Di Antara Derik Waktu dan Debu Bintang

Bab 4: Bayang-Bayang Faksi Besi

Pengaturan Membaca

"...ngira kau akan melangkah sejauh ini."

Kalimat itu menggantung di udara dingin laboratorium, disusul oleh derap langkah sepatu bot berat yang berdentang ritmis di atas lant** kisi baja. Elian membeku. Jemarinya yang masih berada di atas konsol kendali terasa kaku seketika. Aroma ozon yang tajam bercampur dengan bau minyak pelumas militer dan logam dinginβ€”aroma khas yang selalu menyert** kehadiran para prajurit Faksi Besi.

Elian perlahan membalikkan tubuhnya. Di ambang pintu hidrolik yang terbuka lebar, berdiri sesosok pria dengan jubah hitam berlapis pelat baja kelabu gelap. Lambang elang bersayap pedang khas Aethelgard terukir dingin di dada kirinya. Komandan Vance.

Di belakangnya, tiga prajurit bersenjata lengkap berdiri siaga, wajah mereka tersembunyi di balik helm taktis dengan visor merah yang berpendar redup. Kehadiran mereka seolah menyerap seluruh kehangatan yang tersisa di ruangan bawah tanah tersebut.

"Komandan Vance," suara Elian terdengar serak, namun ia berusaha keras menjaga agar nadanya tidak bergetar. Ia melangkah satu tapak ke samping, mencoba menghalangi pandangan Vance dari layar hologram yang masih menampilkan visualisasi cincin magnetik *Chrono-Stabilizer* MK-IV. "Sektor Delta adalah wilayah riset sipil tertutup. Anda tidak memiliki otoritas di sini."

Vance tidak langsung menjawab. Ia berjalan perlahan, mengabaikan protes Elian seolah-olah ilmuwan itu hanyalah sebutir debu yang tidak sengaja menghalangi jalannya. Matanya yang kelabu, sedingin es kutub, menatap lurus ke arah pendaran keperakan partikel Debu Bintang yang menari di dalam tabung penampung magnetik. Cahaya perak itu memantul di permukaan pelat bajanya, menciptakan ilusi optik yang aneh.

"Otoritas?" Vance terkekeh rendah, sebuah suara yang lebih mirip geraman besi berkarat. "Di stasiun yang sedang sekarat ini, Elian, otoritas adalah milik mereka yang mampu menjamin hari esok. Dan saat ini, dewan militer telah melimpahkan seluruh kendali sumber daya energi kepadaku. Terma**k apa pun yang kau sembunyikan di balik dinding-dinding kotor ini."

Vance berhenti tepat di depan konsol utama. Tangannya yang mengenakan sarung tangan kulit taktis meraba tepian layar holografis. Matanya menyipit saat membaca baris-baris kode kuantum dan visualisasi kurvatur temporal yang rumit.

"Sangat indah," gumam Vance, suaranya mendadak melunak, hampir terdengar seperti pemujaan yang fanatik. "Manipulasi kurvatur lokal... sinkronisasi spin negatif. Kau tidak sekadar mengamati Debu Bintang, Elian. Kau telah menemukan cara untuk menjinakkan waktu."

"Itu hanya eksperimen teoretis yang belum stabil!" potong Elian cepat, melangkah maju dengan kepalan tangan yang mengencang di sisi tubuhnya. "Teknologi ini berbahaya, Vance. Fluktuasi energinya dapat merobek struktur ruang-waktu di sekitar stasiun kita. Jika kita salah melangkah, kita tidak hanya akan lenyap, tetapi seluruh eksistensi kita akan terhapus dari sejarah!"

