**Bab 11: Sudut yang Menjepit**
***
**DEVON**
Bantingan map tebal di atas meja kayu jati itu sukses bikin gue refleks memejamkan mata. Suaranya menggema keras di dalam ruang kepala sekolah yang mendadak terasa sepadat ruang interogasi polisi.
Di depan gue, berdiri seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi yang harganya setara dengan motor matic keluaran terbaru. Wajahnya merah padam, rahangnya mengeras, dan tatapan matanya seolah-olah bisa menguliti gue hidup-hidup saat itu juga.
Papa.
"Kamu sadar apa yang sudah kamu lakukan, Devon?!" suara Papa menggelegar, dingin tapi penuh penekanan yang bikin bulu kuduk merinding.
Kepala Sekolah, Pak Anwar, cuma bisa duduk diam di kursinya sambil menunduk. Dia bahkan nggak berani menatap Papa. Ya iyalah, Papa itu donatur terbesar di SMA Kencana. Setengah dari fasilitas mewah di sekolah ini—terma**k gedung olahraga baru yang sedang dibangun—itu didanai oleh perusahaan Papa.
"Itu cuma salah paham, Pa," kata gue berusaha tenang, meskipun tangan gue di dalam saku celana udah dingin banget. "Devon sama Aira beneran terjebak di kamar mandi gedung olahraga lama. Pintunya rusak dan kuncinya macet dari luar. Nggak ada kejadian macam-macam kayak yang diomongin orang-orang."
"Salah paham kamu bilang?!" Papa melangkah maju, memangkas jarak di antara kami. Dia menunjuk hidung gue dengan telunjuknya yang gemetar karena emosi. "Foto kamu berduaan sama cewek berandalan itu udah menyebar ke grup asosiasi komite sekolah! Rekan bisnis Papa bahkan ada yang nanya langsung ke Papa tadi pagi! Kamu tahu seberapa jatuhnya harga diri Papa?!"
Gue menelan ludah yang rasanya sesak banget di tenggorokan. "Devon minta maaf..."
"Papa nggak butuh maaf kamu!" potong Papa cepat. "Papa mendidik kamu untuk jadi penerus bisnis keluarga, Devon. Rekam jejak kamu harus bersih tanpa celah. Tahun depan kamu harus ma**k universitas terbaik di Singapura. Dan sekarang, kamu malah bikin skandal murahan sama cewek kelas IPS yang kerjaannya cuma bikin rusuh di sekolah?"
"Aira nggak kayak gitu, Pa. Dia—"
"Papa nggak peduli dia kayak gimana!" Papa menggeb**k meja sekali lagi. Pak Anwar sampai tersentak kaget. "Dengar baik-baik, Devon. Papa sudah bicara dengan pihak humas yayasan. Nama kamu harus dibersihkan sore ini juga."
Gue mengerutkan kening, mendadak punya firasat buruk. "Maksud Papa?"
Papa melipat tangannya di dada, menatap gue dengan pandangan tanpa kompromi. "Kamu harus buat klarifikasi tertulis dan video singkat lewat akun resmi OSIS. Katakan kalau malam itu kamu dijebak. Bilang kalau siswi bernama Aira itu yang sengaja mengunci pintu dari dalam demi menarik perhatian kamu, atau sengaja ingin memeras kamu karena kamu adalah ketua OSIS."
Mendengar itu, rasanya ada sesuatu yang hantam dada gue sampai sesak. "Nggak bisa gitu dong, Pa! Itu fitnah namanya. Aira nggak salah apa-apa. Kita berdua murni kecelakaan karena pintunya rusak."
"Kamu mau membela dia?!" suara Papa naik satu oktav. "Kamu mau mengorbankan masa depan kamu, nama baik keluarga kita, cuma demi cewek nggak jelas itu? Pilihannya cuma dua, Devon. Kamu bersihkan nama kamu dengan menyudutkan cewek itu, atau Papa sendiri yang akan turun tangan buat bikin dia didepak dari sekolah ini secara tidak hormat. Dan jangan harap kamu bisa melihat fasilitas mewah kamu lagi. Papa akan sita mobil, kartu kredit, dan Papa batalkan rencana kuliah kamu di luar negeri."
