**Bab 3: Bisikan dari Masa Lalu**
"Debu Bintang..." Elian mengulang frasa itu, suaranya nyaris menyerupai bisikan gaib di antara dengung instrumen laboratorium yang monoton. Matanya enggan beralih dari pendaran keperakan di layar holografis. Partikel-partikel mikro itu tidak sekadar melayang; mereka menari dalam sebuah koreografi yang menentang hukum fisika modern. Mereka mengabaikan entropi. Mereka menolak untuk meluruh.
Bagi dunia ilmiah, ini adalah anomali termodinamika yang mustahil. Namun bagi Elian, ini adalah seutas tali penyelamat yang dilemparkan oleh takdir.
Sepuluh tahun telah berlalu sejak Proyek Horizon-9 runtuh dalam bencana singularitas yang merenggut Luna. Selama satu dekade itu pula, Elian hidup dalam jeruji besi tak kasat mata bernama rasa bersalah. Ia selalu tahu bahwa Luna tidak sekadar mati dalam arti biologis. Luna terlempar ke dalam celah temporal, terjebak di antara lipatan dimensi yang melengkung akibat tarikan gravitasi tak stabil dari Eldred, sang raksasa merah yang kini sedang sekarat di luar sana.
Dan malam ini, misteri itu tersingkap. Partikel Debu Bintang yang dipancarkan oleh Eldred ternyata membawa tanda spin negatifβsebuah karakteristik materi yang hanya ada jika ia berasal dari garis waktu yang berjalan mundur.
"Jika partikel ini dapat mempertahankan energinya melintasi batas waktu," gumam Elian, jemarinya mulai gemetar oleh kombinasi antara kelelahan ekstrem dan harapan yang mendadak membubung tinggi, "maka mereka bisa digunakan sebagai jangkar. Penstabil temporal."
"AURA," panggil Elian, suaranya kini terdengar lebih tegas, dipenuhi urgensi yang tak terbendung. "Buka draf rancangan modul *Chrono-Stabilizer* MK-IV yang telah diarsipkan. Sinkronisasikan medan kurvatur lokal dengan pola emisi spin negatif dari partikel Debu Bintang ini."
"Peringatan, Dr. Elian," suara AURA bergema lambat, memantul di dinding logam ruang bawah tanah yang dingin. "Mengaktifkan cetak biru tersebut memerlukan daya yang melebihi batas aman Sub-Sektor Delta. Selain itu, manipulasi kurvatur temporal pada skala makro melanggar Protokol Keamanan Kosmik Aethelgard Pasal Tujuh."
"Otorisasi darurat, kode identifikasi Elian-09-Eldred. Lakukan sekarang, AURA! Kita tidak punya waktu!" bentak Elian. Napasnya memburu. Di layar, visualisasi cincin-cincin magnetik raksasa mulai terbentuk, mencoba menjinakkan partikel-partikel keperakan tersebut menjadi sebuah koridor energi yang stabil. Ini bukan lagi sekadar teori di atas kertas. Ini adalah jembatan menuju masa lalu. Menuju Luna.
Namun, sebelum simulasi itu mencapai tahap stabilisasi lima puluh persen, pintu hidrolik tebal di belakang Elian mendesis terbuka.
Udara dingin dari koridor luar menerobos ma**k, membawa serta aroma ozon dan ketegangan yang pekat. Elian tidak perlu berbalik untuk mengetahui siapa yang datang. Langkah kaki itu tegas, berirama lambat namun sarat akan otoritas yang menuntut penjelasan.
"Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu di sini, Elian, tapi aku tidak pernah menduga kau akan melangkah sejauh ini."
Mara berdiri di ambang pintu. Rambut pendeknya yang berwarna legam tampak sedikit berantakan, mencerminkan malam panjang yang juga ia lalui di pusat kendali stasiun. Matanya yang tajam langsung menyapu sekeliling ruangan, dan seketika itu juga, ia tersentak.
Di dalam laboratorium, hukum gravitasi tampak mulai kehilangan cengkeramannya. Beberapa tabung reaksi kosong di atas meja kayu melayang perlahan, berputar malas beberapa sentimeter di udara. Udara di sekitar konsol holografis tampak beriak, melengkungkan cahaya lampu neon di langit-langit seolah-olah ruang itu sendiri terbuat dari gelatin cair yang diaduk perlahan. Rasa mual yang tiba-tiba menghantam ulu hati Maraβefek samping fisiologis yang khas dari distorsi spasial lokal.
"Apa... apa yang telah kau lakukan?" bisik Mara, suaranya bergetar antara ngeri dan tidak percaya. Ia melangkah maju, tangannya refleks berpegangan pada tiang penyangga logam untuk menjaga keseimbangan karena lant** di bawah kakinya terasa seakan meliuk.
"Aku menemukan kuncinya, Mara," jawab Elian tanpa mengalihkan pandangan dari layar yang terus berkedip merah. "Debu Bintang ini. Ini bukan limbah kosmik biasa. Ini adalah sisa-sisa energi temporal yang terdistorsi dari peristiwa sepuluh tahun lalu. Eldred tidak sekadar membakar sisa bahan bakarnya; bintang itu sedang memuntahkan kembali waktu yang pernah ditelannya. Terma**k Luna."
