Dua Jam di Kamar Mandi Bersama Ketua OSIS

Bab 1: Hari Sial dan Razia Atribut

Pengaturan Membaca

Satu kata untuk menggambarkan pagi ini: bencana.

Mata gue langsung melotot lebar pas liat angka digital di layar HP. 06.45!

"Mampus! Sepuluh menit lagi gerbang ditutup!" teriak gue histeris, langsung melompat dari ka**r sampai hampir terjungkal karena kaki gue nyangkut di selimut bergambar dinosaurus.

Tanpa b***bu lagi, gue langsung menyambar handuk dan lari ke kamar mandi. Mandi bebek super kilatβ€”yang penting basah dan wangi sabun dikitβ€”lalu memakai seragam putih abu-abu dengan gerakan secepat kilat. Sambil menyisir rambut asal-asalan pake jari, gue menyambar tas sekolah yang tergeletak mengenaskan di lant**.

Gue berlari ke bawah, mengabaikan teriakan Mama yang menyuruh gue s****an roti bakar. "Aira pergi dulu, Ma! Udah telat!" teriak gue sambil memakai sepatu terburu-buru di teras rumah.

Pas lagi masang sepatu itulah, gue baru sadar satu hal yang bikin jantung gue hampir copot.

"Tali pinggang gue mana?!"

Gue menepuk jidat keras-keras. Semalam gue melepas tali pinggang sekolah dan menaruhnya entah di mana. Dan penderitaan gue belum berakhir di situ. Pas gue melirik ke bawah, kaos kaki yang gue pakai bukan kaos kaki putih panjang berlogo SMA Wijaya, melainkan kaos kaki hitam pendek semata kaki dengan gambar buah persik kecil di ujungnya.

"Aduh, ya ampun, kenapa cobaan hidup gue seberat ini pagi-pagi?" keluh gue frustrasi. Tapi gue nggak punya waktu lagi buat balik ke kamar dan nyari barang-barang itu. Kalau gue telat satu menit aja, hukumannya bakalan jauh lebih ngeri.

Gue langsung memesan ojek *online* lewat aplikasi, mendesak abang ojolnya buat ngebut kayak pembalap MotoGP, dan akhirnya sampai di depan gerbang SMA Wijaya tepat pukul 06.57.

Gue turun dari motor setelah membayar ongkos dengan tangan gemetaran. Tapi, begitu gue melihat ke arah gerbang sekolah, langkah kaki gue langsung terhenti seketika. Tubuh gue mendadak kaku, sedingin es batu di dalam freezer.

Di sana, berdiri tegak sesosok cowok berpostur tinggi tegap dengan seragam super rapi yang dilapisi almamater biru dongker khas pengurus OSIS. Rambut hitamnya tertata rapi, tatapan matanya tajam dan dingin di balik papan jalan jepit yang dipegangnya.

Devon Aditya. Sang Ketua OSIS SMA Wijaya.

Cowok itu terkenal sebagai sosok yang perfeksionis, kaku, dingin, dan sama sekali nggak punya belas kasihan kalau menyangkut aturan sekolah. Bagi Devon, peraturan adalah harga mati. Dan hari ini, dia sendiri yang memimpin razia atribut di gerbang utama bersama beberapa anggota OSIS lainnya.

Gue menelan ludah dengan susah payah. Di sekitar gerbang, beberapa murid yang ketahuan melanggar aturanβ€”mulai dari rambut gondrong, nggak pakai dasi, sampai yang memakai aksesoris berlebihanβ€”sedang berbaris rapi sambil ditatar oleh Devon dengan wajah datarnya yang super mengintimidasi.

"Gue kalau lewat sana, fix langsung ma**k daftar hitam," bisik gue pada diri sendiri, sambil meraba pinggang gue yang polos tanpa tali pinggang sekolah. Belum lagi kaos kaki hitam bergambar persik ini. Devon pasti bakal langsung mendepak gue ke ruang BK tanpa ampun.

Gue harus putar otak. Nggak ada pilihan lain. Gue nggak boleh lewat gerbang utama.

Gue melirik ke arah kanan, ke arah pagar samping sekolah yang berbatasan langsung dengan koridor belakang dekat lab biologi tua. Di sana ada pintu besi kecil yang biasanya digunakan oleh petugas kebersihan untuk membuang sampah. Biasanya pintu itu digembok, tapi kadang-kadang gemboknya nggak dikunci rapat kalau pagi-pagi begini.

Gue menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran jantung gue yang udah kayak tarian *breakdance*. Perlahan tapi pasti, gue mundur beberapa langkah, berusaha melebur dengan kerumunan murid yang baru datang, lalu memutar arah menuju gang kecil di samping sekolah.

"Oke, Aira, tenang. Lo pasti bisa lolos," gumam gue menyemangati diri sendiri.

Gue menyusuri tembok sekolah, setengah berlari menuju pintu besi kecil itu. Begitu sampai di sana, mata gue berbinar penuh harap. Benar aja! Gemboknya cuma dikaitkan asal-asalan, nggak dikunci.

"Yes! Keberuntungan masih berpihak sama gue!" desis gue senang.

Dengan gerakan sehalus mungkin, gue membuka pintu besi itu, menyelinap ma**k ke dalam area sekolah, lalu menutupnya kembali tanpa menimbulkan suara berisik. Gue mengembuskan napas lega yang sangat panjang. Rasanya seperti baru aja lolos dari kejaran monster di film horor.

Gue sekarang berada di koridor belakang sekolah yang sepi dan agak remang-remang karena jarang dilewati murid. Koridor ini berujung pada taman belakang yang terhubung langsung dengan gedung kelas sepuluh dan sebelas.

