Pintu palka berat berbahan titanium itu berdesis, terbuka lambat dengan derit logam yang meratap, seolah enggan membiarkan Elian dan Mara melarikan diri dari labirin waktu yang membeku. Namun, begitu mereka melangkah melewatinya, hawa dingin yang menggigit dari Sektor Pembuangan mendadak lenyap, digantikan oleh gelombang panas yang kering dan menyesakkan dada.
Mereka kini berdiri di Dek Observasi Sektor Batas.
Tempat ini adalah ujung terjauh dari stasiun luar angkasa Aethelgard, sebuah ruangan berbentuk setengah lingkaran dengan dinding kaca panoramik raksasa yang melengkung megah. Di balik kaca tebal berpelindung radiasi itu, membentang pemandangan yang mengerikan sekaligus memukau: sebuah bintang raksasa merah yang sedang sekarat. Bintang itu membengkak luar biasa, menyerupai luka berdarah yang menganga di kegelapan abadi kosmos. Cahaya merahnya yang pekat dan berdenyut lambat menyiram seluruh dek dengan warna merah tembaga yang muram, melukis bayang-bayang panjang yang bergetar di lant** logam.
Napas Elian memburu. Ia mendekap silinder keperakanβinti kuantum "Debu Bintang"βlebih erat ke dadanya. Alat itu terasa hangat, bergetar halus seirama dengan detak jantungnya yang tak beraturan. Di sebelahnya, Mara bertumpu pada panel kontrol yang mati, dadanya naik turun dengan napas tersengal. Luka di bahu Mara masih merembeskan darah hitam, namun matanya tetap tajam, menyapu ruangan yang tampak sunyi itu.
"Kita terjebak, Elian," bisik Mara, suaranya parau oleh debu dan kelelahan. "Tidak ada jalan keluar lagi dari sini. Ini adalah ujung batas."
"Tidak ada yang perlu melarikan diri lagi."
Sebuah suara dingin, berwibawa, dan sangat tenang bergema dari kegelapan di sudut dek.
Dari balik bayang-bayang pilar penyangga struktur kaca, sesosok figur melangkah maju. Cahaya merah bintang mati menyinari wajahnya secara perlahan. Itu Vance. Seragam militernya yang abu-abu gelap tampak rapi tanpa cela, kontras dengan penampilannya yang kini terlihat dingin. Di tangan kanannya, sebuah pistol partikel berlaras panjang terarah tepat ke arah dada Elian. Moncong senjata itu berpendar dengan cahaya biru neon yang mematikan, siap melepaskan tembakan yang bisa melarutkan materi organik dalam sekejap.
Di belakang Vance, dua prajurit pengawal berdiri dengan senjata siaga, menutup satu-satunya akses kembali ke lorong.
"Vance," desis Mara, tangannya perlahan bergerak menuju holster di pinggangnya, namun Vance segera menggeser bidikan senjatanya ke arah dahi Mara.
"Jangan coba-coba, Mara. Aku tidak akan ragu untuk mengakhiri hidupmu di sini, bahkan sebelum kau sempat menarik pelatuk kuno itu," ujar Vance dingin. Matanya kemudian beralih ke arah Elian, melunak sesaat oleh kilatan obsesi yang mendalam. "Elian... serahkan inti kuantum itu padaku. Ma**kkan kode aktivasinya sekarang."
Elian melangkah mundur satu tapak, tumitnya membentur pembatas kaca. Di belakangnya, hanya ada jarak beberapa inci sebelum kehampaan ruang angkasa dan amukan bintang merah yang sekarat. "Kau tidak tahu apa yang kau minta, Vance. Alat ini... Debu Bintang ini... bukan sekadar baterai. Ini adalah anomali temporal yang tidak stabil. Jika diaktifkan tanpa perhitungan yang tepat, ini akan merobek lembaran ruang-waktu di sektor ini. Kita semua akan terhapus!"
Vance tersenyum tipis, sebuah senyuman melankolis yang sarat akan keyakinan fanatik. "Terhapus? Atau dilahirkan kembali, Elian? Kau adalah orang yang merancang teori ini. Kau tahu potensinya. Dengan energi dari bintang raksasa merah ini dan inti kuantum di tanganmu, kita bisa melipat waktu. Kita bisa memutar kembali jarum jam. Kita bisa mencegah kehancuran Bumi. Kita bisa menyelamatkan miliaran jiwa yang mati dalam Perang Debu. Kita bisa pulang ke rumah yang sebenarnya!"
Suara Vance meninggi, bergema di bawah kubah kaca dek observasi. Di matanya, terpancar bayangan masa lalu yang agungβsebuah utopia hijau yang telah lama hilang, Bumi yang bebas dari debu radioaktif dan kesengsaraan kosmis.
"Rumah yang kau bicarakan itu sudah mati, Vance!" potong Mara dengan nada sengit, matanya menyala dalam kemarahan yang tertahan. "Kau ingin menghapus sejarah demi sebuah mimpi buruk yang kau sebut utopia! Berapa banyak generasi yang lahir di koloni-koloni luar angkasa ini setelah kehancuran Bumi? Berapa banyak dari kami yang berjuang, berdarah, dan bertahan hidup di atas puing-puing ini? Jika kau memutar kembali waktu, kau akan menghapus eksistensi kami semua! Kau akan membunuh miliaran manusia yang ada *sekarang* demi membangkitkan mereka yang sudah menjadi debu!"
"Mereka yang ada sekarang tidak benar-benar hidup, Mara!" balas Vance, wajahnya mengeras, suaranya bergetar oleh emosi yang meluap. "Lihat diri kita! Kita adalah parasit yang mengais sisa-sisa energi dari bintang-bintang mati. Kita hidup di dalam kaleng logam yang perlahan membusuk di ruang hampa. Keberadaan kita saat ini hanyalah penundaan dari kepunahan yang tak terhindarkan. Manusia di era ini telah kehilangan kemanusiaannya. Kita adalah hantu yang merayap di kuburan kosmis!"
Vance melangkah satu demi satu mendekati Elian, senjatanya tetap tak tergoyahkan. "Tapi dengan Debu Bintang... kita bisa memperbaiki kesalahan leluhur kita. Kita bisa menulis ulang takdir. Elian, kau kehilangan keluargamu di Bumi Baru karena kegagalan atmosfer, bukan? Kau ingat bagaimana rasanya kehilangan mereka? Kau bisa memeluk mereka kembali. Ma**kkan kode aktivasinya!"
Kata-kata Vance menghantam dada Elian seperti godam yang tidak terlihat. Kenangan lama yang terkubur rapat mendadak menyeruak ke permukaan: tawa putrinya yang jernih, aroma tanah basah setelah hujan di Bumi Baru, dan tatapan mata istrinya sebelum tabung oksigen mereka kehabisan daya. Rasa sakit itu nyata, berdenyut kembali di dalam dadanya seiring dengan getaran inti kuantum di tangannya. Begitu mudahnya. C**up satu baris kode, dan semua penderitaan itu bisa dianggap tidak pernah terjadi.
"Elian, jangan dengarkan dia!" teriak Mara, suaranya memecah lamunan Elian. Mara menatap Elian dengan pandangan memohon, mata cokelatnya berkaca-kaca namun penuh keteguhan. "Rasa sakit yang kita bawa adalah bukti bahwa kita pernah mencint**, bahwa kita pernah berjuang. Kau tidak bisa menghapus air mata kami hanya karena kau terlalu pengecut untuk menghadapi hari esok. Hidup ini memang pahit, kejam, dan penuh debu, tapi ini adalah milik kita! Kita tidak berhak bermain menjadi Tuhan dan menentukan siapa yang berhak lahir dan siapa yang harus lenyap!"
Elian menatap Mara, lalu beralih menatap Vance. Di luar kaca, bintang raksasa merah itu tiba-tiba melepaskan suar api raksasaβsebuah kepulan plasma merah menyala yang menjulur ke kegelapan, menerangi wajah ketiga orang itu dalam kontras yang mengerikan antara terang dan gelap.
"Vance..." suara Elian akhirnya keluar, terdengar parau dan berat oleh beban pilihan yang teramat sangat. "Aku menciptakan alat ini karena aku menginginkan jawaban atas keputusasaan kita. Aku ingin percaya bahwa ada cara untuk memperbaiki segalanya."
Vance mengangguk pelan, matanya berbinar penuh harap. "Aku tahu, Elian. Kita memiliki visi yang sama. Berikan kodenya padaku."
"Tapi," Elian memotong, napasnya bergetar saat ia menatap silinder perak di dekapannya, "aku menyadari satu hal saat melewati lorong temporal tadi. Waktu bukanlah selembar kertas yang bisa kau hapus dan tulis ulang sesukamu tanpa meninggalkan bekas. Setiap kali kita memanipulasinya, kita merobek fondasi realitas itu sendiri. Utopia yang kau impikan... itu tidak akan pernah ada. Kita hanya akan menciptakan garis waktu baru yang sama rusaknya, terjebak dalam lingkaran penyesalan yang tak berujung."
Wajah Vance seketika berubah. Kilatan harapan di matanya meredup, digantikan oleh kemarahan yang dingin dan berbahaya. "Jadi, kau memilih untuk membiarkan ras kita mati perlahan di sini? Kau memilih debu daripada bintang-bintang?"
"Aku memilih untuk menerima," ujar Elian, suaranya kini terdengar lebih mantap, meskipun tubuhnya gemetar. "Aku memilih untuk menghargai setiap detik yang telah kita lalui, seberapapun menyakitkannya itu. Mara benar. Rasa sakit kita adalah bagian dari diri kita. Jika kita menghapusnya, kita bukan lagi manusia."
"Kalau begitu, kau tidak meninggalkan pilihan lain bagiku," desis Vance.
Ibu jari Vance menggeser sakelar pengisi daya pada pistol partikelnya. Bunyi dengung bernada tinggi yang mematikan memenuhi ruangan, memotong keheningan dek observasi. Jarak di antara mereka kini terasa begitu sempit, dipenuhi oleh ketegangan yang nyaris meledak.
"Aku akan mengambil inti itu dari tubuhmu yang tak bernyawa, Elian. Dan aku akan mencari cara untuk memecahkan kodenya sendiri," kata Vance, matanya mendingin tanpa ampun saat jarinya mulai menekan pelatuk.
Di tengah derik waktu yang terasa melambat ekstrem di dalam kepala Elian, ia tahu keputusan harus diambil detik ini juga. Antara menyerah pada ilusi masa lalu yang indah, atau bertaruh pada masa depan yang hancur namun nyata. Di bawah siraman cahaya merah dari bintang yang sekarat, takdir umat manusia kini bergantung pada satu gerakan berikutnya.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!