Bab 10: Rumor Mulai Menyebar
Gue kira kecanggungan di koridor pagi itu adalah puncak dari semua kesi**** gue minggu ini. Ternyata, gue salah besar. Kehidupan SMA yang tenang—atau setidaknya, kehidupan gue yang biasanya cuma diisi dengan tidur di kelas dan dihukum bersihin lapangan—mendadak berubah jadi neraka fiksi remaja dalam hitungan jam.
Semua dimulai pas jam istirahat kedua.
Gue, Caca, dan Febby lagi duduk di pojok kantin, menikmati semangkuk bakso yang kuahnya masih mengepul hangat. Seperti biasa, Caca sibuk menceritakan cowok kelas sebelah yang kemarin malam kedapatan nge-*like* postingan Instagram-nya, sementara Febby sibuk *scrolling* TikTok dengan ekspresi datar.
Tiba-tiba, suara notifikasi ponsel kami bertiga berbunyi hampir bersamaan. Bukan cuma kami sih, karena sedetik kemudian, suara denting notifikasi yang saling bersahutan terdengar dari meja-meja lain di sekeliling kantin.
Gue mengerutkan kening, meraba saku rok untuk mengambil ponsel. Sebuah pesan ma**k di grup angkatan yang biasanya sepi kayak kuburan, kecuali kalau ada info remedial massal.
**[GRUP ANGKATAN 11 - SMA KENCANA]**
**Aris_11-IPS-2:** *[Shared Link / Screenshot]*
**Aris_11-IPS-2:** *Guys, ada yang hangat nih. Coba cek lamtur-nya Kencana. Ini beneran si Ketua OSIS kesayangan para guru?*
Gue menelan ludah. Perasaan gue mendadak nggak enak. Dengan tangan yang sedikit gemetar, gue mengeklik tautan tersebut. Tautan itu mengarah ke sebuah akun *menfess* sekolah di Twitter—atau sekarang disebut X—yang biasa jadi wadah gosip paling *hot* di SMA Kencana.
Di sana, terpajang sebuah foto buram yang diambil dari sudut jauh. Foto itu menampilkan siluet dua orang yang baru saja keluar dari pintu samping gedung olahraga lama. Meskipun fotonya pecah dan diambil malam hari di bawah temaram lampu jalan, jaket denim kebesaran yang gue pakai malam itu kelihatan sangat jelas. Di sebelahnya, berdiri seorang cowok jangkung dengan postur tubuh tegap yang sangat familier: Devon.
Keterangan fotonya sukses bikin jantung gue serasa merosot ke lambung:
*"Spill dong, ini beneran Ketua OSIS kita yang sok suci itu? Semalem jam 8 lewat, kok bisa berduaan keluar dari gedung olahraga lama sama cewek bermasalah dari kelas IPS? Katanya sih mereka 'terjebak' di dalam. Tapi masa iya sampai dua jam lebih? Jangan-jangan hukuman lari keliling lapangan kemarin cuma kedok buat PDKT? Atau si cewek yang sengaja gatel biar dapet keringanan hukum?"*
"G***..." gumam Febby lirih. Permen karet yang sedang dikunyahnya mendadak berhenti. Matanya yang sipit melebar sempurna menatap layar ponsel, lalu perlahan beralih menatap gue dengan pandangan tidak percaya.
Caca bahkan lebih heboh lagi. Dia hampir tersedak es teh manisnya. "A-Aira... ini... ini lo, kan? Jaket denim ini kan yang lo pakai kemarin? Dan ini... Devon?!"
Gue merasa seluruh darah di tubuh gue membeku. Suasana kantin yang tadinya bising oleh tawa dan denting sendok, mendadak terasa sunyi di telinga gue. Tapi anehnya, gue bisa mendengar bisik-bisik dari meja sebelah dengan sangat jelas.
"Eh, beneran si Aira itu?"
"Iya, kan dia yang kemarin dihukum Devon."
"G***, murah banget ya? Biar gak dihukum sampai segitunya menggoda cowok."
"Gue gak nyangka Devon mauan sama modelan begitu. Padahal biasanya dingin banget."
Telinga gue berdenging. Dada gue rasanya sesak banget, kayak dihantam batu besar. Gue buru-buru mematikan layar ponsel dan meletakkannya di meja dengan posisi tengkurap, seolah-olah hal itu bisa menghentikan semua omongan orang-orang.
"Ra, lo utang penjelasan sama kita," kata Febby dengan nada serius yang jarang banget dia pakai. "Lo beneran berduaan sama Devon semalem di gedung olahraga? Dua jam?"
"Gak... nggak kayak gitu kejadiannya!" suara gue bergetar, hampir menangis karena panik. "Gue... gue emang ke sana buat ambil barang gue yang ketinggalan. Terus ternyata Devon lagi patroli. Pas kita di dalam, pintunya terkunci dari luar karena penjaga sekolah gak tahu ada orang. Sumpah, kita bener-bener kekunci! Nggak ngapa-ngapain!"
