**Bab 5: Retakan yang Melebar**
Langkah kaki Komandan Vance akhirnya menjauh, meninggalkan gema logam yang lambat laun tenggelam dalam dengung konstan generator stasiun. Namun, ketegangan di dalam laboratorium Sektor Delta tidak ikut menguap. Udara masih terasa tebal, sarat akan sisa ancaman yang ditinggalkan sang komandan. Elian berdiri terpaku di depan konsolnya, telapak tangannya menekan tepian meja besi yang dingin hingga buku-buku jarinya memutih.
Aroma ozon yang tajam masih menggelitik hidungnya, sebuah pengingat bahwa ketidakstabilan temporal di ruangan ini telah mencapai ambang batas yang mengkhawatirkan.
Pintu hidrolik di belakangnya mendesis terbuka sekali lagi. Elian tidak berbalik. Ia mengira Vance kembali untuk merampas paksa sisa data penelitiannya. Namun, bukan derap bot militer yang terdengar, melainkan langkah kaki yang cepat, ringan, dan sedikit ragu-ragu.
"Elian."
Suara itu lembut, namun sarat akan kecemasan yang mendalam. Elian mengembuskan napas panjang yang sempat tertahan di dadanya. Ia berbalik dan menemukan Mara berdiri di sana.
Mara, sang analis ekologi stasiun sekaligus satu-satunya orang yang masih ia percayai di Aethelgard, tampak sangat pucat. Lingkaran hitam di bawah matanya mempertegas keletihan fisik yang luar biasa. Di tangannya, ia mendekap sebuah *datapad* militer dengan erat, seolah benda itu adalah perisai yang melindunginya dari kehancuran dunia luar.
"Mara," bisik Elian, suaranya parau. "Kau seharusnya tidak di sini. Vance baru saja pergi. Jika mata-matanya melihatmu—"
"Aku tidak peduli lagi pada Vance, Elian," potong Mara cepat. Ia melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. Cahaya holografis keperakan dari *Chrono-Stabilizer* memantul di matanya yang berkaca-kaca. "Ada hal yang jauh lebih mengerikan sedang terjadi di bawah kaki kita. Sesuatu yang kaulakukan."
Elian mengernyitkan dahi. "Apa maksudmu?"
Mara tidak menjawab dengan kata-kata. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia mengaktifkan *datapad*-nya dan melemparkan proyeksi visual ke udara di antara mereka. Serangkaian grafik, peta sektoral Aethelgard, dan pembacaan energi kuantum langsung membentang luas. Warna merah menyala mendominasi visualisasi tersebut, memotong bagian-bagian bawah stasiun bagaikan luka menganga yang membusuk.
"Ini adalah data ekologis dari sektor-sektor terbengkalai di bagian luar stasiun," ujar Mara, suaranya bergetar menahan emosi. "Sektor Theta, Gamma, dan kini mulai merambat ke Sektor Epsilon. Elian... setiap kali kau mengaktifkan *Chrono-Stabilizer* untuk menguji coba Debu Bintang, terjadi anomali masif. Ini bukan sekadar fluktuasi energi biasa. Ini adalah pembusukan ruang-waktu."
Elian melangkah mendekati proyeksi tersebut. Matanya menelusuri garis-garis data yang disajikan Mara. "Pembusukan? Tidak, itu tidak mungkin. Persamaan kuantumku menunjukkan bahwa distorsi temporal akan terlokalisasi di dalam ruang hampa udara di luar stasiun—"
"Persamaanmu salah!" seru Mara, matanya membelalak frustrasi. Ia menyentuh salah satu grafik, memperbesarnya hingga menampilkan struktur molekul dinding baja stasiun. "Lihat ini! Materi di Sektor Theta tidak sekadar berkarat atau hancur karena usia. Mereka mengalami peluruhan entropi yang dipercepat. Logam di sana kehilangan kepadatannya karena waktu di sektor itu bergerak jutaan kali lebih cepat, lalu tiba-tiba melambat hingga hampir berhenti. Ruang di sana menjadi rapuh, Elian. Seperti kaca yang retak dan siap hancur hanya dengan satu sentuhan."
