"Kau tidak akan berani," lanjut Elian, suaranya bergetar namun sarat dengan ketegasan yang rapuh. "Jika inti kuantum ini hancur, seluruh Sektor Batas akan runtuh ke dalam singularitas mikro. Kita semua akan lenyap tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal pada kegelapan."
Vance tersenyum tipis, sebuah lengkungan dingin tanpa kehangatan di wajahnya yang kaku. "Kau meremehkan keputusasaanku, Elian. Aku telah menghabiskan satu dekade di bawah bayang-bayang kegagalanmu. Jika aku harus mati di ujung alam semesta ini, aku akan memastikan aku mati sebagai orang yang berhasil menggenggam kunci waktu."
Vance memberi isyarat dengan kepalanya kepada salah satu pengawal. Prajurit bertubuh kekar itu melangkah maju dengan kasar, berniat merebut paksa silinder keperakan dari dekapan Elian.
"Jangan sentuh dia!" teriak Mara.
Dengan sisa tenaganya, Mara menerjang maju. Namun, gerakannya yang terhambat oleh luka tembak di bahu membuatnya kehilangan keseimbangan. Detik berikutnya, salah satu pengawal Vance menghantamkan popor senjatanya ke punggung Mara. Gadis itu terjerembab ke lant** logam dengan rintihan tertahan, darah segar kembali merembes dari bahunya, menodai lant** dek yang dingin.
"Mara!" Elian berteriak, matanya melebar dalam kepanikan.
Melihat Mara yang tak berdaya, amarah dan keputusasaan membutakan akal sehat Elian. Ia mendorong prajurit di depannya dengan seluruh kekuatan yang tersisa. Dalam kekacauan sesaat itu, Elian tersandung ke belakang, menab**k panel kontrol utama yang berada di tengah dek observasi. Tangannya yang memegang erat "Debu Bintang" secara tidak sengaja menghantam slot antarmuka manual—sebuah celah kuno yang terhubung langsung dengan reaktor temporal stasiun Aethelgard.
*KLIK.*
Bunyi logam yang mengunci itu terdengar bagai dentang lonceng kematian di keheningan ruangan.
"Tidak!" teriak Vance, langkahnya terhenti.
Seketika itu juga, stasiun Aethelgard bergetar hebat. Di bawah kaki mereka, lant** logam mengerang keras, seolah-olah struktur baja raksasa itu sedang diperas oleh tangan-tangan tak kasat mata. Lampu-lampu darurat di dek observasi berkedip cepat, bergantian antara merah darah dan padam, sebelum akhirnya seluruh sistem pencahayaan mati total.
Satu-satunya cahaya yang tersisa berasal dari luar jendela kaca—pendaran merah dari bintang mati yang kini tampak bergoyang, terdistorsi oleh gelombang energi yang tak kasat mata.
"Apa yang telah kau lakukan, Elian?!" raung Vance, berusaha mempertahankan keseimbangannya saat gravitasi buatan stasiun mulai tidak stabil.
Dari slot panel kontrol, pulsa energi biru safir menjalar cepat seperti akar-akar pohon yang menyala, merayap ke dinding, langit-langit, dan langsung menuju ke tengah-tengah dek observasi. Udara di dalam ruangan mendadak berbau ozon dan tembaga terbakar. Kelembapan lenyap seketika, menyisakan hawa kering yang mencekik tenggorokan.
Lalu, ruang di tengah dek itu retak.
Itu bukan retakan pada struktur fisik, melainkan robeknya jalinan ruang dan waktu itu sendiri. Sebuah garis vertikal hitam pekat muncul di udara kosong, memancarkan dengung frekuensi tinggi yang membuat telinga mereka berdenging kesakitan. Garis itu melebar, bergetar hebat, lalu terbuka seperti mata raksasa yang menatap dari dimensi lain.
Sebuah pusaran cahaya kuantum meledak dari retakan tersebut. Cahaya itu tidak hanya terang; ia memiliki warna-warna yang tidak seharusnya ada dalam spektrum manusia—campuran antara violet yang pekat, perak cair, dan kegelapan yang berkilau. Angin badai temporal bertiup kencang dari dalam celah, menerbangkan dokumen-dokumen longgar dan debu-debu logam, menciptakan pusaran badai kecil di dalam dek observasi.
"Ini... tidak mungkin," gumam Vance, matanya melebar dalam ketakutan yang murni. Ia menurunkan senjatanya, seluruh keangkuhannya luruh digantikan oleh ketakutan primordial manusia di hadapan kekosongan kosmik.
Elian bangkit dengan susah payah, melindungi wajahnya dari terpaan angin kuantum yang dinginnya menusuk hingga ke tulang. Namun, ketika ia memberanikan diri untuk menatap langsung ke dalam pusaran cahaya tersebut, jantungnya seolah berhenti berdetak.
Di dalam kedalaman pusaran yang berputar lambat, kegelapan mulai membentuk sebuah citra yang nyata. Distorsi spasial itu perlahan-lahan mereda di satu titik, menampilkan sebuah ruangan sempit berdinding baja kelabu yang sangat dikenalnya.
Itu adalah interior pod penyelamat darurat kelas Aegis. Sepuluh tahun yang lalu.
"Papa...?"
Sebuah suara. Lembut, gemetar, dan penuh ketakutan. Suara itu tidak terdengar seperti transmisi radio yang rusak; ia terdengar begitu dekat, seolah-olah pemiliknya berdiri tepat di hadapan Elian, hanya terhalang oleh selembar kabut tipis.
Elian membeku. Seluruh dunianya runtuh pada detik itu juga. "Luna...?" bisiknya, suaranya nyaris tenggelam dalam deru angin kuantum.