Gue mulai melangkah dengan sant**, mengusap dada gue yang masih berdegup kencang. "Gampang banget ternyata. Si Devon-Devon itu doang mah lewat..."

"Mau ke mana kamu?"

Suara bariton yang dingin, berat, dan sangat familier itu tiba-tiba terdengar dari arah belakang gue, memecah keheningan koridor.

Tubuh gue langsung membeku. Rasanya seperti ada petir yang menyambar tepat di atas kepala gue di siang bolong. Perlahan, dengan gerakan kaku seperti robot rusak, gue memutar tubuh gue ke belakang.

Di ujung koridor, berdiri Devon dengan kedua tangan yang dima**kkan ke dalam saku celana abu-abunya. Matanya yang tajam menatap gue lurus-lurus, seolah bisa menembus tengkorak kepala gue. Aura di sekitar cowok itu mendadak terasa begitu pekat dan dingin.

"K-Kak Devon..." cicit gue, mendadak kehilangan kemampuan berbicara dengan normal.

Devon melangkah maju. Setiap ketukan sepatunya di lant** koridor terdengar seperti lonceng kematian di telinga gue. *Tak. Tak. Tak.*

"Aira Senja. Kelas sebelas IPA dua," ucap Devon pelan, tapi nadanya penuh penekanan. Dia membaca nametag di dada kanan gue dengan mata yang menyipit. "Kenapa kamu ada di koridor belakang jam segini? Lewat pintu pembuangan sampah pula."

Gue memaksakan sebuah senyum cengengesan yang gue yakin kelihatan sangat aneh. "Eh, Kak Devon. Anu... itu... tadi saya cuma mau cari udara segar, Kak. Iya, udara segar! Di gerbang depan pengap banget, makanya saya lewat sini."

Devon sama sekali nggak tersenyum. Wajahnya tetap datar seperti tripleks. Pandangannya perlahan turun ke bawah, memperhatikan penampilan gue dari atas sampai bawah.

Detik itu juga, gue tahu gue tamat.

Tatapan Devon berhenti di pinggang gue yang longgar tanpa tali pinggang, lalu turun lagi ke kaki gue. Matanya terpaku pada kaos kaki hitam pendek bergambar buah persik yang kontras banget dengan sepatu sekolah gue.

Satu alis Devon terangkat. "Tali pinggang sekolah mana? Dan... kaos kaki apa itu?" tanya dia dengan nada yang terdengar sangat tidak puas.

"Ini... anu, Kak, tali pinggang saya tadi ketinggalan di jemuran. Terus kalau kaos kaki ini... ini edisi terbatas, Kak! Lucu, kan? Ada gambar buahnya..." Gue mencoba melucu, berharap Devon setidaknya punya sedikit selera humor.

Ternyata dugaanku salah besar. Devon justru melangkah satu kali lagi ke depan, membuat jarak di antara kami mengikis.

"Ikut saya ke lapangan utama sekarang. Kamu melanggar tiga aturan sekaligus hari ini: terlambat ma**k gerbang utama, tidak memakai atribut lengkap, dan memakai kaos kaki yang tidak sesuai standar sekolah," ucap Devon dingin tanpa ekspresi, lalu mengeluarkan pulpen dari saku almamaternya untuk menulis nama gue di papan jalan.

Otak gue langsung berteriak panik. Kalau nama gue ma**k catatan Devon, poin pelanggaran gue bakal bertambah, dan nyokap gue pasti bakal dipanggil ke sekolah. Belum lagi hukuman membersihkan toilet atau menyapu lapangan di bawah terik matahari pagi yang bikin kulit gosong.

*Nggak. Gue nggak mau!*

Tanpa pikir panjang lagi, insting bertahan hidup gue mengambil alih seluruh kesadaran gue.

Gue mengambil satu langkah mundur. "Maaf banget, Kak Devon! Tapi hari ini saya bener-bener nggak bisa dihukum!" teriak gue kencang.

Sebelum Devon sempat mencerna apa yang terjadi, gue langsung berbalik arah dan berlari sekencang mungkin menyusuri koridor belakang.

"Woi! Berhenti!" terdengar teriakan Devon yang terdengar sangat terkejut sekaligus marah dari belakang.

Gue nggak peduli. Gue terus berlari, memegang rok gue yang agak melorot karena nggak pakai tali pinggang, sambil terus memacu kaki gue melewati lab biologi, berbelok ke arah tangga darurat menuju lant** dua gedung utama.

*Tak! Tak! Tak!*

Langkah kaki yang lebar dan cepat terdengar mengejar gue dari belakang. Gue menoleh sedikit ke belakang dan hampir menjerit histeris saat melihat Devon ternyata mengejar gue dengan kecepatan yang nggak main-main. Kakinya yang panjang membuat dia bisa memangkas jarak di antara kami dengan sangat cepat.

"Aira! Berhenti atau hukuman kamu saya tambah tiga kali lipat!" ancam Devon sambil terus berlari mengejar gue.

"Nggak mau, Kak! Maaf!" balas gue sambil berteriak panik, napas gue mulai tersengal-sengal.

Gue berbelok tajam di koridor lant** dua, melompati beberapa anak tangga dengan nekat. Jantung gue berdegup kencang, bukan cuma karena capek berlari, tapi juga karena ketakutan melihat Devon yang masih terus menempel ketat di belakang gue bagaikan bayangan hitam yang siap menerkam.

"G***! Kenapa itu cowok larinya cepet banget sih?!" batin gue menjerit frustrasi. Gue harus segera menemukan tempat sembunyi, atau dalam hitungan detik, kerah seragam belakang gue bakalan ditarik sama cowok menyeramkan itu.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca