**Bab 6: Malam Kudeta dan Pelarian**
Sirine peringatan darurat tidak sekadar berbunyi; ia melolong, membelah keheningan malam Sektor Delta dengan jeritan mekanis yang m****akkan telinga. Lampu-lampu neon putih di langit-langit laboratorium seketika padam, digantikan oleh pendaran merah darah dari sistem cadangan yang berputar lambat, melemparkan bayangan-bayangan panjang yang mengerikan di dinding logam.
"Mereka datang," bisik Mara. Wajahnya yang semula pucat kini tampak seputih kertas di bawah siraman cahaya merah. *Datapad* di tangannya bergetar hebat.
Sebelum Elian sempat membalas, sebuah dentuman keras mengguncang lant** laboratorium. Getarannya merambat naik melalui sol sepatu bot mereka, membuat instrumen kaca di meja-meja penelitian berdenting nyaring sebelum beberapa di antaranya jatuh dan hancur berkeping-keping. Itu bukan sekadar kegagalan sistem. Itu adalah ledakan kinetik.
"Vance," desis Elian. Kemarahan dan ketakutan bercampur aduk di dadanya, menyumbat tenggorokannya hingga terasa kering. "Dia memutus jalur komunikasi luar. Dia tidak sedang bernegosiasi lagi."
"Kita harus pergi dari sini, Elian! Sekarang!" Mara mencengkeram lengan jaket Elian, jemarinya mematung kuat. "Pa**kan keamanannya sudah melewati barikade Sektor Gamma. Mereka menembak siapa saja yang mencoba menghalangi."
Tepat di ujung koridor luar, terdengar suara rentetan tembakan laser—suara *debam* berfrekuensi tinggi yang diikuti oleh teriakan-teriakan histeris para staf laboratorium yang panik. Bau udara yang terbakar, campuran antara ozon dan daging manusia yang hangus, mulai menyusup melalui celah-celah ventilasi. Kudeta berdarah telah dimulai.
Elian tidak bergerak. Matanya tertuju pada tabung kaca tebal di tengah ruangan, tempat sebuah tabung silinder kecil terapung di dalam medan magnetik. Di dalam silinder itu, partikel-partikel keperakan meliuk dan berputar lambat seperti galaksi mini yang terperangkap. Itulah inti stabilisator "Debu Bintang"—satu-satunya kunci untuk mengendalikan energi anomali yang sedang menggerogoti stasiun Aethelgard.
"Aku tidak bisa meninggalkan ini," kata Elian, suaranya gemetar namun sarat tekad. "Jika Vance mendapatkan Debu Bintang, dia tidak hanya akan menguasai stasiun ini. Dia akan merobek kontinuitas waktu untuk ambisi militernya."
"Tapi mencabutnya sekarang tanpa prosedur dekopling akan—"
"Aku tahu risikonya, Mara!" Elian memotong, setengah berteriak di tengah lolongan sirine yang kian bising. Ia berlari ke konsol utama, jemarinya menari di atas kibor virtual yang berkedip-kedip tidak stabil. "Tapi membiarkan Vance memilikinya adalah jaminan kematian bagi kita semua."
Dengan satu sentakan darurat, Elian memukul tombol manual berwarna merah di sudut konsol. Sistem magnetik mati seketika. Tabung silinder keperakan itu jatuh, namun sebelum menyentuh dasar penyangga, Elian menangkapnya dengan sarung tangan termal. Dingin yang luar biasa menjalar melalui material pelindung, membuat tangannya mati rasa seketika. Inti itu bergetar hebat di genggamannya, seolah-olah menolak untuk dijinakkan.
*BUM!*
Pintu hidrolik tebal di ujung laboratorium penyok ke dalam akibat hantaman peledak dari luar. Asap hitam mengepul, disusul oleh siluet beberapa prajurit berbaju zirah taktis hitam milik faksi Vance. Moncong laras senjata mereka berkilau dalam kegelapan.
"Target teridentifikasi! Amankan ilmuwan dan parameternya!" teriak sebuah suara parau dari balik helm taktis.
"Lari!" Mara menarik Elian ke arah pintu darurat di belakang tangki pendingin.
Tembakan laser pertama menyambar dinding tepat di samping kepala Elian, melelehkan logam dinding menjadi cairan pijar yang menetes panas. Elian merunduk, mendekap erat inti Debu Bintang di dadanya seperti seorang ibu melindungi bayinya. Mereka menerobos pintu darurat yang langsung menutup dan mengunci secara otomatis di belakang mereka saat Mara menghantam panel kontrolnya hingga hancur dengan pipa besi terdekat.
Mereka kini berada di koridor pemeliharaan Sektor Bawah—lorong sempit yang basah oleh tetesan air kondensasi, pengap, dan hanya diterangi oleh lampu-lampu indikator pipa yang berkedip lemah.
"Kita harus turun ke Sektor Epsilon," napas Mara memburu, dadanya kembang kempis saat mereka terus berlari menuruni tangga-tangga besi yang melingkar. "Di sana ada kapal logistik tua yang jarang diperiksa. Kita bisa menggunakan itu untuk keluar dari orbit Aethelgard."
"Bagaimana dengan yang lain?" tanya Elian, suaranya parau oleh rasa bersalah yang mendalam. "Rekan-rekan kita... para staf..."
"Tidak ada waktu, Elian! Jika kita mati di sini, perjuangan mereka untuk melindungi penelitian ini akan sia-sia!" air mata Mara mengalir di pipinya yang kotor oleh jelaga, namun langkah kakinya tidak melambat sedikit pun.