Di dalam proyeksi dimensi yang bergoyang itu, sesosok anak perempuan berusia delapan tahun sedang meringkuk di sudut pod. Rambut cokelatnya yang acak-acakan menutupi sebagian wajahnya yang sembap oleh air mata. Ia mengenakan gaun tidur putih bermotif bintang kecil yang kini tampak kotor oleh jelaga. Tangannya yang mungil memeluk erat sebuah boneka kelinci rajut yang kehilangan satu mata kancingnya.
"Papa! Tolong aku! Di sini sangat gelap..." Luna menangis, tubuh kecilnya terguncang hebat oleh isakan. Ia memukul-mukul pintu pod penyelamat yang terkunci rapat dari luar. "Kenapa pintu ini tidak bisa dibuka? Papa, aku takut! Tolong jangan tinggalkan aku!"
Setiap pukulan tangan mungil Luna pada kaca pod di dalam visi itu bergema di dalam dada Elian seperti hantaman palu godam. Rasa bersalah yang telah ia kubur dalam-dalam selama sepuluh tahun, rasa sakit yang hampir membunuhnya setiap malam, kini meledak keluar dengan kekuatan yang menghancurkan seluruh benteng pertahanan mentalnya.
"Luna! Ini Papa! Papa ada di sini!" Elian berteriak histeris. Ia melangkah maju, melupakan Vance, melupakan pistol partikel, melupakan Mara yang masih terkapar di lant**. Matanya hanya tertuju pada putrinya yang ketakutan di balik tabir dimensi.
"Elian, jangan!" teriak Mara dari belakang, suaranya parau dan panik. "Itu bukan masa kini! Itu hanya gema masa lalu yang terjebak dalam anomali kuantum! Jika kau mendekat, kau akan terseret ke dalam kehancuran temporal!"
Namun, Elian tidak mendengar. Di matanya, hanya ada Luna. Putrinya yang malang, yang selama sepuluh tahun ini ia yakini mati kedinginan di kehampaan ruang angkasa karena ia gagal menyelamatkannya saat stasiun Aethelgard pertama kali hancur.
"Papa, dingin sekali di sini... mesinnya mati," isak Luna lagi. Ia menempelkan wajahnya yang basah ke kaca pod, menatap langsung ke arah luar—tepat ke arah mata Elian yang membelalak. "Papa berjanji tidak akan pernah melepaskan tanganku... Papa bohong..."
"Tidak, Nak! Papa tidak bohong! Papa akan menjemputmu!"
Air mata Elian mengalir deras, membasahi pipinya yang kotor oleh debu stasiun. Langkah kakinya semakin cepat, terseret oleh daya tarik magnetis dan emosional dari retakan dimensi tersebut. Gravitasi aneh dari pusaran itu mulai menarik tubuhnya, membuat pakaiannya berkibar kencang ke arah celah.
Vance sendiri berdiri terpaku, terpesona sekaligus ngeri melihat proyeksi fisik dari waktu yang telah lalu. "Teknologi ini... ini benar-benar bekerja," bisiknya dengan obsesi yang kembali menyala. "Waktu bisa ditembus..."
"Elian, demi Tuhan, sadarlah!" Mara merangkak maju, menyeret tubuhnya yang kesakitan di atas lant** logam. Ia berhasil meraih ujung celana Elian, mencengkeramnya dengan sisa-sisa tenaganya. "Itu adalah jebakan entropi! Jika kau melangkah ma**k, tubuhmu akan terurai menjadi partikel subatom sebelum kau sempat menyentuhnya! Kau tidak bisa mengubah apa yang sudah tertulis!"
"Lepaskan aku, Mara!" Elian meronta, matanya merah karena kemarahan dan kepedihan yang luar biasa. "Dia putriku! Dia menungguku di sana! Sepuluh tahun aku hidup dalam neraka ini, dan sekarang dia memanggilku! Aku tidak akan membiarkannya mati sendirian lagi!"
"Papa! Tolong..." Suara Luna melemah, proyeksi gambarnya mulai berkedip-kedip, terdistorsi oleh gelombang energi yang semakin tidak stabil dari reaktor stasiun. "Aku lelah... aku ingin tidur... Papa..."
"Luna!!! Jangan tutup matamu! Papa datang!"
Dengan satu sentakan kuat, Elian melepaskan diri dari cengkeraman Mara. Ia melompat ke depan, mengulurkan tangan kanannya ke dalam pusaran cahaya kuantum yang mengamuk.
Seketika, kulit di ujung jari-jarinya mulai berpendar keperakan, hancur menjadi debu cahaya yang melayang ma**k ke dalam retakan. Rasa sakit yang luar biasa—seolah-olah setiap sel di tubuhnya sedang ditarik ke arah yang berbeda—mulai menjalar naik ke lengannya. Namun, Elian tidak peduli. Rasa sakit fisik itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kerinduan yang nyaris menghancurkan akal sehatnya selama satu dekade ini.
Hanya beberapa inci lagi. Tangannya yang mulai terurai hampir menyentuh proyeksi pod penyelamat Luna. Di balik badai cahaya, ia bisa melihat wajah putrinya yang perlahan mendongak, seolah merasakan kehadiran sang ayah yang datang menembus sekat waktu dan dimensi.
Namun, di belakang mereka, alarm stasiun kembali meraung, kali ini dengan nada yang jauh lebih melengking dan putus-asa. Reaktor temporal Aethelgard telah mencapai batas absolutnya, bersiap untuk meledak dan menutup celah itu selamanya dengan cara yang paling destruktif.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!