Vance berbalik, menatap Elian dengan pandangan yang sarat akan cemoohan sekaligus keyakinan yang mengerikan. "Terhapus dari sejarah? Tidakkah kau sadar, Doktor? Kita *sudah* terhapus. Kita sedang berdiri di tepi jurang kepunahan mutlak. Eldred, raksasa merah si**** di luar sana, sedang menelan sisa-sisa tata surya kita. Generator pendukung kehidupan stasiun ini meluruh lima persen setiap bulannya. Anak-anak yang lahir di dek bawah menderita mutasi genetik karena radiasi kosmik yang bocor. Kita adalah mayat yang berjalan, Elian. Kita hanya menunggu waktu sampai peti mati raksasa ini kehabisan napas."

Vance melangkah mendekati Elian, memperpendek jarak di antara mereka hingga Elian bisa mencium bau tembakau kering dari napas sang komandan.

"Kau ingin menyelamatkan satu orang," bisik Vance, nadanya menusuk langsung ke relung rasa bersalah terbesar Elian. "Kau menciptakan semua ini untuk menarik kembali kekasihmu yang hilang, Luna. Jangan menyangkalnya. Aku tahu tentang kecelakaan Proyek Horizon-9 sepuluh tahun lalu. Kau egois, Elian. Kau ingin menggunakan keajaiban kosmis ini hanya untuk menebus dosa masa lalumu."

Darah Elian terasa mendidih mendengarnya. Nama Luna yang diucapkan oleh mulut Vance terasa seperti penodaan. "Kau tidak tahu apa-apa tentang Luna! Dan kau tidak tahu apa-apa tentang risiko fisik dari alat ini!"

"Aku tahu lebih banyak dari yang kau duga," potong Vance, suaranya meninggi, bergaung di langit-langit laboratorium yang sempit. "Aku tahu bahwa partikel Debu Bintang ini adalah kunci untuk sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar menyelamatkan satu jiwa. Ini adalah kunci untuk *Great Reset*."

Elian tertegun. Jantungnya berdegup kencang, dipenuhi rasa ngeri yang perlahan merayap naik ke tenggorokannya. "*Great Reset*? Apa maksudmu, Vance?"

Vance tersenyum tipisβ€”sebuah senyuman dingin tanpa kehangatan. "Kita tidak akan membiarkan stasiun ini membusuk di sini. Kita akan memutar balik waktu. Bukan hanya beberapa menit, bukan hanya untuk menyelamatkan satu laboratorium. Kita akan memutar balik seluruh stasiun ini, seluruh penumpangnya, kembali ke masa kejayaan Bumi. Sebelum kehancuran ekologis terjadi. Sebelum manusia merusak rumah mereka sendiri. Kita akan kembali ke titik di mana langit masih berwarna biru, dan tanah masih menumbuhkan gandum tanpa bantuan inkubator biosfer."

"Kau g***..." Elian menggelengkan kepalanya perlahan, melangkah mundur dengan wajah pucat pasi. "Itu mustahil! Massa stasiun ini terlalu besar. Energi yang dibutuhkan untuk memutar balik waktu pada skala makroskopis seperti itu akan memicu keruntuhan dimensi. Struktur ruang di sekitar Eldred sudah sangat rapuh. Jika kau memaksakan *Great Reset*, kau akan menciptakan singularitas balik yang akan menelan seluruh sektor ini! Kita semua akan hancur berkeping-keping sebelum sempat melihat langit biru yang kau dambakan!"

"Risiko yang layak diambil daripada mati perlahan di tempat sampah antariksa ini!" gertak Vance. Matanya berkilat penuh tekad yang fanatik. "Kemanusiaan membutuhkan tindakan ekstrem, bukan ketakutan seorang ilmuwan yang mendekam di laboratoriumnya. Jika ada peluang satu banding sejuta untuk mengembalikan peradaban kita ke masa kejayaannya, aku akan mengambil peluang itu tanpa ragu!"

Vance berbalik menghadap para prajuritnya dan mengibaskan tangannya dengan gestur dingin. "Ambil perangkat penyimpanan data kuantumnya. Dan amankan modul *Chrono-Stabilizer*."