Tiba-tiba, sebuah getaran yang jauh lebih dahsyat dari sebelumnya mengguncang seluruh struktur stasiun. Kali ini, getarannya terasa aneh—bukan seperti ledakan fisik, melainkan sebuah gelombang tekanan tak kasat mata yang membuat isi perut mereka serasa diaduk. Udara di sekitar mereka mendadak terasa sangat tebal, membuat setiap tarikan napas terasa seperti menghirup cairan merkuri.
Dengung rendah berkekuatan megawatt bergema dari arah pusat stasiun.
Elian menghentikan langkahnya, matanya membelalak ngeri melihat pembacaan energi pada pergelangan tangannya. "Vance... ba****** itu... dia mengaktifkan mesin prototipe."
"Tanpa inti stabilisator?" Mara berbalik, menatap Elian dengan tatapan tidak percaya. "Dia g***! Tanpa Debu Bintang, fluktuasi medan kuantum tidak akan memiliki batas!"
"Dia pikir dia bisa menjinakkannya dengan daya kasar komputasi militer," bisik Elian, suaranya tercekat di tenggorokan. "Dia salah. Dia baru saja membuka gerbang neraka."
Dampak dari keputusan fatal Vance langsung terasa. Di ujung koridor di depan mereka, udara mulai meliuk-liuk seperti fatamorgana di gurun pasir yang panas. Cahaya lampu darurat tidak lagi merambat lurus; ia membengkok, berputar membentuk pusaran-pusaran kecil yang memancarkan warna-warna pelangi yang tidak wajar.
"Mara, mundur!" teriak Elian, menarik bahu wanita itu tepat saat koridor di depan mereka mengalami distorsi fisik yang mengerikan.
Logam-logam dinding setebal setengah meter meliuk, meregang seperti karamel yang ditarik, lalu dalam sekejap mata kembali mengeras dalam bentuk spiral yang aneh. Sebuah pipa uap yang berada di dekat sana mengalami penuaan instan; dalam hitungan detik, pipa itu berkarat, berlubang, keropos hingga menjadi debu merah yang runtuh ke lant**, sementara di sisi lain koridor, sebuah genangan air membeku menjadi es padat dalam sekejap, lalu menguap tanpa melewati fase cair.
Itu adalah anomali temporal fisik. Ruang dan waktu di sekitar mereka mulai robek dan menjahit dirinya sendiri secara acak.
"A-apa itu?" Mara melangkah mundur dengan gemetar, menatap debu besi yang baru saja runtuh. "Waktu... waktu di koridor itu berjalan ribuan kali lebih cepat."
"Dan di bagian lain, waktu membeku," tambah Elian, menunjuk ke arah tetesan air dari atap yang melayang diam di udara, tidak pernah menyentuh lant**. "Jangan menyentuh apa pun yang terlihat terdistorsi. Jika kau melangkah ke sana, sebagian tubuhmu bisa menua seratus tahun dalam satu detik, sementara sebagian lainnya tertinggal di masa lalu."
Dari pengeras suara stasiun yang rusak, terdengar suara statis yang mengerikan, disusul oleh suara Komandan Vance yang terdengar melambat dan meninggi secara acak akibat distorsi frekuensi.
"*Se... luruh... person... nel... ini... adalah... era... baru... ja... ngan... me... mberontak...*" Suara itu kemudian berubah menjadi jeritan melengking tinggi sebelum akhirnya padam total dalam keheningan yang mencekam.
Kepandikan massal pecah di seluruh stasiun. Melalui kisi-kisi besi di bawah kaki mereka, terdengar gema jeritan ratusan orang yang terjebak di sektor-sektor hunian. Mereka mencoba melarikan diri, namun koridor-koridor stasiun telah berubah menjadi labirin maut yang dinamis, di mana jalan keluar bisa tiba-tiba lenyap atau berubah menjadi perangkap waktu yang mematikan.
"Kita tidak bisa lewat sini," kata Mara, suaranya bergetar menahan tangis mendengar jeritan-jeritan tersebut. "Jalan menuju dek peluncuran utama sudah terputus oleh distorsi."
"Ada jalan memutar," Elian mencoba menenangkan dirinya sendiri, meskipun jantungnya bertalu-talu di dalam rongga dadanya. Ia menatap tabung Debu Bintang yang mulai berpendar lebih terang di tangannya, seolah bereaksi terhadap ketidakstabilan di sekitarnya. "Sektor pembuangan limbah. Salurannya langsung menuju ke bagian bawah stasiun. Tapi kita harus melewati sub-reaktor."
"Sub-reaktor? Tempat itu adalah jantung dari distorsi jika mesin prototipe menyala!"
"Kita tidak punya pilihan, Mara! Jika kita tetap di sini, kita akan mati terjebak dalam lingkaran waktu atau hancur saat stasiun ini runtuh ke dalam dirinya sendiri!"
Mara menatap mata Elian, mencari secercah keyakinan di sana. Di tengah kekacauan, ketakutan, dan debu bintang yang berpendar di tangan pria itu, ia menemukan tekad yang sama yang selalu ia kagumi dari sang ilmuwan.
"Baik," Mara mengangguk tegas, menyeka air matanya. "Pimpin jalannya, Elian. Tapi jika kita mati hari ini, aku akan memastikan rohku menghantuimu selamanya."
Sebuah senyum kecut tersungging di bibir Elian di tengah situasi yang mengerikan itu. "Itu kesepakatan yang adil."
Mereka berbalik dan berlari menuju kegelapan Sektor Bawah, melompati anomali-anomali kecil yang mulai bermunculan di sepanjang jalan—menghindari jaring-jaring waktu yang tak kasat mata, sementara di belakang mereka, stasiun Aethelgard perlahan-lahan mulai kehilangan cengkeramannya pada realitas.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!