**BAB 11**
**Pilihan Terakhir di Jantung Badai**
Kalimat terakhir Vance tersedak di tenggorokannya. Sebelum ia sempat menyentuh tombol aktivasi manual pada konsol utama, medan temporal di sekelilingnya meledak dalam kilatan cahaya jingga kemerahan. Udara di sekitar Vance meliuk, mendistorsi pandangan bagaikan fatamorgana di gurun yang membara.
Pria paruh baya itu m****ik. Suaranya tidak lagi terdengar seperti manusia; melodi suaranya melambat menjadi geraman rendah, lalu melesat tinggi menjadi jeritan melengking dalam fraksi detik. Di bawah tatapan ngeri Elian, tubuh Vance tampak mengalami fluktuasi usia yang ekstrem. Kulitnya mengerut keriput, memutih, lalu kembali kencang, sebelum akhirnya jalinan molekul tubuhnya menyerah pada tekanan gaya pasang surut temporal. Vance terurai, meluruh menjadi abu keperakan yang langsung terisap ke dalam pusaran reaktor. Ia lenyap, seolah-olah waktu sendiri telah menghapusnya dari lembaran sejarah.
"Elian! Awas!"
Suara serak Mara memecah kebekuan Elian. Namun, peringatan itu terlambat. Guncangan hebat berikutnya mengguncang dek observasi. Langit-langit baja di atas mereka robek. Sebuah balok penyangga seberat beberapa ton runtuh, menghantam lant** logam dengan dentuman yang m****akkan telinga.
Elian terlempar ke samping, berguling di atas lant** yang panas hingga menab**k kaki meja instrumen. Ketika ia membuka mata di tengah kepulan asap tebal berbau ozon, ia mendengar rintihan tertahan yang menyayat hati.
"Mara!" Elian merangkak dengan panik, mengabaikan rasa perih di lutut dan lengannya yang melepuh.
Asap mulai menipis, menyingkap pemandangan yang membuat jantung Elian seakan berhenti berdetak. Balok baja besar itu runtuh tepat di atas kaki Mara, menindih tubuh bagian bawahnya. Darah segar mengalir dari balik reruntuhan, bercampur dengan cairan hidrolik yang bocor. Wajah Mara pucat pasi, bibirnya gemetar menahan rasa sakit yang tak terperikan.
"Elian... aku tidak bisa... merasakan kakiku," bisik Mara, napasnya tersengal-sengal, dangkal dan cepat.
"Bertahanlah, Mara! Aku akan mengangkatnya!" Elian mencengkeram pinggiran balok baja tersebut. Ia mengerahkan seluruh tenaganya, menyalurkan adrenalin yang membakar otot-ototnya. Namun, struktur logam itu terlalu kokoh. Gravitasi buatan yang kacau di dalam ruangan justru membuat bobot balok itu terasa berlipat ganda. "Sial! Bergeraklah!" raung Elian dalam keputusasaan.
*“Peringatan. Integritas struktural stasiun Aethelgard berada di titik kritis dua puluh persen. Evakuasi darurat harus diselesaikan dalam waktu tiga menit tiga puluh detik.”* Suara komputer stasiun terdengar dingin, mengiringi derik waktu yang kian memburu.
"Jangan... jangan buang energimu, Elian," Mara meraih pergelangan tangan Elian dengan jemarinya yang dingin dan gemetar. Sentuhan itu meninggalkan noda darah di kulit Elian. "Lihat... reaktornya."
Elian menoleh ke belakang. Di tengah ruangan, tabung kaca raksasa yang menampung inti "Debu Bintang" telah retak sepenuhnya. Cahaya di dalamnya bukan lagi putih keperakan yang tenang, melainkan pusaran badai berwarna ungu gelap dan hitam—sebuah singularitas yang sedang membuas, siap menelan apa saja. Di tangannya, perangkat portabel yang terhubung dengan inti fusi terus bergetar, memancarkan data kalkulasi temporal yang terus meluncur mundur.
Pilihan itu ada di hadapannya. Alat di tangannya memiliki daya yang c**up untuk memicu regresi krono global. Elian bisa menekan tombol itu, memutar balik waktu sejauh sepuluh tahun yang lalu.
Ia bisa kembali ke masa di mana Bumi belum hancur oleh perang energi. Ia bisa kembali ke pelukan Luna, kekasihnya yang tewas dalam tragedi ledakan reaktor pertama di Jenewa. Ia bisa mencegah kematian Luna. Ia bisa memperbaiki segalanya. Semua penderitaan, debu bintang, dan darah yang tertumpah hari ini bisa dihapus seolah tidak pernah terjadi.
Namun, layar monitor di sampingnya menampilkan simulasi real-time yang mengerikan. Jalinan ruang-waktu di sekitar tata surya sudah terlalu rapuh. Jika ia memaksa menarik mundur jarum jam takdir, tekanan paradoksnya akan merobek dimensi ini secara permanen. Bumi tidak akan terselamatkan; melainkan akan terjebak dalam lingkaran waktu yang hancur dan mati selamanya.
"Aku bisa mengembalikan semuanya, Mara..." air mata mulai menggenang di pelupuk mata Elian, mengaburkan pandangannya. "Aku bisa menyelamatkan Luna. Aku bisa membawa kita semua kembali ke rumah."
"Dan mengorbankan masa depan yang tersisa?" Mara menatap Elian dengan mata sayunya yang mulai meredup, namun memancarkan ketegasan yang luar biasa. "Bumi sudah menjadi debu, Elian. Kita tidak bisa membangun masa depan di atas fondasi masa lalu yang telah mati. Luna... dia tidak akan ingin kau menghancurkan semesta demi bayang-bayangnya."
"Tapi aku kehilangan dia karena kesalahanku!" teriak Elian, suaranya pecah oleh tangis yang tak lagi mampu ia bendung. Penyesalan yang selama bertahun-tahun ia kunci rapat di dasar jiwanya kini tumpah bagaikan air bah. "Aku berjanji akan menjaganya, Mara! Aku hidup dalam rasa bersalah ini setiap detik! Derik waktu di kepalaku... itu selalu mengingatkanku pada kegagalanku!"
Mara tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kegetiran sekaligus kelembutan. "Maka hentikan derik itu, Elian. Bebaskan dirimu. Lihat ke luar..."
Elian mengalihkan pandangannya ke jendela observasi yang retak. Di luar sana, di antara kegelapan ruang hampa yang dihiasi debu bintang, tampak *Bahtera Evakuasi Exodus-9*—sebuah kapal raksasa yang membawa sisa-sisa terakhir umat manusia yang selamat, terma**k ribuan anak-anak dalam bilik hibernasi. Kapal itu kini terjebak dalam medan gravitasi abnormal dari reaktor Aethelgard yang mulai runtuh. Mereka tidak bisa melompat ke kecepatan cahaya; mereka akan ikut terhisap ke dalam lubang hitam yang sedang tercipta.
Jika Elian memutar waktu, semua jiwa di dalam bahtera itu akan terurai menjadi ketiadaan.
"Mereka adalah masa depan kita," bisik Mara, suaranya kian melemah. Napasnya kini terdengar berat, terbebani oleh pendarahan dalam yang kian parah. "Berikan mereka jalan, Elian. Tolong... jangan biarkan kematian kami sia-sia."
Elian menatap perangkat di tangannya, lalu menatap Mara, dan akhirnya ke arah bayangan samar Luna yang seolah berdiri di sudut matanya yang basah. Di dalam keheningan batinnya, ia seakan mendengar suara Luna yang berbisik lembut: *Sudah saatnya melepaskan, Elian.*
Sebuah pemahaman baru yang menyakitkan namun jernih menghantam kesadaran Elian. Kerinduan adalah ilusi yang mematikan jika dipelihara dengan mengorbankan harapan. Menyelamatkan masa lalu adalah tindakan egois yang hanya akan melahirkan kehancuran yang lebih besar.
"Maafkan aku, Luna," bisik Elian pelan, menutup matanya sejenak untuk merekam wajah kekasihnya untuk terakhir kali dalam ingatannya. "Aku harus membiarkanmu pergi."
Ketika ia membuka mata, kesedihannya telah mengkristal menjadi tekad yang bulat. Elian tidak lagi melihat ke arah opsi "Krono-Regresi". Jemarinya yang gemetar mulai menari di atas panel kontrol perangkat "Debu Bintang", membatalkan seluruh algoritma pemutarbalikan waktu yang telah ia susun selama bertahun-tahun.
"Apa yang akan kau lakukan, Elian?" tanya Mara, menahan rasa sakitnya demi menyaksikan momen bersejarah itu.
"Aku akan mengubah fusi kuantum ini," jawab Elian, suaranya kini terdengar mantap meski air mata masih membasahi pipinya. "Aku tidak akan memutar balik energi ini. Aku akan memproyeksikannya maju. Aku akan menggunakan seluruh daya temporal dari Debu Bintang untuk merobek ruang, menciptakan jembatan Einstein-Rosen yang stabil."
"Sebuah gerbang dimensi?" Mara terengah.
"Ya. Jalan pintas menuju Galaksi Kepler-186f yang aman. Bahtera itu tidak perlu melakukan perjalanan ratusan tahun yang mustahil. Mereka bisa langsung tiba di sana... sekarang juga."
Jari-jemari Elian bergerak dengan kecepatan yang menakjubkan, menulis ulang baris-baris kode kuantum. Di layar monitor, grafik energi yang tadinya berbentuk lingkaran spiral tertutup mulai melurus, memanjang membentuk vektor tajam yang mengarah ke luar sistem.
*“Peringatan. Konfigurasi ulang terdeteksi. Keluaran energi akan dialihkan ke pemancar gerbang eksternal. Waktu menuju keruntuhan total: enam puluh detik.”*
Stasiun Aethelgard berguncang lebih hebat dari sebelumnya. Dinding-dinding dek observasi mulai terkelupas, terisap oleh ruang hampa di luar. Elian merangkak kembali ke sisi Mara, memeluk tubuh gadis itu erat-erat. Ia tahu, dengan mengalihkan seluruh energi reaktor untuk membuka gerbang dimensi bagi bahtera, tidak akan ada c**up daya untuk menyelamatkan stasiun ini—atau mereka berdua.
"Kita tidak akan berhasil keluar dari sini, bukan?" tanya Mara lembut, menyandarkan kepalanya di bahu Elian.
"Tidak," jawab Elian jujur, tangannya mengusap rambut Mara yang kotor oleh debu dan darah. "Tapi kita telah memastikan bahwa manusia akan tetap hidup. Kita telah memberi mereka hari esok."
"Itu... sudah lebih dari c**up," Mara memejamkan matanya, merasakan kehangatan pelukan Elian di tengah suhu ruangan yang mulai membeku akibat kebocoran atmosfer.
Elian menekan tombol enter terakhir pada perangkat di tangannya.
"Aktifkan," bisik Elian.
Seketika, seluruh energi dari inti "Debu Bintang" melesat keluar dari stasiun Aethelgard dalam bentuk pilar cahaya biru safir yang luar biasa megah. Cahaya itu membelah kegelapan ruang angkasa, menembus kekosongan, dan membuka sebuah lubang cacing raksasa yang berpendar indah di hadapan *Bahtera Evakuasi Exodus-9*. Gerbang menuju rumah baru bagi kemanusiaan telah terbuka lebar.
Melalui sisa-sisa sensor monitor yang masih menyala, Elian melihat bahtera itu mulai bergerak maju, meluncur perlahan namun pasti mema**ki pusaran cahaya biru tersebut, meninggalkan badai kehancuran di belakang mereka.
Di dalam dek observasi yang kini mulai runtuh sepenuhnya, cahaya biru itu memantul di mata Elian. Derik waktu di dalam kepalanya akhirnya berhenti, digantikan oleh kesunyian yang damai. Di tengah jantung badai yang menelan segalanya, Elian tersenyum. Ia telah memilih masa depan.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!