANG BERDARAH**
Di bawah kubah kapel tua yang tersembunyi di balik dinding-dinding Istana Obsidian, lilin-lilin hitam menyala dengan nyala api yang gelisah. Bau kemenyan bercampur dengan aroma anyir darah yang mengering di atas altar batu. Di tengah ruangan yang remang-remang itu, Grandmaster Arkan berdiri tegak. Jubah merah tuanya yang bersulam benang emas menyapu lant**. Matanya yang dingin dan setajam elang menatap lurus ke arah sebuah topeng perak yang retak di atas meja kayu di hadapannyaβtopeng milik Duke Kaelen yang ditemukan tewas di ruang kerjanya beberapa jam lalu.
"Dia masih hidup," desis Arkan. Suaranya terdengar seperti gesekan dua bilah pedang berkarat, bergaung di dalam kesunyian kapel. "Benang takdir yang seharusnya telah kukoyak habis di Pengecoran Besi Hitam... kini merajut dirinya kembali."
Dari balik bayang-bayang pilar marmer, sesosok bayangan ramping melangkah maju. Zephyr, pembunuh bayaran tercepat dari faksi Benang Merah, membungkuk memberi hormat. Dua bilah belati melengkung yang berkilau keperakan tergantung di pinggangnya, seolah-olah siap mencabut nyawa kapan saja.
"Kami menemukan jejaknya, Grandmaster," lapor Zephyr dengan nada datar tanpa emosi. "Dia tidak hanya membunuh Duke Kaelen, tetapi juga mengorek informasi tentang rant** pasokan kita. Malam ini, dia dijadwalkan bertemu dengan seorang informan bernama Vance di Pelabuhan Kabut."
Arkan membalikkan tubuhnya perlahan, tatapannya berkilat kejam di balik kegelapan. Sebuah senyum dingin tersungging di bibirnya yang pucat. "Dia terlalu percaya diri. Kebencian telah membutakan matanya, membuat langkah-langkahnya menjadi mudah terbaca. Elian selalu menjadi bidak yang terlalu emosional." Arkan melangkah mendekati Zephyr, meletakkan tangannya yang keriput namun kokoh di bahu sang pembunuh. "Gunakan Pelabuhan Kabut sebagai kuburannya yang sejati. Jangan biarkan dia melihat matahari terbit. Kepung dia, hancurkan dia, dan bawa kepalanya padaku."
"Sesuai kehendak Anda, Grandmaster," bisik Zephyr sebelum tubuhnya melebur kembali ke dalam kegelapan malam, menyisakan keheningan yang mencekam.
***
Sementara itu, Pelabuhan Kabut diselimuti oleh kabut putih yang tebal dan dingin, bergulung-gulung di atas permukaan air laut yang hitam pekat seperti tinta. Gelombang pasang malam itu menghantam tiang-tiang dermaga kayu yang mulai membusuk, menciptakan suara deburan yang monoton dan menakutkan. Bau garam bercampur dengan bau minyak ikan dan kayu basah menyengat hidung.
Elian berjalan lambat, tudung jubah hitamnya ditarik rendah untuk menutupi wajahnya yang pucat. Setiap langkah yang diambilnya terasa berat; luka di bahunya dari pertempuran sebelumnya masih berdenyut perih, mengirimkan gelombang rasa sakit setiap kali ia menggerakkan lengan kirinya. Namun, matanya yang kelabu terus mengawasi sekeliling dengan waspada.
Ia berjalan menuju ujung Dermaga Empat, tempat di mana ia seharusnya bertemu dengan Vance. Di sana, sebuah kapal dagang tua bermesin uap, *The Iron Maiden*, bersandar dengan malas, bergoyang mengikuti irama pasang surut air laut yang kian meninggi.
"Vance?" bisik Elian, suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin laut.
Tidak ada jawaban. Hanya ada suara gesekan tali tambat kapal dan decit kayu yang bergesekan.
Elian melangkah lebih dekat ke arah tumpukan peti kargo kayu yang basah oleh embun. Bau anyir yang berbedaβbukan bau laut, melainkan bau darah segarβmulai tercium oleh indra penciumannya yang tajam. Jantungnya berdegup kencang. Ia mempercepat langkahnya dan menemukan sesosok tubuh tergeletak di balik bayang-bayang peti.
Itu Vance. Informannya telah tewas dengan tenggorokan digorok rapi, matanya melotot menatap langit malam yang kelabu dengan sisa-sisa ketakutan yang membeku.