Gue membeku. Kata-kata Papa barusan benar-benar menjepit gue di sudut paling mati.
Gue menatap Pak Anwar, berharap ada sedikit pembelaan dari beliau. Tapi beliau cuma menghela napas panjang dan menatap gue dengan pandangan iba yang justru bikin gue muak.
"Devon," ujar Pak Anwar dengan suara pelan. "Ini demi kebaikan kamu juga. Nama baik OSIS dan sekolah sedang dipertaruhkan. Tolong ikuti saran Papa kamu."
Gue mengepalkan tangan di dalam saku sampai kuku-kuku gue memutih. Di satu sisi, gue tahu kalau gue menolak, Papa nggak pernah main-main dengan ancamannya. Dia bisa dengan mudah menghancurkan hidup gue, dan yang lebih parah, dia bisa membuat Aira dikeluarkan dari sekolah tanpa usaha keras. Tapi di sisi lain... membayangkan wajah Aira yang bakal menanggung semua beban fitnah ini sendirian bikin dada gue rasanya perih banget.
Gue bener-bener terjepit.
***
**AIRA**
Gue berjalan menyusuri koridor sekolah dengan kepala tertunduk dalam-dalam. Rasanya, hari ini koridor SMA Kencana panjangnya berkali-kali lipat dari biasanya.
Setiap kali gue lewat, bisik-bisik tetangga mendadak riuh. Ada yang terang-terangan nunjuk gue sambil ketawa sinis, ada juga yang menatap gue dengan pandangan jijik seolah-olah gue ini sampah masyarakat yang baru lepas dari tempat pembuangan akhir.
*"Iya, itu ceweknya. Ih, gatel banget ya ternyata."*
*"Muka pas-pasan aja belagu pengen dapetin Devon."*
*"Pasti dia yang godain Devon duluan. Kasihan banget Devon reputasinya jadi rusak gara-gara cewek kayak dia."*
Gue meremas tali ransel gue kuat-kuat. Dada gue rasanya sesak, sampai-sampai buat napas aja rasanya berat banget. Caca dan Febby sebenarnya udah nawarin buat nemenin gue ke mana-mana hari ini, tapi gue menolak. Gue nggak mau mereka ikut-ikutan terseret dalam pusaran gosip sampah ini.
Karena udah nggak tahan dengan atmosfer koridor yang mencekik, gue memutuskan buat belok ke toilet cewek di dekat laboratorium biologi. Toilet di sini biasanya sepi karena letaknya agak di ujung koridor yang jarang dilewati siswa.
Gue ma**k ke toilet, buru-buru menyalakan keran wastafel, lalu memba**h wajah gue dengan air dingin. Air dingin itu sedikit membantu menurunkan suhu tubuh gue yang rasanya memanas karena emosi dan rasa takut yang campur aduk.
Gue menatap pantulan diri gue di cermin. Mata gue kelihatan sedikit sembap.
"Gue harus kuat. Ini cuma gosip. Nanti juga hilang sendiri," gumam gue mencoba menyemangati diri sendiri, meskipun di dalam hati gue tahu kalau ini nggak bakal selesai semudah itu.
Tiba-tiba, terdengar suara pintu toilet yang dibuka dengan kasar.
*B**K!*
Gue tersentak dan langsung menoleh. Tiga orang cewek ma**k dengan gaya angkuh. Di barisan paling depan, berdiri Sherly—cewek kelas 11 IPA 1 yang semua orang tahu kalau dia adalah fans garis keras Devon sejak kelas 10. Di belakangnya ada dua dayang-dayangnya, Siska dan Fanya.
Sherly melipat kedua tangannya di dada, menatap gue dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan merendahkan.
"Wah, ternyata bener. Ada ulet keket lagi ngaca di sini," sindir Sherly dengan nada suara yang melengking menyebalkan.
Gue menghela napas, berusaha tetap tenang. Gue mematikan keran air, lalu berniat jalan melewati mereka untuk keluar dari toilet. Gue bener-bener nggak punya energi buat meladeni drama kayak gini.
Tapi, begitu gue melangkah, Fanya langsung menggeser tubuhnya, menghalangi jalan gue.
"Mau ke mana lo? Buru-buru amat. Takut ya?" tantang Fanya sambil mendorong bahu gue pelan.