"Hentikan keg***an ini, Elian!" Mara setengah berteriak, melangkah mendekat dan mencengkeram lengan Elian dengan kuat, memaksa pria itu berbalik menghadapnya. "Lihat dirimu! Kau pucat, matamu merah, dan kau hampir tidak bisa berdiri tegak! Kau mengejar hantu! Luna sudah tiada. Dia tewas dalam kecelakaan Horizon-9. Kita semua ada di sana, kita semua menyaksikannya!"
"Kita tidak menyaksikannya mati, Mara!" Elian menyentakkan lengannya hingga cengkeraman Mara terlepas. Suaranya pecah, sarat dengan kepedihan mendalam yang selama sepuluh tahun ini ia pendam dalam-dalam. "Kita melihatnya jatuh ke dalam anomali! Detektor kita kehilangan sinyalnya karena waktu di dalam sana berjalan jutaan kali lebih lambat. Bagi kita, sepuluh tahun telah berlalu. Namun bagi Luna... dia mungkin baru saja jatuh beberapa detik yang lalu! Dia masih di sana, berteriak meminta tolong di balik dinding ruang dan waktu yang terkunci ini!"
"Dan kau pikir kau bisa membuka gerbang itu kembali?" Mara menunjuk ke arah proyeksi hologram cincin penstabil yang kini berpendar merah membara. "Kau mencoba memanipulasi ruang waktu pada skala makro di dalam stasiun yang sedang sekarat ini! Apakah kau sudah kehilangan akal sehatmu sebagai seorang ilmuwan?"
"Ini adalah sains, Mara! Sains yang belum kita pahami sepenuhnya!"
"Bukan, Elian! Ini bukan sains lagi. Ini adalah keputusasaan yang menyamar sebagai eksperimen!" Mara menatap Elian dengan mata yang mulai berkaca-kaca, namun suaranya tetap sekeras baja. "Kau mencoba bermain menjadi Tuhan. Kau ingin memutar balik takdir, menolak hukum alam yang mutlak bahwa apa yang telah berlalu tidak akan pernah bisa kembali. Jika kau mengaktifkan penstabil ini dengan daya dari reaktor utama, kau akan merobek struktur ruang di sektor ini. Kau tidak hanya akan gagal menyelamatkan Luna, tapi kau juga akan membunuh kita semua di Aethelgard!"
Di luar jendela observatorium raksasa yang membentang di sisi kanan laboratorium, bintang raksasa merah Eldred tiba-tiba berdenyut hebat. Cahaya merah tuanya yang semula redup kini berkobar, memancarkan gelombang kejut elektromagnetik yang kasat mata. Suara derak frekuensi rendahβseperti suara kaca raksasa yang retak di bawah tekanan jutaan ton airβterdengar merambat melalui dinding-dinding logam stasiun.
Lampu-lampu di laboratorium berkedip-kedip tak stabil. Alarm darurat di langit-langit mulai berputar, menyebarkan cahaya kuning yang berdenyut selaras dengan detak jantung mereka yang kian memburu.
"Sistem mendeteksi lonjakan distorsi eksternal," AURA menyela, suaranya kini dipenuhi distorsi statis yang mengganggu. "Aktivitas magnetosfer Eldred meningkat sebesar tiga ratus persen. Medan gravitasi lokal tidak stabil. Sangat disarankan untuk segera mematikan semua eksperimen aktif."
"Dengar itu, Elian!" Mara memohon, kini suaranya melembut, dipenuhi rasa cemas yang mendalam terhadap pria di hadapannya. Ia meletakkan kedua tangannya di bahu Elian, menatap langsung ke dalam manik mata pria itu yang dipenuhi bayangan keputusasaan. "Aku juga merindukannya. Luna adalah sahabat terbaikku. Tapi kepergiannya adalah harga yang harus kita bayar atas kesombongan kita di masa lalu. Kita tidak bisa terus hidup dalam bayang-bayang penyesalan. Tolong... biarkan dia pergi. Biarkan waktu melakukan tugasnya."
Elian menatap Mara. Untuk sesaat, ketegangan di wajahnya mencair, digantikan oleh kesedihan yang begitu murni hingga membuat dadanya terasa sesak. Ia teringat senyum Luna, tawa terakhirnya sebelum kegelapan anomali menelan segalanya. Suara Luna seolah kembali berbisik di telinganya, terbawa oleh derik konstan bintang Eldred di luar sana. *Jangan biarkan aku terlupakan, Elian.*
"Aku tidak bisa, Mara," bisik Elian lirih, air mata akhirnya menetes melewati pipinya yang cekung. "Jika aku membiarkannya pergi, maka tidak ada lagi yang tersisa dari diriku. Aku mati di hari yang sama saat dia menghilang. Ini adalah satu-satunya caraku untuk bernapas kembali."
Dengan gerakan cepat yang tak sempat diantisipasi oleh Mara, Elian berbalik dan menghantam tombol eksekusi utama pada konsol virtual.
"AURA! Alirkan daya reaktor penuh ke modul penstabil! Sekarang!"
Seketika itu juga, ruangan itu meledak dalam cahaya keperakan yang membutakan. Gravitasi lokal lenyap sepenuhnya, melempar tubuh Elian dan Mara melayang di udara, sementara di luar jendela, raksasa merah Eldred berderak semakin keras, seolah-olah siap menelan seluruh eksistensi mereka ke dalam rahim waktu yang tak berujung.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!