**Bab 7: Labirin Waktu yang Membeku**
Dingin yang merambat dari inti penstabil "Debu Bintang" bukan sekadar penurunan suhu biasa; itu adalah rasa dingin yang menggigit langsung ke dalam sumsum tulang, seolah-olah konsep kehangatan itu sendiri sedang dihapus dari sejarah sel-sel tubuh Elian. Dengan silinder keperakan yang bergetar liar di dalam dekapannya, Elian menyeret langkahnya, sementara Mara menuntunnya melewati pintu palka darurat yang mengarah ke Sektor Pembuangan bawah.
Di belakang mereka, gemuruh ledakan dan derap sepatu bot pa**kan Vance perlahan meredup, digantikan oleh kesunyian yang ganjil dan menyesakkan. Sektor Pembuangan—yang seharusnya menjadi lorong-lorong industri berdebu tempat pembuangan limbah mekanis Aethelgard—kini telah bermutasi. Radiasi temporal yang bocor dari kegagalan sistem inti stasiun telah mengubah area ini menjadi labirin distorsi yang mengerikan.
"Elian, bertahanlah," bisik Mara, napasnya membentuk kabut putih yang tebal di udara yang mendadak membeku. "Kita harus terus bergerak. Jika kita berhenti di sini, kita akan terjebak dalam fluktuasi."
Elian mengangguk lemah, giginya berantukan. Ia mengeratkan dekapannya pada tabung silinder. Cahaya keperakan dari Debu Bintang berdenyut tidak teratur, memproyeksikan pendaran aneh pada dinding-dinding lorong yang dilapisi baja tebal.
Saat mereka melangkah lebih dalam, realitas di sekitar mereka mulai mengelupas.
"Lihat itu..." Mara tiba-tiba berhenti, tangannya terangkat untuk menahan dada Elian. Matanya melebar dalam kengerian yang murni.
Di hadapan mereka, sebuah pipa saluran air yang pecah menyemburkan cairan limbah. Namun, air itu tidak jatuh ke lant** koridor. Aliran air tersebut melayang di udara, meliuk-liuk membentuk spiral yang janggal, lalu seketika membeku menjadi kristal-kristal es tajam yang berkilauan di bawah cahaya temaram. Belum sempat Elian mencerna pemandangan itu, dalam sekejap mata, es tersebut mencair kembali, mengalir mundur ma**k ke dalam pipa yang pecah, hanya untuk menyembur dan membeku lagi. Sebuah siklus tanpa akhir yang terperangkap dalam lingkaran waktu satu detik.
"Jangan menyentuhnya," peringat Elian, suaranya parau. "Jika kau menyentuh aliran itu, garis waktumu bisa ikut terperangkap dalam putaran itu."
Mereka berjalan memutari anomali cair tersebut dengan sangat hati-hati. Namun, itu barulah permulaan. Labirin itu semakin menunjukkan dekadensi temporalnya. Di sisi kanan mereka, sebuah dinding baja masif mengalami proses penuaan yang dipercepat secara ekstrem. Dalam hitungan detik, permukaan logam yang abu-abu bersih berderit keras, berkarat hebat hingga berubah menjadi serbuk oranya yang runtuh ke lant**. Detik berikutnya, suara desis tajam terdengar, dan serbuk-serbuk itu melayang kembali ke atas, merekonstruksi diri menjadi dinding baja yang berkilau baru, seolah baru saja dipasang dari pabrik.
"Waktu tidak lagi mengalir di sini, Mara," kata Elian, merasakan pening yang luar biasa menghantam kepalanya. Aura distorsi ini menekan pelipisnya seperti lingkaran besi yang menyempit. "Ia hancur menjadi pecahan-pecahan mandiri."
"Dan pecahan-pecahan itu saling tumpang tindih," sahut Mara dengan suara bergetar.
