**BAB 9: SUMPAH YANG TERNODA**
Aroma daun sage kering dan minyak rami yang terbakar samar-samar mencoba mengusir bau anyir darah di dalam ruang bawah tanah bekas pabrik tekstil itu. Tempat yang dulunya bising oleh deru mesin tenun kini menjelma menjadi markas rahasia faksi pemberontak pimpinan Valerie. Di sudut ruangan yang temaram, hanya diterangi oleh sebatang lilin yang hampir habis, Elian duduk bersandar pada pilar beton yang retak.
Napasnya memburu, berat dan pendek. Setiap embusan napas mengirimkan rasa sakit yang menusuk ke dadanya. Jaket hitamnya telah robek, menampakkan perban putih yang kini mulai merembas noda merah segar di bahu kirinya—oleh-oleh mengerikan dari pertempuran berdarah di Pelabuhan Kabut beberapa jam lalu.
"Jangan bergerak terlalu banyak," tegur Valerie, suaranya terdengar parau namun tegas. Wanita itu berlutut di hadapan Elian, jemarinya yang cekatan sedang mengencangkan ikatan perban baru di bahu sang pemuda. Wajah Valerie yang biasanya tampak tegar kini dilingkupi bayang-bayang kelelahan yang kentara. "Jahitanmu bisa robek kembali, Elian. Kau kehilangan terlalu banyak darah di dermaga."
Elian meringis, memalingkan wajahnya ke arah kegelapan ruangan. "Kekacauan di pelabuhan... itu salahku. Aku membiarkan amarah membutakan mataku. Harusnya aku tahu Zephyr telah mengendus rencana kita."
"Kita semua tahu risikonya sejak awal," potong Valerie cepat, menatap langsung ke dalam manik mata kelabu Elian yang redup. "Kita sedang melawan Arkan, penguasa bayangan yang mengendalikan takdir kota ini dari balik takhtanya. Tidak ada jalan yang mulus menuju pembebasan. Yang terpenting sekarang adalah kau selamat."
"Selamat?" Elian tertawa getir, sebuah suara tanpa humor yang terdengar menyakitkan. "Vance tewas di hadapanku, Valerie. Dia hanya seorang informan yang ingin menghidupi keluarganya. Dan sekarang, aku membawa bahaya itu ke pintumu."
Sebelum Valerie sempat menjawab, atmosfer di dalam ruangan bawah tanah itu tiba-tiba berubah. Keheningan malam yang pekat mendadak terasa mencekam, seolah-olah udara di sekitar mereka berangsur-angsur membeku.
Dari balik lorong-lorong gelap yang menuju ke permukaan, terdengar suara gesekan halus. Bukan langkah kaki biasa, melainkan desis kain yang bergesekan dengan lant** batu—suara khas jubah para pembunuh bayaran faksi Benang Merah.
"Mereka di sini," bisik Elian. Matanya melebar, insting bertarungnya yang terasah oleh kematian seketika menyala.
Detik berikutnya, jeritan melengking memecah kesunyian dari arah gerbang depan markas.
"Penyusup! Mereka di dalam—!" Teriak seorangan penjaga muda pemberontak terputus oleh suara tebasan yang basah. Tubuhnya tumbang ke lant**, disusul oleh bayangan-bayangan hitam yang meluncur cepat dari kegelapan bagaikan asap yang pekat.
"Pertahankan posisi! Lindungi persediaan!" teriak Valerie sembari melompat berdiri. Ia menarik dua bilah belati melengkung dari pinggangnya, matanya berkilat penuh amarah yang menyala.
Pa**kan bayangan Arkan bergerak tanpa suara namun mematikan. Mereka mengenakan topeng hitam legam tanpa wajah, bertarung dengan presisi yang mengerikan. Di bawah kepemimpinan seorang letnan bertubuh tinggi tegap yang mengenakan zirah bersulam benang perak, mereka mulai membant** para pemberontak yang masih terkejut dan belum siap bertempur.
"Valerie, mundur!" Elian memaksa tubuhnya berdiri. Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari bahunya, membuat pandangannya sempat mengabur sejenak. Namun, kebencian yang mendalam pada Arkan memompa adrenalin ke dalam darahnya. Ia mencabut pedang pendeknya dengan tangan kanan yang bergetar.
"Aku tidak akan meninggalkan orang-orangku!" Valerie menerjang maju, menghindari tebasan pedang musuh dengan kelincahan yang luar biasa. Ia memutar tubuhnya, menyilangkan belatinya di tenggorokan salah satu penyerang, mengirimkan cipratan darah hangat ke dinding batu.
Pertempuran itu berlangsung kacau dan brutal. Markas rahasia yang tadinya menjadi tempat perlindungan kini berubah menjadi ladang pembant**an yang sesak. Jeritan kesakitan, denting baja yang beradu, dan aroma belerang dari bom asap instan memenuhi udara.