Elian menatap visualisasi itu dengan tubuh yang perlahan melemah. Butiran keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Data itu akurat. Sangat akurat hingga ia tidak bisa menyangkalnya. Setiap lonjakan energi dalam grafis Mara bertepatan persis dengan detik-detik ia memicu Debu Bintang dalam upayanya menembus batas waktu.
"Dan itu belum bagian terburuknya," lanjut Mara, suaranya kini merendah menjadi bisikan yang mengerikan. Ia menatap Elian lurus-lurus. "Kru pemeliharaan di sektor bawah... mereka mulai melaporkan hal-hal yang tidak ma**k akal. Mereka ketakutan, Elian. Mereka menolak kembali bekerja di sana."
"Hal-hal apa?" tanya Elian, tenggorokannya mendadak terasa sekering gurun pasir.
"Hantu," jawab Mara lirih. "Mereka melihat hantu."
Elian tertawa getir, sebuah reaksi defensif yang tidak disadarinya. "Mara, kau seorang ilmuwan. Kita hidup di stasiun luar angkasa yang sekarat. Halusinasi akibat paparan gas beracun atau stres adalah—"
"Bukan halusinasi!" Mara mencengkeram lengan jubah laboratorium Elian, memaksa pria itu untuk mendengarkannya. "Aris, salah satu teknisi senior, melihat dirinya sendiri. Ia melihat bayangan dirinya dari tiga hari yang lalu sedang memperbaiki pipa hidrolik yang sama. Bayangan itu mengulangi gerakan yang sama, berulang-ulang, berteriak kesakitan saat pipa itu meledak, lalu menghilang, hanya untuk muncul kembali beberapa menit kemudian. Itu bukan hantu orang mati, Elian! Itu adalah sisa-sisa waktu yang terperangkap dalam lingkaran tak berujung. Realitas di sektor itu sedang robek!"
Kata-kata Mara menghantam dada Elian bagaikan godam berat. Ia mundur selangkah, melepaskan cengkeraman Mara dengan perlahan. Tubuhnya gemetar saat ia menyadari konsekuensi dari apa yang telah ia perbuat. Retakan realitas yang selama ini ia anggap sebagai efek samping minor ternyata telah mulai menelan tempat tinggal mereka.
"Hantu waktu..." gumam Elian, menatap jemarinya sendiri. "Iterasi temporal yang bocor ke masa kini."
"Ya!" Mara menegaskan dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya. "Setiap kali kau memanipulasi Debu Bintang untuk menarik kembali apa yang telah hilang, kau merobek lembaran waktu yang menopang Aethelgard. Ribuan orang tinggal di stasiun ini, Elian. Keluarga, anak-anak, mereka yang tidak tahu apa-apa. Kita semua perlahan-lahan terkikis oleh retakan yang kau ciptakan!"
Sunyi yang mencekam kembali menguasai laboratorium. Hanya ada derik halus dari mesin *Chrono-Stabilizer* yang terdengar seperti detak jam dinding raksasa yang menghitung mundur kehancuran mereka.
Elian memejamkan matanya rapat-rapat. Di balik kegelapan kelopak matanya, wajah Luna muncul. Senyum wanita itu, tatapan matanya yang penuh harap, dan kata-kata terakhirnya sebelum segalanya hancur: *"Jangan biarkan aku pergi, Elian. Temukan cara untuk membawaku kembali."*
Luna. Cintanya yang egois, obsesinya yang merusak. Luna yang menderita penyakit degradasi seluler akibat radiasi bintang, yang memohon pada Elian untuk memutar balik waktu demi menyelamatkannya, tanpa peduli pada hukum alam yang harus dilanggar. Elian telah berjanji padanya. Ia telah mendedikasikan seluruh hidupnya, mengkhianati moralitas ilmiahnya, hanya untuk satu tujuan: menarik Luna kembali dari cengkeraman kematian lewat manipulasi Debu Bintang.