"Jangan sentuh!" teriak Elian. Ia mencoba menerjang ke arah konsol kendali untuk mengaktifkan protokol penghapusan darurat, namun sebelum jemarinya sempat menyentuh kibor fisik, dua prajurit Faksi Besi dengan sigap menyergapnya.

Lengan Elian dipelintir ke belakang dengan kasar. Ia mengerang kesakitan saat tubuhnya ditekan ke atas meja kerja logam yang dingin. Pipinya menempel pada permukaan baja yang beku, matanya dipaksa menatap layar hologram yang kini mulai diambil alih oleh perangkat peretas militer yang dipasang oleh prajurit ketiga.

"AURA! Aktifkan Protokol Enkripsi Aegis! Hancurkan data riset!" Elian berteriak di sela napasnya yang terengah-engah.

"Peringatan," suara AURA terdengar di udara, namun nadanya terputus-putus oleh interferensi statis. "Otorisasi... militer tingkat tinggi terdeteksi. Protokol Aegis... ditangguhkan oleh perintah Komando Tinggi Aethelgard. Maaf, Dr. Elian."

"AURA! Tidak!" Elian meronta, namun cengkeraman baja para prajurit di pundaknya terlalu kuat. Air mata frustrasi dan kemarahan mulai menggenang di pelupuk matanya. Sepuluh tahun penelitiannya, satu-satunya harapannya untuk membawa Luna kembali dari kegelapan temporal, kini sedang dijarah di depan matanya sendiri untuk sebuah misi bunuh diri massal yang g***.

Vance berjalan mendekati Elian yang tak berdaya. Ia berlutut sedikit, menatap langsung ke dalam mata Elian yang sarat akan kebencian.

"Jangan menatapku seperti itu, Doktor," kata Vance dengan nada yang hampir terdengar prihatin, meski ekspresinya tetap sedingin batu nisan. "Sejarah akan mencatat hari ini sebagai awal dari kelahiran kembali kemanusiaan. Dan kau... kau harus bangga. Penemuanmu adalah fondasi dari zaman keemasan yang baru. Jika rencana ini berhasil, kau bahkan mungkin akan bertemu kembali dengan Lunamu di Bumi yang baru."

"Kau tidak mengerti, Vance," bisik Elian, suaranya parau, dipenuhi keputusasaan yang mendalam. "Kau tidak sedang menyelamatkan kemanusiaan. Kau sedang menuntun mereka semua menuju pemakaman kosmis yang tidak akan pernah menyisakan abu sekalipun. Retakan dimensi itu... mereka sudah mulai terbuka. Aku bisa merasakannya. Debu Bintang ini adalah peringatan, bukan sekadar bahan bakar."

Vance berdiri tegak kembali, mengabaikan peringatan terakhir Elian. Ia menerima sebuah tabung penyimpanan kuantum berwarna hitam dari prajuritnya yang telah selesai menyalin seluruh data riset.

"Bawa Dr. Elian ke Sektor Penahanan Tiga. Pastikan dia tetap hidup. Kita mungkin masih membutuhkan pengetahuannya jika proses sinkronisasi mengalami kendala," perintah Vance dingin.

"Lepaskan aku! Vance! Kau akan membunuh kita semua!" Elian berteriak histeris saat tubuhnya diseret paksa keluar dari laboratoriumnya yang kini mulai digelapkan.

Saat pintu hidrolik perlahan tertutup di belakangnya, pandangan terakhir Elian tertuju pada tabung penampung partikel Debu Bintang yang mulai meredup, seolah ikut berduka atas hilangnya cahaya harapan terakhir di stasiun yang perlahan mati itu. Di kejauhan, melalui jendela observasi koridor yang dingin, Eldred sang raksasa merah terus berpendar, memancarkan debu keperakannya yang menari-nari dalam kesunyian abadi, menyimpan rahasia waktu yang kini berada di tangan faksi yang salah.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca