**BAB 12**
**Melebur dalam Keabadian Kosmik**
Cahaya di dalam tabung reaktor tidak lagi memancar dalam ritme yang teratur. Denyutannya kini menyerupai detak jantung yang sekarat—cepat, tidak stabil, dan memancarkan pendar keemasan bercampur ungu yang terdistorsi. Di sekeliling mereka, dinding-dinding baja stasiun luar angkasa *Aethelgard* mengerang keras, meliuk di bawah tekanan gaya gravitasi yang kacau.
"Elian... tinggalkan aku," bisik Mara lagi, suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin temporal yang mulai berembus dari retakan reaktor. "Kau harus membuka gerbangnya. Waktu kita... sudah habis."
"Aku tidak akan meninggalkanmu, Mara! Tidak setelah semua yang kita lalui!" raung Elian.
Dengan napas terengah-engah dan keringat dingin yang membasahi keningnya, Elian memutar otak. Matanya menyapu ruang kendali yang luluh lantak, mencari apa saja yang bisa digunakan. Pandangannya terjatuh pada tuas hidrolik darurat di dekat dinding sebelah kanan—sebuah sistem manual kuno yang dirancang untuk kegagalan daya total.
Tanpa membuang waktu, Elian berlari menerobos hujan percikan api. Tubuhnya terhuyung saat lant** di bawah kakinya tiba-tiba miring tiga puluh derajat. Ia mencengkeram tuas besi tebal itu dengan kedua tangannya, menggeretakkan rahang, dan menariknya ke bawah dengan seluruh sisa kekuatan yang ia miliki.
*KRETEK!*
Sistem hidrolik cadangan meraung. Balok baja raksasa yang menindih kaki Mara perlahan terangkat beberapa sentimeter—c**up untuk memberi ruang. Elian segera melepas tuas, meluncur di atas lant** logam yang licin, dan merengkuh tubuh Mara. Dengan satu sentakan kuat, ia menarik wanita itu keluar dari perangkap maut tersebut tepat sebelum sistem hidrolik gagal sepenuhnya dan balok baja itu kembali terempas ke lant** dengan dentuman dahsyat.
Mara m****ik kesakitan saat kakinya terseret, tetapi ia masih mampu mempertahankan kesadarannya. Elian membaringkannya di bawah perlindungan konsol utama yang masih kokoh.
"Kau aman sekarang," bisik Elian, napasnya memburu di dekat telinga Mara.
"Elian... lihat," Mara menunjuk ke arah reaktor dengan jari yang gemetar.
Inti "Debu Bintang" di dalam tabung kaca telah mencapai batas jenuh. Retakan di kaca pelindung menjalar seperti jaring laba-laba yang menyala. Namun, di tengah kekacauan itu, sebuah pusaran dimensi mulai terbentuk di atas reaktor—sebuah lubang cacing mini yang berputar lambat, memancarkan cahaya biru safir yang luar biasa indah. Itulah gerbang dimensi, jalan satu-satunya menuju dunia baru yang dijanjikan.
*“Peringatan. Integritas struktural berada di angka sepuluh persen. Kolaps dimensi akan terjadi dalam satu menit lima puluh detik.”* Suara komputer stasiun kini terdengar parau, terdistorsi oleh interferensi elektromagnetik.
Elian membantu Mara berdiri. Wanita itu meringis, bertumpu sepenuhnya pada bahu Elian. Bersama-sama, mereka melangkah tertatih-tatih menuju konsol kontrol utama yang terhubung langsung dengan stabilitas gerbang dimensi. Jemari Elian dengan cepat menari di atas papan ketik virtual yang berkedip-kedip merah.
"Aku telah mengunci koordinat dunia baru," kata Elian, suaranya bergetar namun penuh tekad. "Tetapi ada masalah, Mara."
Mara menatap layar monitor yang menampilkan grafik fluktuasi energi yang mengerikan. "Medan penahannya... tidak stabil?"
"Jauh lebih buruk dari itu," Elian menoleh menatap Mara, matanya memancarkan kesedihan yang mendalam sekaligus keikhlasan yang mutlak. "Gerbang ini membutuhkan kalib**si manual secara terus-menerus selama proses evakuasi. Seseorang harus tetap berada di konsol ini untuk menyeimbangkan tekanan temporal. Jika konsol ini ditinggalkan, gerbang akan menutup seketika, mengoyak siapa pun yang berada di dalamnya menjadi debu subatomik."
