**BAB 10**
**Katastrofe Reaktor Fusi**
...diri. Retakan itu memancarkan cahaya putih keperakan yang menyilaukan, bergetar selaras dengan detak jantung yang ganjil, seolah-olah dimensi di sekitar mereka sedang bernapas dalam kepanikan.
"Dekompresi temporal!" teriak Elian, suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin aneh yang tidak berasal dari atmosfer stasiun, melainkan dari kekosongan ruang yang terkoyak. "Interaksi antara mesin krono dan reaktor fusi... mereka saling memakan!"
Di bawah kaki mereka, getaran stasiun Aethelgard berubah menjadi guncangan hebat yang konstan. Panel-panel dinding terkelupas, menyingkap jalinan kabel optik yang meletupkan percikan api kebiruan. Alarm darurat mulai melolong, suaranya melengking membelah kekacauan, disusul oleh suara sintesis komputer stasiun yang datar namun sarat akan keputusasaan:
*“Peringatan. Integritas penahan magnetik reaktor fusi kuantum turun di bawah empat puluh persen. Reaksi berant** tidak terkendali terdeteksi. Estimasi pelelehan inti: enam menit. Evakuasi segera.”*
"Enam menit?" Mara berbisik ngeri. Ia mencoba bertumpu pada lengan kirinya, namun rasa sakit yang menusuk dari bahunya yang tertembak membuatnya kembali terduduk di lant** yang kian memanas. Darah hangatnya merembes di sela-sela jemari yang menekan luka. "Elian, jika reaktor itu meleleh..."
"Ini bukan sekadar ledakan termonuklir biasa, Mara," potong Elian, wajahnya seputih kapas saat ia merangkak mendekati gadis itu. Matanya menatap liar ke arah retakan cahaya di tengah ruangan yang kian melebar, membentuk pusaran spiral yang mengisap partikel debu dan udara di sekitar mereka. "Energi temporal dari silinder yang terpasang memaksa fusi kuantum untuk melipatgandakan massanya tanpa henti. Jika ini meledak, ia tidak akan menyebarkan radiasi. Ia akan runtuh ke dalam dirinya sendiri. Sebuah singularitas hitam akan tercipta di sini, di jantung Aethelgard, dan akan menelan seluruh sistem bintang ini dalam hitungan jam."
"Tidak! Aku tidak akan membiarkan ini terjadi!"
Raiangan itu datang dari Vance. Pria paruh baya itu tampak bagaikan monster yang terluka. Matanya merah, dipenuhi oleh kombinasi antara ketakutan yang mendalam dan keserakahan yang menolak mati. Para pengawalnya telah lari tunggang-langgang meninggalkan dek observasi saat alarm pertama berbunyi, namun Vance tetap bergeming. Baginya, melarikan diri tanpa membawa "Debu Bintang" sama saja dengan hukuman mati yang tertunda.
Dengan langkah terhuyung-huyung akibat gravitasi buatan yang mulai kacau—membuat tubuh mereka kadang terasa seringan kapas dan di detik berikutnya seberat timbal—Vance merangsek maju menuju panel kontrol utama.
"Vance, menjauhlah dari sana!" teriak Elian, mencoba memperingatkan musuhnya. "Medan temporal di sekitar konsol itu sudah tidak stabil! Struktur ruang di sana sudah terdistorsi!"
"Diam kau, Elian!" raung Vance, mengabaikan peringatan itu. "Ini adalah mahakaryaku! Aku telah mengorbankan segalanya untuk detik ini! Aku tidak akan membiarkan formula waktu ini hancur karena kecerobohanmu!"
Vance menjulurkan tangannya yang gemetar, berniat mencabut paksa silinder keperakan "Debu Bintang" yang masih tertancap di slot antarmuka manual. Di sekeliling slot tersebut, pusaran cahaya biru dan putih berputar seperti badai mini, memancarkan suara mendengung yang m****akkan telinga.
Saat jemari Vance berada hanya beberapa sentimeter dari silinder, udara di sekitar tangannya mendadak membias, seperti fatamorgana di atas gurun yang panas.
"Vance, jangan!" teriak Mara.
Namun, peringatan itu terlambat.
Begitu kulit tangan Vance menyentuh medan energi terluar dari distorsi tersebut, efek temporal yang tak terkendali langsung menghantamnya. Waktu tidak lagi berjalan linier bagi sel-sel tubuh Vance.
Dalam hitungan detik yang mengerikan, Elian dan Mara menyaksikan pemandangan yang akan menghantui mimpi buruk mereka selamanya. Tangan kanan Vance yang menjangkau silinder itu mendadak keriput, mengering, dan membusuk seolah-olah telah melewati waktu seratus tahun dalam sekejap mata. Tulang-tulangnya yang menua menembus kulit yang rapuh, sebelum akhirnya meluruh menjadi debu kelabu yang terisap ke dalam pusaran.
Vance menjerit. Namun, jeritan itu terdengar sangat aneh—suaranya melambat menjadi geraman rendah yang berat, lalu mendadak melengking cepat ke frekuensi tinggi yang menyiksa telinga, terdistorsi oleh fluktuasi waktu yang menjerat tenggorokannya.
"Tolong... a-aku..." rintih Vance, suaranya kini terdengar seperti suara anak kecil, lalu berganti menjadi suara pria tua yang sekarat dalam napas yang sama.
Efek distorsi itu merayap naik ke lengannya, bahunya, dan langsung mencengkeram seluruh tubuhnya. Riak-riak waktu yang kasat mata menghantam tubuh Vance dari berbagai arah yang berlawanan. Sebagian tubuhnya dipaksa menua ke titik kehancuran seluler, sementara sebagian lainnya ditarik mundur ke masa lalu, menciptakan ketidakselarasan fisik yang merobek struktur biologisnya secara ekstrem.
Kulitnya meregang, terkelupas, lalu menyatu kembali dalam bentuk yang mengerikan sebelum akhirnya, dengan satu sentakan gravitasi yang dahsyat, tubuh Vance terfragmentasi menjadi ribuan berkas cahaya redup dan debu organik. Pria yang sesumbar ingin menguasai waktu itu lenyap dari realitas, terhapus tanpa menyisakan apa pun selain gema jeritannya yang masih terdengar memantul di dinding-dinding logam stasiun, seolah terjebak dalam putaran waktu yang abadi.
Keheningan mencekam sempat merayap selama satu detik sebelum suara ledakan dari dek bawah menyadarkan Elian dan Mara.
"Elian..." Mara berbisik, air mata ketakutan mengalir di pipinya yang kotor oleh jelaga. "Kita... kita harus pergi dari sini."
Elian mengangguk cepat. Ia mengabaikan rasa sakit di tubuhnya sendiri dan merangkak mendekati Mara. Dengan hati-hati namun cekatan, ia merangkulkan lengan Mara ke bahunya, membantu gadis itu untuk berdiri. Di bawah mereka, lant** logam mulai terasa sangat panas hingga sol sepatu mereka mulai berbau hangus. Logam baja stasiun mengerang keras, meliuk akibat suhu ekstrem dari reaktor fusi yang mulai meleleh di bawah dek.
*“Peringatan. Suhu inti reaktor melampaui batas kritis. Sistem pendingin kuantum gagal total. Estimasi ledakan: tiga menit dua puluh detik.”*
"Kita tidak bisa menggunakan lift," kata Elian sambil menahan berat tubuh Mara. "Semua sistem kelistrikan utama pasti sudah diputus oleh komputer untuk mencegah penyebaran api. Kita harus melewati tangga darurat menuju dek hanggar."
"Bagaimana dengan 'Debu Bintang'?" Mara menoleh ke belakang, menatap silinder keperakan yang kini berada di tengah-tengah badai energi yang kian meluas. Cahaya di sekitar konsol itu kini telah berubah warna menjadi ungu gelap yang pekat—tanda bahwa pembentukan singularitas telah dimulai.
Elian menatap silinder itu dengan tatapan pilu. Alat yang ia ciptakan dengan harapan dapat memperbaiki masa lalu, kini justru menjadi pemicu akhir dari masa depan mereka.
"Lupakan alat itu, Mara," ujar Elian dengan suara serak, ada kepedihan mendalam dalam nadanya. "Vance benar tentang satu hal... aku telah membawa kutukan ke tempat ini. Jika kita mencoba mengambilnya, kita hanya akan berakhir seperti dia. Sekarang, hanya hidupmu yang penting bagiku."
Mara menatap mata Elian, menemukan ketulusan yang murni di balik keputusasaan pria itu. Di tengah gemuruh kehancuran dunia di sekitar mereka, genggaman tangan Elian di pinggangnya terasa hangat dan nyata.
"Baiklah," bisik Mara, mencoba tersenyum di tengah ringis sakitnya. "Mari kita keluar dari neraka ini."
Mereka melangkah tertatih-tatih meninggalkan dek observasi yang kini telah menyerupai ruang pembakaran. Di belakang mereka, retakan temporal terus melebar, menelan konsol kontrol, kursi-kursi logam, dan dinding baja, mengubah materi padat menjadi partikel-partikel elementer yang menari dalam kegelapan.
Koridor stasiun Aethelgard kini telah berubah menjadi labirin maut. Lampu-lampu darurat yang berkedip merah menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menakutkan di dinding yang miring. Asap tebal berwarna hitam, berbau kimia menyengat, mulai memenuhi langit-langit koridor, memaksa mereka untuk berjalan membungkuk sambil terbatuk-batuk.
Setiap beberapa puluh meter, stasiun berguncang hebat akibat ledakan-ledakan kecil di pipa transmisi energi. Pipa-pipa tersebut pecah, menyemburkan uap super panas yang siap menguliti siapa saja yang tidak waspada.
"Bertahanlah, Mara," bisik Elian, napasnya memburu. Keringat membasahi seluruh tubuhnya, bercampur dengan debu stasiun. "Hanggar tinggal dua tingkat di bawah kita."
Namun, saat mereka mencapai pintu akses tangga darurat, harapan mereka seolah runtuh. Pintu hidrolik tebal yang terbuat dari titanium itu telah tertutup rapat, terkunci oleh protokol karantina otomatis stasiun. Panel kontrol di samping pintu menyala merah dengan tulisan dingin: *DIKUNCI - BAHAYA RADIASI TINGGI DI SEKTOR BAWAH.*
"Tidak, tidak, tidak!" Elian memukul panel itu dengan frustrasi. Ia mencoba membuka penutup manualnya, meraba-raba sirkuit di dalamnya dengan jemari yang gemetar, namun sistem telah mati total. "Pintunya tidak mau merespons! Seluruh sektor ini telah diisolasi!"
Mara bersandar pada dinding dingin, wajahnya kian pucat akibat kehilangan banyak darah. Kekuatannya perlahan habis. "Elian... gravitasi... rasakan itu."
Elian terdiam. Ia baru menyadari bahwa tubuhnya kini terasa jauh lebih berat. Udara di sekitar mereka seolah-olah menekan dada mereka dengan gada raksasa. Di ujung koridor, pembiasan cahaya mulai terlihat aneh—garis-garis lurus koridor tampak melengkung ke arah dek observasi yang mereka tinggalkan.
Singularitas itu telah lahir.
Gaya gravitasi tak terbatas dari lubang hitam kecil yang baru terbentuk itu mulai menarik seluruh materi stasiun, merentangkan ruang, dan memperlambat waktu di sekitar mereka.
*“Peringatan. Medan gravitasi eksternal terdeteksi di dalam stasiun. Evakuasi tidak mungkin dilakukan melalui jalur standar. Waktu tersisa hingga keruntuhan total: sembilan puluh detik.”*
Suara komputer itu kini terdengar lebih lambat dan berat, sebuah tanda mengerikan bahwa dilatasi waktu telah mulai memengaruhi sistem komputer stasiun itu sendiri. Sembilan puluh detik bagi komputer mungkin hanya akan terasa seperti beberapa detik bagi Elian dan Mara sebelum tubuh mereka terkoyak oleh gaya pasang surut gravitasi.
Elian menatap Mara yang kini terduduk lemas di lant**. Air mata mengalir di pipi Elian, bukan karena takut akan kematian yang mendekat, melainkan karena rasa bersalah yang tak tertahankan.
"Maafkan aku, Mara," bisik Elian sambil berlutut di depan gadis itu, menggenggam kedua tangannya yang dingin. "Semua ini salahku. Jika saja aku tidak menciptakan mesin itu... jika saja aku tidak egois..."
Mara menggeleng perlahan. Ia mengangkat tangan kanannya yang tidak terluka, mengusap air mata di pipi Elian dengan sisa kekuatannya. "Jangan... jangan katakan itu, Elian. Kau mencoba menyelamatkan apa yang telah hilang. Kita semua mencari jalan pulang... hanya saja, terkadang jalan itu terlalu berliku."
"Tapi kita akan mati di sini, dalam kegelapan yang diciptakan oleh tanganku sendiri," ujar Elian, suaranya tercekat oleh tangis.
Di luar jendela koridor, pemandangan luar angkasa yang biasanya indah kini telah berubah menjadi pemandangan apokaliptik yang mengerikan. Bintang mati di dekat stasiun kini tampak meliuk-liuk, cahayanya terdistorsi menjadi lingkaran-lingkaran spiral yang berputar cepat menuju stasiun Aethelgard. Struktur luar stasiun, panel-panel surya raksasa, dan menara komunikasi luar mulai patah dan terisap ma**k ke dalam dek observasi yang kini telah menjadi pusat gravitasi absolut.
Derik logam yang patah terdengar seperti nyanyian kematian yang bersahut-sahutan. Waktu mereka telah habis. Di antara derik waktu yang kian melambat dan debu bintang yang mulai terisap ma**k, mereka berdua hanya bisa saling mendekap, menanti detik-detik terakhir sebelum seluruh keberadaan mereka lenyap ke dalam pelukan singularitas yang tak berujung.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!