"Aku tidak bisa berhenti, Mara," bisik Elian, suaranya sarat akan keputusasaan yang begitu dalam hingga membuat dada siapa pun yang mendengarnya terasa sesak.
"Kenapa?" teriak Mara, frustrasi dan marah bercampur menjadi satu. "Kenapa kau begitu keras kepala? Demi Tuhan, Elian, stasiun ini akan hancur! Kau akan membunuh kita semua!"
"Karena jika aku berhenti, dia akan lenyap selamanya!" Elian balas berteriak, matanya terbuka lebar, memancarkan keg***an dan kesedihan yang menyiksa. "Luna... dia terjebak di celah itu. Aku hampir berhasil mencapainya. Aku bisa merasakannya, Mara! Setiap kali aku memicu partikel Debu Bintang, aku bisa mendengar suaranya. Dia menungguku di sana, di antara lipatan waktu yang rusak!"
Mara menatap sahabatnya itu dengan pandangan tidak percaya. Rasa ngeri perlahan menggantikan kemarahannya. "Kau mengorbankan ribuan jiwa... demi satu orang yang sudah seharusnya dilepaskan?"
"Kau tidak mengerti rasanya kehilangan dia!"
"Aku mengerti tentang bertahan hidup!" sahut Mara tajam. "Luna sudah tiada, Elian! Apa yang kau kejar di dalam retakan itu bukanlah Luna yang kau cint**, melainkan gema egoismemu sendiri yang menolak menerima kenyataan! Kau memilih mencint** bayang-bayang daripada menyelamatkan orang-orang yang masih bernapas di sini!"
Kata-kata Mara menusuk tepat ke jantung dilema moral yang selama ini berusaha Elian abaikan. Di satu sisi, ada Luna—pusat dari seluruh semesta pribadinya, janji suci yang telah ia ikat dengan darah dan air mata. Di sisi lain, ada ribuan jiwa di Aethelgard yang perlahan-lahan terancam terhapus dari eksistensi akibat ulah ambisiusnya.
Sebelum Elian sempat membalas, sebuah getaran hebat mengguncang laboratorium.
Lant** kisi baja di bawah kaki mereka bergetar hebat. Lampu-lampu di langit-langit berkedip tidak stabil, berubah warna dari putih terang menjadi merah darurat, lalu mendadak redup sepenuhnya. Di sudut ruangan, sebuah kunci inggris yang tergeletak di atas meja mendadak melayang di udara, berputar perlahan dalam gravitasi nol yang aneh, sebelum tiba-tiba terhempas kembali ke meja dengan dentang keras—namun kini posisinya berada beberapa sentimeter di sebelah kiri tempat asalnya, seolah-olah waktu baru saja melompati satu detik.
Mara mencengkeram bahu Elian untuk menjaga keseimbangannya. Wajahnya dipenuhi ketakutan yang mutlak. "Elian... apa itu tadi?"
Elian tidak menjawab. Matanya tertuju pada tabung penampung Debu Bintang di tengah ruangan. Partikel perak di dalamnya tidak lagi menari dengan lembut. Mereka bergolak liar, menab**k dinding kaca pelindung magnetik, memancarkan kilatan cahaya biru tua yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
"Retakannya," bisik Elian dengan bibir bergetar. "Retakannya tidak lagi menunggu di sektor terbengkalai. Mereka... mereka sudah sampai di sini."
Ia menatap Mara, lalu beralih menatap konsol kendali yang kini menampilkan peringatan bahaya sistemik berwarna merah menyala. Pilihan itu kini terbentang di hadapannya, begitu nyata dan begitu kejam. Terus melangkah maju menuju kehancuran total demi satu peluang mustahil untuk memeluk Luna kembali, atau menarik tuas darurat, mematikan seluruh proyek, dan mengunci Luna selamanya dalam kegelapan waktu demi memberikan hari esok bagi Aethelgard.
Dilema itu mencabik jiwanya, meninggalkan retakan yang jauh lebih lebar dan lebih menyakitkan daripada anomali apa pun yang sedang merobek stasiun mereka.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!