Cahaya merah tua, sepekat darah yang mengering, merembes ma**k melalui dinding kaca observatorium stasiun penelitian "Aethelgard". Di luar sana, bintang raksasa merah bernama Eldred yang kini berada di ambang kematiannya merentangkan lidah-lidah api yang redup, memuntahkan sisa-sisa materi termal ke ruang hampa yang dingin. Aethelgard, stasiun yang mengorbit bintang sekarat itu, terasa seperti sebuah peti mati logam raksasa yang terapung. Struktur bajanya berderit pelan setiap kali dihantam oleh fluktuasi gravitasi, memecah kesunyian malam abadi di luar angkasa dengan dengung konstan reaktor fusi yang juga hampir habis masa pakainya.
Di tengah kesunyian dek observasi utama, Elian berdiri tegak seperti sebuah monumen keputusasaan. Tubuhnya kurus, dibalut seragam fisikawan temporal yang longgar dan kusam. Kulitnya sepucat dinding titanium stasiun, kontras dengan bayang-bayang hitam yang melingkari matanya akibat kurang tidur selama bertahun-tahun. Matanya yang cekung tidak menatap bintang raksasa merah di luar kaca, melainkan terpaku pada layar holografis biru redup di hadapannya.
Layar itu menampilkan sensor temporal—sebuah alat yang dirancang untuk menangkap fluktuasi ruang-waktu terkecil sekalipun. Di atas layar, sebuah garis hijau tipis bergerak mendatar. Sunyi. Statis. Tanpa ada riak sedikit pun.
Sepuluh tahun telah berlalu sejak hari naas itu. Tiga ribu enam ratus lima puluh hari standar dihabiskan Elian di stasiun terisolasi ini, menolak untuk dipindahkan kembali ke Bumi atau koloni-koloni baru di sistem luar. Baginya, melangkah pergi dari Aethelgard berarti meninggalkan putrinya, Luna, yang lenyap ditelan anomali ruang-waktu dalam kecelakaan ekspedisi sepuluh tahun lalu.
"Kau masih di sana, Luna?" bisik Elian, suaranya parau, nyaris tenggelam oleh derit pelat logam stasiun yang memuai.
Ia mengangkat tangannya yang gemetar, menempelkan telapak tangannya pada permukaan kaca observatorium yang dingin. Di balik kaca itu, kehampaan menatapnya balik dengan kejam. Elian selalu percaya bahwa waktu bukanlah sebuah aliran sungai yang searah, melainkan sebuah labirin kaca. Dan di suatu tempat di dalam labirin itu, Luna sedang mengetuk dinding kaca yang sama, mencoba mencari jalan pulang.
Langkah kaki yang teratur dan tegas memecah keheningan di belakangnya. Elian tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang. Bau tanah basah buatan dan lumut—aroma khas dari dek botani—selalu mendahului kehadiran wanita itu.
Mara berjalan mendekat, memeluk dokumen digital di dadanya. Wajahnya yang tegas mencerminkan kepasrahan yang dingin, tipe ketenangan yang hanya dimiliki oleh mereka yang telah menerima kepunahan sebagai bagian dari hukum alam. Sebagai seorang astrobiolog, tugas Mara di stasiun ini adalah mendokumentasikan bagaimana kehidupan punah di bawah bayang-bayang bintang yang mati.
"Sensor inframerah mendeteksi fluktuasi massa di sektor luar, Elian. Eldred akan melepaskan lapisan terluarnya lagi dalam beberapa siklus bumi. Kita harus mengalihkan sisa energi stasiun untuk memperkuat perisai deflektor," ujar Mara datar. Suaranya tenang, membawa keheningan profesional yang selalu berhasil memicu percikan amarah di dada Elian.
"Aku butuh daya ekstra untuk pemindai spektrum kelima, Mara. Hanya untuk tiga siklus ke depan," sahut Elian tanpa mengalihkan pandangannya dari layar sensor. "Aku mendeteksi ada anomali mikro di dekat koordinat peluruhan gravitasi kemarin malam."
Mara menghela napas panjang. Itu adalah suara desahan yang sarat akan kelelahan yang teramat sangat—kelelahan psikologis yang telah terakumulasi selama satu dekade berada di ruang sempit yang sama dengan pria yang jiwanya telah mati. Ia menyandarkan tubuhnya pada tepian konsol baja di samping Elian, menatap grafis gelombang datar yang tidak berubah sedikit pun.
"Pemindai itu mencari hantu, Elian," ucap Mara pelan, kali ini tanpa nada ketegasan ilmiah, melainkan dengan kelembutan yang menyakitkan.