*Jebakan.*
Satu kata itu berdentang di kepala Elian seperti lonceng kematian. Sebelum ia sempat berbalik, keheningan malam pecah oleh suara desingan halus di udara.
*Sring!*
Insting Elian menyelamatkan nyawanya. Ia menjatuhkan diri ke samping, berguling di atas papan kayu dermaga yang licin. Dua buah anak panah beracun menancap di tempat ia berdiri sedetik yang lalu, bergetar hebat.
Dari dalam kabut tebal yang menyelimuti dermaga, sosok-sosok bayangan mulai bermunculan satu per satu. Mereka mengenakan pakaian zirah kulit hitam dengan lambang Benang Merah yang melingkari lengan mereka. Puluhan pembunuh elit mengepungnya dari segala arah, menutup setiap jalan keluar menuju daratan.
Di garis depan para pengepung itu, berdirilah Zephyr. Ia memainkan dua belati peraknya dengan kecepatan yang memukau, menciptakan lingkaran cahaya perak yang dingin di tengah kegelapan kabut.
"Elian," panggil Zephyr, suaranya terdengar mengejek di balik topeng kainnya. "Grandmaster mengirimkan salam hangatnya. Dia sangat kecewa karena kau menolak untuk tetap mati."
Elian perlahan bangkit berdiri, mengabaikan rasa perih yang menjalar di bahu kirinya. Ia menarik pedang bermata dua miliknya dari sarungnya. Logam pedang itu berdenting tajam, siap meminum darah. "Arkan mengirim an****-an****nya untuk melakukan pekerjaan seorang pria? Aku tidak terkejut."
Zephyr tertawa dingin, suara tawanya terdengar kering. "Mulutmu masih sedongkol dulu. Tapi malam ini, di dermaga yang basah ini, tidak akan ada takdir yang bisa menyelamatkanmu. Serang!"
Dengan satu perintah itu, belasan pembunuh elit melesat maju bagai anak panah yang lepas dari busurnya.
Pertempuran pecah seketika. Elian menangkis tebasan pedang pertama dengan keras, menciptakan percikan api yang menerangi kabut sejenak. Ia memutar tubuhnya, memanfaatkan momentum untuk menebas tenggorokan penyerang kedua. Darah hangat menyembur, menodai wajah Elian dan papan kayu di bawah kakinya.
Namun, jumlah mereka terlalu banyak. Para pembunuh Benang Merah bergerak dengan koordinasi yang sempurna. Mereka tidak menyerang secara acak, melainkan dalam formasi silang yang terus menekan Elian ke arah tepi dermaga.
Elian melompat ke atas dek kapal *The Iron Maiden* yang bergoyang keras dihantam ombak besar. Di atas dek kayu yang licin, pertempuran menjadi kian brutal. Langkah kaki mereka berderit di atas kayu basah. Elian menebas rant** besi yang menahan sekoci, membiarkannya jatuh dan menghantam tiga pembunuh hingga terjatuh ke laut yang bergolak di bawah.
Namun, di tengah kekacauan itu, Zephyr bergerak seperti angin. Ia melompati tumpukan tali tambat, tubuhnya melayang di udara sebelum mendarat tepat di hadapan Elian. Kedua belatinya bergerak dalam gerakan melingkar yang membingungkan mata.
*Sret! Sret!*
Elian berhasil menangkis serangan pertama, namun kecepatan Zephyr berada di luar nalar. Belati kedua Zephyr berhasil menembus pertahanan Elian, menyayat dalam di bagian rusuk kirinya. Elian mengerang kesakitan, darah segar langsung merembes membasahi pakaian kulitnya.
"Kau terlalu lambat, Elian!" seru Zephyr, matanya berkilat penuh kemenangan. Ia melancarkan serangkaian tusukan bertubi-tubi. "Kau hanyalah bayang-bayang dari dirimu yang dulu!"
Rasa sakit yang luar biasa membakar tubuh Elian. Darah mengalir deras dari luka di rusuknya, membuat pandangannya sempat kabur selama beberapa detik. Ia terdesak mundur hingga punggungnya menghantam tiang layar kapal. Di sekelilingnya, sisa-sisa pembunuh Benang Merah mulai mengepungnya kembali, siap melakukan serangan pamungkas.