"Gue mau lewat. Minggir," kata gue dengan suara sedatar mungkin.
"Heh, Aira! Lo tuh nggak usah sok polos ya!" Sherly melangkah maju, memangkas jarak di antara kami sampai gue terpaksa mundur hingga punggung gue membentur pinggiran wastafel. "Lo pikir kita semua bodoh apa? Foto lo berduaan sama Devon di gedung olahraga lama udah tersebar luas!"
"Itu cuma salah paham. Kita kekunci di dalam," balas gue, berusaha membela diri.
"Kekunci pantat lo!" Siska menyambar dengan nada ketus. "Dua jam lebih berduaan di tempat sepi kayak gitu? Lo pasti sengaja kan? Lo sengaja ngunci pintunya biar bisa berduaan sama Devon! Lo mau jebak dia kan supaya dia mau tanggung jawab atau apalah pikiran kotor lo itu?!"
"Jaga ya mulut lo!" emosi gue mulai tersulut. "Gue nggak semurah itu!"
"Halah, nggak usah muna deh!" Sherly tiba-tiba mendorong dada gue dengan telunjuknya yang dihiasi kuteks merah muda. "Lo itu cuma anak IPS bermasalah yang hobinya bikin rusuh. Nggak level tahu nggak disandingin sama Devon! Devon itu pintar, ganteng, sopan, dari keluarga terpandang. Sedangkan lo? Lo cuma sampah yang kebetulan numpang sekolah di sini!"
Air mata gue mendadak mendesak ingin keluar mendengar makian kasar itu. Dada gue rasanya perih banget seperti disayat sembilu. Tapi gue berusaha sekuat tenaga buat nggak nangis di depan mereka. Gue nggak mau kelihatan lemah.
"Asal lo tahu ya, gara-gara lo, reputasi Devon sekarang hancur!" Sherly berteriak tepat di depan wajah gue. "Dia dipanggil kepala sekolah pagi ini! Dan itu semua gara-gara lo yang gatel!"
Sebelum gue sempat membalas, Fanya tiba-tiba menyambar botol minum yang ada di kantong samping ransel gue. Tanpa aba-aba, dia membuka tutupnya dan menyiramkan air dingin di dalamnya tepat ke atas kepala gue.
*BYUR!*
Gue memejamkan mata erat-barat saat air dingin itu membasahi rambut, wajah, hingga seragam bagian depan gue. Rasa dingin yang menusuk kulit kepala gue nggak sebanding dengan rasa malu dan sakit hati yang saat ini meremas dada gue habis-habisan.
"Itu biar otak lo yang gatel bisa agak adem," kata Sherly sambil tersenyum puas melihat keadaan gue yang berantakan.
Siska tertawa pelan, lalu merampas gantungan kunci kesayangan gue yang terpasang di ransel—gantungan kunci rajut berbentuk beruang pemberian almarhum nenek gue—lalu melemparnya ke dalam tempat sampah toilet yang kotor.
"Inget ya, Aira. Ini baru peringatan pertama," bisik Sherly dengan nada mengancam. "Kalau sampai gue liat lo deket-deket Devon lagi, atau kalau Devon sampai dapet masalah lebih besar karena lo... gue bener-bener bakal bikin lo nyesel pernah lahir di dunia ini."
Setelah puas merundung gue, mereka bertiga tertawa puas lalu berjalan keluar dari toilet, meninggalkan suara dentum pintu yang ditutup kasar.
Begitu pintu toilet tertutup rapat, pertahanan gue runtuh seketika.
Tubuh gue merosot ke lant** toilet yang dingin. Gue memeluk lutut gue erat-erat, menyembunyikan wajah gue di sana. Air mata yang sejak tadi gue tahan akhirnya tumpah juga, mengalir deras bercampur dengan sisa air siraman di wajah gue. Isak tangis gue terdengar memilukan di dalam toilet yang sunyi itu.
Gue bener-bener merasa kesepian. Di sudut toilet yang sempit ini, gue merasa seluruh dunia sedang menjepit gue dari segala arah, menuntut gue untuk hancur tanpa ada satu orang pun yang berniat mengulurkan tangan untuk membantu gue berdiri.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!