"Tapi kenapa di foto ini kalian kelihatan... deket banget?" tanya Caca, wajahnya cemas sekaligus kasihan melihat gue yang mulai pucat. "Di grup angkatan, komentarnya udah jahat-jahat banget, Ra. Mereka nuduh lo yang sengaja menjebak Devon biar nama lo bersih dari catatan pelanggaran OSIS."
Gue memegangi kepala gue yang mendadak pening. "Gue gak peduli mereka mau ngomong apa tentang gue. Tapi Devon..."
Gue langsung teringat cowok itu. Devon, si siswa teladan. Devon yang selalu jadi kebanggaan sekolah. Devon yang wajahnya dipajang di brosur penerimaan siswa baru sebagai representasi murid sempurna tanpa cela. Bagaimana nasibnya sekarang setelah rumor murahan ini menyebar?
Seolah menjawab kekhawatiran gue, tepat saat itu, tiga orang anggota OSIS inti—terma**k Jessica, sang Wakil Ketua OSIS yang terkenal judes dan disiplin—berjalan melewati kantin dengan langkah tergesa-gesa menuju ruang kepala sekolah. Wajah Jessica kelihatan tegang sekaligus marah.
"Gue harus susul mereka," kata gue spontan sambil berdiri dari kursi.
"Ra, jangan g***! Lo mau bunuh diri?" Caca menahan pergelangan tangan gue. "Kalau lo kelihatan nyamperin Devon sekarang, rumornya bakal makin liar!"
"Tapi ini gak adil buat dia, Ca! Dia gak salah apa-apa. Ini semua gara-gara gue!" gue melepaskan cekalan tangan Caca dengan lembut, lalu berlari meninggalkan kantin, mengabaikan tatapan mata puluhan siswa yang mengikuti setiap langkah kaki gue.
***
Gue berjalan cepat menyusuri koridor lant** dua, menuju ke ruang OSIS. Sepanjang jalan, bisik-bisik tetangga rasanya kayak duri yang menusuk kuping gue. Setiap kali gue lewat, sekumpulan siswi langsung pura-pura sibuk menatap ponsel mereka sambil cekikikan sinis. Gue mengepalkan tangan erat-erat di dalam saku jaket.
Pas gue sampai di dekat belokan menuju ruang OSIS, gue menghentikan langkah. Pintu ruang OSIS sedikit terbuka, dan dari dalam, terdengar suara perdebatan yang c**up sengit.
"Lo sadar gak sih, Dev, apa yang udah lo lakuin?" Itu suara Jessica. Melengking, tajam, dan penuh penekanan. "Reputasi lo itu bukan cuma milik lo sendiri, tapi membawa nama baik OSIS dan sekolah! Kita lagi masa penilaian akreditasi, dan sekarang foto lo sama cewek bandel itu tersebar di mana-mana!"
"Gak ada yang kami lakukan di dalam sana, Jess. Itu murni kecelakaan. Pintu gedung olahraga lama terkunci dari luar," jawab sebuah suara yang sangat gue kenal. Dingin, tenang, tapi ada nada lelah yang tersirat di dalamnya. Devon.
"Kecelakaan? Siapa yang bakal percaya?" Jessica mendengus sinis. "Semua orang tahu Aira itu kayak gimana. Dia sering langgar aturan, telat, bolos. Dan lo? Lo itu Ketua OSIS! Di foto itu jelas banget kalian keluar bareng jam delapan malam. Kenapa lo gak langsung lapor ke penjaga sekolah lewat telepon?"
"Ponsel saya mati, dan ponsel Aira tertinggal di dalam tasnya," sahut Devon, masih berusaha mempertahankan nada bicaranya yang datar.
"Alasan! Guru-guru udah mulai nanyain ini, Dev. Pak Danu bahkan minta lo menghadap setelah jam pelajaran selesai. Kalau rumor ini gak diredam, posisi lo sebagai calon siswa terbaik angkatan bisa dicabut. Dan lo tahu itu, kan?"
Gue yang menguping di balik dinding koridor langsung membekap mulut gue sendiri. Air mata gue setetes demi setetes mulai jatuh. Dada gue rasanya sakit banget. Ternyata dampaknya seburuk itu buat Devon. Gelar siswa terbaik yang selama ini dia perjuangkan dengan belajar mati-matian, bisa hilang begitu aja cuma karena kesi**** satu malam bersama gue.
"Gue bakal urus ini," kata Devon akhirnya. "Gue yang akan bicara sama Pak Danu. Lo gak usah ikut campur, Jess."
"Gue gak peduli sama lo ya, Dev. Tapi gue peduli sama nama baik organisasi kita. Kalau gara-gara masalah pribadi lo ini program kerja kita dicap buruk sama pihak sekolah, gue gak akan tinggal diam!"