Elian bertarung dengan sisa-sisa kekuatannya. Setiap ayunan pedangnya terasa berat bagai memikul bongkahan batu. Ia menebas seorang pembunuh yang mencoba menyerang Valerie dari belakang, namun gerakan itu membuka pertahanannya sendiri. Seorang musuh lain menendang tulang rusuknya, mengirim Elian tersungkur ke lant** yang dingin. Perbannya koyak sepenuhnya, mengalirkan darah yang membasahi lant** semen.
"Elian!" teriak Valerie, mencoba mendekatinya.
Namun sebelum Valerie sempat menjangkau Elian, letnan bertopeng perak menghadangnya. Pertarungan sengit terjadi di antara keduanya. Valerie bergerak cepat, namun letnan itu jauh lebih kuat dan taktis. Dengan satu hentakan gagang pedang yang berat, letnan itu menghantam pergelangan tangan Valerie, membuat belatinya terlepas dan berdenting jauh di atas lant**.
"Lepaskan aku, ke*****!" Valerie meronta saat dua orang prajurit bayangan lainnya mencengkeram lengannya dari belakang, menguncinya dengan rant** besi yang dingin.
"Grandmaster menginginkan wanita ini hidup-hidup," ucap sang letnan dengan suara berat dan dingin yang bergema di bawah kubah beton. "Dia akan menjadi umpan yang sempurna untuk memancing tikus-tikus yang tersisa."
"Tidak! Valerie!" Elian mencoba merangkak maju, menyeret tubuhnya yang tak lagi patuh pada kehendaknya. Jemarinya yang berlumuran darah mencakar lant**, meninggalkan jejak merah yang panjang. "Ambil aku! Jangan sentuh dia!"
Letnan bertopeng itu melangkah mendekati Elian yang tak berdaya. Ia menatap Elian dari balik topengnya dengan pandangan merendahkan, lalu mendaratkan tendangan keras ke rahang Elian. Kepala Elian terhentak ke belakang, rasa asin darah memenuhi mulutnya, dan dunianya mulai berputar hebat.
"Kau adalah seutas benang yang sudah usang, Elian," bisik sang letnan dingin. "Grandmaster membiarkanmu hidup hari ini hanya agar kau bisa merasakan bagaimana rasanya kehilangan segalanya... sekali lagi."
"Bawa wanita itu. Bakar tempat ini."
"Elian! Jangan menyerah!" Suara teriakan Valerie terdengar menjauh, bergema di sepanjang lorong saat tubuhnya diseret paksa ke dalam kegelapan malam. "Kau harus tetap hidup! Elian—!"
Suara Valerie perlahan menghilang, digantikan oleh deru api yang mulai berkobar dari minyak tanah yang disiramkan para penyerang ke seluruh penjuru ruangan. Api merah menjulur-julur ke langit-langit, melahap sisa-sisa kain tenun dan kayu-kayu tua, menciptakan asap hitam tebal yang menyesakkan dada.
Elian terbaring di tengah kepulan asap, dikelilingi oleh jasad-jasad para pemberontak yang beberapa jam lalu masih tersenyum dan berharap akan hari esok yang lebih baik. Keheningan yang mengerikan kembali merayap, hanya diiringi oleh suara gemertak kayu yang terbakar.
Rasa bersalah yang teramat sangat mendadak menghantam dadanya, lebih menyakitkan daripada luka fisik apa pun yang pernah ia derita. Air mata kemarahan dan keputusasaan meleleh di pipinya yang kotor oleh jelaga.
*Ini semua karena aku,* batinnya dalam jeritan tanpa suara yang menyiksa. *Kutukan ini... kutukan kematian yang kubawa kembali dari jurang maut. Siapa pun yang berada di dekatku, siapa pun yang mencoba membantuku, selalu berakhir tragis.*
Ia teringat janjinya saat bangkit dari Pengecoran Besi Hitam—janji untuk menenun kembali takdirnya dan membalas dendam pada Arkan. Namun kini, sumpah itu terasa ternoda oleh darah orang-orang tak bersalah yang ia seret ke dalam pusaran dendam pribadinya. Sumpah itu kini terasa seperti kutukan yang mengikat jiwanya dalam kegelapan abadi.
Dengan sisa-sisa kesadaran yang hampir padam, Elian mengepalkan tangannya yang berdarah di atas lant** yang panas. Di tengah kobaran api yang mulai mendekat, ia berbisik dengan suara yang parau dan sarat akan racun kebencian yang mendalam.
"Aku bersumpah... demi darah yang mengalir malam ini... Arkan, aku akan merobek takhtamu, bahkan jika aku harus membakar seluruh kota ini bersamaku."
Kesadarannya pun runtuh, tenggelam ke dalam kegelapan yang dingin, tepat saat atap kayu di atasnya mulai runtuh dimakan api.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!