Ia menunjuk ke ujung koridor yang remang-remang. Di sana, bayangan-bayangan semi-transparan mulai bermunculan. Itu adalah siluet manusia—staf laboratorium dan pekerja sektor pembuangan dari masa lalu. Mereka bergerak seperti hantu yang terbuat dari debu cahaya. Elian melihat seorang teknisi wanita yang sedang tertawa bersama rekannya, memegang secangkir kopi hangat yang mengepulkan asap. Di sudut lain, tampak bayangan seorang pria yang berlari panik, seolah-olah ia sedang dikejar oleh sesuatu yang tak kasat mata dari lini masa yang berbeda.
Tiba-tiba, salah satu bayangan—seorang prajurit dengan seragam prototipe lama—berjalan menembus tubuh Mara. Mara tersentak, berteriak kecil saat sensasi dingin yang ekstrem menyengat tubuhnya.
"Mara!" Elian menangkap tubuh wanita itu sebelum ia jatuh ke lant** yang mulai retak akibat fluktuasi gravitasi.
"Aku... aku tidak apa-apa," bisik Mara, meskipun tubuhnya gemetar hebat. Ia mencengkeram lengan jaket Elian, mencari pegangan pada satu-satunya hal yang terasa nyata di tempat itu. "Hanya saja... rasanya seperti memori orang lain mencoba merayap ma**k ke dalam kepalaku. Aku bisa merasakan ketakutannya, Elian. Ketakutan saat stasiun ini pertama kali dibangun, dan ketakutan ketika mereka menyadari apa yang sedang mereka ciptakan."
Elian menatap wajah Mara yang kini sedekat beberapa inci dari wajahnya. Di bawah pendaran cahaya keperakan Debu Bintang dan bayangan-bayangan masa lalu yang menari-nari di sekitar mereka, Mara tampak begitu rapuh, namun sekaligus begitu gigih.
Mereka berdua terpaksa berlindung di sebuah ceruk dinding yang relatif stabil, di mana lant** besinya tidak bergetar dan tidak ada bayangan masa lalu yang melintas. Debu Bintang di tangan Elian mulai memancarkan denyut pelindung yang tipis, menciptakan gelembung realitas kecil yang menjaga mereka tetap berada pada garis waktu masa kini.
"Kita harus mengkalib**si ulang inti ini sebelum melanjutkan," kata Elian sambil meletakkan silinder itu dengan sangat hati-hati di antara mereka. Jarinya yang gemetar mulai menekan tombol-tombol diagnostik pada datapad kecil di pergelangan tangannya. "Medan energinya tidak stabil. Jika ini meledak sekarang, kita tidak hanya akan mati; kita akan tersebar di berbagai abad yang berbeda."
Mara duduk bersandar pada dinding dingin, memeluk lututnya. Keheningan di antara mereka terasa begitu pekat, hanya diiringi oleh dengung mekanis dari inti dan derik samar waktu yang patah di luar ceruk mereka.
"Elian," panggil Mara perlahan. Matanya menatap lurus ke kegelapan koridor di depan mereka.
"Ya?" sahut Elian tanpa mengalihkan pandangan dari datapad-nya.
"Apakah kau takut?"
Pertanyaan itu menggantung di udara, terasa lebih berat daripada distorsi temporal yang mengelilingi mereka. Elian menghentikan gerakan jarinya. Ia menarik napas panjang, merasakan udara dingin yang menusuk paru-parunya.
"Tentu saja aku takut," jawab Elian jujur. Ia menoleh ke arah Mara, membiarkan pertahanannya runtuh di hadapan wanita itu. "Aku takut jika aku membuat satu kesalahan kecil saja pada instrumen ini, aku akan melenyapkanmu. Aku takut bahwa semua perjuangan kita untuk menyelamatkan stasiun ini sia-sia, dan Vance akan menang."
Mara menatap Elian, matanya yang berkaca-kaca memantulkan cahaya perak. "Aku tidak takut mati, Elian. Sebagai ilmuwan, aku tahu bahwa kematian hanyalah berhentinya fungsi biologis. Tapi di sini... melihat bagaimana waktu mempermainkan ingatan dan keberadaan kita... aku takut akan sesuatu yang lain."
"Apa yang kau takuti, Mara?" tanya Elian lembut, suaranya turun satu oktav.
"Aku takut dihapus," bisik Mara, air mata akhirnya menetes di pipinya yang pucat. "Aku takut jika kita gagal, garis waktu akan terbelah, dan aku akan berakhir di sebuah dunia di mana aku tidak pernah ada. Di mana tidak ada yang mengingatku, tidak ada yang tahu bahwa aku pernah berjuang, bahwa aku pernah hidup... bahwa aku pernah bersamamu."
Elian merasakan dadanya berdenyut nyeri mendengar pengakuan itu. Kehilangan eksistensi adalah bentuk kematian yang paling mutlak, dan di dalam labirin ini, ancaman itu terasa sangat nyata. Tanpa ragu, Elian mengulurkan tangannya yang bebas dan menggenggam jemari Mara yang dingin.
"Kau tidak akan dihapus, Mara. Aku bersumpah," ucap Elian dengan nada penuh penekanan, matanya mengunci pandangan Mara dengan keyakinan yang tak tergoyahkan. "Bahkan jika seluruh semesta ini melupakan kita, bahkan jika waktu merobek stasiun ini menjadi debu, aku akan tetap mengingatmu. Aku memegang inti ini, aku mengendalikan sebagian dari waktu itu sendiri sekarang. Aku akan mengukir namamu di setiap detik yang berhasil kita selamatkan."
Mara menatap tangan mereka yang bertautan. Hangat tangan Elian terasa seperti jangkar yang menariknya kembali dari jurang keputusasaan temporal. Perlahan, senyum tipis yang sarat akan kelegaan muncul di bibirnya yang gemetar.
"Terima kasih, Elian," bisik Mara. Ia mengencangkan genggamannya pada tangan pria itu. "Itu adalah janji paling ilmiah sekaligus paling tidak rasional yang pernah kudengar. Dan anehnya, aku mempercayaimu."
Elian terkekeh kecil, sebuah suara yang terdengar sangat kontras dengan situasi mengerikan di sekeliling mereka. Kedekatan emosional yang terjalin di antara mereka dalam beberapa menit terakhir terasa lebih kuat daripada medan magnetik mana pun di Aethelgard. Di tengah runtuhnya realitas, mereka telah menemukan titik tetap mereka satu sama lain.
"Kalib**si selesai," ujar Elian, melirik datapad-nya yang kini menunjukkan indikator hijau yang stabil. "Inti Debu Bintang telah menyesuaikan diri dengan frekuensi temporal tubuh kita. Selama kita tetap dekat satu sama lain, medan pelindungnya akan menjaga kita dari distorsi di luar."
Mara berdiri, dibantu oleh Elian. Mereka kini berdiri berdampingan, sangat dekat hingga bahu mereka bersentuhan. Keintiman fisik ini bukan lagi sekadar bentuk pencarian perlindungan, melainkan manifestasi dari ikatan baru yang telah mengakar kuat di dalam jiwa mereka.
"Mari kita keluar dari labirin ini," kata Mara, suaranya kini terdengar jauh lebih kuat dan penuh tekad.
Elian mengangkat silinder Debu Bintang, yang kini bersinar dengan cahaya perak yang tenang dan konstan. Cahaya itu memancar ke depan, membuka jalan menembus bayangan-bayangan masa lalu yang langsung memudar saat terkena radiasinya. Air yang membeku melayang di udara mendadak jatuh ke lant** sebagai tetesan air biasa saat mereka melintas, mengembalikan hukum fisika yang semestinya pada ruang yang mereka lalui.
Mereka mulai melangkah kembali ke dalam labirin, menembus kabut waktu yang membeku, tidak lagi sebagai dua ilmuwan yang melarikan diri dari kudeta, melainkan sebagai dua jiwa yang siap menantang takdir demi mempertahankan eksistensi mereka. Di antara derik waktu yang rusak dan debu bintang yang berpendar, mereka terus berjalan maju, siap menghadapi apa pun yang menanti di ujung kegelapan.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!