Suara langkah kaki yang mendekat ke arah pintu membuat gue panik. Gue buru-buru berbalik dan berlari sekencang mungkin menuju arah tangga belakang, tempat yang biasanya sepi dari lalu lalang siswa.
Gue duduk di salah satu anak tangga darurat, menekuk lutut, dan menenggelamkan wajah gue di sana. Air mata gue mengalir deras. Kenapa semuanya jadi sekompleks ini? Padahal semalam... semalam rasanya semua begitu hangat. Devon yang tertawa, Devon yang membagi jaketnya buat gue, Devon yang mendengarkan cerita-cerita gak penting gue dengan sabar. Kenapa dunia nyata harus sekejam ini merusak momen itu?
"Aira?"
Gue tersentak. Suara berat itu membuat gue mendongak dengan cepat.
Devon berdiri di sana, beberapa anak tangga di bawah gue. Dia masih memakai ban lengan 'KETUA'-nya yang sekarang terasa seperti beban seberat satu ton di pundaknya. Wajahnya kelihatan lelah, dengan lingkaran hitam samar di bawah matanya.
Gue buru-buru menghapus air mata gue dengan lengan denim, berusaha kelihatan baik-baik saja meskipun hidung gue pasti merah banget sekarang. "Devon... ngapain lo di sini?"
Devon tidak menjawab. Dia melangkah naik, lalu duduk di anak tangga tepat di sebelah gue. Jarak kami dekat, mirip seperti malam itu di kamar mandi yang gelap. Tapi atmosfer di antara kami sekarang terasa begitu menyesakkan.
"Lo... udah dengar rumornya?" tanya gue lirih, hampir berupa bisikan.
Devon mengembuskan napas panjang, menatap lurus ke depan. "Udah."
"Maaf," kata gue, tenggorokan gue rasanya tercekat. "Gue bener-bener minta maaf, Dev. Gara-gara gue, reputasi lo hancur. Gara-gara gue, lo didebat sama Jessica, dan sekarang lo harus menghadap Pak Danu. Harusnya malam itu gue gak usah sok-sokan ikut lo patroli. Harusnya gue langsung pulang aja."
Devon menoleh ke arah gue. Tatapannya yang biasanya tajam dan mengintimidasi, perlahan melunak. "Ini bukan salah lo, Ra."
"Tapi mereka semua menyalahkan gue! Dan parahnya, mereka juga mulai meragukan lo!" suara gue mulai meninggi karena frustrasi. "Mereka bilang gue cewek gatel yang sengaja menggoda lo. Mereka bilang lo sok suci. Gue gak kuat dengernya, Dev..."
Sebelum gue sempat menyelesaikan kalimat gue, tangan Devon bergerak ke atas kepala gue. Dia mengacak rambut gue pelan, sebuah gestur yang begitu sant** tapi sukses membuat tangis gue berhenti seketika. Jantung gue berdegup kencang secara tidak normal.
"Biarkan mereka bicara," kata Devon tenang, matanya menatap langsung ke manik mata gue. "Gue gak peduli sama omongan anak-anak satu sekolah. Dan gue juga gak peduli sama penilaian akreditasi atau gelar siswa terbaik itu."
Gue mengerjap-erjapkan mata yang masih basah. "Tapi... tapi itu semua penting buat masa depan lo..."
"Yang penting sekarang adalah lo," potong Devon cepat. Suaranya terdengar sangat tulus hingga membuat bulu kuduk gue meremang. "Gue cuma gak mau lo kena masalah karena ini. Jadi, mulai sekarang, kalau ada yang nanya atau ngejelekin lo tentang kejadian semalam, lo gak usah jawab apa-apa. Biar gue yang maju dan selesaiin semuanya."
"Tapi, Dev—"
"Gak ada tapi-tapi, Aira," Devon berdiri, merapikan seragamnya yang sedikit kusut akibat duduk di tangga. Dia menatap gue sekali lagi, kali ini dengan seulas senyum tipis—sangat tipis hingga mungkin orang lain gak akan sadar kalau itu adalah senyuman. "Kembali ke kelas lo. Bentar lagi bel ma**k. Dan tolong, jangan nangis lagi. Muka lo kalau nangis makin mirip karakter kartun yang sering lo cerit**n semalam."
Setelah mengucapkan kalimat yang terdengar seperti ejekan sekaligus perhatian itu, Devon berbalik dan berjalan menuruni tangga, meninggalkan gue yang masih terpaku di tempat dengan perasaan campur aduk.
Dada gue masih terasa sesak oleh rumor jahat yang terus berputar di luar sana. Tapi di saat yang sama, ada kehangatan aneh yang perlahan menjalar di hati gue. Devon... cowok es batu yang biasanya gak tersentuh itu, baru saja bilang kalau yang paling penting baginya sekarang adalah gue?
Gue memegang dada gue, merasakan detak jantung yang mengg***. Masalah di depan mata kami jelas sangat besar dan rumit, tapi entah kenapa, rasa takut gue mendadak menguap begitu saja.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!