Wajah Mara yang pucat menjadi kian pasi. Kesadaran mengerikan menghantamnya seperti godam. "Tidak... Tidak, Elian! Kita bisa mengatur sistem otomatis! Pasti ada cara lain!"
"Vance telah menghancurkan dek pemrograman sekunder, Mara. Tidak ada sistem otomatis yang tersisa. Hanya konsol manual ini yang berfungsi," Elian memegang kedua tangan Mara yang dingin, mencoba menyalurkan kehangatan terakhirnya. "Seseorang harus tinggal di sini. Dan orang itu adalah aku."
"Aku tidak akan membiarkanmu!" air mata Mara akhirnya tumpah, mengalir membasahi pipinya yang kotor oleh debu kosmik. "Kita berjuang bersama untuk sampai ke titik ini! Kita kehilangan rumah kita, bumi kita, dan sekarang... aku tidak bisa kehilanganmu juga, Elian!"
"Dengarkan aku, Mara!" Elian mengguncang bahu wanita itu dengan lembut namun tegas. "Sisa umat manusia—ratusan jiwa yang menanti di ruang evakuasi bawah—mereka membutuhkanmu. Kau adalah kapten mereka. Kau yang memimpin mereka melewati masa-masa tergelap di *Aethelgard*. Mereka akan tersesat di dunia baru tanpa dirimu."
"Tapi bagaimana denganmu?" isak Mara, suaranya serak oleh keputusasaan.
Elian tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, sejak hari di mana putrinya, Maya, direnggut oleh badai radiasi di bumi yang sekarat, mata Elian tampak begitu damai. "Aku sudah terlalu lama berlari dari waktu, Mara. Aku membawa kedukaan ini di setiap helai napasku. Di sini, di jantung badai ini... aku akhirnya menemukan tempat perhentianku."
Sebelum Mara sempat mendebat, pintu tebal di belakang mereka berdesis terbuka. Dr. Aris bersama beberapa petugas keamanan yang tersisa ma**k dengan wajah panik, memapah beberapa warga sipil yang terluka.
"Kapten Mara! Elian! Gerbangnya terbuka!" teriak Dr. Aris di tengah gemuruh stasiun. "Tapi struktur stasiun mulai runtuh! Kita harus pergi sekarang!"
"Aris!" panggil Elian dengan suara lantang. "Bawa Mara! Ma**k ke dalam gerbang bersama semua orang. Aku yang akan menjaga gerbang ini tetap terbuka dari sini!"
Dr. Aris tertegun, melihat ke arah Elian, lalu ke arah konsol yang menyala merah. Sebagai seorang ilmuwan, ia langsung memahami situasi tersebut. Matanya berkaca-kaca. "Elian... kau..."
"Lakukan, Aris! Itu perintah!" raung Elian.
"Tidak! Lepaskan aku!" Mara meronta ketika Dr. Aris dan seorang petugas keamanan memegang lengannya, memapahnya menjauh dari Elian. "Elian! Ikutlah dengan kami! Aku mohon!"
"Perg***h, Mara. Sambut fajar baru untuk kita semua," bisik Elian, matanya tidak pernah lepas dari sosok wanita yang telah menjadi jangkar hidupnya selama tahun-tahun pelarian ini.
Dengan air mata yang mengaburkan pandangannya, Mara dipaksa melangkah menuju pusaran cahaya biru safir. Barisan manusia yang tersisa mulai berhamburan ma**k ke dalam portal, melintasi batas dimensi menuju ketidaktahuan yang menjanjikan kehidupan. Sebelum tubuhnya terserap oleh cahaya gerbang, Mara menoleh untuk terakhir kalinya.
"Aku akan mengingatmu, Elian! Kami semua akan mengingatmu di antara bintang-bintang!" teriak Mara, suaranya bergema sebelum akhirnya lenyap tertelan keheningan portal.
Elian mengangguk pelan. "Hiduplah dengan baik, Mara."
Kini, ruang kendali itu sunyi, menyisakan deru mesin reaktor yang kian mendekati titik akhir. Elian memutar tubuhnya kembali menghadap konsol. Jarinya terus menyesuaikan frekuensi penstabil, menatap layar yang menunjukkan satu per satu tanda vital para pengungsi berhasil menyeberang dengan selamat ke koordinat tujuan.
