**Bab 12: Retaknya Hubungan**
***
**AIRA**
"Eh, itu kan ceweknya? Yang kemarin kekunci di kamar mandi bareng Devon?"
"Iya, bener! G*** ya, kegatelan banget. Sengaja banget pasti biar bisa berduaan sama Ketua OSIS."
"Muka doang polos, kelakuan minus. Kasihan Devon, reputasinya jadi jelek gara-gara cewek kayak dia."
Bisik-bisik tetangga yang super berisik itu langsung menyambut gue begitu gue melangkah melewati koridor kelas sebelas. Rasanya telinga gue panas banget. Sepanjang jalan menuju kelas, tatapan menghakimi dari orang-orang seolah-olah menelanjangi gue. Mereka menatap gue kayak gue ini seonggok sampah yang nggak sengaja nempel di sepatu mahal Devon.
Gue mengepalkan tangan di dalam saku almamater, berusaha sekuat tenaga untuk nggak lepas kendali dan ngejambak rambut cewek-cewek bermulut ember itu.
Gue mengembuskan napas berat, lalu merogoh ponsel dari saku. Layar datar itu menampilkan ruang obrolan WhatsApp gue dengan Devon.
**Aira:** *Dev, lo nggak apa-apa kan?*
**Aira:** *Bokap lo kemarin marah besar ya?*
**Aira:** *Devon, please bales. Gue khawatir.*
Semua pesan itu cuma berakhir dengan dua centang biru. Dibaca, tapi nggak dibales. Bahkan pangg***n telepon gue semalam langsung dialihkan. Devon bener-bener menghilang kayak ditelan bumi setelah dia dipanggil ke ruang Kepala Sekolah bareng bokapnya kemarin siang.
Perasaan gue campur aduk. Ada rasa bersalah yang besar, tapi di sisi lain, gue juga ngerasa takut. Takut kalau gara-gara kejadian di kamar mandi itu, posisi Devon sebagai Ketua OSIS terancam, atau lebih buruk lagi, masa depannya hancur.
Tiba-tiba, dari arah berlawanan, gue melihat sosok yang sejak kemarin bikin gue overthinking setengah mati.
Devon.
Dia berjalan tegap dengan seragam OSIS-nya yang selalu rapi tanpa cela. Di sampingnya ada beberapa anggota pengurus OSIS lain yang sibuk mencatat sesuatu di papan jalan. Wajah Devon datar, dingin, dan sangat berwibawaβseperti biasanya. Seolah-olah badai besar yang menimpanya kemarin nggak pernah terjadi.
Mata kami sempat beradu selama satu detik. Jantung gue mendadak berdegup kencang. Gue refleks mempercepat langkah, berniat untuk menghampirinya.
"Devβ"
Namun, sebelum kata itu sempat keluar sepenuhnya dari mulut gue, Devon langsung membuang muka. Dia berjalan melewati gue begitu saja, seolah-olah gue hanyalah embusan angin lalu yang nggak kasat mata. Dia bahkan nggak menoleh sedikit pun.
Langkah gue terhenti seketika. Rasanya kayak disiram air es di pagi hari. Dingin dan bikin syok.
Gue berbalik, menatap punggung tegapnya yang perlahan menjauh di ujung koridor. "Kenapa lo kayak gini, Dev?" bisik gue lirih, menahan sesak yang mendadak menyerang dada gue.
***
Gue nggak bisa diam aja. Sepanjang jam pelajaran, otak gue sama sekali nggak bisa fokus. Penjelasan guru di depan kelas cuma terdengar kayak dengungan lebah yang mengganggu. Pikiran gue sepenuhnya tertuju pada Devon dan sikap dinginnya yang bener-bener nggak ma**k akal.
Begitu bel istirahat berbunyi, gue langsung bangkit dari kursi tanpa memedulikan pangg***n dari temen-temen sekelas gue. Gue tahu ke mana Devon biasanya pergi kalau lagi pengen sendiri atau butuh ketenangan setelah rapat OSISβlaboratorium biologi lama di lant** tiga yang sudah jarang dipakai.
Dan tebakan gue bener.
Gue melihat Devon baru saja keluar dari ruang OSIS dan berjalan ke arah tangga belakang menuju lant** tiga. Tanpa membuang waktu, gue langsung membuntutinya dari belakang.
"Devon!" panggil gue begitu kami sampai di koridor lant** tiga yang sepi.
Langkah Devon terhenti. Bahunya sempat menegang sesaat sebelum dia perlahan berbalik untuk menghadap gue. Wajahnya masih sama kayak tadi pagiβdatar, dingin, dan tanpa emosi sedikit pun. Tatapan matanya yang kemarin sempat terasa hangat di kamar mandi, kini berubah menjadi sedingin es kutub utara.
"Ada apa, Aira?" tanyanya, suaranya terdengar sangat formal dan berjarak.
Gue berjalan mendekat, memangkas jarak di antara kami. "Lo kenapa sih? Chat gue nggak dibales, telepon nggak diangkat. Terus tadi pagi lo pura-pura nggak lihat gue. Gue ada salah ya sama lo?"
Devon mengembuskan napas pendek, lalu mema**kkan kedua tangannya ke dalam saku celana abu-abunya. "Gue sibuk. Banyak urusan OSIS yang harus gue selesaikan."