"Dia bukan hantu!" potong Elian cepat, kepalanya menoleh dengan sentakan kasar. Matanya menyala oleh keg***an yang dipelihara dengan baik. "Anomali temporal di sektor gerbang celah sepuluh tahun lalu tidak menghancurkannya secara fisik. Persamaan kosmologi kuantum yang kubuat membuktikan bahwa fluktuasi dimensi dapat menahan informasi biologis dalam bentuk gema partikel. Luna berada di sana. Di celah waktu yang terlipat."
"Persamaanmu ditulis oleh seorang ayah yang menolak berduka!" sela Mara, suaranya meninggi satu oktav. Ia melangkah maju, meraih pergelangan tangan Elian yang kurus, memaksa pria itu melepaskan jemarinya dari panel kontrol holografis. "Luna sudah tiada. Ruang angkasa tidak menyisakan apa pun yang terisap ke dalam singularitas mikro. Hukum fisika yang kau agungkan sendiri yang mengatakannya: entropi tidak bisa diputar balik. Mengapa kau menolak melihat kenyataan?"
Elian menyentakkan tangannya dengan kasar, membebaskan diri dari cengkeraman Mara. Ia mundur satu langkah, dadanya naik turun dengan napas yang memburu.
"Kenyataan?" Elian tertawa getir, sebuah suara parau yang terdengar menyedihkan di ruang observatorium yang luas. "Kenyataan yang mana, Mara? Kenyataan bahwa kau menyerah begitu saja pada putri kita sendiri? Kau mengunci diri di lab botanimu, mengamati spora-spora mati, seolah-olah mengubur dirimu dalam kepasrahan akademis akan membuat rasa bersalahmu hilang?"
Kata-kata itu menghantam Mara bagai hantaman fisik. Wajahnya menegang, dan sesaat, Elian bisa melihat kilatan luka yang mendalam di balik mata cokelat wanita itu. Mara menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai kembali emosinya yang nyaris runtuh.
"Aku tidak dingin, Elian," bisik Mara, suaranya bergetar hebat. "Aku terluka. Setiap kali aku melihat ke luar jendela kaca ini, aku melihat kuburan anak kita. Tapi aku memilih untuk tidak ikut mati bersamanya di dalam kuburan itu. Aku memilih untuk hidup! Bintang merah di luar sana sedang sekarat. Stasiun Aethelgard ini perlahan-lahan runtuh menjadi debu kosmis. Kita harus bersiap untuk evakuasi akhir bulan ini dengan kapal penjemput dari armada utama, atau kita berdua akan menjadi debu yang sama dengan Luna di luar sana!"
"Perg***h jika kau ingin pergi," desis Elian, matanya kembali beralih pada layar monitor dengan obsesif. "Aku tidak akan meninggalkan tempat ini. Jika aku mematikan sensor ini, jika aku pergi dari Aethelgard, maka jalur komunikasi terakhirnya dengan dunia ini akan terputus selamanya. Jika Luna mencoba kembali... jika gema waktunya mencoba menembus kaca sunyi ini, dia hanya akan menemukan stasiun yang kosong. Dia akan sendirian di dalam kegelapan tanpa akhir. Aku tidak akan membiarkan dia sendirian lagi."
"Sepuluh tahun, Elian..." Mara menatap punggung Elian dengan pandangan yang hancur. "Kau mengorbankan kewarasanmu, tubuhmu, bahkan pernikahan kita, untuk melacak sesuatu yang tidak ada di sana. Lihat dirimu di cermin. Kau sudah menjadi hantu sebelum ajal menjemputmu."
Tepat ketika kalimat Mara berakhir, sebuah suara alarm bernada rendah berbunyi dari konsol temporal. Layar holografis yang tadinya menampilkan garis datar hijau tiba-tiba berkerut liar. Gelombang frekuensi menangkap distorsi energi yang tidak biasa. Angka-angka koordinat berputar cepat, mengunci sebuah titik di luar stasiun, tepat di batas cakrawala peristiwa mini yang mengorbit sisa-sisa reruntuhan gerbang celah lama.
Jantung Elian seolah berhenti berdetak. Seluruh otot tubuhnya menegang. Ia langsung menerjang maju ke arah konsol, jemarinya menari di atas papan ketik virtual dengan kecepatan yang menakjubkan.