*Sembilan puluh persen... sembilan puluh lima persen... seratus persen.*
Semua orang telah menyeberang. Kemanusiaan telah selamat.
Tepat saat tanda evakuasi selesai menyala hijau, dinding reaktor pecah sepenuhnya. Energi "Debu Bintang" meledak keluar, bukan sebagai ledakan api yang menghancurkan, melainkan sebagai gelombang partikel kosmik berwarna keperakan yang mengalir lambat, mengabaikan hukum fisika biasa.
Stasiun *Aethelgard* mulai terurai. Langit-langit baja runtuh, melayang di udara tanpa bobot sebelum hancur menjadi partikel-partikel debu halus. Singularitas indah yang berkilau terbentuk di tengah ruangan, menarik segala materi di sekitarnya ma**k ke dalam tarian kosmik yang megah.
Elian melepaskan tangannya dari konsol yang mulai meleleh. Tubuhnya perlahan melayang di udara yang kini dipenuhi oleh miliaran butiran debu bintang yang bercahaya. Ia tidak merasakan sakit. Ia tidak merasakan takut.
Suara derik waktu yang biasanya terdengar seperti detak jam yang memburu di kepalanya—konstanta yang selalu mengingatkannya akan penyesalan dan kehilangan—perlahan-lahan melambat. *Tik... tok... tik...* Suara itu bertransformasi menjadi sebuah melodi yang sangat lembut, seperti senandung pengantar tidur yang biasa ia nyanyikan untuk putrinya dahulu.
Di dalam pusaran singularitas yang berkilau itu, batas antara masa lalu, masa kini, dan masa depan tampak melebur menjadi satu titian cahaya yang tak berujung. Elian melihat bayangan masa lalunya. Ia melihat bumi yang hijau di masa kecilnya. Dan di sana, di ujung aliran cahaya keperakan, ia melihat sesosok gadis kecil dengan rambut dikepang dua sedang melambaikan tangan ke arahnya sambil tersenyum lebar.
*“Ayah, kau sudah pulang?”* suara Maya terdengar begitu nyata di dalam benak Elian, bergema di antara sunyinya ruang hampa.
Elian tersenyum, air mata kebahagiaan mengalir di sudut matanya, melayang sebagai butiran kristal kecil sebelum menyatu dengan debu bintang di sekelilingnya. "Ya, sayang. Ayah sudah pulang."
Ia membiarkan kesadarannya melonggar. Perlahan-lahan, tubuh fisik Elian mulai terurai, molekul demi molekul, menyatu dengan aliran energi kosmik. Ia tidak lagi menjadi manusia yang terkungkung oleh raga dan waktu. Ia melebur ke dalam keabadian. Ia menjadi bagian dari angin surya, menjadi bagian dari cahaya nebula, dan menjadi bagian dari derik waktu yang menjaga keseimbangan alam semesta.
***
Di belahan dimensi yang lain, di bawah langit baru yang berwarna jingga keemasan dengan dua matahari yang baru terbit di ufuk timur, Mara perlahan membuka matanya. Ia terduduk di atas hamparan rumput hijau yang lembut, menghirup udara segar yang kaya akan oksigen.
Di sekelilingnya, ratusan manusia terduduk dan saling berpelukan, menangis haru menyadari bahwa mereka telah selamat dari kepunahan. Mereka telah sampai di rumah baru mereka.
Mara perlahan bangkit, mengabaikan rasa perih di kakinya yang kini telah dirawat secara darurat oleh Dr. Aris. Ia berjalan menuju tepi sebuah bukit, menatap langit pagi yang bersih tanpa polusi. Di atas sana, samar-samar di antara sisa-sisa bintang yang memudar oleh cahaya fajar, ia melihat sabuk debu kosmik berwarna keperakan yang meliuk indah di angkasa, seolah sedang tersenyum melindunginya.
Air mata Mara jatuh, tetapi kali ini disert** dengan senyuman hangat. Ia tahu, di suatu tempat di luar batas pemahaman manusia, di antara derik waktu alam semesta yang tak pernah berhenti, Elian kini telah abadi bersama memorinya—melebur dengan indah dalam keabadian kosmik.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!