"Sibuk?" Gue tertawa hambar, nggak percaya dengan alasan klise itu. "Sesibuk apa sih sampai ketikan 'gue oke' aja nggak sempat lo kirim? Lo tahu nggak, gosip tentang kita makin liar di bawah? Mereka bilang gue sengaja ngunci lo! Mereka bilang gue cewek murahan yang pengen pansos sama Ketua OSIS!"
Suara gue mulai meninggi, menumpahkan semua rasa frustrasi yang gue pendam sejak pagi.
"Terus lo mau gue ngapain?" tanya Devon pelan, tapi nadanya sangat menusuk. "Mau gue buat pengumuman pakai mikrofon sekolah kalau semua itu nggak bener?"
Gue tertegun. "Bukan gitu, Dev... Gue cuma butuh kita ngomongin ini baik-baik. Kemarin bokap lo marah banget, kan? Apa yang dia bilang ke lo? Apa posisi lo terancam?"
Devon menatap gue lurus-lurus. Detik itu, gue bisa melihat ada kilatan rasa bersalah di matanya, tapi itu cuma bertahan sedetik sebelum akhirnya kembali tertutup oleh topeng dinginnya.
"Nggak ada hubungannya sama bokap gue," kata Devon tegas. "Dan mulai sekarang, gue minta lo jangan pernah hubungi gue lagi. Jangan pernah nyari gue, dan tolong... bersikap seolah-olah kita nggak saling kenal kalau di sekolah."
Rasanya kayak ada petir yang menyambar tepat di atas kepala gue. Dada gue mendadak sesak luar biasa, sampai-sampai gue kesulitan buat sekadar narik napas.
"Maksud lo apa, Dev?" suara gue mulai bergetar. "Jangan saling kenal? Setelah apa yang kita lewati kemarin? Setelah semua yang lo omongin ke gue di kamar mandi itu?"
"Kemarin itu cuma kecelakaan, Aira," potong Devon cepat, nadanya terdengar sangat tidak sabar. "Kita terjebak di tempat yang salah, di waktu yang salah. Gue bersikap baik sama lo karena saat itu situasi kita lagi darurat. Lo ketakutan, dan gue cuma berusaha menenangkan lo sebagai sesama manusia. Nggak lebih."
"Nggak lebih?" air mata gue mulai menggenang di pelupuk mata, membuat pandangan gue kabur. "Tapi lo meluk gue, Dev. Lo bilang gue nggak sendiri. Lo cerita tentang nyokap lo... hal yang bahkan nggak pernah lo cerit**n ke orang lain. Apa itu semua cuma akting? Cuma karena lo kasihan sama gue?"
Devon mengepalkan tangannya di dalam saku celana. Gue bisa melihat rahangnya mengeras, seolah-olah dia sedang menahan sesuatu yang sangat berat. Tapi kata-kata yang keluar dari mulutnya setelah itu bener-bener menghancurkan sisa-sisa harapan yang gue punya.
"Iya. Itu cuma karena gue kasihan," ucap Devon tanpa ragu. Setiap katanya terdengar seperti belati yang menusuk langsung ke jantung gue. "Gue kasihan melihat lo yang gemetaran kayak anak kucing basah kuyup. Tapi sekarang kita udah keluar dari sana. Kehidupan nyata nggak se-melodramatis itu, Ra. Gue punya masa depan yang harus gue jaga. Gue harus mempertahankan beasiswa kuliah gue ke Singapura, dan gue nggak bisa membiarkan reputasi gue hancur cuma karena skandal murahan sama cewek kayak lo."
*Cewek kayak lo.*
Tiga kata itu sukses membuat air mata gue luruh begitu saja membasahi pipi. Sakit banget. Rasanya lebih sakit daripada saat gue dihukum berdiri di tengah lapangan upacara di bawah terik matahari.
Jadi... semua kehangatan itu cuma ilusi?
Semua obrolan mendalam di sudut kamar mandi yang sempit dan dingin itu, di mana gue merasa seolah-olah kami memiliki ikatan yang kuat, ternyata nggak berarti apa-apa buat dia? Di mata Devon, gue tetaplah Aira si pembuat onar, cewek nakal dari kelas IPS yang cuma bakal jadi batu sandungan buat masa depannya yang gemilang.
"Gue nggak habis pikir..." kata gue dengan suara serak, air mata terus mengalir tanpa bisa gue bendung. "Lo bisa sekejam ini, Dev. Kalau emang dari awal lo menganggap gue ini sampah yang bisa ngerusak masa depan lo, kenapa lo harus bersikap manis kemarin? Kenapa lo harus bikin gue ngerasa kalau lo beneran peduli?!"
Devon memalingkan wajahnya, enggan menatap mata gue yang basah. "Anggap aja kejadian dua jam di kamar mandi itu nggak pernah ada. Anggap kita nggak pernah sedekat itu. Gue harap lo paham, Ra. Kita hidup di dunia yang berbeda."
Setelah mengatakan kalimat kejam itu, Devon berbalik dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
Gue cuma bisa berdiri mematung di koridor yang sepi itu. Bahu gue bergetar hebat seiring dengan tangisan gue yang akhirnya pecah. Dada gue rasanya ngilu banget, seolah-olah ada sesuatu yang retak dan hancur berkeping-keping di dalam sana.
Gue menatap punggung Devon yang perlahan menghilang di balik belokan tangga. Kali ini, dia bener-bener pergi. Meninggalkan gue bersama realitas pahit bahwa momen hangat di kamar mandi kemarin hanyalah sebuah mimpi fana yang kini telah usai.
Hubungan kami yang bahkan belum sempat dimulai, kini sudah retak dan hancur tanpa sisa.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!