"Lihat..." bisik Elian, suaranya naik menjadi pekikan panik yang dipenuhi harapan g***. "Lihat ini, Mara! Fluktuasi di kuadran empat. Penundaan waktu 1,2 mikrodetik. Ini pola frekuensi yang sama! Ini bukan radiasi acak!"
Mara tertegun. Ia terdorong oleh insting ilmiahnya untuk melangkah mendekat, matanya menyipit menatap grafik yang kini bergejolak membentuk pola geometris yang teratur. "Itu... tidak mungkin. Itu pasti hanya gangguan termal dari pelepasan korona Eldred. Bintang itu sedang meluruhkan massanya—"
"Tidak! Ini bukan badai matahari!" teriak Elian, air mata mulai mengalir di pipinya yang kotor. "Ini kode denyut. Ini sinyal modulasi amplitudo. Seseorang... seseorang di sisi lain sedang memancarkan sinyal ini. Ini denyut jantung Luna. Dia mencoba berbicara padaku dari balik batas waktu!"
"Elian, hentikan! Jangan lakukan ini pada dirimu sendiri!" Mara memohon, tangannya meraih bahu Elian, mencoba menarik pria itu menjauh dari konsol yang mulai mengeluarkan percikan statis akibat beban daya yang berlebih.
"Dengar!" Elian berteriak histeris. Ia menekan tombol dekoder audio manual, menghubungkan sensor temporal langsung ke pengeras suara analog di dinding observatorium.
Suara statis yang keras dan tajam langsung memenuhi ruangan, terdengar seperti suara badai pasir yang menyapu logam. Namun, di antara derik statis yang m****akkan telinga itu, terdengar sebuah pola suara yang terputus-putus. Sebuah suara yang sangat samar, hancur oleh distorsi gravitasi jutaan mil, namun membawa intonasi yang begitu akrab di telinga mereka berdua.
*"...shhh... Pa... pa... shhh... di... si... ni... dingin... shhh..."*
Darah di sekujur tubuh Mara terasa membeku seketika. Langkah kakinya mundur selangkah, tangannya membekap mulutnya sendiri. Air mata yang selama sepuluh tahun ini ia bendung dengan tembok rasionalitas kini tumpah tanpa bisa dicegah. Suara itu—meski hancur dan terdistorsi—memiliki frekuensi vokal yang hanya dimiliki oleh satu orang di alam semesta ini.
"Luna?" bisik Mara, suaranya nyaris tidak terdengar, runtuh di bawah beban kenyataan yang mendadak bergeser.
"Dia hidup!" raung Elian dengan tawa yang bercampur tangis histeris. Ia menempelkan wajahnya ke layar kaca observatorium, menatap ke arah pusaran gas merah menyala di luar sana, seolah-olah ia bisa menembus ruang, waktu, dan dimensi dengan kekuatan tekadnya sendiri. "Dia di sana, Mara! Di balik kaca sunyi ini! Aku harus membuka gerbangnya kembali. Aku harus menariknya pulang!"
Namun, kegembiraan itu hanya berlangsung beberapa detik. Sebelum Elian sempat mengetikkan perintah kalkulasi temporal berikutnya, konsol di hadapannya mengeluarkan suara letupan keras. Layar holografis biru berkedip sekali, lalu padam sepenuhnya. Garis gelombang hijau yang dinamis itu kembali menjadi garis datar yang sunyi.
Suara statis di speaker mati, menyisakan keheningan yang jauh lebih pekat dan menakutkan daripada sebelumnya.
"Tidak, tidak, tidak! Jangan sekarang!" Elian memukul-mukul panel kontrol baja dengan tinjunya hingga tangannya berdarah. "Kembali! Tolong, kembali! Aku ada di sini, Luna! Papa ada di sini!"
Ia terus memukul, terus berteriak, hingga tenaganya habis dan ia jatuh berlutut di lant** dek observasi yang dingin. Di bawah pendaran merah redup dari bintang Eldred yang sekarat, Elian menangis sejadi-jadinya, mencengkeram kepalanya sendiri di hadapan layar pemantau yang kini mati total.
Mara perlahan melangkah mendekat. Ia berlutut di samping Elian, mengabaikan semua batas emosional yang selama ini ia bangun. Ia melingkarkan lengannya di bahu pria yang hancur itu, menarik kepala Elian ke dadanya. Mereka berdua menangis dalam keheningan stasiun Aethelgard yang terus berderit, meratapi gema yang baru saja melintas di balik kaca sunyi waktu, menyadari bahwa gerbang itu telah tertutup kembali, meninggalkan mereka di antara derik waktu dan debu bintang yang perlahan meredup.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!