*Apakah ini akhirnya?* pikir Elian dalam keputusasaan yang membakar sukma. Wajah keluarganya yang dibant** oleh Arkan melintas di benaknya. Rasa hangat dari darah mereka, jeritan mereka yang tak terdengar... semua memori itu meledak di dalam dadanya, berubah menjadi bahan bakar kemarahan yang tak terbatas.
"Aku... tidak akan mati di sini!" teriak Elian dengan raungan yang menggetarkan malam.
Dengan sisa-sisa kekuatannya, Elian mengabaikan pertahanan dirinya sendiri. Saat Zephyr merangsek maju untuk menusuk dadanya, Elian justru membiarkan belati Zephyr menusuk bahu kanannya yang sehat, menembus dagingnya.
Zephyr tertegun sejenak, terkejut oleh tindakan bunuh diri itu. "Apa?!"
"Aku menangkapmu," bisik Elian dengan senyum mengerikan yang berlumuran darah.
Sebelum Zephyr sempat menarik belatinya, Elian mencengkeram pergelangan tangan Zephyr dengan tangan kirinya yang bebas, menguncinya di tempat. Dengan tangan kanannya, Elian mengayunkan pedangnya dalam satu gerakan melingkar yang penuh dengan seluruh sisa kekuatan hidupnya.
*Jleb!*
Pedang Elian menembus dada Zephyr, menembus jantung sang pembunuh bayaran tercepat. Mata Zephyr membelalak lebar, dipenuhi oleh ketidakpercayaan yang amat sangat. Tubuhnya gemetar sebelum akhirnya kehilangan seluruh kekuatannya.
"Takdir... tidak bisa ditenun oleh orang mati..." bisik Zephyr lirih, sebelum napas terakhirnya lepas dan tubuhnya terkulai lemas di atas dek kapal.
Melihat pemimpin mereka tewas secara brutal, para pembunuh Benang Merah yang tersisa sempat ragu-ragu sejenak. Ketakutan mulai merayap ke dalam hati mereka yang dingin.
Elian, dengan tubuh yang bersimbah darah dan napas yang terengah-engah bagai binatang terluka, mencabut pedangnya dari dada Zephyr. Ia menatap para pengepungnya dengan mata merah yang menyala oleh keg***an pertempuran. Aura membunuh yang pekat terpancar dari tubuhnya yang gemetar.
"Siapa... berikutnya?" desis Elian, suaranya terdengar seperti bisikan i**** dari liang kubur.
Melihat keg***an di mata Elian, ketakutan mengalahkan kepatuhan mereka. Alih-alih menyerang, para pembunuh yang tersisa mundur beberapa langkah. Elian tidak memberi mereka kesempatan untuk berpikir. Ia menerjang maju seperti badai yang mengamuk, menebas dan membant** siapa saja yang berdiri di jalannya tanpa ampun. Malam itu, dek kapal *The Iron Maiden* berubah menjadi altar pembant**an yang sesungguhnya. Air pasang yang naik ke permukaan dermaga mulai berwarna kemerahan, bercampur dengan darah para pembunuh Benang Merah.
Ketika kabut mulai menipis ditiup angin laut yang kencang, tidak ada lagi suara pertempuran yang terdengar. Hanya ada keheningan yang mencekam, diiringi oleh suara mayat-mayat yang mengambang di sela-sela dermaga.
Elian berdiri di tengah-tengah tumpukan mayat, tubuhnya hampir sepenuhnya tertutup oleh darah merah segar yang bukan miliknya. Namun, luka-lukanya sendiri sangat parah. Tangan kirinya menekan luka tusuk di rusuknya yang terus mengalirkan darah, sementara bahunya terasa mati rasa. Kesadarannya mulai perlahan-lahan memudar, terseret oleh dinginnya malam.
Ia tahu ia tidak bisa bertahan lama di sini. Pa**kan penjaga kota atau bala bantuan Arkan pasti akan segera tiba setelah mendengar keributan ini.
Dengan langkah yang gont** dan terseok-seok, Elian meninggalkan kapal dagang tersebut. Ia berjalan menyusuri gang-gang sempit di sekitar pelabuhan yang gelap gulita, membiarkan kegelapan malam menelan tubuhnya yang terluka parah. Di belakangnya, jejak-jejak darahnya yang menetes di atas tanah basah perlahan-lahan terhapus oleh air hujan yang mulai turun membasahi bumi, menyembunyikan sang penenun takdir yang terluka ke dalam kegelapan yang tak berujung.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!